Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 28 : Tuhan maha membolak-balikkan hati.


__ADS_3

"apa kamu bahagia?" seperti bumerang, pertanyaan itu berbalik kepada Raina, meski Allan sudah tau jawabannya, Allan selalu ingin mendengarnya berkali-kali.


"aku sudah pernah menjawabnya mas".


"aku ingin dengar sekali lagi".


"aku bahagia, amat sangat bahagia". Bibir Raina tertarik ke kiri dan kanan, senyum lebar menghias wajah cantiknya.


"aku sayang kamu rain". Allan memeluk Raina hingga sendok yang ada di piring Raina terpental dan jatuh entah kemana, hanya dentingnya yang terdengar menggema.


"aku juga". Raina menyandarkan dagu di pundak suaminya, satu tangannya balas memeluk Allan, sedangkan yang lain masih menopang piring


"kamu ngga punya rencana apa-apa rain?"


"rencana apa mas?"


"entahlah, siapa tau kamu mau membuat usaha atau apa". Allan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"aku tidak berbakat di bidang apa-apa". Raina ikut menggaruk kepalanya, namun ada benarnya pertanyaan Allan, dia tidak selamanya akan diam dirumah mengurus Aleta, sebentar lagi anaknya itu masuk SD, semakin besar dia tidak akan membutuhkan pengawasan Raina lagi.


"sebenarnya aku takut kalau kamu jenuh dengan suasana rumah ini rain, meski sebenarnya aku ingin sekali kamu menjadi ibu rumah tangga seutuhnya, hanya mengurus aku dan Aleta".


"aku akan menuruti apa saja perintahmu mas".


"baiklah, kamu memang yang terbaik rain".


-


"hai Raina, apa kabar?" Valencia menyapa Raina dengan suara lantang, hingga beberapa pegawai salon menoleh ke arahnya.


"hai aku baik,kamu apa kabar?" tanya Raina basa-basi.

__ADS_1


"aku baik, hai Aleta, masih ingat Tante?" Aleta mengangguk.


"apa yang ingin kamu lakukan di sini? kenapa ngga ikut tuan Carter main golf aja?" Raina yang merasa penasaran dengan tingkah Valencia segera menanyainya setelah bertemu.


"lebih baik di sini kan, daripada mengikuti bapak-bapak main golf selama berjam-jam". wanita itu segera menuju meja resepsionis, memesan 3 buah paket spa untuk dia, Raina dan Aleta.


"kita santai hari ini rain, spa di tempat ini adalah yang terbaik".


"katanya kemarin kamu sakit? apa sudah sembuh?" sebenarnya Raina canggung untuk bertanya masalah pribadi, namun Allan tadi berpesan bahwa dia harus berbuat baik kepada Valencia, karena goal atau tidaknya proyek Allan bersama Carter ada di tangan istrinya.


"aaahh.. kemarin aku tidak sakit, hanya lelah setelah semalaman dibuat tidak tidur oleh Carter". Raina mengerti arah kemana pembicaraannya, karena malam itu dia juga menjadi korban keganasan Allan, 3 babak dalam waktu 2 jam.


"ohh, aku mengerti". jawab Raina asal-asalan.


"nah, kan kamu mengerti kan? laki-laki memang begitu, mereka selalu memikirkan dirinya sendiri, padahal kita sudah lelah tapi masih di minta untuk melayani, apa suamimu juga begitu?". bisik Valencia, syukurlah dia tau tempat saat bicara, tidak sefulgar kemarin saat di rumahnya.


"tidak juga, dia hanya melalukan seperlunya".


"ngga usah terlalu kaku sama aku, tenang saja aku tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi dengan proyek suami-suami kita". kata Cia, panggilan dari Valencia.


"sebenarnya, apa sih proyek yang mereka kerjakan?" tanya Raina dengan hati-hati.


"Suamimu menyewakan alat berat, sedangkan suamiku memiliki usaha di bidang real estate, selama ini mereka menjalankan usahanya beriringan, dan kali ini mereka sedang membuka lahan untuk di bangun kawasan apartemen, entahlah, itu yang aku tau, aku juga tidak terlalu mengerti". Cia mengangkat bahu, sedangkan Raina mencoba mencerna kata-kata yang dikeluarkan oleh Cia.


