
"mama, ma.. ini Raina ma, bapak". Raina mengetuk pintu kamar pak William dengan tidak sabar.
"kenapa rain?" Bu Lidya keluar sambil mengucek mata.
"mas Allan pingsan, sekarang di kamar Aleta". Raina berusaha keras agar dapat bicara dengan jelas.
Tanpa komando, mereka langsung bergegas ke kamar Aleta, Allan masih terkapar di lantai, pak William meminta bantuan dari sopir dan securrity rumahnya untuk membawa Allan ke rumah sakit.
-
Ruang UGD tampak mencekam, Raina duduk memegangi tangan Allan yang mulai terasa dingin, entah karena pengaruh AC atau karena yang lain.
"saya periksa dulu ya mbak". kata dokter cantik dengan kawat gigi. Raina hanya mengangguk pasrah.
"ehm, ini pingsan sudah berapa lama?"
"sekitar 10menit dok".
"sebelumnya melakukan aktivitas berat?".
"ngga dok, dia tadi sama saya nonton film trus makan coklat ini". Raina menyerahkan beberapa bulatan coklat seukuran telur puyuh.
"baik, saya akan membawanya ke bagian laboratorium, saya sarankan pasien menjalani test EKG jantung karena detak jantungnya yang terlalu cepat".
"baik dok".
Beberapa menit kemudian datang seorang perawat laki-laki yang membawa sebuah alat yang langsung di kenali Raina, alat EkG yang di gunakan dengan cara menempel beberapa komponen di dada pasien yang akan terhubung dengan alat mirip printer untuk mengeluarkan hasil testnya.
Perawat laki-laki dengan tubuh gempal dan berkacamata itu mengernyit, lalu mengulangi testnya lagi.
"bagaimana?" tanya dokter cantik tadi sembari membuka tirai UGD.
"ini dok". perawat yang bernama Andri itu menyerahkan kertas berwarna pink kepada sang dokter. Lalu dokter cantik itu mengangguk-angguk.
"Bu, kita observasi dulu, akan saya berikan obat melalui suntikan dan yang pasti pasien harus di rawat inap".
"baik dok, saya serahkan semua pada dokter".
-
Sekitar 10menit setelah mendapat suntikan dari dokter tadi Allan membuka mata, Raina segera mengabarkannya kepada dokter.
__ADS_1
"apa yang anda rasakan?" Dokter menempelkan stetoskop di dada Allan. Allan hanya menggeleng, dia terlihat lemah.
"apa anda merasa sesak nafas?" Allan kembali menggeleng, tangan Raina masih menggenggam tangan Allan yang mulai berkeringat.
"saya, nggak tau apa yang saya rasakan dok, tapi tidak ada yang sakit". jawab Allan dengan lemah.
"baik, setelah ini pindah ke ruang perawatan, besok pagi mungkin hasil laboratoriumnya keluar".
"baik dok".
Allan di bawa ke sebuah kamar rawat inap, satu buah infus tergantung di atasnya.
"sayang, jangan sakit". Bisik Raina lembut sembari menempelkan tangan Allan di pipinya. Allan hanya terdiam, matanya terpejam.
"aku sayang sama kamu, cepet sembuh ya mas, aku sama Aleta butuh kamu, hikss hikss hikss". Raina terisak, dia meletakkan kepalanya di atas tempat tidur Allan, menyembunyikan wajahnya.
"aku ngga apa-apa sayang, cuma lemes aja". Allan menepuk kepala Raina lalu membelai rambutnya dengan lembut.
Raina terkejut, air matanya meleleh menuruni pipinya yang halus, dia telah terlalu jauh membayangkan jika Allan tidak akan pernah bangun lagi.
"mas.. ". Raina menghambur memeluk Allan, lalu terisak di dada suaminya, Allan hanya bisa tersenyum melihat bukti dalamnya cinta Raina untuk dirinya.
"rain, aku ngga apa-apa sayang". Raina semakin terisak-isak, seolah kehilangan kemampuan untuk bicara, Allan dengan sabar membelai kepalanya.
-
Pukul 10 pagi, pak William berada di ruang dokter bersama Raina, mereka tampak tegang menunggu pernyataan dokter tentang penyebab Allan pingsan.
"selamat pagi".
"pagi dok".
"ehmm, keluarga Allan Sebastian?"
"iya dok, saya papanya ini istrinya"
"baik, saya kemal, dokter yang menangani pasien".
"begini pak, bolehkah saya mengajukan beberapa pertanyaan?" lanjut dokter kemal.
