Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 31 : Penyusup di Sekitar Vila


__ADS_3

“Loh? Kok bisa mati lampu?”


Di tengah gelapnya ruang tamu vila, sosok Irwan datang memasuki ruangan menggunakan senter ponsel sebagai sumber penerangan.


Tadi dia baru saja selesai memasang perangkap yang dibawakan Mardin. Namun ketika dia selesai dan hendak masuk ke dalam, tiba-tiba listrik di seluruh vila mati, membuat bangunan tersebut menjadi gelap gulita.


“Mas Irwan.” Rosa menghampiri suaminya sambil memeluk Atna yang kelihatan mulai kebingungan. “Ini kok bisa mati lampu gini? Ada korstleting ya pas pasang perangkat penjebak tadi? Atau kau lupa isi listrik?”


Irwan menggeleng. “Enggak. Enggak ada korstleting apapun pas baru masang perangkatnya. Listrik pun baru aja aku isi.”


“Terus, kenapa bisa padam begini?”


“Kak Rosa! Bang Irwan!”


Sekitar lima anak yang masih berusia delapan sampai belasan tahun ada yang menuruni tangga sambil menerangi jalan menggunakan senter masing-masing. Mereka terlihat panik, ketakutan dengan keadaan gelap gulita mendadak di vila mereka. Dua anak yang paling kecil nampak mulai memeluk Rosa dan Atna.


“Abang, Kakak, lampu-lampu di vila kita kenapa pada mati?” tanya anak laki-laki yang paling tinggi dari anak-anak lain. “Tadi kami sempat lihat semua lampu di kota masih pada nyala.”


“Berarti cuma vila kita yang mati lampu?” tanya Irwan makin heran.


“Anak-anak yang lain masih pada tidur?”


Kelima anak-anak itu mengangguk serentak sebagai jawaban atas pertanyaan Rosa.


Menyimak keadaan vila saat ini, Mardin sedikit menyipitkan mata birunya sambil melihat-lihat sekitar. Dia yakin, sesuatu yang mencurigakan telah terjadi di sini.


...~*~*~*~...



“Mwehehehehe….”


Di daerah hutan samping vila, terdapat dua orang misterius sedang mengawasi vila tersebut di atas pohon. Salah satunya terkekeh girang sambil melihat menggunakan teropong, begitu senang ketika tahap pertama rencana mereka berhasil dijalankan.


“Kau sudah pastikan semua listrik di seluruh vila itu mati, Gondri?” tanya pria berteropong itu pada rekannya di samping.


“Sudah, Tama.” Dengan santai Gondri menjawab, “Semua sudah beres. Kita tinggal jalankan rencana selanjutnya.”


“Hehehehe…. Bagus, bagus.”


Tama menyimpan teropong tadi di saku pakaian serba hitamnya, mulai mengelus-elus tangan sendiri seperti tokoh kartun antagonis.


“Kalau begini, kita bisa lebih mudah menjalankan rencana selanjutnya. Kita bakal mengendap-endap masuk, dan bunuh orang-orang dewasa di sana biar bisa kita ambil organ-organnya, terus kita jual. Dan anak-anak di sana bakal kita culik, kita jual juga ke perdagangan manusia. Duit-duitnya lumayan buat kita pergi dari planet gila ini.”


“Oh…. Gitu, yak?”


“Yo, jelas— Eh?”

__ADS_1


Tama baru menyadari kalau suara yang baru saja menyahutnya tak terdengar seperti suara Gondri. Ia pun menoleh heran pada rekannya.


“Tadi kau yang ngomong, kan?”


Gondri pun balas menoleh, tak mengerti maksud Tama. “Lah, kukira kau yang nyahut sendiri.”


Tama menampol bahu Gondri dengan jengkel. “Mana mungkin aku yang jelasin, aku pula yang nyahut? Kau kira aku gila?!”


“Yang nyahut tadi aku, lho.”


Sekarang, Gondri dan Tama baru menyadari ada suara orang lain selain mereka di dekat sini. Perlahan mereka mencoba menoleh ke belakang, tersentak kaget ketika melihat ada sosok pemuda berambut merah jongkok di atas pohon belakang mereka sambil memberikan senyum bersahabat.


“Hola.” Mardin melambaikan tangan sesaat.


“Akh!”


“Aaakkkh…!”


Kedua pria itu terhempas jauh keluar dari atas pohon setelah kena tendang Mardin. Beruntung mereka mampu mendarat dengan baik, sehingga tidak menimbulkan luka lecet atau badan terbentur.


Mardin turun dari atas pohon, mulai berjalan santai sambil bersiul, memanggul goloknya dan memasukan sebelah tangan ke dalam saku celana.


“Yuhuuu…. Siapa aja yang kutemukan di sini?” tanya Mardin agak membungkuk sesaat. “Tamu tak diundang, nih. Macam jelangkung aja.”


“Ish!” Tama menunjuk-nunjuk Mardin dengan emosi. “Kau yang macam jelangkung! Nongol tiba-tiba! Siapa kau sebenarnya?! Dan apa urusanmu dimari?! Kau juga mau ngambil semua buruan kami, ya?! Jangan harap!”


Pemuda merah ini benar-benar berhasil membuat Tama naik pitam. Gaya tengil, cara bicara yang profokatif, semua yang ada pada pemuda itu benar-benar menjengkelkan.


