
Saat sarapan, Raina hanya diam tanpa banyak bicara,hanya sesekali membenarkan cara makan Aleta.
"aku ingin mengundang keluarga pak leo makan malam di sini mas, bagaimana?"
"kenapa?" Allan terperanjat.
"mereka kan client besar di perusahaan, jadi aku ingin mengenal mereka secara pribadi".
"mama setuju, undang mereka Sabtu ini". Bu Lidya menimpali.
"papa setuju, pak Leo adalah seorang yang berpengaruh pada perusahaan kita, karena beliau juga merekomendasikan perusahaan kita ke rekan-rekan bisnisnya". pak William tak kalah antusias.
"oke, fix Sabtu depan, papa yang harus menelpon mereka". kata Bu Lidya. Raina tersenyum miring.
"ada apa rain?" tanya Allan setengah berbisik.
"aku hanya ingin mengenal mereka, apa aku salah?" Allan hanya diam dan melanjutkan makan.
Sesampainya di kantor, Allan melihat Kimmy yang sedang duduk sambil serius menatap ke laptopnya.
"oh, bapak sudah datang". Allan tidak menjawab, hanya terus melanjutkan langkahnya.
Kimmy menatap punggung Allan yang semakin jauh darinya, pria itu duduk di kursi kebesarannya lalu tenggelam dalam tumpukan berkas-berkas yang menggunung.
Sebuah pesan masuk ke ponselnya, pesan dari operator yang berisi informasi tentang promo diskon paket internet terbaru mereka. Tanpa sengaja Allan membuka aplikasi perpesanan lain, ada nama Kimmy di barisan paling atas. Terdapat sebuah pesan balasan yang berisikan satu kata "oke". Allan mengernyit. Lalu pria itu menelpon Kimmy dengan interkom yang ada di mejanya.
"halo".
"Kimmy, masuk ke ruangan saya".
"baik pak".
Dengan membawa proposal yang kemarin di minta oleh Allan, Kimmy masuk ke ruangan atasannya itu.
"ada yang biasa saya bantu pak?"
__ADS_1
"apa maksud pesan ini?" kata Allan sambil menyodorkan handphone miliknya.
"maaf pak, tadi malam saya salah kirim". kata Kimmy.
"lain kali jangan ulangi". kata Allan, lalu meminta Kimmy keluar dari ruangannya.
'kalau Allan baru lihat pesan ini, berarti yang membalas pesanku adalah istrinya. YESS !! usahaku berhasil'. kata hati Kimmy.
-
"selamat datang pak Leo". pak William menyambut tamu agungnya di depan pintu.
"apa kabar?" tanya pak Leo.
"sangat baik, mari silahkan masuk".
Setelah beberapa saat berbasa-basi mereka lanjutkan acara dengan makan malam bersama, di sisi kanan meja ada pak William, Bu Lidya Allan dan Raina, lalu di sisi kiri ada pak Leo, istrinya lalu Kimmy, secara tidak sengaja Kimmy dan Allan duduk berseberangan meja.
Mata Kimmy tidak bisa lepas dari Allan ketika laki-laki itu menceritakan tentang perusahaannya, pak Leo sungguh kagum dengan Allan, kerena beliau tidak tau kelakuan Allan di luar perusahaan.
"ada apa Al?" tanya Bu Lidya.
"ngga ada apa-apa ma". kilah Allan.
"maaf, silahkan lanjutkan". Allan meminta tamunya untuk melanjutkan makan, Kimmy hanya tersenyum kecil.
"saya dengar anda baru saja mendapatkan cucu laki-laki dari Allan?" tanya pak Leo pada pak William.
"iya, saya sangat bahagia sekali, lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil mereka setelah hadirnya jagoan kecil kami". pak William mengembangkan senyumnya.
"putri anda sepertinya sudah dewasa, apa sudah punya calon?" tanya Bu Lidya, beliau sedikit paham tentang apa yang terjadi antara Allan dan Kimmy.
"dia terlalu pemilih, entah pria seperti apa yang menarik hatinya". pak Leo tertawa. di ikuti dengan pak William.
