Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 1 : Si Iblis Buas


__ADS_3

...Peringatan!...


...Terdapat adegan kekerasan dan darah berlebih. Diharapkan untuk bijak memilih bacaan yang baik. Apapun yang terjadi pada pembaca setelah membaca novel ini di luar dari tanggung jawab Author....


...…...



Angin berhembus kencang menerbangkan debu-debu di tanah gersang nan luas, terik mentari pada siang itu terasa sangat panas membakar kulit. Kota mati di tengah-tengah hamparan tanah gersang nampak sepi, tak ada kegiatan apapun yang dilakukan di sana oleh warga sipil.



Yang terlihat hanyalah orang-orang bersenjata. Mereka berada di berbagai tempat, di jalan, di atas bangunan, sampai di depan perbatasan. Senjata yang mereka gunakan berbagai macam, mulai dari pedang, belati, panah, kapak, palu, sampai berbagai jenis senjata api. Mereka semua berjaga-jaga di posisi masing-masing, bersiap dengan marabahaya yang akan segera tiba sebentar lagi.


Sang pemimpin berpakaian ala ninja dengan warna pakaian hitam-ungu berdiri di puncak salah satu bangunan tinggi dekat perbatasan kota, mengawasi ujung daerah gersang itu lewat teropong. Sampai detik ini, tak ada tanda-tanda kemunculan dari marabahaya yang dimaksud.


Sayang sekali. Jika tidak ada tanda-tanda kemunculannya, maka ‘pancingan’ mereka selama ini telah gagal.


“Beta Vardo, apa rencana Alpha tidak terlalu berlebihan?” tanya salah satu pengikut yang berdiri di sampingnya. “Hanya untuk memancing, perlu melakukan rencana seekstrim itu?”


“Itu sudah keputusan dari sang Alpha.” Pria ninja bernama Vardo itu menurunkan teropongnya, masih menatap lurus ke depan dengan mata hijaunya. “Walau aku agak jijik dengan rencana awal, mungkin itu adalah cara satu-satunya agar target benar-benar terpancing.”


Vardo kembali mengawasi lewat teropong. “Target tipikal sosok yang tidak mudah ditarik dalam jebakan kita. Oleh sebab itu, cara dari Alpha memiliki peluang paling ampuh untuk semakin menariknya ke dalam jebakan.”


“Bagaimana kalau jebakan kali ini tidak berhasil lagi?”


Vardo menyipitkan matanya. “Pasti berhasil. Hanya saja, akan ada banyak nyawa yang harus dipertaruhkan.”


Si pengikut tertunduk kaku. Apa yang dikatakan atasannya memang benar. Target kali ini bukanlah makhluk biasa, dia sangat mengerikan, bahkan lebih mengerikan dari monster manapun.


Dalam misi penjebakan ini, sekitar belasan ribu personel dari lima Guild Pembunuh sengaja dikerahkan demi menumbangkan satu bahaya ini saja.


Target mereka dikenal sebagai makhluk paling ditakuti di sebagian planet. Sudah banyak Guild ditaklukan hanya dengan kekuatannya seorang, bahkan dia pernah meruntuhkan Aliansi Pembunuh dan membunuh dua Sigma, yaitu kedudukan tertinggi sebagai pemimpin Aliansi Pembunuh.


Memang benar. Sang target memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari seorang pembunuh berkedudukan Sigma. Itulah yang paling menakutkan.


Entah apa yang direncanakan oleh para Alpha dan Beta sampai nekat memancing target itu kemari. Ini sama saja dengan memberi makan satu predator sampai gemuk.


Sebelum kembali mengawasi, Vardo sempat merogoh sebutir peluru senapan dari dalam sakunya. Peluru itu bukanlah peluru biasa, melainkan peluru berisi cairan khusus. Bisa diketahui lewat tetesan cairan berwarna abu-abu keluar sedikit dari ujung peluru tersebut.


