
Ayunan keras kedua senjata mereka menciptakan gelombang tebasan, secara kebetulan menebas monster-monster di samping mereka, memotong tubuh monster hingga menyebabkan banyak semburan darah.
“Kau punya reflek bagus, kawan samurai,” remeh Mardin sambil berusaha mendorong goloknya.
Pria itu juga mendorong katana miliknya. “Aku seperti ini juga karena kau menyerangku lebih dulu. Dengar, aku sama sekali tidak berniat bertarung denganmu, apalagi membunuhmu.”
“Lantas?”
Keduanya langsung melompat saling berjauhan, dipisah oleh lesatan monster trenggiling. Tubuh monster itu terlihat berputar, siap melesat melakukan serangan.
“DIAM!”
Mardin dan sang pria sama-sama menebas monster trenggiling karena kesal interaksi mereka diganggu olehnya.
“Jadi?” Dengan santai Mardin menuntut jawaban.
“Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting padamu, Mardin. Tapi sebelumnya, perkenalkan, aku Haku. Dan aku bukan orang asli sini.”
“Maksudmu, kau datang jauh-jauh dari luar kota ini cuma buat mencariku?” Mardin nampak berpikir dengan senyum dibuat sumringah. “Wah…. Sepertinya aku sudah jadi selebriti nih gara-gara kemarin sempat kirim naskah novel online. Padahal seingatku, naskah terakhirku dibakar sama editor buat dijadi’in bahan ritual sesat. Sangat berjasa sekali ya aku ini. Ya, susah sih kalau aku ganteng.”
Haku menyipitkan kedua matanya jengkel ketika memperhatikan kelakuan narsis Mardin. Dan sempat terlintas di pikirannya tentang naskah novel macam apa yang bisa dibakar buat dijadi’in bahan ritual sesat.
“Emang novel apa yang kau tulis?”
“Novel Satanic,” jawab Mardin polos.
Haku menggosok wajahnya kasar. Mikir lagi, itu naskah novel beneran atau kitab ajaran sesat?
Pemuda berambut merah itu kalau makin diperhatikan emang menjengkelkan juga. Udah menjengkelkan, tidak tahu diri pula.
Bagaimana bisa Luan menyuruh Haku bertemu dengan makhluk antik begini?
“Grrrblokblok! Grrrblokblok…!”
Haku dan Mardin sama-sama mendengar suara monster aneh di depan mereka. Rupanya, rombongan monster yang masih mengepung mereka terpental jauh oleh lemparan satu makhluk berukuran besar ini ketika merayap menghampiri mereka.
Makhluk tersebut merupakan cumi-cumi raksasa berukuran sekitar 3 meter lebih dengan tekstur tubuh agak membusuk dan berbau menyengat. Tentakel-tentakelnya nampak bergerak-gerak tak karuan, memukul monster apa saja yang berada di dekatnya. Cumi-cumi ini juga memiliki mulut lebar bertaring di bagian bawah kepalanya, menganga lebar, mengaung dengan sangat keras.
“Wohooo! Monster tentakel Hentong!” teriak Mardin girang.
“Sepertinya, dia raja dari pesta ini,” komentar Haku sambil mengibaskan katananya yang kotor oleh darah.
“Iya…. Dia sang penakluk para wanita. Kau lihat saja betapa besar dan mengkilatnya tentakel-tentakel itu,” goda Mardin setengah meledek.
“Kalau dibiarkan, banyak gadis jadi korban.” Haku menoleh ke Mardin. “Gimana? Singkirkan?”
Mardin mengangguk. “Oke. Bisa bujang lapuk kita kalau para gadis diembatnya. Lagipula, kau masih berhutang penjelasan soal apa yang ingin kau sampaikan padaku.”
“Tentu. Kita bicarakan setelah ini, Bung. Setuju?”
Haku memberi uluran tangan untuk bersalaman, tapi Mardin lebih memilih mengangkat kepalan tangannya.
“Aku lebih suka seperti ini, Kawan.” Mardin tersenyum.
Spontan Haku ikut menyunggingkan senyum, mengerti maksudnya. “Heh. Tidak buruk.”
Keduanya pun saling adu kepal tangan sebagai tanda bahwa mereka sepakat.
“Kalahkan dia, Bung,” ucap Haku.
“Siapa yang lambat, dia pecundang!” teriak Mardin senang.
Mereka langsung melesat cepat ke arah monster cumi-cumi. Keduanya sama-sama memberikan tebasan, memotong setiap tentakel sang monster, tapi semua tentakel yang kena potong malah tumbuh menjadi tentakel baru.
“Semua tentakelnya beregenerasi,” ucap Haku ketika baru saja selesai menebas satu tentakel. “Ah, aku baru ingat. Kau lihat ada lima bulatan di sisi-sisi kepalanya?”
Mardin memandang dengan seksama bagian kepala cumi-cumi. Benar kata Haku, memang ada lima bulatan berwarna kekuningan di beberapa bagian sisi kepala monster itu.
“Iya…. Memang ada bulatan-bulatan aneh di kepala,” ucap Mardin memastikan. “Terus?”
