Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 41 : Murid Nyasar


__ADS_3

“Eh! Eh! Eh!”


Tiba-tiba saja lamunan Mardin buyar saat Bobby dan Cungkring menghampiri bangkunya, sedangkan Dimas cukup berbalik ke belakang karena dia duduk di bangku depan Mardin.


“Apalah eh, eh, eh? Kebelet berak kau? Ke toilet, sono. Entar nyusahin orang pula,” ucap Mardin agak risih pada Bobby.


Pasti Bobby hendak membahas soal gadis tadi. Pasalnya, Bobby yang terlihat paling tertarik dengan kehadiran gadis berambut perak itu.


“Dih, tumben kau sewot gini, Mard… Mard. Biasanya kau yang paling santuy.” Segera Bobby membahas topik yang dimaksud. “Eh, yang tadi itu ceweknya cakep… banget. Aku penasaran, dia anak baru buat kelas mana.”


“Tadi pas lewat di depan kelas 11 Sosial A2, tuh cewek bakal masuk ke kelas jurusan Sosial,” jawab Cungkring.


“Jurusan Sosial, kah…?” tanya Bobby terdengar kecewa. “Kukira bakal masuk dimari.”


“Terus kenapa kalau misalnya entu cewek masuk ke kelas kita?” Mardin bersedekap dada. “Mau kau lamar, gitu?”


Tak disangka, Bobby malah menjentikan jari dengan muka antusias. “Ide bagus, Mard!”


Mardin langsung melotot meresponnya. “Dih! Gila kau, Bob! Dapat dari mana duit buat ngelamar dia? Berak emas, kau?! Aku tadi cuma asal ngomong aja, lho.”


“Bener, Bob.” Dimas membenarkan ucapan Mardin. “Jangan halu kau cuma gara-gara sering baca novel harem. Dia cakep, kelihatannya tajir pula. Kau yang kere mana mungkin ditaksir dia.”


Dimas melanjutkan. “Aku emang terpesona sama dia, tapi masih sadar diri.”


“Ta-tapi, dia tadi lihat ke arah kita, tahu?”


“Yang dia lihat bukan kau, tapi Mardin, Bob.” Dimas menunjuk Mardin.


Ketika dikata begitu, Mardin langsung menoleh ke arah jendela. Malas rasanya kalau musti ngomongin masalah perempuan. Takutnya mereka malah menjodoh-jodohkan Mardin sama gadis itu. Mardin ‘kan jadi tak nyaman.


“Kalau Mardin yang ditaksir, enggak heran aku. Secara ‘mah, dia emang ganteng,” komentar Cungkring. Lalu menimpal Bobby, “Lah, situ? Apa kelebihannya? Kelebihan lemak, gitu?”


“Aelah. Cungkring… Cungkring. Perkara lemak berlebih ini….” Iseng-iseng Bobby mengocok perut buncitnya. “Kalau bisa kubagi, kubagi ke badan kau. Biar ada bentuk-bentuknya dikit itu badan kau yang datar gitu.”


“Kok masalahin badan?” tanya Dimas heran. “Bukannya enggak boleh ngata-ngatain badan orang?”

__ADS_1


“Tahu, tuh. Si Cungkring yang mulai.” Kemudian, Bobby kembali bertanya pada Mardin. “Oke, aku emang ‘dah naksir sama tuh cewek. Tapi, Mard. Kalau beneran dia naksir sama kau, kau terima kagak?”


Mardin menarik nafasnya dalam-dalam, sudah eneg dengan topik pembicaraan ini. “…. Males ‘lah aku bahas yang kayak beginian. Sekarang, aku lagi pengen fokus sama urusanku, belajar, berkebun, menulis novel, kerja di bar pamanku biar dapet duit buat bayar kos.”


“Ah, enggak asik kau Mard kalau diajak ngomongin soal cewek.” Bobby sewot. “Bilang aja kau enggak suka.”


Dimas sebenarnya merasa tak nyaman dengan perdebatan antara Bobby dan Mardin cuma karena masalah murid baru. Awalnya, mulut Dimas menganga hendak menasihati mereka, tapi tertahan gara-gara ada seorang siswa tiba-tiba datang menghampiri mereka.


“Eh, tadi lihat enggak ada anak baru cakep… banget?” tanya siswa itu antusias.


Bobby pun langsung jawab, “Iye. Kau tadi juga lihat, kan?”


“Ho’oh.” Ia mengangguk. Namun, ekspresi wajahnya berubah agak pucat. “Bukan cuma murid aja yang baru di sekolah ini. Kita pun bakal kedatangan guru baru.”


