
Mardin ambruk di lantai akibat diserbu oleh belasan anak-anak, ada yang menindih kaki Mardin, menggigit tangannya, menjepit lehernya, sampai mengorek-ngorek lubang hidung Mardin. Pokoknya, Mardin benar-benar dihajar habis-habisan oleh anak-anak ini.
“Aduh, duh. Adoh! A-ampun, Dek. Ampun adik-adik sekalian. Aku….” Mardin hampir dibuat susah ngomong akibat dikeroyok mereka. “Aku di sini cuma mau nganterin paket.”
“Eh?”
Wanita berambut merah itu mengangkat satu tangan, memberi aba-aba perintah untuk menghentikan ‘serangan’ dadakan ini ketika menyadari kalau Mardin datang ke sini hanya untuk mengantarkan paket.
“Paket?”
“I-iya,” jawab Mardin ketika anak-anak sudah berhenti mengeroyokinya, tapi masih berusaha memasungnya. “Paket dari Paman Rom, dari Bar Rodeo. Aduh!”
Mardin mengaduh ketika anak berusia 15 tahun yang menjepit lehernya dari belakang masih sempat-sempatnya menggetok kepala Mardin.
Si wanita baru ingat, suaminya sempat cerita kalau akan ada paket dari Paman Rom datang ke vila mereka. Sepertinya, pemuda satu ini yang diminta untuk mengantarkan paket tersebut kemari.
“Oh, astaga?! Paket dari Paman Rom, ya…?” Wajah wanita itu kini terlihat sungkan. “Maaf, ya. Maaf. Habisnya, kau sembarang tarik-tarik tangan adik iparku. Kukira kau penjahat kelamin yang mau menculiknya. Ya, maklum, sih. Muka adik iparku ini emang imut unyu-unyu, gitu. Lagian juga, muka situ mirip-mirip kayak mas-mas gula.”
“Eheheee….”
Mardin cuma bisa terkekeh canggung. Semua ini terjadi hanya karena kesalahpahaman saja. Salah Mardin sendiri yang mengira adik ipar si wanita lagi nyasar di vila angker. Rupanya, vila ini sendiri tempat tinggal mereka.
Terus, muka Mardin dianggap mirip mas-mas gula? Julukan apa pula itu?
“Ya-ya udah. Bantu Abang ini berdiri, terus pada minta maaf, ya.”
Anak-anak itu melepas pasungan mereka di beberapa bagian badan Mardin, membantu pemuda itu berdiri, lalu sama-sama menunduk memohon maaf.
“Maafkan kami, ya, Bang…!” ucap mereka serentak.
__ADS_1
Dengan wajah sungkan, Mardin menjawab ramah, “Iya, enggak apa-apa, kok. Aku tahu, kalian bermaksud melindungi keluarga kalian di sini.”
“Sekarang, kalian masuk. Langsung balik ke kamar masing-masing, udah jam tidur ini.”
Sesuai perintah wanita itu, rombongan anak-anak tersebut segera masuk kembali ke dalam vila. Ketika di barisan terakhir, seorang anak paling kecil berbalik menoleh, menjulurkan lidahnya ke arah Mardin. Melihat ketidaksopanan anak itu, otomatis si wanita memukul ringan pantat si anak.
“Enggak boleh kayak gitu. Siapa yang ngajarin?”
Si anak menjawab dengan nada bicara dibuat-buat lesu, “E-enggak, Kak. Cuma pengen kasih salam selamat malam aja sama Abang ini.”
“Salam… salam. Enggak ada salam-salam pakai ngejulurin lidah kayak gitu, ya. Entar dipotong Wewe Gombel, enggak bisa ngomong lagi kau,” omel si wanita.
Si anak menutup mulutnya, ngeri ketika membayangkan Wewe Gombel memotong lidahnya. Segera ia berlari kecil masuk ke dalam vila menyusul saudara-saudaranya.
Setelah anak-anak dipastikan sudah masuk, wanita itu menepuk kecil bahu si anak gadis yang masih berdiri di sampingnya.
“Kau pun kalau ada orang ditanya dulu, Dek Atna. Jangan nangis kayak tadi. Kan aku jadi hampir jantungan,” omel si wanita pada anak gadis itu.
“Eheheee….”
Lagi-lagi Mardin tertawa canggung, sungkan menanggapinya. Udah dikata mas-mas gula, dikata mukanya nyeremin pula kayak penjahat kelamin. Padahal Mardin masih berusia 17 tahun, masih bujang-bujang seger.
“Enggak boleh ngatain Abang ini kayak gitu, biarpun itu kenyataan.”