“Aku punya tiga peluru. Berarti….” Vardo menggenggam erat peluru itu. “Aku hanya punya sedikit kesempatan tuk melumpuhkannya.” Kemudian, ia kembali memasukan peluru itu ke dalam saku.


Vardo kembali mengawasi dari kejauhan. Tak ada apa pun di bentangan tanah kering sana selain beberapa monster raksasa berkeliaran. Tapi tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Para monster berukuran raksasa itu hancur tertebas oleh sesuatu yang besar di sana. Vardo menurunkan teropongnya, matanya membelalak tak percaya ketika melihat sang target datang sambil menghabisi seluruh monster dari berbagai ukuran yang ia lewati, berlari secepat kilat menuju kota mati tempat mereka berada.


“Si Iblis muncul…,” gumam Vardo.


Mendengar ucapannya, si pengikut segera memberi peringatan pada para personel lain. “Si Iblis telah muncul! Bersiaplah di posisi kali—.”


Belum sempat peringatan itu dikumandangkan, sesuatu terjadi dalam sekejap.


Target yang mereka sebut Si Iblis melesat jauh ke arah mereka, melompat tinggi di udara. Diguyur sinar terik mentari, kedua tangannya disilangkan membuat otot pergelangan dan lengannya yang liat membesar disertai urat-urat menonjol. Kedua tangan besarnya memegang erat gagang dua bilah golok merah.


Tepat saat dia terjun cepat, ia ayunkan kedua golok itu kencang, membentuk tebasan sabit terbuat dari darah, membentang panjang sampai menebas seluruh bangunan dari berbagai ukuran yang ada di kota mati tersebut. Bukan hanya bangunan, setengah dari jumlah personel pembunuh mati terkena tebasan mematikan itu.


Puing-puing bangunan berjatuhan, jeritan tersiksa menggema nyaring, semburan darah dan buraian daging banyak menghujani beberapa bagian kota. Semua itu terjadi kurang dari satu kedipan mata.


Belum berbalik, Vardo bergeming di posisinya. Beruntung bangunan yang ia tempati tidak ikut rubuh tertebas. Tapi kejadian yang terjadi dalam sekejap itu cukup membuat dia syok.


Dia tak menyangka kekuatan target mereka semengerikan ini.


“Be-Beta…. Anggota kita….”

__ADS_1


Ucapan si pengikut berhasil membuyarkan perasaan syoknya. Sontak Vardo berpaling, melihat keadaan kota di bawah sana. Terlihat sangat memprihatinkan. Bagunan-bangunan runtuh, jalanan hancur diisi oleh limpahan darah dan potongan daging-tulang.


Si Iblis mendarat tepat di tengah-tengah jalan. Membuat tanah jalan itu hancur saking kerasnya ia mendarat. Kemudian ia meraung keras sampai membuat seisi kota berguncang.


“Haaaarrrggghhh!!!”


Seluruh pembunuh yang masih tersisa karena beruntung mampu menghindari tebasan besarnya tadi mulai memberanikan diri mengepungnya. Mereka semua hanya berani mengambil posisi menyerang, tapi tidak ada satupun yang berinisiatif memulai pertarungan. Sedikit takut mereka mengambil pergerakan karena wujud target mereka berbeda dari sebelum kejadian sekarang.


Si Iblis merupakan seorang pria dewasa. Tubuhnya tinggi-besar, bertelanjang dada memperlihatkan otot-ototnya yang besar berurat. Rambutnya panjang berantakan, berwarna merah menyala. Namun, yang membuat wujudnya terlihat tidak lazim adalah warna hitam-kemerahan yang terdapat pada kaki, tangan, dan kepala sampai leher. Seisi bola matanya pun menghitam dengan iris berwarna perak terang.


Dari wujud itulah Si Iblis benar-benar terlihat seperti iblis sungguhan. Mereka kira, dia akan tiba dengan wujudnya yang normal.