“Monster jenis ini biasanya musti diserang dulu bagian-bagian bulatannya sampai hancur agar bisa melumpuhkan dan menghambat regenerasinya. Karena bulatan-bulatan tersebut merupakan titik kelemahannya,” jelas singkat Haku. “Setelah itu, baru bisa kita habisi.”
__ADS_1
Mardin meraih skateboard di sabuk belakangnya. “Oke. Kalau yang itu, serahkan saja padaku.”
Mardin mulai meluncur dengan skateboard. Haku ingin membantu, tapi dirinya malah dikepung oleh lebih banyak monster-monster berukuran normal.
“Kalian mencoba menghalangiku, rupanya.” Haku langsung menebas para monster dengan katana.
Mardin meluncur cepat menggunakan skateboard, berusaha mendekati monster cumi-cumi. Melihat kedatangan Mardin, sang monster segera menyerang dengan beberapa tentakel. Dengan lincah Mardin menghindari setiap ayunan tentakel, melompat, salto.
Dan saat satu tentakel hendak memukul skateboard-nya, papan seluncur tersebut langsung bertransformasi. Dua pasang ban itu otomatis masuk ke dalam badan skateboard, diganti dengan dua baling-baling bercahaya biru menghadap ke bawah.
“Terbanglah, skyboard!”
Papan seluncurnya berubah menjadi papan terbang, membawa Mardin terbang tinggi ke arah sang monster. Tentu saja, ia tertawa senang kita melakukan atraksi tersebut.
Sambil terbang di udara, Mardin mengubah goloknya menjadi pistol blaster, menembak-nembak sang monster. Tentunya setiap tembakan laser itu berhasil ditepis oleh tentakel-tentakel yang keras.
“Masih bisa bertahan, huh…?”
“Meriam Laser!”
Satu lingkaran hologram muncul di depan moncong pistol. Langsung Mardin semburkan laser tepat mengenai bulatan kuning yang ada di kepala bagian bawah kiri.
“Tebasan Bunga Sakura.”
Di waktu yang sama, Haku juga melesatkan tebasan sabit merah muda tepat mengenai bulatan di bawah kepala sebelah kanan. Setelah melancarkan tebasan tersebut, ia terpaksa kembali bertarung dengan beberapa monster yang berusaha mengganggunya.
“Kau bisa mengatasinya di atas sana? Aku akan segera menyusul!” teriak Haku sambil menebas monster.
“Ay, ay, ay, Kapten!” hormat Mardin disertai kedipan sebelah mata.
Mardin kembali terbang di sekitar monster cumi-cumi berukuran besar itu.
“Golok Hologram.”
Menggunakan kemampuan tersebut, Mardin menciptakan lima golok holografik sekaligus, melesatkannya ke arah sang monster sambil terus terbang. Beberapa golok hanya bisa menebas tentakel-tentakel yang menghalangi, baru golok terakhir bisa menebas bulatan sebelah kiri.
“Bagus!”
“Kau tidak ingin menggunakan kemampuan andalanmu, Mardin? Kau bisa langsung menghabisi monster tengik ini kalau kau mau,” saran Dros di pikiran Mardin.
Dros terdengar menghela nafas. “Terserah. Dasar, monyet lincah.”
Mardin terbang cepat ke arah monster cumi-cumi, bersiap melancarkan serangan langsung. Tiga golok hologram yang tersisa ia gunakan untuk menebas beberapa tentakel agar tidak menghalanginya. Terus terbang mendekat, bahkan Mardin melompat turun dari skyboard, meluncur di atas permukaan tentakel dengan skyboard mengikuti secara otomatis di sampingnya.
“Rasakan ini, penjahat kelamin!”
“Tebasan Neon Biru!”
Mardin melompat dari permukaan tentakel, melesat cepat sambil mengayunkan tebasan sabit berwarna biru ke arah bulatan sebelah kanan.
“Woa, hooo!”
Mardin sempat keterusan jatuh, tapi berhasil mendarat di atas skyboard ketika benda itu otomatis mendeteksi penggunanya dalam bahaya.
“Kerja bagus, Kawan.” Mardin menepuk-nepuk skyboard dan hanya dibalas dengan desiran mesin.
Dari atas, Mardin melihat Haku dikepung banyak monster. Dia ingin pria itu juga ikut menyerang titik kelemahan terakhir monster cumi-cumi, jadi ia pun membantu dari jauh.
“Pistol Blaster.” Mardin mengubah satu golok holografik menjadi pistol. “Laser Pemotong!”
Menggunakan semburan laser pemotong dari pistol hologram, Mardin menebas barisan monster di sekitar Haku agar membuka jalan bagi pria berambut perak itu untuk menyerang monster cumi-cumi.
Melompat melewati semburan darah dari potongan-potongan tubuh monster, Haku segera berlari di atas salah satu tentakel, mendekati sang monster, kemudian melompat tinggi ke atas kepalanya.
Sayangnya, satu tentakel hendak meraih kaki Haku. Makin dekat, makin dekat, dan makin dekat lagi akan menggapai kakinya.
“Tangkap!”