Mardin nangis dalam hati. Dikira Mardin mau dibelain, rupanya ikut dikatain pula pakai bahasa yang lebih halus.
Dengan sangat gugup, Atna membungkuk memohon maaf pada Mardin. “Maafkan aku, ya, Bang. Aku kira, kau penjahat yang mau macam-macam di vila ini. Soalnya, tadi juga sempat tarik-tarik tanganku. Padahal kita baru ketemu.”
“Iya, Dek. Salahku sendiri sembarangan narik-narik tanganmu,” ucap Mardin masih agak sungkan, “Aku tadi juga mengira kau anak yang kesasar di vila ini. Jadi niatnya mau anterin pulang. Rupanya, di sini tinggalnya, toh.”
__ADS_1
“Ya, beginilah ‘Dek rumah kami.” Rosa ikut bicara seramah mungkin, “Di daerah sini, cuma vila kami ini yang ditinggali banyak orang. Jarang ada orang yang tahu tempat ini, bahkan para Rogue pun tak tahu. Makanya, vila bekas ini kami gunakan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat berlindung dari bahaya Rogue dan monster.”
“Kalau boleh tahu, yang tinggal di sini siapa aja, ya?” tanya Mardin penasaran ketika melihat ada banyak anak-anak tinggal di sini.
“Yang tinggal di sini ada aku, dia.” Rosa menunjuk Atna. “Suamiku, anak-anakku, sama anak-anak asuh yang udah enggak punya orang tua lagi.”
“Oh, jadi yang tadi itu anak-anak asuhmu?” Mardin sempat sedikit terkejut mengetahuinya.
Rosa mengangguk. “Iya. Bisa dibilang, vila ini merupakan panti asuhan tidak resmi, lah. Banyak anak-anak di kota ini terlatar karena tidak memiliki orang tua. Ada yang jadi korban Rogue dan monster. Ada juga yang dibuang karena mereka anak hasil hubungan, maaf, gelap.”
Mardin pun mengangguk mengerti. Rupanya, vila besar yang berada di tengah-tengah daerah sepi ini merupakan tempat penampungan anak-anak yatim piatu.
Di planet ini, memang banyak sekali anak terlatar tanpa orang tua. Seperti yang dijelaskan Rosa, ada yang anggota keluarganya dibunuh, bahkan karena sebab mereka berasal dari hasil hubungan di luar nikah. Menurut Mardin, anak-anak terlantar seperti inilah yang bakal jadi bibit-bibit Rogue Pembunuh liar kalau mereka tidak diberi perhatian dan bimbingan layak oleh orang-orang sekitar.
Mardin jadi ingat masa lalu. Kalau saja tidak ada Paman Rom dan Ranma yang mengasuh serta membimbingnya dengan baik setelah tiadanya kedua orang tuanya, Mardin pasti juga akan jadi Rogue liar yang akan membunuh siapa saja berdasarkan nafsu keji belaka, ikut membunuh orang-orang tak bersalah.
Yang dilakukan Mardin selama ini sebagai Rogue hanyalah membunuh sesama pembunuh yang dianggap mengancam. Sama sekali tidak terlintas dalam pikirannya untuk membunuh orang-orang yang bukan pembunuh jika mereka tidak berniat untuk membunuh Mardin dan tidak dianggap berbahaya.
“Oh, iya!” Rosa baru ingat sesuatu. “Kami jadi lupa memperkenalkan diri. Namaku Rosa, salah satu pengurus vila ini. Yang di gendonganku ini putriku, Lilian. Dan ini adik iparku, Atna.”
Dengan menunduk malu, Atna menjawab, “Sa-salam kenal, Bang.”
Rosa terkekeh melihat reaksi adik iparnya. “Teheee…. Dia ini…. Maklum, ya, Atna ini orangnya pemalu. Jarang berinteraksi sama orang, apalagi sama cowok. Kalau Adik ini siapa namanya?”
Tentu Rosa memanggil Mardin adik karena pemuda itu terlihat berusia lebih muda darinya. Bisa dibilang, Mardin ini seusia remaja yang masih dalam masa labil-labilnya.
Mardin menjawab ramah, “Namaku Mardin, Kak. Pekerja di Bar Rodeo sekaligus keponakan angkat Paman Rom.”
“Oooh…. Keponakan angkat Paman Rom itu, ya? Si Mardin…?” Rosa menepuk-nepuk dahinya sendiri. “Astaga. Paman Rom sering cerita-cerita tentang dirimu, lho. Tak kusangka rupanya kau si Mardin itu. Sekali lagi, maafkan kami, ya, enggak sengaja ngira kalau kau itu penjahat.”
__ADS_1
“Rosa, di luar ada siapa?”
...~*~*~*~...