Vardo pun juga heran dengan wujud targetnya. Menghadapi Si Iblis dalam wujud mengerikan seperti itu berada di luar rencana. Kalau sudah begini, rencana penjebakan tetaplah harus dilakukan sesuai perintah para Alpha dari kelima Guild Pembunuh.


“Kita tidak bisa mundur lagi.” Vardo memberi perintah. “Lakukan penyerangan!”


“Hoooaaa!!!”


“Haaarrrghhh!!!”


Semua pembunuh bersorak, mulai melancarkan serangan mereka bersamaan. Dengan mudah Si Iblis berhasil menepis setiap serangan. Beberapa peluru yang ditembakan dari berbagai senjata api juga ia tangkis dengan memutar-mutar cepat kedua goloknya.


Giliran Si Iblis menyerang menggunakan gerakan lincah dan kuat. Beberapa kali para pembunuh berusaha menahan serangannya, tapi malah berakhir dengan tubuh tercincang habis olehnya.


Semburan darah menyebar di udara seiring tebasan Si Iblis dilancarkan, makin banyak lagi korban berjatuhan. Dengan penuh amarah bagai amukan makhluk buas, Si Iblis kembali meraung.


Dua pembunuh menyerang bersama menggunakan pedang. Serangan itu bisa ia tahan menggunakan golok, didorong, lalu goloknya ia ayunkan memotong kaki kedua pembunuh tersebut sampai berlutut, kemudian menusuk wajah keduanya begitu dalam.


Beberapa pembunuh kembali menyerang. Saat dicabut kedua goloknya dari wajah dua pembunuh yang ia habisi, otomatis darah dan bongkahan daging itu menyatu dengan golok, membuat ukuran kedua senjata itu jadi lebih besar. Kemudian, ia tebas-tebas para pembunuh.


“Goloknya menghisap darah dan daging tubuh orang yang sudah mati?” tanya si pengikut terlihat syok, berdiri di samping Vardo. “Apa itu Unsur Ru miliknya? Kukira unsurnya hanya darah.”


“Unsur Ru miliknya bukan hanya darah.” Masih mengamati lewat puncak gedung, Vardo sedikit menjelaskan, “Darah, daging, maupun organ-organ tubuh makhluk hidup adalah sumber dari unsurnya. Dari yang kuamati, dia lebih sering menggunakan darah sebagai bentuk serangan, daging dari mayat-mayat digunakan untuk memperkuat senjatanya.”


Penjelasan dari Vardo terdengar hiperbola. Mendengarnya saja membuat si pengikut ketakutan, apalagi sambil melihat pertarungan dari orang yang dimaksud di bawah sana. Sudah banyak korban mati, darah bercampur daging dan tulang hampir membanjiri jalanan kota, nampak seperti banjir lumpur merah.


Sepertinya sudah cukup mengawasinya. Vardo harus segera mengambil tindakan sesuai rencana awal. Dia meraih senapan yang dikaitkan di punggung, memasukan peluru berisi cairan tadi ke dalam senapan, lalu dikokang.


“Dia mampu meruntuhkan langit Dremara, tapi perumpamaan itu takkan pernah terwujud selama kita masih ada kesempatan tuk melumpuhkannya,” ucap Vardo mulai membidik sasaran.


Mata Vardo berusaha membidik Si Iblis lewat scope senapan, tapi susah tuk membidiknya karena target bergerak dengan sangat cepat. Saat mencoba menembak, tembakannya malah meleset.


“Sialan.” Vardo mendecih. “Aku hanya punya satu kesempatan agar bisa melumpuhkannya. Satu peluru lagi masih perlu disimpan untuk hal yang lebih penting lagi.”


Vardo menoleh, melihat si pengikut masih berdiri mengawasi di sampingnya dengan tubuh gemetaran karena takut. Kalau pengikutnya ini masih menempel di dekat Vardo, maka tidak ada gunanya ia di Guild.