Mardin menangkap tangan Haku, membawa pria itu terbang sedikit menjauh ke atas. Kalau saja tidak berhasil ditangkap Mardin, mungkin Haku sudah diseret tentakel monster itu.
“Hei! Bagaimana kalau kita melakukan kombo?” saran Mardin masih memegang tangan Haku yang tengah bergelantungan. “Aku ingin sekali melakukan kombo dari kemarin, tapi selalu enggak ada teman.”
“Boleh saja kalau mau,” balas Haku tenang.
__ADS_1
“Oke. Lakukan yang terbaik, Kawan!”
Mardin melempar Haku setinggi-tingginya ke atas langit. Wajah Haku sama sekali tak menampakan ekspresi tegang, justru tetap datar merasa sudah biasa dengan apa yang ia lakukan sekarang.
“Hah….”
Haku berputar di udara, berbalik dengan posisi siap terjun ke bawah.
“Pedang Musim Semi.”
Seluruh katana Haku diselimuti cahaya merah muda, daya serangnya makin diperkuat. Dan setelah itu, Haku melesat sekencang mungkin ke bawah disertai sedikit hembusan kelopak-kelopak bunga sakura di sekitarnya.
“Wohooo!”
Mardin heboh sendiri ketika melihat Haku melesat melewatinya. Pemuda ini juga tidak mau kalah.
“Aktifkan mode pelontar.”
Skyboard Mardin agak dimiringkan ke bawah, makin menarik kakinya agar semakin menempel pada permukaan skyboard. Dua baling-baling di bawah skyboard berputar semakin kencang, mendesir keras, dan cahaya birunya pun semakin terang.
“Inilah yang kusebut, Lontaran Ketapel Burung Ngembek.”
Skyboard melontarkan tubuh Mardin ke bawah, membuat pemuda ceria itu melesat dengan sangat cepat, bersiap dengan golok di tangan.
“HIAH!”
“HAAH!”
Haku terjun menebas bagian teratas bulatan kuning di kepala monster cumi-cumi menggunakan katana merah muda, disusul Mardin yang ikut memberi tebasan menggunakan golok biru.
“GYAAARRRHHH!!! Blokblokblok…!”
Monster itu menjerit kesakitan ketika kelima titik vitalnya telah dihancurkan. Semua tentakel langsung jatuh tak bisa lagi digerakkan.
Haku dan Mardin mendarat dengan baik di jalan, skyboard pun Mardin tangkap begitu saja ketika jatuh dari langit.
Monster cumi-cumi sudah tak berdaya, dan jumlah monster di jalanan sepi ini juga makin sedikit. Sudah saatnya pertarungan ini diakhiri.
“Biar aku yang mengatasi sisanya, Mardin.”
“Oke,” ucap santai Mardin mulai memperhatikan apa yang akan dilakukan Haku selanjutnya sambil menempelkan skyboard ke tempelan magnet sabuk belakang.
Haku mengambil posisi kuda-kuda siap melancarkan serangan tebasan menggunakan katana. Namun kali ini, serangannya bakal cukup berbahaya. Mungkin pria itu berniat membunuh monster cumi-cumi besar sekaligus menghabisi semua monster yang tersisa dalam sekali serang.
“Huuuh….”
Haku memejamkan mata sambil mengatur pernafasan, mulai berkonsentrasi mengumpulkan Energi Ru di dalam tubuh. Pedangnya kembali bersinar warna merah muda, ratusan kelopak bunga sakura beterbangan di sekitarnya.
“Dia ingin menghabisi mereka dengan kemampuan andalannya, huh?” tanya Dros. “Aku merasakan Unsur Ru semakin besar hendak digunakannya.”
Mardin bersedekap disertai senyum yang tak pernah luntur di wajahnya. “Kurasa begitu. Aku penasaran, sehebat apa kemampuannya yang satu ini.”
Kelopak-kelopak bunga merah muda semakin lama semakin kencang berterbangan. Haku semakin bersiap melancarkan serangannya. Katana siap diayunkan lebih keras, pikiran makin fokus, dan sebelah kaki dihentakkan ke depan.
“Eh?”
Hanya saja, Haku merasakan ada sesuatu yang diinjak oleh kakinya. Hal itu membuat fokus Haku dalam melancarkan serangan andalan makin mengendur.
“Apa yang aku injak ini?”
Wajah Mardin dibuat-buat polos seperti anak TK. Dengan agak canggung, Mardin menunjuk-nunjuk benda yang baru saja diinjak Haku.
“Biar kuperjelas.” Mardin menjawab polos, “Itu-e’ek-monster.”
Seketika wajah Haku datar. Semua kelopak bunga sakura berjatuhan, mendadak layu di tanah. Cahaya di katana pun seketika padam.
Haku memberanikan diri melihat sol sepatu mahalnya. Memang benar, ada obyek lembek berwarna gelap dan berbau busuk menempel di sana.
Haku menghela nafas, seketika suasana canggung. Sudah susah-susah ngumpulin Energi Ru tuk melancarkan serangan Unsur Ru yang lumayan besar, tapi malah kacau cuma gara-gara kotoran monster.
“Berak!”
...~*~*~*~...
__ADS_1