
“Pembebasan… Sang Iblis Buas…?” tanya Haku bingung. “Apa maksud Anda membebaskan Sang Iblis Buas? Bukannya beliau sudah mati 10 tahun yang lalu setelah dikalahkan oleh Aliansi Guild Haxona?”
Haku masih tidak mengerti maksud Luan. Sang Iblis Buas sudah tewas dibunuh oleh anggota Aliansi Guild Haxona yang dikenal saat ini sebagai salah satu Aliansi Pembunuh berpengaruh di Planet Urdalin. Lantas, bagaimana bisa orang yang sudah mati bisa dibangkitkan?
“Dia belum mati, Hakuma.” Pelan-pelan Luan mengipasi dirinya. “Dilihat memang sudah mati, tapi di sisi lain dia masih hidup, berusaha menahan sakit yang ia derita selama 10 tahun lamanya.”
Sakit yang ia derita? Hal tidak masuk akal apa lagi yang ingin dijelaskan Luan pada Haku? Haku masih belum mengerti apa-apa.
“Kau tahu kalau Sang Iblis Buas merupakan seorang Ruzan?”
Haku tahu informasi tentang Ruzan. Ruzan merupakan julukan bagi seseorang yang memiliki kelebihan produksi Energi Ru di dalam tubuhnya. Keadaan tersebut dianggap kutukan karena dapat menyebabkan efek samping yang sangat serius, termasuk menyebabkan kematian yang sangat menyiksa.
Jumlah Ruzan sangat langka. Mereka berasal dari keturunan para pemberontak terkuat dan berpengaruh yang berperan penting dalam memusnahkan segala bentuk sistem pemerintahan di Planet Urdalin 300 tahun lalu.
Akibat pengaruh mereka dalam gerakan pemusnahan sistem pemerintahan, salah satu petinggi yang pro terhadap sistem pemerintah menjalin kontrak dengan beberapa makhluk dari dimensi Dremara.
Isi dari kontrak tersebut meminta makhluk Dremara untuk menjatuhkan kutukan pada para pemberontak yang dianggap serakah, yaitu dengan membuat Energi Ru mereka diproduksi secara berlebihan.
Hal itu tentu menyebabkan kematian yang sangat menyiksa bagi para Ruzan yang tidak sanggup menahan kelebihan Energi Ru. Kematian mereka sangat bervariasi, tapi tidak dijelaskan kematian seperti apa yang menyiksa mereka.
Namun, sebagian Ruzan masih bisa bertahan hidup lewat cara menjalin kontrak dengan musuh makhluk-makhluk Dremara, yaitu tumbuhan parasit dari dimensi Fona. Tumbuhan-tumbuhan inilah yang berfungsi menyerap semua kelebihan Energi Ru agar produksi dan penggunaannya tetap stabil.
Luan pun kembali menjelaskan masalah tadi, “Guild kita sempat mengirimkan beberapa mata-mata untuk mengintai kegiatan semua Guild yang terikat dengan Aliansi Guild Haxona. Tepat di Guild utama, yaitu Guild Haxona, kita menemukan sebuah fakta bahwa Sang Iblis Buas masih hidup.”
“Dia dikurung di dalam sebuah laboratorium khusus. Menggunakan mesin-mesin canggih terbuat dari Material Ru, Energi Ru milik Sang Iblis diserap dari tubuhnya. Nah, hasil dari serapan itu disalurkan ke lima segel yang disebut Segel Midra. Segel ini sendiri digunakan oleh lima orang untuk mendapatkan lebih banyak Energi Ru dari tubuh Sang Iblis, hasil serapan mesin tersebut.”
“Tunggu dulu…” Haku bersedekap, merasa ada yang janggal dengan penjelasan Luan. “Lima orang ini menggunakan Segel Midra demi mendapatkan lebih banyak pasokan Energi Ru, begitu? Bukannya kelebihan Energi Ru dapat menyebabkan efek samping yang sangat serius?”