"umurnya belum seberapa, biarkan dia puas dulu dengan masa mudanya". Sergah Bu Sisil, mengerti bahwa arah pembicaraan akan menyudutkan putrinya.
__ADS_1
"iya, saya masih muda, dan belum memikirkan tentang pernikahan, meski ada seseorang yang sedang dekat dengan saya". ucap Kimmy, Raina melirik ekspresi Allan yang ada di sebelahnya, suaminya itu telah selesai dengan makanannya.
"dia susah sekali di atur, saya ingin dia bekerja di perusahaan keluarga, tapi dia bersikeras untuk mencari pengalaman di luar, akhirnya saya titip kepada Allan setelah saya tau dia bekerja di perusahaan anda". kata pak Leo.
"lalu, bagiamana dengan kamu, apa kamu di rumah saja mengurus anak-anak?" tanya Bu Sisil dengan nada merendahkan.
"saya meminta dia berhenti kuliah kedokteran dan mengurus anak pertama saya, dan dia dengan senang hati mau mengurus putri saya". Allan mulai terpancing dengan percakapan yang menurutnya mulai tidak kondusif itu.
"menurut saya, wanita juga seharusnya memiliki karirnya sendiri agar tidak seratus persen bergantung pada suami". kata Bu Sisil lagi.
"Raina tidak bergantung pada saya, karena dia merawat, mengandung dan melahirkan anak-anak saya, dia mengerjakan sesuatu yang tidak bisa saya kerjakan jadi itu lebih dari karir di perusahaan bagi saya". Kata Allan penuh makna, Raina berkaca-kaca mendengar perkataan suaminya.
"Allan memang bijaksana, sejak masih di militer saya sudah menduga bahwa dia lebih cocok menjadi pengusaha daripada menjadi perwira". kata pak Leo.
"bagi kami, Raina bukan lagi menantu ataupun orang asing, karena dia telah menolong suami saya, dia begitu tulus tanpa pamrih dan orang seperti itu sulit di temukan di jaman seperti sekarang ini". timpal Bu Lidya.
"mama..". ucap Raina sembari menatap mamanya, meski terhalang Allan yang berada di tengah mereka. Kedua wanita itu saling menatap, membuat anak beranak yang ada di seberang mereka menjadi mati gaya.
Bu Sisil dan Kimmy kehabisan kata, mereka memilih diam dan menghabiskan dessertnya.
"Bagaimana kalau lain kali gantian keluarga anda yang makan malam di tempat kami?" pak Leo menawarkan jamuan.
"saya setuju, bagaimanapun kita sudah mengenal lama, jadi tidak ada salahnya untuk bertemu di luar pekerjaan". jawab pak William.
Selesai makan malam, keluarga itu tidak langsung pulang, mereka duduk-duduk di ruang tamu sambil sesekali bercanda, Raina turun membawa Ali yang terbangun karena ingin minum asi.
"wah, tampan sekali, mirip ayahnya". pak Leo memuji Ali. "saya jadi ingin segera memiliki cucu". imbuhnya.
"wah, Kimmy, pak Leo ingin memiliki cucu, itu tandanya kamu harus segera menikah". kata Raina dengan nada sok akrab kepada rivalnya.
"belum ada yang cocok Bu". jawabnya.
"kamu cantik, berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga terpandang, seharusnya hanya tinggal tunjuk saja"? kata Bu Lidya "tapi hati-hati jaman sekarang, kalau cari suami yang setia, jangan sampai kamu di duakan, karena sekarang ini banyak pelakor berkeliaran". sindir Bu Lidya.
"hanya wanita murahan yang mau menjadi pelakor, kalau sampai anak saya menjadi pelakor, tidak akan ada ampun baginya, jika dia menjadi korban pelakor maka saya sendiri yang akan memberi pelajaran pada suaminya". jawab pak Leo dengan tegas. Wajah Kimmy memucat, seolah dia paham dengan apa yang sedang terjadi. Bu Sisil membatu di sebelah anaknya. Sedangkan Raina tertawa jahat di dalam hati, rencananya seribu persen berhasil.
__ADS_1