“Kau serang.”


“A-apa?” Si pengikut terkejut.


“Kau tidak mungkin cuma berdiri mengawasi saja di sini seperti orang pengecut, bukan?” kata Vardo santai. “Aku di sini juga punya kerjaan. Kalau kau masih tetap di sini, kau sama sekali tidak berguna di Guild. Tapi jika kau ikut bertempur, dan mampu berkontribusi mengalahkan Si Iblis, aku bisa meyakinkan Alpha untuk menaikan jabatanmu menjadi Gamma atau Delta.”


Mendengar perkataan Vardo membuat si pengikut merasa malu dan takut. Yang dikatakan Vardo benar. Posisinya di Guild hanyalah sebagai Omega. Jika dia tidak ikut bertindak, maka dia dianggap tidak berguna di dalam Guild. Dia bisa naik pangkat ke Gamma atau Delta jika mampu ikut mengalahkan Si Iblis.


Namun, di sisi lain si pengikut juga takut, dia masih sayang nyawa. Kekuatan Si Iblis yang ia lihat sekarang sangatlah mengerikan. Banyak rekan-rekan dari posisi Omega hingga Delta tewas di tangannya dengan mudah. Kalau dia masih belum berani juga bertindak, Vardo akan terus berusaha memojokkannya.


Sialan, posisi manapun sama sekali tidak menguntungkan. Tapi, tidak ada salahnya untuk mencoba. Mungkin saja Fortuna berada di pihaknya.


“Heeeaaargh!!!”


Si pengikut langsung terjun melesat ke arena pertempuran sambil bersiap menebas menggunakan kapak. Melihat ada serangan dadakan, Si Iblis menghindar sedikit, membuat si pengikut mendarat dengan kapak menebas tanah.


Sambil berteriak tak karuan, si pengikut berusaha menebas-nebas Si Iblis dengan gerakan tak beraturan. Namun pada akhirnya, dia mati dibelah dua oleh golok Si Iblis.

__ADS_1


“Meh. Sudah kuduga, tidak berguna sampai akhir,” remeh Vardo datar.


Saat bertarung membunuh para pembunuh, tubuh Si Iblis hampir saja kena tembak senapan runduk dari kejauhan kalau saja ia tidak bergeser menghindar. Mengikuti arah peluru berasal, Si Iblis menemukan beberapa penembak berusaha menembaknya menggunakan senapan runduk di atas bangunan-bangunan tinggi yang masih tersisa.


Menyerang dari jauh bukan berarti aman dari serangan balasan.


Si Iblis menendang genangan darah di dekatnya hingga tetesannya melayang ke udara. Tetesan-tetesan darah itu mengeras menjadi batu darah disertai ujung yang tajam. Dengan perintah dari gerakan satu golok, batu-batu darah itu melesat jauh ke arah para penembak, menusuk tubuh mereka bahkan ada yang sampai menghancurkan bangunan-bangunan di sana.


Beberapa penembak yang berhasil selamat belari menghindar sambil berusaha menembak Si Iblis, tapi Si Iblis kembali menciptakan batu darah, melesatkannya ke arah mereka hingga tidak ada penembak lagi yang tersisa.


Saat Si Iblis fokus dengan serangan jauhnya, para pembunuh di sekitar mencoba menyerang dari belakang.


“Heeeaaauurrrgh!!!”


Meraung keras, reflek Si Iblis berbalik sambil memberi tebasan gelombang berbentuk sabit darah lagi sampai beberapa pembunuh mati tertebas, sisanya masih bisa menghindar.


“Dia benar-benar sulit tersentuh,” ucap salah satu pembunuh yang sudah mulai kelelahan.


“Bahkan saat dia fokus menyerang penyerang jarak jauh,” ucap rekannya pula.


