Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Extra part


__ADS_3

"kakak, malu .. !!" gerutu Ali saat Aleta menciumnya di bandara.


Cup


"aish, kakak". teriak Alex ketika pipi kirinya juga mendapat jatah ciuman dari sang kakak.


"hey, mau sebesar apapun kalian, kalian itu tetap adikku yang imut dan lucu". kata Aleta, lalu melenggang pergi.



"wah.. kakak itu sekarang lebih kecil dari kami". protes Ali.


"sudahlah, apa kalian mau di sini sampai besok?" Aleta memanyunkan bibirnya.


"ayolah, aku sudah lapar". protes Aleta lagi, dan kali ini kedua adiknya mengekor di belakangnya.


Aleta duduk di depan, di sebelah Felipe, bodyguard sekaligus sopir pribadinya. Sedangkan dua remaja tanggung tadi sedang asyik bermain game di jok belakang.


"kalian mau makan apa?" tanya Aleta.


Hening.


"hey, kalian mau makan apa?"


Hanya suara tembakan dari dalam ponsel Ali dan Alex yang terdengar.


"kita ke McDonald's aja om". Aleta tau persis bahwa Alex dan Ali sangat anti dengan yang namanya makanan cepat saji, alasannya tentu saja karena itu tidak sehat dan bisa membuat badan mereka tidak atletis lagi.


"kakak.. kenapa McD sih?" kata Ali dengan nada manja.


Hening.


"kita makan Chinese food aja om". kata Alex.


"makanya, kalau di tanya itu jawab, jangan asik sendiri". Aleta memincingkan matanya, menatap kedua adiknya bergantian.


"ciye, kakakku yang cantik marah". goda Alex.


"ehhm, ini ada titipan dari mama". Ali menyerahkan sebuah kotak beludru berwarna biru kepada Aleta.


"apa ini?" tanya Aleta, wajah yang sedari tadi di tekuk kini berubah sumringah.


"ini, ada juga dari mom". Alex mengambil paper bag dari dalam tas ranselnya.


"waa.. apa lagi ini?"


"buka saja sendiri". jawab Alex dan Ali kompak.


"uuhh so cute, angsa". Aleta membuka kotak dari mamanya.


"waa.. ini jam designer kesukaanku". katanya lagi setelah membuka paper bag dari mommy-nya.


"kenapa kakak banjir hadiah terus, sedangkan kita?" Alex menyenggol Ali yang masih sibuk dengan game-nya.

__ADS_1


"hey, kau tidak ingat, satu laptop gaming seharga mobil yang kemarin Daddy berikan?" Aleta mendengus kesal.


"iya iya, aku ingat". balas Alex.


"kakak, nanti kita tinggal sama Daddy kan?" tanya Ali.


"iya, tapi Daddy kesini cuma pas hari kerja, Jum'at, Sabtu, Minggu Daddy pulang ke Situbondo".


"kenapa kakak ngga ikut pulang?" tanya Alex dengan polosnya.


"wahai adikku James Alexander Carter, kau pikir tiket pesawat semurah ongkos metro mini?" Cibir Aleta. Felipe yang sedari tadi hanya diam kini menarik bibirnya untuk tersenyum.


"tapi uang sakumu kan banyak, dapat dari mom, dari mama, dari Daddy ditambah dari papa, eyang papa, eyang mama. Wahhhh .. aku baru sadar". Alex membelalakkan matanya.


"hish, dasar mata duitan, mom dan mama memberi uang saku secara bergantian, kalian pikir aku se-kaya itu?" protes Aleta.


"aku kira kau banyak uang selama di Jakarta". kata Ali.


Di tengah perdebatan kakak-beradik itu, Felipe menghentikan mobilnya.


"silahkan nona, tuan muda". memimpin jalan ke dalam restauran, memesan ruangan VIP untuk ketiga anak majikannya.


-


Dua bulan kemudian.


"Rain, kemana anak-anak, kenapa sama sekali tidak ada yang mengabariku?" tanya Cia dengan gusar.


"entahlah, mungkin mereka masih belajar". jawab Raina enteng.


"benar juga, kau sudah telpon Carter?" tanya Raina.


