Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 29 : Ditinggal Sendirian, Kok?


__ADS_3

“Rosa, di luar ada siapa?”


Seorang pria tinggi baru saja keluar dari vila menghampiri Rosa, Atna, dan Mardin. Pria itu memiliki rambut hitam, memakai kaos oblong berwarna hitam, serta celana panjang cokelat. Dia nampak bingung ketika melihat keberadaan Mardin di depan rumah mereka.


“Siapa cowok ini?” tanya pria itu sambil menunjuk Mardin. “Kok tadi anak-anak pada ribut?”


“Oh, Mas Irwan?” Rosa menoleh ke arah pria tersebut masih sambil menggendong balitanya. “Ini, nih. Si Mardin…. Keponakannya Paman Rom datang kemari buat anterin paket yang kau pesan kemarin. Kau ‘kan sempat berpesan sama Paman Rom buat beli….” Ia pun mengibaskan tangannya. “… Apalah itu. Aku juga lupa.”


“Anak-anak juga tadi pada ribut gara-gara disuruh ngeroyokin Abang ini,” timpal Atna pula.


Rosa cuma tersenyum canggung ketika disinggung soal kecerobohannya tadi, mengira Mardin sebagai penjahat.


“Ooo…. Paket pesananku udah tiba, nih?” ucap Irwan sedikit terkejut. “Ini Mardin, ya?”


Sambil tersenyum ramah dan mengangguk pelan, Mardin menjawab, “Iya, Bang.” Lalu ia menyerahkan kotak paket yang tadi ia antar. “Dan, ini paket yang dimaksud.”


“Astaga. Makasih, ya. Jadi ngerepotin.” Irwan pun menyambut kotak paket tersebut. “Padahal rencananya aku mau langsung pergi ke bar buat ambil ini paket.”


“Coba dicek dulu, Bang. Kali aja isinya enggak sesuai atau ada bagian yang rusak. Nanti bisa dibalikin ke Paman Rom,” saran Mardin.


“Oh, oke, oke.”


Irwan menaruh kotak paket tersebut di lantai, berlutut di sana sambil membuka kotak paket tersebut. Rosa, Atna, maupun Mardin ikut melihat apa isi paketnya. Mardin jadi penasaran juga. Sejak Mardin mengantarkan paket itu dari bar ke vila ini, dia sama sekali tidak tahu apa isinya.


Setelah dibuka, mereka melihat isi paket tersebut berisi rangkaian kerangka perlengkapan yang belum terpasang. Masih perlu dirakit agar bisa menjadi barang jadi.


Mardin menaikan sebelah alis, kenal betul benda apa yang ada di dalam paket tersebut. “Perangkat jebakan?”


“Iya, Mard.” Irwan mulai mengecek rangkaian perangkat itu. “Buat ngejebak para Rogue dan monster-monster yang mau menyusup ke vila ini.”


Mardin tahu kalau jenis rangkaian perangkat jebakan ini memang digunakan untuk menjebak manusia maupun monster. Jebakan seperti ini biasanya menghasilkan sengatan bertegangan cukup tinggi yang mampu melumpuhkan siapapun yang menyentuhnya. Tapi, kalau jumlah rangkaiannya cuma sepaket ini saja, takkan cukup tuk dipasang ke sekeliling vila.


“Kalau segitu ‘mah perangkatnya, belum cukup,” komentar Mardin.


“Ini bagian perangkat terakhir. Sisanya udah ada lengkap di sini, cuma kepasang separuh.”


Mardin mengangguk mengerti. Rupanya, Irwan sudah punya lengkap seri perangkat jebakannya dan sudah dipasang pula separuh di sekitar vila. Yang Mardin antarkan ini merupakan bagian terakhir perangkatnya.


Setelah selesai memeriksa isi paket dan dipastikan isinya lengkap serta dalam keadaan bagus, Irwan kembali berdiri sambil mengangkat kotak paket itu.


“Sekali lagi, makasih ya, Mard, udah repot-repot anterin ini paket,” ucap Irwan disertai senyum ramah. “Oh! Mending kau masuk aja dulu ke dalam. Kau pasti capek anterin ini paket sampai ke sini. Di daerah sini emang sepi, susah nyari vila kami biarpun ‘dah baca alamat lengkapnya.”

__ADS_1


“Eh, benar juga!” Rosa menyetujui saran suaminya. “Masuk, Mard. Masuk. Jadi enggak enak aku, dari tadi kagak sempat ajak kau masuk, malah nyuruh anak-anak mengeroyokimu.”


Mardin menggaruk kepalanya sungkan. “Aduh…. Gimana ya, Bang, Kak. Aku… musti balik lagi ini ke bar.”


“Udah, masuk aja. Istirahat dulu bentar di sini. Paman Rom juga pasti enggak keberatan kalau kau mampir dimari,” tawar ramah Rosa lagi sambil memperbaiki posisi menggendong buah hatinya.


Setelah bersikeras mengajak Mardin masuk, akhirnya pemuda itu menuruti ajakan sepasang suami istri yang ramah itu. Ia segera masuk diantar Rosa dan Irwan, sedangkan Atna menyusul di belakang setelah selesai menutup pintu vila.


Ketika memasuki vila, Mardin diarahkan ke ruang tamu. Ruangan itu terlihat cukup berantakan oleh banyak mainan dan bungkus-bungkus makanan-minuman yang berserakan di setiap sudut.


Menyadari ruang tamu itu berantakan, Atna dan Irwan segera membereskannya seadanya, sedangkan Rosa tidak bisa membantu karena masih menggendong Lilian.


“Aduh. Maaf kalau ruangannya berantakan begini,” kata Rosa tak enak hati pada Mardin. “Bekas anak-anak main tadi, lupa diberesin. Kalau begitu, kau duduk saja dulu, ya.”