Luan masih mengipasi dirinya. “Ya, memang benar. Oleh sebab itu, mereka menggunakan segel ini. Segel Midra diciptakan dari mesin-mesin penyerap sumber Energi Ru. Selain digunakan untuk membantu mengalirkan Energi Ru dari mesin penghisap ke pengguna segel, juga berfungsi untuk menghilangkan efek sampingnya.”
__ADS_1
Lagi-lagi Haku dibuat tercengang dengan informasi ini. Baru pertama kali ia mendengar ada semacam alat yang mampu menghilangkan efek samping kelebihan Energi Ru sekaligus membantu menyerap Energi Ru dari pemilik lain, terutama dari seorang Ruzan.
Jika benar adanya alat seperti Segel Midra, maka ini akan sangat berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan yang salah, kepada mereka yang serakah ingin cepat kuat.
“Jadi, siapapun yang memiliki Segel Midra tidak perlu khawatir akan efek samping kelebihan Energi Ru.” Luan sempat berpikir. “Yang jadi masalah adalah lima pemilik dari kelima segel itu merupakan orang asing yang berbeda-beda.”
“Orang asing?” Haku menaikan sebelah alisnya heran. “Maksudmu, kelima Segel Midra tidak digunakan oleh anggota Aliansi Guild Haxona?”
“Awalnya memang digunakan kelima anggota aliansi,” jawab Luan kembali, “tapi seiring terjadinya pertarungan serta pembunuhan antar Guild, para pengguna asli ini bisa dikalahkan oleh orang lain. Segel itu pun mampu direbut dan dipasang oleh orang yang merebutnya. Jadi, kelima segel ini berpindah-pindah pemilik selama 10 tahun. Tidak ada yang tahu dimana kelima segel itu sekarang, kecuali orang-orang Haxona. Di antaranya mungkin masih ada di anggota aliansi, makanya proses penyerapan Energi Ru milik Sang Iblis masih tetap berjalan.”
“Kabarnya, aliansi ini juga sedang gencar memburu para pengguna Segel Midra agar bisa direbut dan digunakan kembali pada anggota yang terpilih. Oleh sebab itu, aku ingin memberi tugas yang berhubungan dengan masalah segel dan pembebasan Sang Iblis Buas pada pemuda bernama Mardin ini.”
“Lalu, apa hubungannya Mardin dengan semua masalah ini?” tanya Haku untuk kesekian kalian. Dia sangat penasaran, seberapa pentingnya peran Mardin dalam konflik ini.
Siluet di balik tirai tersebut menunjukan gerakan Luan sedang minum teh. Ada jeda beberapa saat demi membasahi bibirnya yang sempat kering akibat terlalu banyak menjelaskan perihal masalah tadi. Setelah gelas teh kecil itu di taruh di meja, Luan kembali memberi penjelasan pada sang murid.
“Mardin juga seorang Ruzan. Selain seorang Ruzan, dia memiliki keterikatan kuat dengan Sang Iblis Buas. Lebih tepatnya, Mardin adalah putra dari Sang Iblis.”
Haku jadi makin penasaran untuk mengetahuinya.
“Selain memiliki keterikatan kuat sebagai keluarga kandung, Mardin memiliki tumbuhan parasit dari Fona, hasil menjalin kontrak agar dia bisa bertahan hidup dari kondisi kelebihan Energi Ru. Parasit itu dapat menangkal kekuatan dari Segel Midra, dan segel bisa disimpan oleh parasit tersebut tanpa harus diberikan pada orang lain.”
“Jadi, Anda bertujuan meminta Mardin yang merupakan seorang Ruzan sekaligus anak dari Sang Iblis Buas untuk merebut kelima segel dan membebaskan ayahnya sendiri?”
Sekarang, Haku bisa mengambil kesimpulan dari semua penjelasan ini. Luan ingin meminta bantuan Mardin untuk mengumpulkan kelima segel dari lima penggunanya, dan setelah itu membebaskan Sang Iblis.
