Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 25 : Apa boleh?


__ADS_3

"rain, mama pengen ngucapin trima kasih untuk kamu, karena kamu, Allan dapat menerima Aleta, apa lagi sekarang dia keliatan banget kalo sayang sama anaknya". ungkap Bu Lidya setelah Allan pergi.


"Raina juga kaget ma, akhir-akhir ini mas Allan banyak berubah, dia jadi lebih sering dirumah sama Raina dan Aleta".


"pasti dia cinta banget sama kamu rain, mama bisa lihat dari tatapan matanya untukmu". Kata-kata terakhir Bu Lidya membuat Raina salah tingkah, namun ada juga penyesalan yang terselip di dalam rongga hatinya, karena dia dan Allan sudah memberi harapan palsu bagi orang tua mereka.


-


"rain, maaf aku pulang terlambat". Allan berbisik, di lihatnya Raina telah tertidur pulas di ranjang mereka.


"aku sayang banget sama kamu rain, aku janji, ngga akan ada Monica atau siapapun lagi di hidup kita". kata Allan, dia menciumi wajah Raina yang sudah terlelap.


Setelah mandi, Allan berniat untuk tidur, namun pemandangan tak terduga membangkitkan naluri lelakinya, Dua kancing piyama Raina terlepas tanpa sengaja memperlihatkan isi di dalamnya. Allan bersusah payah menelan Saliva. Seketika dia menutup bagian atas Raina itu dengan selimut, membiarkannya tidur dengan tenang, lagipula Allan tidak akan menyentuhnya jika Raina tidak mengijinkan.


Ketika Allan naik ke ranjang, beban tubuhnya menggoyangkan spring bed, Raina yang tadi tidur mendadak membuka mata, pandangan mereka bertemu, rambut Allan yang basah selalu terlihat mempesona bagi Raina.


"mas, sudah pulang? mau makan?"


"boleh minta tolong buatkan kopi?" tanya Allan malu-malu, saat ini mereka justru seperti pengantin baru.


"kopi hitam tanpa gula?"


"iya, dan cemilan".


Raina segera turun setelah mendapat perintah itu dari suaminya, dengan rambut tergerai se pinggul, piyama pendek berbahan satin warna maroon, Raina terlihat sangat menawan, bahkan hanya dengan berjalan biasa saja sudah terlihat erotis bagi Allan, membuat kejantanannya bangkit.


"ini mas, disini saja ya". Raina meletakkan satu cangkir kopi dan beberapa kemasan biscuit di meja sofa yang ada di kamar mereka.


"iya, kamu ngga bikin minum?" tanya Allan setelah melihat hanya secangkir kopi yang tersaji di atas baki.


"udah mas, tadi sambil nunggu kamu pulang". Dada Allan terasa hangat, ternyata Raina menunggunya.


"tumben kamu nunggu aku, ada yang mau kamu sampaikan?" Raina mengangguk.


"begini, pertama, aku udah ngga bisa lagi bohongin mama, aku takut kualat, kalau memang mas Allan masih mau sama Monica, silahkan jelaskan sama mama tentang keadaan yang sebenarnya, dua, aku ngga suka Monica pakai barang-barang aku walaupun itu belinya juga bukan dengan uang aku, ketiga, kalau kamu mau bermalam sama Monica tolong, jangan di kamar ini, aku ngga suka".

__ADS_1


"rain, kamu ngomong apa?"


"aku ngga mau ngulangin lagi mas".


"mulai sekarang udah ngga ada Monica lagi". Allan mendekatkan diri pada Raina.


"aku takut menyakiti perasaan mama dan bapak, aku lebih baik jujur sekarang, kalau kamu memang masih mau sama mo... "


cup


Allan mencium bibir Raina, membungkamnya agar tidak mengucapkan kalimat yang menurut Allan sia-sia, karena Allan memang telah mengakhiri hubungannya dengan Monica, sejak siang tadi.


Sepersekian detik berlalu, Allan masih tetap menempelkan bibirnya yang dingin di bibir istrinya, Raina menarik mundur dirinya, menjauhkan bibirnya dari Allan.


"mas.. aku belum selesai ngo.. ".


Lagi-lagi Allan membungkam Raina dengan bibirnya, kali ini bukan hanya sekedar menempelkannya, tapi Allan telah memulai permainannya. Raina hanya diam, dia tidak tau caranya berciuman, berdekatan dengan lawan jenis dalam jarak NOL seperti ini saja bisa di hitung dengan jari.


