
Sosok pengawal pria dengan setelan jas dan kacamata hitam keluar dari mobil bagian samping kemudi. Segera ia membukakan pintu di bagian kursi penumpang, menampilkan sosok gadis remaja berseragam SMA yang sangat cantik.
Ketika gadis itu keluar dari mobil, kilau kecantikannya makin terpancar saat sinar mentari pagi menyirami sosoknya. Rambut perak panjangnya bergerak dramatis dihembus angin pagi, kulit putihnya makin terlihat berkilau, dan mata ungu itu nampak begitu indah dipandang bahkan dari jarak jauh sekalipun.
“Astaga…. Cantik banget!”
“Ah! Aku tidak asing dengan wajahnya. Dia terkenal sebagai influencer di aplikasi TokTek, di planet tetangga. Dia beneran anak orang tajir.”
“Sungguh?! Miapah?!”
“Pantas kulit dan rambutnya bening begitu. Pasti perawatannya mahaaalll….”
“Terima kasih Ya Tuhan telah menjodohkan hamba dengan seorang bidadari secantik dia.”
“Eh, biawak laut! Enggak usah ge’er kau! Mana ada bidadari mau sama kau yang baunya macam blerang?!”
Semua siswa-siswi begitu terpana pada kecantikan gadis itu. Bobby, Cungkring, dan Dimas juga sempat dibuat kagum dengan kecantikan bak bidadari tersebut.
Namun anehnya, tidak bagi Mardin. Si jamet merah ini malah asik aja celingukan melihat sekitar, keheranan dengan tatapan memuja para murid pada si gadis asing.
Tatapan mereka itu terlalu berlebihan, macam enggak pernah lihat cewek bening aja, pikir Mardin.
Gadis berambut perak itu sempat mengibas-ngibaskan tangannya, merasa gerah setelah baru saja keluar dari mobil. Mukanya masih nampak bete, rasa tak suka pada sekolah ini benar-benar membuatnya sama sekali tak bersemangat tuk bersekolah.
“Astaga…. Panas banget di sini, ah…!”
“Anda mau dipayungi, Nona Harin?” tanya si pengawal pria sambil menawarkan payung yang sempat ia keluarkan dari mobil.
Harin menggeleng tak suka. “Enggak usah, Pilo. Aku masih bisa jalan begi— eeee….ni?”
Sontak Harin mematung saat mata ungunya tak sengaja menemukan sosok yang sangat, sangat, sangat menarik perhatiannya dari jauh sana.
Burung-burung merpati berterbangan di angkasa, kelopak-kelopak bunga khas musim semi berhamburan dihembus udara pagi. Dari sudut pandang Harin, ia menemukan seorang pemuda paling rupawan menurutnya.
Pemuda itu berdiri di sana, di depan halaman sekolah. Dibingkai oleh hamburan kelopak-kelopak bunga dan bulu burung merpati, pemuda itu terlihat makin indah di mata Harin.
__ADS_1
Si pemuda menyugar rambut merah berantakannya dengan dramatis seraya menggeleng pelan. Mulutnya setengah terbuka, nampak merah merona, memancing tuk dikecup. Mata biru itu melirik tajam, membuat siapa saja yang bertemu pandang dengan mata sebening laut tersebut bakal luluh dibuatnya.
Sekilas pemuda itu menyunggingkan senyum menawan pada Harin, mengedipkan sebelah mata hingga menimbulkan kilau bintang di ekor matanya. Tindakan itu spontan membuat Harin menyentuh dada kirinya, merasakan detakan jantung yang semakin memacu adrenalin.
Betapa tampan dan menawannya pria tersebut. Harin belum pernah melihat sosok seindah itu dalam hidupnya.
Iya, apa yang dinarasikan merupakan bagian dari sudut pandang Harin ketika melihat Mardin sebagai sosok pemuda yang ia kagumi. Hanya merupakan ekspetasinya secara berlebihan.
Lalu, bagaimana sudut pandang orang-orang sekitar terhadap Mardin, termasuk dari sudut pandang teman-teman, pembaca, maupun Author sendiri di waktu yang sama?
Di saat semua orang menganggumi kehadiran Harin, dan Harin sendiri malah mengagumi sosok Mardin, pemuda itu malah cuek.
Mardin cuma berdiri celingukan sambil mengacak-acak rambut merahnya karena gatal belum dishampo sejak kemarin. Sesekali ia mengupil lubang hidungnya, tak peduli jika tindakan itu dianggap jorok oleh orang-orang sekitar.
“Buset, dah…. Cantik banget cewek entu,” puji Bobby tak bisa mengalihkan pandangannya dari Harin.
Melihat Bobby begitu fokus memperhatikan gadis baru tersebut, membuat pikiran jahil Mardin muncul. Iseng-iseng ia menempelkan upilnya di seragam Bobby.
“Enggak kebayang aku kalau bakal ada cewek secantik itu di sekolah kit— Ish, Mardin! Jorok, lah!”