"Sudah, tapi tidak di angkat". Cia menggigit kuku jarinya sambil mondar-mandir.


"kita susul saja mereka, mumpung masih sore". kata Allan.


"good idea, ayo".


Sesampainya di Jakarta, mereka bertiga langsung menuju rumah Carter, namun yang ada hanya Mariana istri Felipe dan dua orang pelayan yang di tempatkan di sana.


"Maria, dimana anak-anak?" tanya Cia begitu sampai di halaman, Maria yang sedang memberi makan ikan terkejut atas kehadiran majikannya.


l


"nyo-nyonya".


"dimana anak-anak?" tanya Cia lagi.


"pergi dari tadi sore nyonya, silahkan masuk dulu nyonya". kata Maria.


"terserah padaku mau masuk atau tidak, ini rumahku". sewot Cia.


"jangan begitu Cia". kata Raina.

__ADS_1


"lalu, di mana rubah tua (*baca Carter) itu?" tanya Valencia lagi. Raina menahan tawa.


"tuan Carter pergi dari subuh tadi nyonya, saya kira beliau pulang ke Situbondo". Cia terbelalak mendengar penuturan Maria.


Sementara itu, Raina terus berusaha menghubungi ketiga anaknya secara bergantian, namun sayang, tidak ada satupun yang mengangkatnya.


"ssstt, ini Ali mengangkat telpon Ku". kata Allan. Namun seketika suasana hening, suara Ali terdengar setengah berteriak beradu keras dengan suara musik DJ yang menghentak-hentak lantai dansa.


"tanya dimana dia?" bentak Cia.


"Ali, kau dimana?" tanya Allan.


"apa pa? Ali ngga denger !!". kata Ali sambil berteriak.


"pasti mereka di club', tanya Felipe". kata Raina. Cia segera menghubungi Felipe.


Setelah mendapat informasi dari Felipe, akhirnya mereka bertiga pergi ke sebuah club' yang tadi di maksud oleh Felipe.


"itu .." Cia menunjuk dua anak laki-laki yang sedang berjoget di tengah kerumunan, menikmati alunan musik yang di persembahkan oleh DJ Irene Agustin.


"hei, anak nakal, kemari kau". Raina menggerakkan telunjuknya, lalu kedua pria muda itu datang menghampirinya.


"mama, mom, papa?" Ali menepuk jidatnya.


Raina menarik telinga Alex, dan Cia menarik kerah baju Ali, bukan terbalik, tapi begitu cara mereka, Ali, Alex dan Aleta adalah anak mereka berempat, jadi mereka memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam mendidik mereka, apapun yang di berikan pada Ali, pasti Alex juga mendapatkan hal yang sama, dan sebaliknya.


"mom, malu". kata Ali.


"mommy lebih malu punya anak yang suka dunia malam seperti ini". Cia menatap garang pada Ali.


"mama, lepasin, ih malu". Alex menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menutupi wajah tampannya agar tidak di kenali oleh gadis-gadis di sana.


"ayo keluar, jangan marah-marah di sini". Allan mengajak keluar kedua wanita yang sedang marah seperti kambing senewen ingin kawin itu.


"dimana kakakmu?" tanya Raina pada Alex. Yang di tanya hanya menggeleng.


"dimana?" bentak Cia pada Ali.


"tidak tau mom". lirih Ali. Lalu Ali dan Alex saling melirik.


"kenapa? apa ada yang kalian sembunyikan?" selidik Cia.


"ti-tidak mom". keduanya menggeleng.


"jangan sekali-kali membohongi kami". ancam Raina.


"mas, kenapa kamu tidak telepon Aleta". bentak Raina.


"ma, hapenya kakak aku bawa". Alex menunduk.


"bagus, bagus sekali kalian, mulai pintar sekarang ya? mama dan mom tidak melahirkan kalian untuk menjadi trio idiot yang saling membantu untuk melakukan hal buruk". kata Cia.


"kemasi barang-barang kalian, kita pulang ke Situbondo, persetan dengan pendidikan". umpat Raina.

__ADS_1


"tapi kami baru mulai kuliah ma". protes Ali.


"untuk apa kuliah? agar kalian pandai membohongi orang tua?" cibir Allan.


__ADS_2