“I-iya, Kak Rosa.”


Sesuai tawaran Rosa, Mardin pun duduk di sofa berwarna krem polos itu. Sempat mata birunya melihat-lihat ke seluruh ruangan. Ada sekitar tiga pintu dan dua jalur menuju ruangan lain di ruang tamu ini, di belakangnya juga terdapat tangga menuju lantai atas.


Kalau Mardin kira-kira, vila ini berukuran tidak terlalu besar dan terkesan sederhana, tapi masih cukup untuk menampung belasan orang.


Setelah selesai membersihkan ruang tamu dari barang-barang berserakan, Irwan kembali membawa kotak paketnya. “Rosa, aku ke belakang dulu, ya. Mau langsung pasang ini dulu.”


“Enggak bisa dipasang besok-besok, Mas?” tanya Rosa. “Ada Mardin ini lagi bertamu.”


“Y-ya sudahlah, kalau begitu.”


Sempat Irwan menoleh ke arah Mardin, memberikan senyuman kembali. “Permisi ya, Mard. Maaf kalau ninggalin bentar.”


“Enggak apa-apa, kok. Aku ngerti kalau kau sedang sibuk.”


Setelah berpamitan, Irwan segera pergi meninggalkan ruang tamu sambil membawa paketnya tadi.


“Dek Atna.” Rosa memanggil adik iparnya yang sedari tadi lebih banyak diam. “Kau bikinin minum gih buat Dek Mardin.”


Mendengar ucapan Rosa, membuat Mardin makin merasa sungkan dan malu-malu bertamu di rumah orang. “Aduh. Enggak usah repot-repot, Kak. Nelen angin pun jadi ini.”


“Hush! Enggak boleh kayak gitu. Entar masuk angin. Anak ganteng sepertimu enggak baik punya perut kembung. Kan enggak lucu kalau pas kelelep malah ngapung di permukaan air saking kembungnya itu perut,” canda Rosa. “Mending minum-minum dikit biar rasa capeknya hilang. Mau minum apa kira-kira?”


“Duh. Enggak usah deh, Kak…. Jadi enggak enak aku.” Mardin berlagak malu-malu kucing. “Tapi kalau maksa, ya udah, deh. Jus jeruk aja, ada?”


Beginilah kelakuan Mardin. Katanya enggak enak hati, takut ngerepotin. Ujung-ujungnya minta juga.

__ADS_1


“Oh! Ada, ada.” Rosa lanjut meminta Atna. “Bikinin Dek Mardin jus jeruk, Dek. Sama kasih kue dan kacang-kacangan yang ada di meja makan tadi.”


“Baik, Kak.” Atna pun berlalu ke belakang melewati salah satu jalur menuju ruang makan dan dapur.


“Hueeek…! Hueeeek!”


Baru saja ditinggal Atna dan Irwan, Lilian tiba-tiba menangis digendongan Rosa. Jadi paniklah Rosa, mana lagi ada Mardin bertamu pula.


“Aduh. Lilian jadi rewel, lagi. Kayaknya mau tidur, nih.” Dengan berat hati Rosa berkata, “Maaf ya, Dek. Aku tinggal dulu bentar, mau nidurin Lilian dulu. Enggak apa-apa, kan?”


Mardin mengangguk disertai senyum, “Enggak apa-apa, Kak.”


Kemudian, Rosa buru-buru pergi membawa Lilian naik tangga menuju lantai atas tempat kamarnya berada.


Kini tinggal Mardin seorang, duduk diam dengan muka polos khasnya tanpa ada siapapun menemani tuk bicara. Mardin tipikal orang yang mudah bosan kalau tidak ada teman bicara. Rasanya terlalu sepi ditinggal para penghuni vila begini. Dia berpikir, sepertinya lebih mending dikeroyok anak-anak tadi daripada ditinggal sendiri seperti ini.


“Haaah….” Mardin menghela nafas sambil bertopang dagu. “Kayak bujangan lagi malam mingguan aja. Sendirian, suntuk pula.”


Beberapa menit ruang tamu senyap, sepi, akhirnya datang sosok Atna dari dapur sambil membawa nampan berisi beberapa gelas minuman dan camilan. Gadis itu kebingungan melihat Mardin sendirian di sana. Kepalanya sempat celingukan mencari keberadaan kakak iparnya.


Atna berpikir, kok bisa ada tamu malah ditinggal?


Demi memecah kesunyian, Atna yang cukup pemalu ini memberanikan diri bertanya, “Kak Rosa mana?” Ia berjalan menghampiri meja, menaruh beberapa gelas minuman dan camilan itu di sana.


Mardin sempat kaget saat menyadari ada Atna datang membawakan makanan-minuman. Dia tadi cukup lama melamun karena tidak ada teman yang bisa diajak bicara.


“Lagi nidurin anaknya tadi.”


“Ooo….” Atna cuma merespon dengan anggukan.


Baru saja Atna beranjak dari dekat meja, hendak kembali ke dapur untuk mengantar nampan, tangannya malah dicegat tangan Mardin. Sontak anak gadis itu merasa bingung atas tindakan Mardin ini.


Kenapa jadi pegang-pegang begini? Bukannya tadi sudah sempat pegang?


“Jangan pergi dulu, Dek. Sini, temenin aku, yuk.”


Atna menyipitkan matanya heran. Ajakan Mardin ini terdengar cukup ambigu, sama ambigunya dengan tindakan Mardin sebelumnya yang sempat membuat mereka mengira pemuda ini sebagai penjahat kelamin.


Kok?


Kok?

__ADS_1


KOK?


...~*~*~*~...


__ADS_2