Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 19 : Jaminan


__ADS_3


Kali ini, Haku akui kalau dia ceroboh dalam bicara. Lawan bicaranya ini bukanlah orang yang mudah diyakinkan dengan alasan keselamatan orang tuanya. Jika orang lain, pasti bakal langsung menerima permintaan itu tanpa pikir panjang asal keluarga mereka selamat.


Tapi tidak dengan Mardin. Pemuda berambut merah Mullet ini sepertinya sudah membaca situasi dan akibat seperti apa yang akan ia dapat jika dia langsung mengambil keputusan berdasarkan perasaan belaka.


Menyadari ketegangan yang terasa di antara mereka berdua, ekspresi dingin Mardin langsung berubah menjadi hangat seperti sebelumnya. Diawali dengan tawa renyah Mardin, mencoba memecah suasana canggung mereka.


“Hahahaaa….” Mardin memukul pahanya sendiri, sedangkan satu tangan masih memegang bungkusan pecel. “Enggak usah tegang kali mukanya kayak begitu.”


Bagaimana bisa tidak tegang kalau Mardin sendiri berusaha mengintimidasi Haku tadi? Haku sendiri tetap diam, sama sekali tak merespon perubahan pribadi Mardin yang berubah secara singkat.


Haku yakin, Mardin masih cukup waras untuk terkena gangguan seperti bipolar, dan mustahil juga memiliki lebih dari satu kepribadian seperti alter ego.


Setelah mengahabiskan pecel yang tersisa, Mardin menggumpal bungkusannya, membuangnya ke tempat sampah di samping bangku mereka.


“Soal tadi, aku tidak bisa percaya begitu saja kalau gurumu memberi permintaan untuk membebaskan ayahku demi kebaikanku sendiri.”


Haku masih diam, memilih untuk mendengarkan apa yang selanjutnya hendak dikatakan Mardin.


“Dari penjelasanmu dan apa yang berusaha kutebak, aku menemukan celah yang cukup mencurigakan. Aku berspekulasi, gurumu atau siapapun yang berada di pihak gurumu berusaha memanfaatkanku lewat masalah yang dialami ayahku.”


Dengan santainya Mardin melanjutkan, “Kita hidup di dunia berbahaya dimana jumlah pembunuh dan penjahat hampir lebih banyak dari warga sipil. Ya, kalau dipikir-pikir lagi, mana mungkin ada pihak yang sudi memberi bantuan cuma-cuma, terutama pada orang yang belum pernah bertemu langsung dengannya. Ini terlalu…. Ck!” ia berdecak. “Renyah.”


Kata ‘renyah’ bagi Mardin mendefinisikan suatu gerakan atau tindakan yang diambil oleh Haku beserta gurunya terlalu mencurigakan bagi pemuda itu. Didukung lagi dengan keadaan planet mereka yang dikenal sebagai sarangnya kejahatan.


Sangat menggelikan jika memang benar ada pembunuh ataupun orang dari Guild Pembunuh mau menawarkan bantuan secara cuma-cuma. Pasti ada niat terselubung di baliknya, atau minimal berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan orang lain.


Mardin meraih tisu yang ia bawa dari saku jaket, membersihkan bekas sambal kacang pecel di tangannya menggunakan tisu tersebut.


“Mungkin aku bakal kau anggap sebagai anak tidak berbakti pada ayahnya sendiri karena telalu pikir panjang untuk menolongnya. Kalau aku mengutamakan perasaanku, itu hanya akan makin menjerumuskanku dalam hal-hal yang lebih tak terduga.”


Mardin membuang tisu tadi ke tempat sampah. “Dan kemungkinan-kemungkinan tak terduga itu bisa saja berupa dimanfaatkan orang lain, makin menambah masalah dengan pihak tertentu, dan membuatku berakhir dalam kematian sia-sia. Selain itu, salah-salah langkah juga akan berimbas pada nasib ayahku, bukan?”


Di balik kesan aneh yang diberikan Mardin saat mereka pertama kali bertemu, Haku kira Mardin merupakan orang bodoh yang hanya memanfaatkan kekuatan dan statusnya sebagai Ruzan saja sehingga dianggap sebagai orang berbahaya. Namun Haku sadar, Mardin berbahaya di beberapa aspek. Pemuda ini merupakan pemikir yang cukup baik.


Itu sebabnya, Luan memberi peringatan keras pada Haku agar berhati-hati berhadapan dengan Mardin. Pria ini sulit diyakinkan. Bisa saja malah Haku yang dibuat terpojok oleh setiap perkataannya.

__ADS_1


“Bukannya aku menyebut gurumu yang tidak-tidak. Ini cuma firasat kewaspadaanku pada segala kemungkinan yang terjadi jika aku langsung menerima permintaan gurumu.” Mardin mengangkat jari telunjuk di hadapannya. “Oleh sebab itu, aku perlu bukti atau setidaknya jaminan agar aku bisa mempercayai kalian berdua.”


Mardin ini sulit mempercayai orang lain, dia membutuhkan pembuktian ataupun jaminan untuk bisa memberikan kepercayaannya.


Sebenarnya, Haku tak ambil pusing dengan hal seperti ini. Toh yang saling berurusan adalah Mardin dan Luan, Haku hanya terlibat sebagai pengantar pesan saja.


Cuma malah Haku yang paling banyak kena imbasnya, mulai dari dikeluarkan dari Guild, jadi Rogue, berkelana di kota lain tuk mencari orang yang dianggap berbahaya, lalu malah dibuat agak terpojok dengan orang yang dicari.


Kalau bisa dijadikan sinetron, mungkin kisah penderitaan Haku bakal menarik tuk ditonton emak-emak.


“Haaah….”


