Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 39 : Penghiburan dari Aleta.


__ADS_3

"Ak-56? M-70? Rusia?"


Hanya itu yang mampu di tangkap oleh indera pendengaran Raina, apa itu sejenis tipe handphone? kenapa mereka terlihat begitu serius jika yang di bahas hanyalah sebuah handphone? Raina masih berkutat dengan pikirannya sendiri.


Beberapa kali dia mondar-mandir ke ruang baca yang letaknya dekat dengan ruang tamu hanya untuk mencari sedikit bocoran tentang percakapan suaminya.


"Bu, ibu kenapa?" tanya Aini yang melihat majikannya berjongkok di samping Guci.


"ah, ini nyari anting mbak".


"saya bantu ya buk?"


"ngga usah mbak, udah ketemu kok". Dengan secepat kilat Raina beranjak dan pergi meninggalkan Aini yang masih termangu.


Dalam pikirannya hanyalah apa? siapa? kenapa?


Apa yang di lakukan mereka?


Siapa mereka?


Kenapa mereka berbicara seolah bahan pembicaraannya adalah rahasia?


Tak kehabisan akal, Raina mengirim pesan pada sahabatnya Cia.


'hai Cia, kamu sedang apa?'


^^^'aku sedang tiduran,abis berantem sama Carter'^^^


'apa ada yang datang ke rumahmu juga?'


^^^'apa mereka juga kesana?'^^^


'iya, nanti kita bahas lagi'


Selanjutnya, Raina hanya menunggu tamu suaminya pulang, agar dia bisa leluasa menanyai Allan.


Sayangnya, hampir 4 jam mereka masih duduk tegang di ruang tamu, meski sempat di selingi dengan makan siang tapi tidak ada satu pun yang beranjak pergi, berlembar-lembar kertas berserakan di meja yang luasnya 2x1,5 Meter itu.

__ADS_1


Aleta yang sedari tadi bermain kesana kemari telah lelah dan memilih tidur di sofa ruang keluarga, Raina masih menunggu, namun bukanya bubar, tapi mereka bertambah menjadi semakin banyak, beberapa orang lagi datang membuat kursi ruang tamu tidak cukup, akhirnya Allan meminta mereka berpindah ke gazebo belakang yang lebih lega.


Pria-pria itu berjalan beriringan, Raina menghitung satu persatu, jumlahnya 8 orang, mereka berpapasan dengan Raina yang baru saja keluar dari ruang jemuran, beberapa di antaranya tersenyum dan mengangguk sopan, tapi yang lain seolah tak menyadari kehadirannya, semua sibuk dengan gawai masing-masing.


"sayang, ada apa?" tanya Raina pada pria yang berjalan paling belakang.


"dia teman-temanku sayang". Allan menepuk lembut kepala Raina, senyum tulus merekah dari bibirnya, Raina tak kuasa melihat itu juga ikut tersenyum.


Satu ciuman kecil menyentuh pipi Raina, pria itu tau betul bagaimana cara mencairkan hati istrinya.


-


Derit pintu kamar Aleta membangunkan Raina, dia hanya tidur ayam sepanjang malam menanti suaminya yang pergi di bawa oleh rombongan preman mencurigakan tadi.


"sayang, kamu baru pulang?" mata Raina memerah karena pedih, semalaman tidak tidur membuat matanya sembab.


"kamu nangis rain?"


"aku ngga tidur mas, makanya sembab, mas Allan dari mana aja?"


"ada sedikit kerjaan rain, kamu ngga usah khawatir, mereka itu temanku".


"kamu kemana aja mas? kenapa pulang subuh-subuh?"


"tadi malam habis ngurus kerjaan mereka ngajak makan trus ngopi-ngopi jadi aku nurut aja, tapi lama-kelamaan aku bosen jadi aku pulang". Allan menghela nafas panjang, seolah telah bebas dari keadaan yang menyulitkan.


"kamu juga ngga tidur semaleman kan? kita tidur aja yuk". Raina menarik lengan Allan dan mengajaknya merebahkan badan di ranjang mereka nyaman. Tidak sampai lima menit, Allan dan Raina sudah tidur dengan berpelukan.


