Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 15 : Samurai?


__ADS_3


Belum sempat satu monster mengambil gerakan, Mardin sudah menebasnya menjadi dua bagian. Beberapa monster maju sekaligus, langsung ditebas Mardin menjadi beberapa bagian, mulai dari menebas tangan, kaki, ekor, hingga kepala.


“Meh? Cuma segini saja?” remeh Mardin santai.


Tak disangka satu monster badak humanoid melompat hendak menerkamnya. Tentu saja Mardin bersalto menghindari terkaman tersebut.


“Golok Hologram.”


Mardin memutar-mutar goloknya, membuat dua golok holografik tercipta. Dua golok itu Mardin lesatkan ke arah monster badak hingga berhasil menancap di dadanya. Mengunakan perintah gerakan jari, dua golok itu meledak, menyebabkan tubuh monster badak hancur menyemburkan banyak darah.


Serangan cakar kembali dilancarkan oleh satu monster. Mardin melindungi dirinya dari cakar itu menggunakan badan golok, menimbulkan bunyi berdengung akibat gesekan antara permukaan golok dan cakar. Secepatnya Mardin tebas jari-jari cakar monster dengan cara memutar goloknya, kemudian memutar tubuhnya menebas tubuh si monster.


Satu monster Mardin tusuk-tusuk hingga banyak darah merembes keluar. Monster lain ia tendang dengan gerakan capoeira beberapa kali, kemudian ia tusuk di tubuh.


Satu lagi monster melesat hampir menerkamnya, tapi dengan sigap Mardin injak lehernya sampai membentur tanah.


“Hoaaam….” Mardin menguap ketika kakinya masih menginjak leher si monster, sedangkan goloknya ia panggul di bahu. “Yang dilawan monster, sih. Coba orang, pasti seru kalau dibikin emosi.”


Mardin injak lebih keras lagi sampai leher monster itu putus.


Monster berukuran besar datang, langsung Mardin serang dengan menendang kepala monster tadi seperti bola hingga mengenai kepala monster besar. Beberapa kali ia melakukan tebasan memutar agar tubuh monster besar terbelah menjadi beberapa bagian.


Tebasan demi tebasan dilancarkan Mardin, makin banyak monster terbunuh. Darah menyembur dimana-mana, potongan-potongan daging berjatuhan. Pertarungan ini sungguh membuat jalanan di daerah situ yang awalnya sudah hancur jadi makin kotor oleh banjir darah.


“Wohooo…! Masih banyak, ya?” Iseng-iseng Mardin menjilat darah pada goloknya.


Tiga monster besar kembali melompat hendak menerkam Mardin. Mardin sudah siap mengambil ancang-ancang untuk menggunakan teknik Golok Hologram-nya lagi. Tapi niatnya diurungkan ketika menyadari ketiga monster besar itu terbelah menjadi dua bagian dalam sekali tebasan, membuat darah menyembur semakin banyak di udara dan potongan-potongan daging mereka berjatuhan di hadapan Mardin.


Mardin menaikan sebelah alisnya heran ketika melihat potongan tubuh monster itu. Jelas bukan dia yang menebas mereka. Ada orang lain di sini selain dirinya.


Di saat itu pula, Mardin menemukan keberadaan seseorang agak jauh di samping depannya. Orang tersebut membelakangi Mardin dengan posisi agak berlutut setelah sempat melesat menebas ketiga monster itu, dan terlihat membersihkan katananya dari darah.


Dia merupakan seorang pria tinggi memakai yukata merah muda, rambut perak panjangnya diikat tinggi dihembus oleh angin. Dan ketika ia sedikit menoleh ke belakang, nampak ia memakai kacamata dan masker respirator menutupi mulut serta hidung mancungnya. Di balik lensa terang kacamata itu, terlihat jelas sepasang mata biru terangnya begitu tajam. Masker itu juga mengeluarkan uap ketika ia menghembuskan nafas.


Mardin bergeming seperti anak kecil yang baru melihat pahlawan super idolanya datang. Pria itu terlihat sangat keren. Seperti samurai di film-film sci-fi yang sering Mardin tonton.


“Wow,” kagum singkat Mardin.


“Aku tidak menyangka ada seorang samurai di sini,” komentar Dros dalam pikiran Mardin. “Berarti dia bukan orang sini, dong.”


“Ah, benar juga, ya.” Mardin menyadari sesuatu. “Kalau semacam samurai, berarti dia berasal dari timur planet. Kenapa bisa nyasar ke sini?”

__ADS_1


Setahu Mardin, Kota Kamaju terletak di banua bagian tenggara Planet Urdalin, tepat berdekatan dengan perbatasan ke banua timur. Ada kemungkinan pria asing ini merupakan orang dari daerah tersebut. Dan tujuannya nyasar ke banua tenggara masih belum diketahui.


“Samurai, kah…?” Mardin melangkah santai mendekatinya sambil memanggul golok.


Pria misterius itu berpaling menghadap Mardin. Ia melepaskan masker respirator tersebut, membuat wajah rupawannya kini terlihat jelas.


“Menurutmu aku samurai, huh?” tanya balik pria itu dengan nada datar disertai tatapan tajam.


“Heheee….” Mardin terkekeh. “Kukira kau semacam samurai yang nyasar ke planet ini demi menyelamatkan dunia dari kekacauan para pembunuh.”


“Aku tidak sekonyol itu, Bung,” balasnya datar.