Tapi, masih ada beberapa hal abu-abu di sini yang kurang jelas.
Lagi-lagi Luan menjawab dengan nada santai, “Kurang lebih begitu. Mardin anak yang kuat. Aku yakin, dia bisa mengumpulkan kelima segel dengan mudah.”
Luan kembali menjelaskan tujuan utama, “Tugas utamamu cukup bertemu dengan Mardin, bicara padanya, dan yakinkan dia untuk melaksanakan tugas ini. Setelah itu, kau beritahu aku informasi terkini tentang perkembangan Mardin, maka aku akan memberikan instruksi berikutnya untuk dilaksanakan.”
__ADS_1
“Kau juga perlu mengawasi gerak-geriknya. Tetap waspada, pemuda itu sangat berbahaya. Usahakan untuk terlihat meyakinkan di mata Mardin agar kau bisa mendapatkan kepercayaannya. Jika tidak, mungkin kau hanya akan tinggal nama di dunia ini.”
Haku meringis ngeri mendengar penjelasan Luan. Nadanya terdengar sangat serius. Jika benar Mardin seberbahaya itu, maka Haku tidak boleh sampai salah langkah dalam mengemban tugas ini. Tugas ini sudah terlanjur membuat Haku mempertaruhkan jabatannya sebagai Omega di Guild Yatshuhama. Dia harus sangat berhati-hati.
Selain itu, kalau dipikir-pikir cukup wajar Mardin dianggap berbahaya. Dia seorang Ruzan, dan rata-rata Ruzan memiliki kemampuan bertarung yang sangat baik melebihi pembunuh lain di Planet Urdalin, salah satu contohnya seperti Sang Iblis Buas.
Setelah Luan selesai menjelaskan semua rincian, mulai dari masalah sampai pergerakan apa saja yang harus diambil Haku dalam tugas kali ini, ia pun mempersilakan muridnya untuk kembali.
“Kau kembalilah, Hakuma. Kau harus bersiap-siap berangkat ke Kota Kamaju. Tak perlu pamit lagi, langsung berangkat saja. Dan berhati-hatilah dalam perjalanan. Jangan sampai mati oleh monster ataupun Rogue dan pembunuh lain yang berkeliaran. Dan juga, jangan sampai ketahuan oleh Guild di Kota Kamaju kalau asalmu dari Guild Yatshuhama. Kalau Mardin yang tahu, tidak masalah jika itu demi meyakinkannya.”
Haku kembali mengambil posisi berlutut, memberi hormat dengan sopan, “Baik, Guru Luan. Saya pamit undur diri. Terima kasih atas semuanya.”
“Hm. Pergilah.”
Setelah Haku mengembalikan ponsel milik Luan ke robot penjaga, Haku berjalan keluar melewati gerbang ruangan bernuansa timur tersebut. Setelah gerbang tertutup rapat, terdengar suara helaan nafas dari Luan.
Bukan karena lelah menjelaskan semua hal pada Haku, Luan lelah karena tegang sehabis kepergok punya banyak koleksi video cabul di tabnya. Beruntung gara-gara penjelasan panjang lebar tadi, Haku sampai lupa tentang video-video laknat itu.
“Hei, kau.” Luan memanggil robot di sebelah kanan.
Sang robot hanya menoleh sebagai balasan.
“Apa dia sempat membuka koleksi Eneng Montok?”
Sang robot menjawab, nadanya terdengar bingung, [“Eee…. Sepertinya, tidak sempat, Beta.”]
“Fyuuuh…. Syukurlah.”
Luan mengipas-ngipas kencang kipas lipat itu ke wajahnya. Mumpung sendirian, tak peduli robot-robot penjaga masih diam berjaga di sana, ia langsung mengaktifkan tab tadi, melihat isinya sambil cekikikan sendiri.
...~*~*~*~...
__ADS_1