“Hah?!”


Kali ini, Mardin, Bobby, Cungkring, dan Dimas sama-sama dibuat kaget dengan kabar yang satu ini.


“Siapa? Guru buat mata pelajaran apa?” tanya Cungkring penasaran setengah mati.


“Heakh?!”


Mereka berempat mendadak asma mendengar bahwa guru baru tersebut akan mengajar pada mata pelajaran terkutuk itu. Padahal, mereka sudah nyaman diajar oleh Pak Rohman karena orangnya yang agak loyo, cuma ngasih materi, kalau ada PR pun asal tidak diingatkan tak akan dikumpul.


“Emang kenapa Pak Rohman? Kok sampai diganti?” Kali ini giliran Mardin yang bertanya.


“Lah, kau tahu sendiri kalau Pak Rohman sudah tua, sudah saatnya pensiun.” Siswa itu melanjutkan. “Tapi beruntung, sih. Untuk saat ini guru baru tersebut bakal mengajar di kelas 11 Sains C1. Jadi, kita bisa lihat-lihat dulu gimana sifat gurunya.”


Keempatnya sama-sama menyipitkan mata mendengar penjelasan si siswa. Pasalnya kelas yang dimaksud siswa itu merupakan kelas mereka, belajar matematika di jam pertama hari ini.


Yang jadi pertanyaan, siapa siswa ini sebenarnya? Pastinya bukan berasal dari kelas mereka.


“Kau ini dari kelas mana?” tanya Bobby.


Si siswa nampak sedikit bingung. “Aku dari kelas sini, kok.”

__ADS_1


“Ini kelas 11 Sains C1. Kelas kami yang masuk pelajaran matematika pertama,” timpal Mardin pula. “Kau bukan dari kelas sini, kali.”


Kali ini, muka si siswa mulai terlihat tegang. “La-lah…? Ini bukan kelas 11 Sosial C1, ya?”


“BUKAN!” teriak Mardin dan teman-temannya bersamaan.


“Lah, ‘lali aku…!”


Sambil menepuk-nepuk kepalanya sendiri, siswa itu buru-buru keluar dari kelas mereka dengan perasaan malu. Mardin dan ketiga temannya begitu heran melihat kepergian si siswa yang sama sekali tidak mereka kenal tersebut.


“Kok bisa anak dari jurusan lain nyasar kemari?” tanya Dimas sambil menaikan sedikit kacamatanya yang mulai melorot.


“Tahu, tuh,” timpal Mardin kembali. “Masih muda udah pikun.”


“Sakit mental kurasa dia itu,” komentar Cungkring asal.


Tak berapa lama, bel sekolah pun berbunyi, menandakan pelajaran pertama akan segera dimulai. Mardin, Dimas, dan anak-anak dari kelas 11 Sains C1 lainnya juga sudah siap di bangku masing-masing.


Beberapa di antara mereka nampak tegang dan ada yang hampir berkeringat dingin setelah tahu bahwa pelajaran pertama hari ini bakal diajarkan oleh guru baru. Mereka penasaran siapa guru baru tersebut. Dan mereka berharap semoga gurunya bisa senyaman Pak Rohman saat belajar matematika.


Sesaat kemudian, langkah kaki terdengar mencekam mendekati kelas mereka. Dan saat sosok itu berhenti di depan pintu kelas, spontan mereka menoleh bersamaan.


“Apa di sini kelas 11 Sains C1?”


Semua murid terpaku dengan kedatangan guru baru tersebut. Pasalnya, guru itu terlihat tampan, rapi dan berwibawa. Wajahnya menunjukan ketegasan bahwa dia merupakan guru yang sangat disiplin dalam mengajar. Bahkan pesonanya sudah membuat semua siswi di sana langsung jatuh hati padanya.


Satu kelas memang nampak takjub dengan guru baru tersebut. Namun tidak dengan Mardin. Pemuda berambut merah itu malah terlihat keheranan dengan kehadiran sang guru baru. Penampilannya sangat tidak asing di mata Mardin.


Tubuh jangkung itu, rambut panjang perak yang diikat tinggi ala ekor kuda, mata biru terang yang dilindungi di balik lensa kacamata. Dan tak lupa sesuatu yang telah menjadi ciri khasnya.


Sepatu sport hijau yang nabrak sekali dengan gaya pakaian formal berupa setelan jas itu.


“Ha-Haku…?”


Bagaimana bisa si pembunuh jadi guru di sekolah Mardin?

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2