"silahkan". jawab pak William
__ADS_1
"apa pasien rutin mengkonsumsi psikotropika?ehmm, mungkin karena stress atau apa".
"setau saya ngga pernah dok, bagaimana rain? kamu pernah lihat Allan konsumsi obat?" tanya pak William pada Raina yang terlihat tegang.
"ngga pernah, mungkin kalau minum alkohol saya pernah lihat, kalau obat saya belum pernah lihat dok". Raina tampak yakin dengan jawbannya.
"tadi test urine pasien menunjukkan adanya narkoba dalam tubuhnya".
"ehm, anak saya yang berusia 4 tahun juga mengalami hal yang sama, test darah dan urinenya menunjukkan adanya zat adiktif dalam tubuhnya dan itu di sebabkan karena pengasuhnya memberi dia semacam obat penenang agar tidak rewel, dan tadi malam suami saya makan coklat yang ada di kamar anak saya, mungkin itu penyebabnya dok". Raina menebak-nebak keadaan, mencoba merangkai puzzle yang masih tampak abu-abu.
"boleh saya lihat hasil testnya?"
"bisa hubungi dokter Hanafi? beliau yang menangani anak saya dok".
"baiklah, saya akan konsultasikan kepada beliau"
"lalu, bagaimana hasil lab dari coklat yang kemarin saya bawa dok?" tanya Raina lagi, sedangkan pak William hanya diam, karena dirasa Raina terlihat cekatan menangani masalah mereka.
"hasilnya belum keluar, mungkin nanti sore baru bisa saya pastikan, untuk sementara pasien akan kami pantau perkembangannya".
"baik dok, trima kasih".
-
"Rain, bapak pengen ngucapin terima kasih sama kamu, kamu bisa ngurus Allan sama Aleta dengan baik, bapak ngga nyangka kalau kehadiran kamu bisa memberi efek yang luar biasa untuk keluarga kita". Raina hanya tersenyum mendengar penuturan bapaknya, sesungguhnya Raina terkadang bingung harus memposisikan dirinya sebagai apa, apakah anak, atau sebagai menantu untuk pak William dan Bu Lidya.
"Raina ngga ngapa-ngapain kok pak".
"tapi kamu merubah segalanya Rain, bapak kira dulu Allan akan membenci Aleta selamanya, bahkan dulu dia lihat Aleta aja ngga mau, tapi kamu membuat dia berubah, perlahan kamu melunakkan hatinya, bapak ngga tau lagi harus ngomong apa buat ngungkapin rasa terima kasih bapak ke kamu". Pandangan pak William menerawang jauh, namun senyum bahagia tak pernah luntur dari bibirnya.
"Sekarang, Raina cuma bisa memastikan kalau mas Allan ngga akan pernah kembali jadi Allan yang dulu lagi pak, mas Allan juga udah ngga ada hubungan sama Monica, mungkin itu juga yang membuat dia mau dekat dengan Aleta".
"apa kalian saling mencintai?" Raut wajah pak William berubah serius, membuat Raina sedikit gugup.
"mumpung bapak bertanya, Raina pengen cerita sedikit sama bapak". Raina menarik nafas panjang sebelum memulai ceritanya.
"begini pak, maaf kalau Raina bohongin bapak sama mama, awalnya Raina sama mas Allan emang ngga saling sayang, bahkan mas Allan juga masih berhubungan dengan Monica, tapi sekarang hubungan kami sudah menjadi normal layaknya suami istri".
"ahahaha, bapak tau rain, tidak akan ada orang yang langsung bahagia karena di jodohkan, begitu juga bapak sama mamamu". Pak William tertawa renyah, tidak ada sedikitpun kekecewaan yang nampak di wajahnya.
"bapak ngga marah?"
__ADS_1
"untuk apa? kamu pikir bapak sama mama pergi ke Malang untuk apa? untuk membuat kalian lebih terikat dan saling membutuhkan". Senyum licik terlihat terbit dari sudut bibir pak William, Raina hanya mengangguk tanda bahwa dia mengerti, orangtuanya bertindak sampai sejauh ini karena memikirkan dirinya. Raina terharu.
NB : Elektrokardiogram (EKG) adalah pemeriksaan untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik jantung. EKG umumnya dilakukan untuk memeriksa kondisi jantung dan menilai efektivitas pengobatan penyakit jantung. Elektrokardiogram dilakukan menggunakan mesin pendeteksi impuls listrik jantung yang disebut elektrokardiograf.