Lagi-lagi Si Iblis bersiap memberi serangan tak terduga lainnya. Ia memutar-mutar kedua golok, menciptakan belasan replika golok terbuat dari daging dan darah yang melayang di sekitarnya. Setelah semua replika tercipta, tak disangka Si Iblis melakukan gerakan silat dua golok untuk mengendalikan belasan goloknya.


Menggunakan semua replika itu, Si Iblis menebas-nebas para pembunuh. Menyadari akan serangan tersebut, beberapa pembunuh berusaha menahan dan menghindar. Namun akhirnya, mereka malah mati tercincang, terbelah, tertebas habis menjadi potongan daging dan tulang bersimbah darah.


“Tak disangka, zaman sekarang masih ada yang mengendalikan Unsur Ru menggunakan teknik beladiri,” komentar Vardo, kemudian kembali berusaha membidik. “Kalau seperti ini, dia makin sulit ditembak. Aku harus mencari celah ataupun saat-saat ia lengah.”


Si Iblis terus bertarung membantai para pembunuh yang tak ada habis menyerangnya. Sayangnya, ketangkasannya tak bisa bertahan lama.


Ketika tangan Si Iblis hampir mengayunkan satu golok ke arah seorang wanita berambut pirang panjang bergelombang, tubuhnya langsung mematung. Seketika sebuah ingatan yang sangat membekas di hati muncul di saat tak tepat.


Warna dan bentuk rambut wanita itu mirip seperti milik seseorang.


“Aku senang bisa mengenalmu.”


Senyum manis itu takkan pernah ia lupakan.


Melihat Si Iblis tiba-tiba mematung begitu saja, menjadikannya sebuah kesempatan bagi Vardo. Ia menyunggingkan senyum, bersiap menarik pelatuk.


“Gotcha, Sayang.”


Satu tembakan berhasil mengenai punggung Si Iblis, membuat tubuhnya lumpuh seketika dan energinya terasa hilang begitu saja.


Tidak sampai di situ. Vardo menghunuskan pedang, melesat cepat ke arah Si Iblis, lalu menebas kepalanya sampai darah menyembur banyak keluar dari leher dan kepala Si Iblis yang lepas.


“Siapa pun, jauhkan kepalanya dari tubuhnya!” perintah Vardo setelah mendarat dan kembali menyarungkan pedang.


Tiba-tiba puluhan sulur hitam kehijauan keluar dari lubang leher Si Iblis, hendak mendekati kepalanya. Sesuai perintah Vardo, beberapa pembunuh segera menjauhkan tubuh dan kepala Si Iblis. Sebelum sulur itu semakin memanjang, Vardo menghalangi, menembakan satu peluru berisi cairan terakhirnya tepat pada sulur-sulur itu.


Seketika muncul lingkaran bayangan berisi tulisan-tulisan kuno di hadapan semua sulur. Samar-samar terdengar suara berat dari sana, berucap menunjukan kekesalan.


“Dasar bodoh!”


Lingkaran bayangan tersebut lenyap, membuat semua sulur dari tubuh besar Si Iblis hancur menjadi potongan daging cincang berlumuran darah.


Vardo dan semua pembunuh yang tersisa berusaha mengatur nafas, kelelahan akibat ketegangan yang mereka alami dalam pertarungan nyawa ini. Pada akhirnya, rencana mereka berhasil untuk melumpuhkan, atau lebih tepatnya membunuh Si Iblis.


“Akhirnya, beres juga rencana dari para Alpha bajingan itu,” dengkus Vardo jengkel dengan nafas naik-turun.


Salah satu Beta dari perwakilan Guild lain datang menghampiri. “Kita apakan mayat Si Iblis ini, Beta Vardo?”


Sempat Vardo melihat tubuh dan kepala Si Iblis bergantian. Kalau rencana sudah berhasil dijalankan, lalu apalagi yang harus dikerjakan?


“Kembali ke Guild Haxona, dan langsung bawa kepala dan tubuhnya ke lab.”

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2