Namun kedamaian itu hanya sesaat, suara alarm Raina membangunkan mereka, menandakan sudah tiba waktunya untuk menunaikan kewajibannya. Raina mengerjap, matanya masih lengket, segera dia bangkit dan membasuh muka.


"mas Allan, bangun, sholat yuk".


Hening. Allan sama sekali tidak terganggu dengan sentuhan Raina, matanya masih terpejam erat. Melihat tidak adanya pergerakan pada suaminya, Raina berniat menggoda suaminya, dia menciumi pipi suaminya dengan gemas, lalu beralih ke bibirnya, masih tidak ada pergerakan, Raina menyerah, mungkin suaminya sangat lelah. Dia beranjak menjauh.


"mau kemana?" gumam Allan.


"lhoh, aku kira kamu tidur".

__ADS_1


"gimana bisa tidur kalo di gituin". Allan ikut bangkit, dia segera masuk ke kamar mandi dan mengambil wudhu, di ikuti Raina.


-


Allan sibuk dengan panggilan telepon hingga bermenit-menit, matanya memandang laptop tanpa berkedip, Raina yang datang membawa satu piring salad buah tidak di gubrisnya, Raina hanya menyentuh lengan suaminya dan memberi isyarat agar suaminya segera menyantap apa yang sudah di bawanya. Laki-laki itu hanya mengangkat jempol sebagai bentuk persetujuan.


"Allan mana rain?"


"di ruang kerja ma, ngga tau tuh, sibuk terus dari kemarin". bibir Raina di majukan tanda moodnya sedang tidak bagus.


"mungkin lagi banyak kerjaan rain, dulu Allan bisa berhari-hari ngga pulang, tapi semenjak ada kamu dia pulang terus dan betah di rumah, berarti dia udah mengurangi kesibukannya". hati Raina menjadi hangat mendengar bahwa Allan mulai betah dirumah setelah ada dirinya.


"ehm.. iya ma, sekarang mas Allan banyak berubah, jauh lebih baik".


"iya rain, berkat kamu".


"nah, itu orangnya turun". lanjut Bu Lidya sembari menunjuk ke arah anak tangga.


"rain, siapin bajuku ya, mungkin aku mau nginep beberapa hari".


"iya mas". Raina naik ke atas, mengikuti suaminya.


"rain, kamu percaya kan sama aku?" Allan memeluk Raina dari belakang, suaranya yang berat dan sexy membuat Raina selalu mabuk kepayang.


"aku percaya, apapun yang kamu lakukan adalah yang terbaik untuk kita".


"aku harus pergi, aku akan membereskan masalah ini, dan mulai hari ini Cia akan di sini, karena aku pergi dengan Carter". Raina mengangguk ragu, bukan karena Cia akan tinggal bersamanya tapi karena Allan berpamitan Solah dia akan pergi dalam waktu yang cukup lama.


"seberapa lama?"


"mungkin untuk beberapa hari".


Segera setelah persiapan selesai Allan berpamitan kepada putri semata wayangnya, Aleta tampak tenang, entah karena dia sudah terbiasa tanpa papanya atau karena yang lain, gadis kecil itu memang luar biasa dia tidak pernah rewel apalagi menyusahkan orang-orang di sekitarnya.


"sayang, kamu di rumah, jaga Aleta, aku akan segera kembali saat semua ini selesai". Air mata Allan hampir jatuh, tapi dia sembunyikan.


"janji ya? cepet pulang?" bukan Aleta, tapi Raina yang sedikit rewel, dia sangat tersiksa tanpa kehadiran Allan, hari-hari yang dia lalui tidak berarti, setiap detiknya hanya dia gunakan untuk menunggu kepulangan Allan, tidak ada yang mampu menghiburnya kecuali tingkah Aleta, si miniatur yang sering bertingkah seperti papanya.

__ADS_1


"sayang, coba lihat mama, mama nangis gara-gara papa mau kerja". Allan menunjuk wajah Raina, wanita itu tersipu malu.


"mama, mama jangan sedih ya, ada Aleta, nanti Aleta temani mama, nanti kita main boneka biar mama ngga sedih ya?" Dengan senyuman di bibir kecilnya Aleta mencoba memberi penghiburan kepada Raina.


__ADS_2