Bobby langsung histeris ketika sadar Mardin menempelkan upil di seragamnya, sontak membuat pemuda bertubuh gempal itu buru-buru menyingkirkan upil tersebut dengan perasaan jorok. Sedangkan Mardin malah ngakak melihat reaksi lucu Bobby.
Ucapan enteng Mardin seketika membuat ketiga sahabatnya melotot heran pada Mardin. Kok bisa si jamet ini sama sekali tidak terpengaruh dengan kecantikan si anak baru?
Mardin bukan homo, kan?
“Ma-Mard….” Cungkring mengambil gerakan seakan-akan hendak meremas sesuatu saking gemasnya melihat reaksi Mardin. “Cewek secakep itu…. Responmu cuma begini…?! Lihat! Dimas yang perjaka tingting belum pernah pacaran seumur hidup pun juga ikut terpesona melihat entu cewek!”
“He-Hei! Enggak usah bawa-bawa aibku juga, lah!” balas omel Dimas disertai rona merah di wajah sebab menahan malu.
Bobby menepuk bahu Mardin. “Tahu, nih. Kau bukan homo ‘kan, Mard? Masa sama cewek secakep itu, responmu terlalu santai?”
“Homo apa? Aku masih demen yang berlubang, lah.” Mardin menyingkirkan tangan Bobby di bahunya. “Dahlah. Mending kita langsung ke kelas aja. Sebentar lagi jam pelajaran pertama mau mulai.”
Belum sempat teman-temannya merespon, Mardin sudah memasuki ke gedung sekolah mereka sambil membawa skateboard kesayangannya di tangan.
__ADS_1
“Lah, Mard? Kok malah pergi?! Nanggung itu lihat bidadari cakep!” teriak Bobby tak terima.
Dimas menepuk bahu Bobby setelah tadi sempat melihat jam tangan. “Bener kata Mardin. Bentar lagi jam masuk kelas, lho. Yuk, lah!”
Buru-buru Dimas masuk ke gedung sekolah sambil memeluk tasnya yang sempat dipermainkan Doni beserta anak-anak gengnya.
“Jam pertama matematika, lho.” Kemudian Cungkring ikut menyusul Dimas.
“Lha? Kan cuma matematika? Gurunya aja dah loyo, gitu. Paling kita cuma dikasih materi sama PR yang belum tentu bakal dikumpul. Santai aja, lah….”
Biarpun Bobby berkata demikian, akhirnya ia juga menyusul teman-temannya memasuki gedung sekolah. Dia juga tidak ingin terlambat mengikuti pelajaran hari ini walau perlajaran pertama merupakan pelajaran paling dibenci sejuta murid.
Setelah Mardin dan teman-temannya memasuki gedung sekolah, Harin masih terpaku di sana menatap kepergian Mardin. Dia masih merasakan degupan jatungnya yang tak karuan, perasaannya pun campur aduk antara antusias, gugup, dan malu. Bahkan sempat muncul samar-samar rona merah di pipi putihnya yang mulus.
“Nona, Anda kenapa?” tanya Pilo si pengawal cemas terhadap majikannya.
Dengan setengah melamun, Harin berkata, “Sepertinya, aku jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Tentu Pilo langsung heran dengan perkataan Harin. Ketika Pilo mengikuti arah pandang Harin, justru yang ia temukan cuma anjing jantan sedang kencing di bangku depan gedung sekolah.
Tak mungkin ‘kan majikannya malah jatuh cinta sama anjing lagi kencing, apalagi batangnya lagi gundal-gandul pula?
...~*~*~*~...
Sesampainya di kelas 11 Sains C1, Mardin dan ketiga temannya segera duduk di bangku masing-masing. Bisa dilihat suasana kelas sudah ramai oleh siswa-siswi yang siap memulai pelajaran pertama dikarenakan dalam hitungan menit lagi jam pelajaran kelas dimulai.
Ketika duduk di bangkunya, Mardin sempat kepikiran soal gadis baru tadi. Bukannya Mardin tidak peka, justru ia mengerti tatapan gadis itu menandakan bahwa dia sangat tertarik dengan Mardin.
Saat duduk begini, Mardin menghela nafas lelah. Untuk saat ini, dia tidak ingin menjalin hubungan lebih dengan perempuan. Hal itu akan membuat si perempuan dalam situasi bahaya dikarenakan Mardin merupakan seorang pembunuh.
Mardin tidak ingin melibatkan seorang perempuan dalam bahaya hanya karena hubungan lebih seperti pacaran. Ketika melihat tampang gadis itu pun, Mardin tidak memiliki perasaan apapun padanya.
Saat ini, dia lebih fokus mencari cara agar bisa menyelamatkan ayahnya. Toh pacaran merupakan kegiatan paling merepotkan, menurut Mardin. Pacaran itu sudah bikin cape, ngabisin uang, buang-buang waktu pula.
Mending tidur.
__ADS_1
“Eh! Eh! Eh!”
...~*~*~*~...