Haku mendongak menghela nafas, sudah capek dengan perbincangan ini. Kalau Haku sudah balik ke Guild, dia bakal mempermalukan Luan dengan cara memperlihatkan banyak koleksi video cabul sang guru pada para anggota Guild. Kali saja bisa diturunkan jabatannya dari Beta.


“Begini saja.” Haku membetulkan posisi duduknya menjadi lebih tegap. “Kalau kau butuh pembuktian atau jaminan, kita bisa membicarakan ini lain waktu.”


“Kenapa tidak sekarang saja?” tanya Mardin sok polos. “Lebih cepat ‘kan, lebih baik.”


Kalau Haku mundur sekarang, makin susahlah mendapatkan kepercayaan Mardin. Tapi, mau bagaimana lagi? Sumpah, Haku terlalu pusing meyakinkan orang serumit Mardin ini. Dia juga tidak memegang apa pun yang bisa dijadikan bukti maupun jaminan. Cuma disuruh ngomong, dikira itu cukup untuk menyakinkan Mardin agar menerima permintaan Luan, apalagi kalau itu berhubungan dengan keselamatan ayahnya.


“Tidak baik juga kalau tergesa-gesa.”


Nah, ada benarnya juga ucapan Haku, walau itu sebenarnya alasan buat ngeles saja.


“Aku masih belum punya bukti apa pun untuk membuatmu percaya pada kami. Guruku hanya memintaku bicara baik-baik padamu,” kata Haku, “tapi kalau kau butuh pembuktian, kita bisa bicarakan ini nanti.”


“Kira-kira kapan tepatnya?” tanya Mardin. “Kita ‘kan baru kenal, nih. Aku sama sekali tidak tahu tempat tinggalmu, kau pun tidak tahu tempat tinggalku. Kita juga belum bertukar nomor ponsel agar bisa saling terhubung.”


“Aku akan memberikan alamat email-ku padamu.”


“Oh, oh! Tunggu sebentar.”


Buru-buru Mardin merogoh ponselnya, mulai mencatat alamat email yang disebutkan Haku. Haku sudah capek dengan semua ini, biarlah dia memberikan alamat emailnya secara cuma-cuma. Mungkin saja kepercayaan Mardin mulai sedikit tumbuh dengan cara ini, hitung-hitung sebagai jaminan awal.


“Anggap saja itu jaminan awalnya. Sisanya, akan kuberitahu setelah aku berunding dengan guruku.”


“Jaminannya cuma email?” tanya Mardin remeh.

__ADS_1


“Lalu apa? Memberikan cintaku padamu. Ish, jijik aku.” Haku merinding sendiri dengan ucapan asalnya. Dia sudah terlalu pusing dengan perbincangan ini.


“Meh….” Mardin pun memasang tampang jijik. Bagaimana pun juga dia maupun Haku sama-sama lelaki normal.


“Ya, sudah.” Haku berdiri dari bangku, membuang bungkusan pecel dan minumannya ke tempat sampah. “Kelak, kita akan bertemu lagi untuk mendiskusikan masalah ini. Setelah itu, terserah kau mau menerima atau tidak.”


Haku mulai berjalan menjauh dari Mardin. Namun sebelumnya, ia sempat menoleh untuk mengatakan kalimat terakhir pada pemuda merah itu.


“Tapi pikirkanlah baik-baik, Mardin. Ini merupakan cara satu-satunya untuk menyelamatkan ayahmu. Nasib ayahmu kemungkinan dapat sangat berpengaruh pada peristiwa-peristiwa besar yang akan datang.”


Peristiwa-peristiwa besar? Mardin sama sekali tidak heran dengan peristiwa macam apa yang dimaksud Haku, mengingat sang ayah merupakan tokoh pembunuh paling berpengaruh di masanya. Hidup-matinya akan sangat mempengaruhi banyak hal di dunia para pembunuh.


Mardin memperhatikan Haku kembali berjalan menjauh, tapi sesaat senyum jahil terukir di wajah manisnya.


“Eh, eh! Awas! Keinjek e’ek kebo!”


“Kebo?! Eh, kebo! Kebo, kebo!!!"


Spontan Haku latah, hampir terjungkal saat dikiranya sepatu mahal itu bakal jadi korban kotoran sembarangan lagi. Namun nyatanya, dia sama sekali tidak menemukan kotoran apa pun di jalan setapak taman itu.


“Nyahahaha…!”


Terdengar jelas tawa menjengkelkan Mardin. Membuat Haku berbalik, menatap pemuda itu dengan tatapan kesal karena telah membohonginya. Karena tak terima dijahili begitu, Haku berjalan kembali ke Mardin, memukul kepala merah pemuda itu menggunakan sarung katana sampai benjol dua tingkat, lalu meninggalkannya tanpa kata.


“Aduh!” Mardin sempat mengelus benjolan di kepalanya. Kemudian melambaikan tangan dengan ceria, merasa tidak masalah kalau ia baru saja kena pukul tadi. “Sampai jumpa kembali, Bang!”


Setelah Haku sudah tak terlihat lagi di ujung sana, Dros sempat muncul di leher Mardin.


“Dia pergi begitu saja tanpa meneruskan penjelasannya?” tanya Dros remeh. “Payah.”


“Dia cuma belum punya cukup bukti untuk mendapatkan kepercayaanku.” Mardin pun bertanya, “Eh, ngomong-ngomong, kau bilang kau tahu tentang Segel Midra. Bisa kau jelaskan? Tadi aku merasa Haku enggak lengkap ngasih informasi itu.”


Terdengar helaan nafas dari Dros. “…. Akan kujelaskan setelah kita kembali ke rumah.”


...~*~*~*~...


__ADS_1


__ADS_2