"rain, aku sudah tidak ada hubungan dengan Monica, aku hanya milikmu rain, dan satu lagi, selama ini aku tidak pernah melakukan hal itu dengan dia, aku memang pernah berbuat kesalahan hingga akhirnya lahir Aleta, dan sejak saat itu aku bersumpah dengan diriku sendiri untuk tidak menyentuh wanita sebelum aku menikahinya, bacalah pesan Monica yang selalu protes setiap dia menginap selalu aku tinggal tidur tanpa menyentuhnya".


"kamu tau kan seperti apa Monica, awalnya hubungan kami hanya sebatas wajar, namun semakin hari dia selalu menuntut lebih, itulah kenapa dia selalu menggunakan pakaianmu, karena dia curiga bahwa aku telah tergoda oleh mu".


"lalu, kenapa kamu bilang akan memenuhi kebutuhanmu dengan Monica?" pandangan Raina penuh selidik, Allan tau, banyak yang ingin di ketahui istrinya itu tentang dirinya.


"aku hanya menjebakmu rain, aku bilang begitu agar kamu mau menikah denganku". jawab Allan serius, Allan memang menjebak Raina, karena Allan tau, hanya Raina wanita terbaik untuk dinikahinya.


"tapi, kenapa Monica setuju?"


"rain, Monica tidak akan melepaskan aku dengan mudah, dia adalah tipe wanita yang sedikit gila, dia akan selalu memaksa agar keinginannya tercapai, termasuk menggunakan hal-hal kotor sekalipun, dia mengancam akan membeberkan rahasiaku pada kolegaku jika aku memutuskannya untuk menikah denganmu, aku berjanji padanya, bahwa setelah menikahiku aku akan menyalurkan kebutuhanku kepadanya".


"kenapa sekarang kalian bisa putus?" tanya Raina tidak mau menerima penjelasan Allan begitu saja.


"aku sudah punya senjata yang bisa digunakan untuk melawannya rain".


"apa itu?" tanya Raina penasaran.

__ADS_1


"nanti kamu akan tau, saat tiba waktunya, tapi berjanjilah rain, kamu akan terus bersamaku dan Aleta".


"aku tidak akan berjanji saat sedang bahagia mas".


"kamu bahagia?" tanya Allan sedikit terkejut.


"siapa yang tidak bahagia, jika orang ketiga dalam hubungannya telah tiada". Allan tersenyum mendengar pernyataan Raina, kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah mereka.


"minum dulu kopinya, nanti keburu dingin". kata Raina, Allan hanya menuruti perintah istrinya, pria dewasa dengan tubuh kekar itu tunduk pada gadis belia yang usianya jauh di bawahnya.


Allan menyesap kopinya, sedangkan Raina sibuk membuka satu kotak wafer tango untuk suaminya.


"rain, apa kamu mencintaiku?"tanya Allan tiba-tiba.


"Belum, tapi aku menyayangimu, jauh sebelum aku menikah denganmu".


"apa?"


"sebagai keluarga, meskipun dulu kamu selalu mengacuhkan aku". jawab Raina. Allan kembali tersenyum, ternyata perasaanya terbalaskan.


Tepat ketika tengah malam, Allan dan Raina membaringkan diri di ranjangnya, tidak ada lagi sekat pemisah di antara mereka.


Raina menatap Allan dalam-dalam, mencoba mencari kebohongan di mata suaminya.


"kamu lihat apa rain?"


"aku sedang mencoba mencari kebohongan di matamu, karena mata adalah satu-satunya yang tidak bisa menyembunyikan kebohongan".


"apa kamu menemukannya?" Raina menggeleng, Allan yang gemas dengan Raina langsung mencium bibir tipisnya yang berubah menjadi cerewet malam ini.


Tidak ada perlawanan, Raina sedikit demi sedikit mampu mengimbangi permainan Allan, entah sejak kapan tangannya ada di leher Allan, sedangkan tangan Allan kini sibuk membuka kancing piyama Raina satu persatu, dan dia tidak memperdulikannya.


"apa boleh?" tanya Allan.


"apa yang terjadi kalau aku menolak?"

__ADS_1


__ADS_2