
SMA BD atau kepanjangannya Sekolah Menengah Atas Binabersama Duniakhirat merupakan salah satu sekolah di Kota Kamaju. Sekolah sederhana berlantai lima ini didanai oleh Guild Jaguara. Terdapat sekitar 300 lebih murid bersekolah di sini. Sekolah ini hanya memiliki dua jurusan, yaitu Sains dan Sosial dengan beberapa kelas dibagi-bagi.
Di depan halaman sekolah pada pagi itu, nampak puluhan remaja sudah berdatangan, bersiap untuk menjalankan kegiatan belajar bersama di sekolah tersebut.
Beberapa remaja terlihat riang berjalan bersama dengan kelompok pertemanan masing-masing menuju bangunan sekolah, tapi tidak dengan sekelompok remaja yang malah sudah buat gaduh di depan gedung.
“Hei! Balikin tasku, Doni! Aw!”
Sosok Dimas saat ini sedang dirundung oleh para remaja dari Geng Doni. Tasnya berhasil diambil Doni kala ia baru sampai di halaman sekolah. Dimas hendak mengambil kembali tasnya, tapi tubuh Doni terlalu tinggi dan besar, sehingga membuatnya kesulitan untuk menggapainya. Ketika hendak berhasil mengambil tas, tubuhnya malah didorong oleh teman Doni.
“Ish! Balikin enggak tasku, Don!” teriak Dimas tak terima.
Teman Doni yang sempat mendorong Dimas menyeringai remeh. “Pa’an, sih? Sok berani banget. Badan cempreng gitu bisa apa kalau di hadapan bos kita ini?”
“Tahu, nih. Dasar culun!” hina teman satu geng yang lain. “Muka macam selokan, kacamata lebih gede dari kepala. Bikin orang kesel aja lihat kau, tahu?!”
“Haha! Makanya, jadi bocah musti kuat dikit, nape?” ledek Doni pula.
Mereka langsung tos bersama setelah puas-puasan menghina Dimas. Beginilah keseharian Dimas di sekolah kalau tidak ada teman-temannya. Dia pasti jadi korban perundungan sekelompok remaja lain dengan alasan tampilannya yang culun.
Memang apa salahnya menjadi culun kalau itu bikin dirinya nyaman? Setidaknya, Dimas tidak pernah mengganggu remaja lain seperti Geng Doni ini.
“Eh, kacamatanya gemesin, deh. Sini, aku pecahin…!”
“Ah! Eh, jangan!”
Teman Doni hendak mengambil kacamata bulat yang terpasang di muka Dimas, tapi tiba-tiba saja tangannya ditepis oleh tangan besar Bobby.
Beruntung Bobby dan Cungkring datang tepat waktu untuk menolong teman mereka itu. Kalau tidak, mungkin Dimas bakal kehilangan satu-satunya alat bantu penglihatannya.
“Ooo…. Berani main keroyokan, ya, kau-kau pada.” Dengan berani Bobby menunjuk anggota Geng Doni. “Emang begini cara main geng kau, Don? Pecundang kali kau, ya?!”
Walau tubuh gempal Bobby tidak setinggi Doni, setidaknya ia berani melawan walau mungkin kalah besar dan kuat.
“Memang apa pedulimu, hah? Kau pun enggak bakal berani lawan kami kalau bukan karena temenan sama si jamet merah entu,” bacot Doni.
“Eh, rengginang gajah.” Kini giliran Cungkring yang adu bacot. “Enggak usah bawa-bawa Mardin, ye. Yang namanya perundungan, main keroyokan, itu emang tindakan orang-orang pengecut! Dibandingkan kalian pada, nih, ye…. Kucing garong jauh lebih terhormat.”
“Kenapa pula kau banding-bandingkan kami sama kucing garong?! Badan kau pun macam bilah lidi! Sekali dibengkokin langsung patah.”
Ledekan rekan Doni terhadap Cungkring sontak membuat satu geng tertawa keras menertawakannya. Cungkring, Dimas, dan Bobby berusaha menahan malu akibat ledekan mereka. Keributan mereka sontak membuat ketiganya menjadi pusat perhatian anak-anak lain.
“Enggak usah sok jagoan deh kalian! Kalian enggak malu apa satu sekolah tahu kalau kalian tukang rundung?!” omel Bobby kembali.
__ADS_1
“Sudah kubilang, apa pedulimu, keledai?!” bentak Doni keras pada Bobby. “Kalau kau berani nantangin, sini! Betumbuk kit—Arkh!”
Mereka semua terkejut melihat kepala Doni kena lempar kerikil. Ketika menoleh ke arah kerikil itu berasal, mereka tak kalah terkejut melihat kedatangan seseorang.
“Wah…! Ada apa nih pada ngumpul semua? Kok enggak ngajak-ngajak?”
Rupanya yang baru saja melempar Doni dengan kerikil itu adalah Mardin. Pemuda berambut merah mullet itu baru saja tiba di depan pagar sekolah. Dia berseluncur menggunakan skateboard menghampiri mereka semua disertai senyum cerah yang tak pernah luntur dari wajah rupawannya.
Melihat kedatangan Mardin sontak membuat rekan-rekan Geng Doni berkeringat dingin. Pasalnya, Mardin merupakan remaja yang disegani di sekolah ini. Kalau ada yang berani merundunginya, bisa dirundung balik nanti dengan perundungan yang jauh lebih berat.