Tidak seperti Tama, Gondri menyadari kalau Mardin hanya ingin memancing emosi mereka agar mereka kehilangan fokus pada tujuan awal untuk menculik dan mengambil organ-organ tubuh penghuni vila sini.


“Tama.” Gondri berbisik di belakangnya, “Dia cuma berusaha memancing emosimu.”


“Udah, dah, ya….”


Mardin menghentikan interaksi mereka. Dia punya ide yang bagus untuk memberi pelajaran pada kedua orang yang ia duga sebagai Rogue ini.


“Di sini, aku enggak bakal ngebiarin kalian berdua mendekati vila ini.” Mardin balas menunjuk mereka berdua.


“Kenapa tidak?!” ucap Tama kesal, membuat Gondri cuma bisa menepuk kening karena rekannya ini susah direda amarahnya kalau sudah keluar.


Mardin sok-sok’an memasang gaya berpikir. “Emm…. Terlalu mudah aja sih bagi kalian kalau enggak ada tantangannya.”


“Gini aja, deh.” Mardin menyarankan, “Gimana kalau kalian berdua melawanku di sini? Kalau aku kalah, kalian bisa menculik anak-anak, mengambil organ-organ tubuh penghuninya. Dan juga, kalian boleh mengambil semua organ tubuhku. Organ-organ tubuhku ini dipastikan sehat, lho. Enggak ada penyakit sama sekali. Pasti dihargai dengan harga yang sangat mahal biarpun dijual secara ilegal.”


Tama dan Gondri saling tukar pandang. Dari penawaran Mardin saja terdengar sangat menggiurkan. Mereka mendapatkan banyak keuntungan dari pertarungan ini. Itu pun jika mereka menang.


“Tapi, tapi, tapi….” Mardin mengacungkan jari telunjuk. “Jika aku menang, siap-siap saja organ-organ tubuh kalian aku ambil. Lumayanlah buat nambah-nambah modal usaha bar Paman. Hehe….”

__ADS_1


Tama terlihat mantap untuk menerima tawaran Mardin, tapi Gondri malah segan. Pasalnya, dia punya firasat tak enak bahwa pemuda satu ini jauh lebih berbahaya dari mereka, bahkan dari Rogue manapun.


“Tama, tunggu dul—.”


“Oke! Aku terima tantanganmu!”


Tak mendengar peringatan Gondri, Tama melangkah maju sambil mengeluarkan dua belati dari sarung di belakang pinggangnya, bersiap untuk bertarung.


“Jangan menjerit kalau nanti kumutilasi hidup-hidup,” ucap Tama pede.


Mardin merespon dengan senyuman. Ikut mengambil posisi bertarung menggunakan golok futuristiknya.


“Boleh juga nyalimu, Sahabat.”


Tama dibuat makin emosi. “Ergh! Aku bukan sahabatmu, 'jingan!”


Tama memutar-mutar kedua belatinya, mengambil posisi menyilangkan kedua senjata itu.


“Tebasan Violet Silang!”


Gelombang tebasan berbentuk silang dengan warna ungu dilesatkan ke arah Mardin. Pemuda itu melengkungkan tubuhnya ke belakang, menghindari serangan tebasan itu di antara celah silangnya yang ada di bawah.


“Agresif kali,” ucap datar Mardin.


Ketika tubuhnya kembali berdiri tegap, Mardin baru menyadari kalau Tama sudah tidak ada lagi di depannya. Mardin tahu betul pola serangan ini, jadi dia segera menoleh ke belakang. Benar saja. Sosok Tama kini melesat dari belakang atas hendak menyerangnya.


Tama menebas leher Mardin menggunakan belati. Namun bukan leher Mardin yang tertebas, justru yang ia tebas hanyalah bayangan hologram menyerupai Mardin yang telah berubah dan lenyap. Tentu hal itu membuat Tama sontak terbelalak.


Tak sempat menoleh, sosok bayangan hologram di belakangnya mulai berubah wujud menjadi Mardin sungguhan, bersiap menusukan goloknya dari belakang.


Belum sempat mengenai Tama, Mardin sudah ditendang oleh Gondri hingga terpental jauh. Tentunya Mardin tidak serta-merta membiarkan bagian vitalnya kena tendang. Mardin sempat melindungi dirinya dari tendangan Gondri menggunakan pergelangan tangan.


Mardin mendaratkan tubuhnya dengan baik. Ia sedikit mengibas-ngibaskan pergelangan tangannya karena merasa sedikit kebas akibat menahan tendangan Gondri tadi.


“Gondri, jurus macam apa yang digunakan bocah itu?” tanya Tama berdiri di samping rekannya.


“Tadi aku sempat mengawasi. Dia memanggil bayangan hologram dan memindahkan tubuh aslinya ke bayangan hologram itu,” jelas singkat Gondri.


“Terus, kenapa kau tidak menolongku?!”


“Aku baru saja menolongmu, Bodoh! Anak itu terlalu cepat bergerak!”


“Wo! Wo! Kenapa jadi pada berantem, nih?”


Sosok Mardin maju beberapa langkah diikuti satu bayangan hologram di sampingnya. Ia dan bayangan itu sempat adu tos sesaat, lalu memberi senyuman pada kedua musuhnya.


“Jangan gitu, lah. Kalian ‘kan temenan,” ucap Mardin remeh, tapi wajahnya menampakan senyuman khas yang sulit pudar dari wajah rupawannya.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2