Mardin tertawa kecil menanggapinya. Namun ada satu hal yang terlihat aneh pada pria itu. Bukan sesuatu yang serius. Hanya saja, Mardin melihat pria itu memakai yukata dengan paduan merah muda dan putih. Tapi, kenapa bawahannya pakai sepatu sport? Warna hijau pula.


“Hei.”


“Hm?”


Mardin menunjuk-nunjuk sepatu sang pria. “Yang kau pakai itu baju tradisionalmu, kan? Kok pakai sepatu? Seingatku, cocoknya pakai sendal kayu.”


“Oh?” Pria itu memperhatikan sepatunya sendiri.


Memang banyak orang menganggap gaya berpakaiannya ini terlalu aneh. Bayangkan saja, ada orang memakai yukata bawa pedang masih wajar. Tapi mukanya pakai kacamata dan masker respirator yang suka keluar asap pas dihembuskan, terus paling bawahnya lagi malah pakai sepatu sport dengan warna nabrak.


Kan enggak nyambung.


Mardin menyipitkan mata sambil memperhatikan desain sepatu pria itu. Entahlah, Mardin orangnya tidak peduli dengan merek-merek pakaian, apalagi sepatu. Yang penting masih layak dipakai dengan harga murah udah bikin Mardin bersyukur dunia akhirat.


“Emang berapa, yak?” tanya Mardin polos.


Dengan pedenya pria itu menjawab, “Harganya ini mencapai 1.559 Dt, edisi terbatas. Susah ini nyarinya, dijual terpisah pula.”


Mardin tercengang mendengarnya. “Wah? Sepatunya bisa dijual terpisah?”


“Iya, dung. Sebelah kanan dibeli di toko utara, sedangkan sebelah kiri dibeli di toko selatan.”


“Itu harga segitu buat sepasang, apa sebelah doang?”


“Iya sebelah, dong. Kan belinya terpisah di toko berbeda. Keren, kan? Mahal ini.”


Otak Mardin mulai berpikir, mencerna masalah pembelian sepatu si pria. Kayak ada yang mengganjal, gitu.


Mardin pun berkata, “Sebenarnya, saya bingung sama pembelian sepatu Anda, nih. Entah itu emang teknik pemasarannya sampai dijual secara terpisah, atau Anda yang malah kena tipu.”

__ADS_1


“Grrraaah!!!”


“Wrrrayhhh!”


“Jrrrraaaahhh!!!”


Interaksi keduanya tentang membahas dunia persepatuan terganggu oleh suara-suara dari berbagai jenis monster. Para monster itu terlihat mengepung mereka dari berbagai arah, menggeram, meraung marah, bersiap menyerang kedua laki-laki ini kapan saja.


“Kau diundang ke pesta, Kawan,” ucap Mardin akrab sambil melambungkan golok.


“Aku bukan anak pesta.” Sang pria mengambil posisi siap bertarung menggunakan katana. “Tapi, kuterima undangannya.”


Keduanya langsung melesat ke arah rombongan monster, menebas mereka semua dengan berbagai tebasan. Tebasan Mardin terlihat berwarna biru, sedangkan tebasan sang pria berwarna merah muda.


“Tebasan Bunga Sakura.”


Pria itu melesatkan tebasan sabit berwarna merah muda disertai kelopak-kelopak bunga sakura ke arah barisan monster sekaligus hingga membuat mereka tertebas seketika, menyemburkan banyak darah.


Mardin melesat di atasnya, berputar di udara sambil mengayunkan golok, menebas beberapa monster ketika mendarat. Ia tebas dan tusuk monster-monster itu.


Saat semua monster di dekatnya berkurang, Mardin putar goloknya hingga bertransformasi menjadi pistol blaster. Ia tembakan laser ke beberapa monster sampai laser-laser itu tembus ke kepala dan torso tubuh mereka.


Pria samurai itu melesat mendekati rombongan monster lain, begitu pula Mardin menyusul sambil kembali mengubah senjatanya menjadi golok.


Keduanya terus menebas banyak monster. Sang pria bergerak cepat, maju sembari menebas horizontal dengan posisi agak membungkuk. Sedangkan ke arah berlawanan, Mardin berguling di atas punggungnya ikut menebas secara vertikal.


Setelah membunuh cukup banyak monster, posisi keduanya kini saling membelakangi dengan punggung saling bersentuhan, masih memegang senjata masing-masing dan bersiap untuk serangan berikutnya.


“Haha! Ini menyenangkan, Kawan,” kata Mardin girang. “Senang rasanya punya teman bertarung seperti ini.”


“Aku hargai itu, Bung.” Tatapan mata pria itu masih fokus melihat ke arah para monster. “Tapi, bukan ini tujuanku kemari ke sini.”


Mardin bingung dengan maksudnya. “Hm? Terus?”


“Aku ada urusan denganmu, Mardin.”


Pria itu tahu nama Mardin. Sangat mencurigakan ketika pria tersebut mengatakan ada urusan dengannya. Urusan seperti apa? Itu yang perlu Mardin cari tahu.


Sontak mata penuh gemerlap keceriaan itu berubah menjadi lirikan tajam dengan pijar kilatan biru pada iris mata Mardin.


“Kau tahu namaku, huh…?”


Mardin berputar mengayunkan goloknya ke arah sang pria. Pria itupun juga berputar mengayunkan katananya ke arah Mardin. Gerakan keduanya dilakukan secara bersamaan, membuat kedua jenis pedang itu saling menghantam, menciptakan bunyi hantaman metal yang sangat keras memekakkan telinga.

__ADS_1


...~*~*~*~...



__ADS_2