
Mardin masih melawan monster-monster sisanya ketika monster cumi-cumi sudah lemas tak bisa bergerak lagi. Saat menebas satu monster, Mardin menengok ke arah Haku.
“Hei, kau yakin tidak mau menghabisi monster-monster ini dengan jurus andalanmu?”
Saat ini, Haku sedang pundung di pojokan bangunan tua, terlanjur sakit hati tidak bisa melancarkan serangan andalan cuma gara-gara kotoran monster di sepatu mahalnya. Ketika ada satu monster hendak menerkam, langsung Haku tebas saja tanpa menoleh sedikit pun.
“Enggak, ah. Aku ngambek,” ngambek Haku.
“Seperti anak kecil saja,” ledek Dros di pikiran Mardin.
“Hehee….” Mardin terkekeh melihat sikap kenak-kanakan Haku dan juga tanggapan Dros. “Baiklah. Kalau begitu, biar aku saja yang bereskan.”
Dalam hitungan singkat, Mardin menembak monster cumi-cumi besar dengan tembakan Meriam Laser sampai meledak menyemburkan banyak darah dan daging, serta memotong monster-monster sisanya menggunakan Pemotong Laser dari beberapa bayangan holografik pistol blaster.
Kini jalanan bersih dari para monster, tapi malah tambah kotor oleh banjir darah dan tumpukan daging-daging hancur. Mardin sama sekali tak peduli dengan pemandangan itu, hal seperti ini sudah biasa ia lihat hampir setiap harinya.
Karena kumpulan hama sudah dibereskan, Mardin pun memasukan goloknya ke dalam skateboard di belakang, berjalan santai menghampiri Haku di pojokan sana.
“Semua sudah dibereskan, Kawan,” ucap Mardin ramah di samping Haku.
“Hm,” balas singkat Haku tanpa menoleh.
Mardin menyerahkan tumpukan kertas koran bekas yang baru saja ia temukan. “Kau bisa membersihkan bekasnya pakai ini.”
Segera Haku sambar koran bekas itu, ia bersihkan sol sepatunya dari bekas-bekas kotoran monster sambil berusaha menahan jijik.
Agar mengubah suasana canggung ini, Mardin memulai topik, “Bukannya kau bilang ada yang ingin kau sampaikan padaku sebelumnya?”
Perasaan bete Haku seketika sirna ketika ingat tujuan utama ia ke sini. Dia terlalu fokus bertarung dan memperhatikan sepatu mahalnya sampai lupa amanat dari sang guru.
__ADS_1
Haku melempar bekas koran itu ke belakang hingga menyebabkan bunyi ‘tuing!’, lalu berdiri di samping Mardin. “Ah, iya. Ini soal seseorang yang hendak meminta bantuan padamu.”
“Bantuan?”
Mardin mendadak bingung. Siapa gerangan yang tiba-tiba ingin meminta bantuan padanya? Mardin sendiri sudah tidak begitu waspada dengan kehadiran Haku karena mereka mampu bekerja sama dengan baik menghabisi para monster. Tapi kalau begini tujuan Haku, Mardin harus hati-hati dengannya.
Namun, Mardin tidak boleh menunjukan rasa kewaspadaan pada Haku. Pria samurai itu mungkin bakal balas waspada padanya.
“Baiklah, baiklah. Kau boleh bicara padaku. Tapi, aku harus pergi membeli pupuk dan beberapa bibit tanaman dulu.”
Haku menaikan sebelah alis heran. “Membeli… pupuk dan bibit tanaman?” Ia membetulkan posisi kacamata.
“Iya.” Mardin mengangguk. “Aku punya kebun kecil-kecilan di belakang rumah kosku. Setiap kali ada waktu luang, akan kuhabiskan dengan berkebun. Lumayan ‘kan buat meminimalisir pengeluaran mingguan maupun bulanan?” Ia tersenyum lebar.
Mardin berjalan melewati Haku yang masih berdiri diam di sana. Haku berpikir sendiri, tak menyangka jika orang berkemampuan hebat dan dianggap berbahaya oleh gurunya punya hobi berkebun.
Selain memiliki hobi yang ringan, Mardin juga orangnya sangat ramah terhadap orang asing seperti Haku walau sempat hampir membunuhnya gara-gara tahu nama Mardin. Haku mengerti tindakan itu, Mardin berusaha menyerangnya karena itu bentuk pertahanan diri. Mungkin Mardin mengira Haku sebagai ancaman bagi hidupnya.