Ketika tiba tepat di depan Doni, segera Mardin menginjak ujung skateboard-nya sampai mental kena wajah Doni, membuat wajah si bos geng sekolah itu seketika memar.
“Ar-rgh…!” Doni langsung menunduk menahan sakit pada wajahnya.
Teman-teman sekitar pun pada meringis ngeri membayangkan betapa sakitnya wajah orang sampai kena pukul ujung skateboard sekeras itu.
Mardin menangkap skateboard-nya sambil memperlihatkan wajah kaget dibuat-buat. “Opsie…. Maaf, enggak sengaja, Sahabat. Sakit, ya…?”
Kemudian Mardin berbisik di dekat Doni. Mata birunya membelalak maniak hingga menimbulkan kilat tajam dan seringai mengerikan terukir di wajahnya.
“Masa kena pukul begitu saja langsung meringis. Lemah kau, Pecundang…!”
“MARDIN JAMET!!!”
“ARGH!!!”
Doni menjerit kesakitan, kembali menundukan kepala sambil menutup hidungnya menggunakan kedua tangan. Dia syok ketika menyadari ada banyak darah keluar dari sela-sela jarinya, menandakan bahwa hidungnya saat ini mengalami luka parah.
Hanya karena disentil Mardin? Bagaimana bisa?
“Ergh…. Kau…. Ka-kau….”
Karena tak mampu lagi menahan sakit, Doni cuma bisa menjauh sambil menunjuk-nunjuk Mardin dengan emosi.
“Awas kau, ya, Jamet! Awas kau! Ugh…!”
Sambil menahan pendarahan di hidung, Doni cuma bisa berjalan terseok-seok menjauhi mereka, disusul oleh rekan-rekan satu geng yang nampak ketakutan melihat Mardin.
“Dadah! Semoga harimu menyenangkan!” salam Mardin riang sambil melambaikan tangan, sama sekali tidak terpengaruh dengan ancaman Doni.
Setelah Geng Doni pergi memasuki gedung sekolah, Mardin menoleh pada ketiga temannya. Ia juga melihat Dimas gelagapan mengambil tasnya yang sudah tergeletak di tanah.
“Kalian enggak apa-apa?” tanya Mardin cemas.
__ADS_1
Ketiganya cuma bisa menunduk lesu, tapi Bobby sempat membalas, “Aku dan Cungkring enggak kenape-nape. Dimas yang kena rundung.”
Dimas terlihat makin menunduk malu. Dia merasa bersalah karena dirinya ‘lah Mardin dan teman-temannya jadi susah-susah melindunginya.
“Kalau ada yang berani merundungimu, lawan,” ucap Mardin berusaha menasihati Dimas.
“A-aku tadi sempat lawan, Mard. Cuman… mereka main keroyokan,” balas Dimas canggung.
“Bener kata Dimas, Mard,” tambah Cungkring prihatin. “Kami pun kalau di posisi Dimas, bakal susah ngelawan mereka yang beraninya keroyokan. Mana badan mereka besar-besar pula.”
Mardin menghela nafas memaklumi. Ketiga temannya bukanlah dirinya yang sudah terbiasa melawan banyak musuh bahkan monster. Teman-temannya hanyalah remaja biasa yang masih hidup di zona nyaman bersama keluarga mereka masing-masing. Sudah sewajarnya mereka sulit melawan banyak orang yang berusaha merundungi mereka.
“Ya, udahlah. Yang penting, kalian baik-baik aja.” Mardin pun berusaha mengalihkan topik. “Eh, eh! Omong-omong, tadi itu aku ganteng, enggak?”
Seketika mereka bertiga langsung berwajah datar melihat perubahan reaksi Mardin. Mereka pikir, sepertinya keanehan si jamet satu ini kumat lagi.
“Bah….” Muka Bobby jadi masam menanggapi kenarsisan Mardin yang mulai kumat. “Dilihat dari ujung akhirat baru kau bisa disebut ganteng.”
“Aelah, Bobby….” Mardin merengek sambil merangkul Bobby. “Tega banget jadi temen….”
“Hahahaha….”
Mereka berempat pun tertawa bersama menanggapi candaan Bobby dan Mardin. Beginilah sifat Mardin terlepas dari dirinya yang merupakan seorang Rogue. Mardin hanyalah seorang remaja yang memiliki kehidupan menyenangkan dan teman-teman yang selalu setia menemaninya.
Walau kehidupan aslinya berat, setidaknya dengan adanya keberadaan Bobby, Dimas, dan Cungkring sudah membuah hidup Mardin jauh lebih berarti.
Memang persahabatan takkan pernah bisa digantikan oleh harta berharga manapun di dunia ini.
“Eh, eh! Apa itu?”
“Mobilnya mewah banget…!”
“Anak mane yang datang dimari pakai mobil mewah begonoh?”
“Eh, kudengar ada anak baru yang bakal sekolah di sini?”
“Jangan-jangan anak orang tajir, lagi.”
Tawa Mardin dan kawan-kawannya terhenti seketika ketika melihat kehebohan yang terjadi di seisi halaman depan sekolah. Mereka heboh karena baru saja melihat ada sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan pagar sekolah.
Tentu mereka berempat juga penasaran. Siapa yang baru saja datang ke sekolah mereka?
Apa benar murid baru?
__ADS_1
...~*~*~*~...