"ohh..jadi begitu, pantas saja semalam mas Allan terlihat stress saat pembukaan lahannya mengalami kendala".


"iya, suamiku juga pulang dini hari, hampir subuh". Bola mata Cia memutar, tanda bahwa kesal dengan ulah suaminya.


"berarti kemungkinan mereka pergi bersama".


"tentu saja".

__ADS_1


Beberapa jam berlalu, setelah perawatan selesai Cia di jemput oleh Carter, dan Raina di jemput oleh Allan tentunya. Sebelum mereka berpisah, Cia mengambil beberapa totebag yang berlogo merk pakaian ternama dari dalam mobilnya.


"hai, ini untuk Aleta". katanya sambil menyerahkan barang bawaannya kepada Raina.


"kenapa musti repot-repot". Raina tampak tidak nyaman dengan perilaku Valencia.


"sudahlah, kemarin aku shopping dan melihat baju-baju lucu itu, kerena aku belum memiliki anak jadi aku teringat anakmu". Raina terdiam sejenak, lalu melirik Allan, pria itu juga tampak bingung seperti dirinya.


"ambillah, istriku memang suka begitu". kata Carter dari dalam mobil.


"baiklah, tapi lain kali jangan repot-repot begini, aku jadi sungkan". kata Raina.


"lain kali kita pergi jalan-jalan ya, aku suka dengan anakmu, dia cantik seperti mamanya". Cia membelai puncak kepala Aleta sebelum melangkah pergi. Raina melambaikan tangan pada mobil yang mulai melaju.


"ayo mas kita pulang".


"iya sayang, sini anak papa". Aleta telah berada dalam gendongan Allan, sedangkan Raina menggelayut di lengan Allan yang satunya.


"kamu senang hari ini rain?"


"aku mulai akrab dengan Cia mas".


"baiklah, katakan kalau kamu tidak nyaman, tidak usah memaksakan diri, aku berharap proyekku sama Carter berjalan lancar makanya aku minta kamu temenin istrinya, tapi ternyata di luar dugaan, Carter menandatangani kontrak kerja kami bahkan tanpa membacanya".


"syukurlah".


Sepanjang perjalanan, Allan tertidur, kepalanya tersandar di bahu istrinya, sedangkan Aleta tertidur dengan kepala di pangkuan Raina, tubuh kecil itu menjadi sandaran bagi dua orang yang telah merubah dunianya.


Senyum haru terbit bersama turunnya bulir beling dari sudut mata Raina, dalam waktu sekejap mata dia telah menjadi seorang ibu, tanpa mengandung tanpa melahirkan. Anehnya, rasa sayang Raina kepada Aleta seolah telah mendarah daging, Raina bisa mengerti maksud hati anaknya hanya dengan melihat gerak-gerik Aleta.


Tuhan maha membolak-balikkan hati, Allan yang awalnya sangat tunduk pada Monica perlahan perhatiannya teralih pada Raina, gadis belia yang di nikahinya dengan sedikit tipu daya, gadis kecil yang selalu tidur di ujung ranjang, membentengi dirinya dengan sebuah guling. Benteng yang selalu dia langgar sendiri ketika tidurnya mulai lelap, bahkan pernah suatu ketika Raina terbangun karena haus, lalu kembali tidur di tempat yang salah, bukan di bagian kekuasaannya, melainkan di depan Allan, entah sadar atau tidak dia memeluk Allan yang hanya bisa menahan nafas, menatap lembut pada wajah yang sangat dia sayangi.

__ADS_1


Ya, Allan menyayangi Raina jauh sebelum hatinya sendiri menyadari, ketika dia melihat jemari lentik Raina mengepang rambut panjang Aleta, ketika tubuh kecilnya dengan susah payah menggendong anaknya, hingga saat Aleta sakit dan Raina panik luar biasa. Dari situlah, tumbuh rasa sayang di hati Allan. Lelaki itu terlalu mengagumi kebaikan dan ketulusan hati istrinya, tidak ada satu haripun yang terlewat tanpa mengucap syukur bahwa Tuhan telah mengubah haluan hidupnya.


__ADS_2