Namun, dari cara bertarung Mardin, Haku akui Mardin merupakan orang yang sangat hebat di usianya yang kelihatan lebih muda dari Haku.
Haku sedikit menyipitkan mata biru terangnya di balik lensa kacamata itu. Seperti yang disampaikan Luan, Haku harus berhati-hati dengan Mardin. Apalagi ketika menyadari seberapa hebat kekuatan Mardin, membuat Haku makin yakin untuk jangan gegabah dalam mengambil tindakan menangani remaja ini.
“Kau mau ikut?”
Mardin menoleh, menunggu Haku ikut menyusulnya. Pria itu juga balas menoleh padanya, menghela nafas, dan berjalan santai menyusul Mardin.
Mau bagaimana lagi? Daripada belatungan di sini menunggu Mardin membeli bahan-bahan berkebun, mending ikut saja.
...~*~*~*~...
“Berita terkini Tata Surya Nurkin. Di daerah Kota Kadu, Planet Terezia, puluhan tempat hiburan malam mengalami kerugian besar akibat digerebek sekelompok emak-emak yang protes karena suami-suami mereka kabur menghabiskan uang demi menyewa jasa pelayanan para bencong. Berikut liputannya.”
__ADS_1
“Saya enggak sudi laki saya selingkuh, ama bencong pula!”
“Musnahkan tempat hiburan malam! Ikat dan gantung para bencong itu di atas pohon duren!”
“Laki *Pip!*, *Pip*, *Pip*! Dasar *Pip*! Kambeng! Enggak sudi lagi aku sama laki *Pip*! Sakit hati aku pengen *Pip* laki sendiri!”
“Laki saya— Ohok! Ohok! Wooohogh! Sudah 73 tahun. Ohok! Tapi, masih tetap saja kelakuannya kayak— Ohok! ‘Jingan. Ohok!”
“Saya tadi lewat, Mbak, pas penggerebekan berlangsung. Nemu ada laki tepar di jalan. Saya tanya tuh, ‘Udah mati kau?’. Eh, malah enggak jawab. Kan enggak sopan.”
Toko yang menjual perlengkapan kebun itu nampak sepi tak ada pembeli. Sang penjual merupakan seorang pria paruh baya, sedang asik menonton berita televisi sambil duduk santai di belakang meja kasir. Karena sepi pembeli, rasanya sang penjual agak malas untuk berjualan. Pengen tutup, tapi kali aja ada yang beli. Tetap buka, ya hasilnya cuma gini-gini aja.
Pintu toko tiba-tiba terbuka, menandakan ada pembeli baru saja masuk ke toko. Yang masuk merupakan dua orang laki-laki, satunya pemuda remaja dengan senyum sumringah, satunya lagi pria dewasa mengikuti di belakang.
“Pak! Saya beli pupuk sama bibit-bibit tanamannya, yak!”
Penjual itu menoleh, tapi ekspresinya yang sempat lesu tiba-tiba histeris sendiri ketika melihat kehadiran mereka berdua.
“Huaaaa!!! Rogue! Rogue! Ampuni saya! Ambil saja semuanya, tapi jangan ambil organ dalam saya!!! Jangan potong belalai saya! Saya masih pengen punya anak!”
Tentu Mardin dan Haku heran dengan perilaku histeris sang penjual. Baru mereka sadari kalau sebagian kecil pakaian mereka kotor oleh cipratan darah akibat pertarungan melawan gerombolan monster tadi.
“Dia sadar kalau kita Rogue,” bisik Haku datar.
Mardin membalas dengan enteng. “Tenang saja. Aku bisa mengatasi kepanikan si bapak. Aku pandai berbohong, kok.” Ia mengacungkan jempol.
Dengan percaya diri seperti biasa, Mardin berjalan mendekati meja kasir sambil bilang kalau darah-darah yang ada di tubuh mereka disebabkan karena baru saja membantu pemotongan daging hewan ternak di tempat pemotongan daging, jadi tidak sempat bersih-bersih karena terburu-buru.
Haku cuma memperhatikan di dekat pintu, berekspresi datar. Dia jadi makin heran dengan sifat remaja aneh satu ini.
“Emang berbohong patut dibanggakan?”
__ADS_1
...~*~*~*~...