Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 2 : Planet Urdalin


__ADS_3


10 tahun kemudian….


Dari dalam kokpit pesawat luar angkasa, terlihat jelas pemandangan permukaan luas sebuah planet. Nampak perpaduan birunya laut dan hijaunya alam, kuning kecokelatan di bagian-bagian kecil yang gersang, dan putih pudar sebagai warna awan.



Di dalam kokpit pesawat itu, si pilot dan kopilot sedang melihat-lihat pemandangan indah planet lewat jendela luas pesawat sambil ngemil makanan ringan. Beberapa panel hologram juga mereka baca, memperlihatkan informasi-informasi terkini tentang planet yang mereka awasi ini.


“Planet Urdalin. Indah dipandang, ngeri di dalam,” komentar si pilot, kembali memasukan chip kentang ke mulut. “Planet ini termasuk berbahaya bukan karena tidak layak huni. Justru planet ini sangat layak huni. Tapi para penduduk yang menempatinya itu, lho. Kebanyakannya merupakan pembunuh yang sangat berbahaya.”


“Emang di planet itu cuma pembunuh doang isinya?” tanya Kopilot.


Masih ngemil sambil melihat pemandangan, Pilot menjawab, “Banyak kok warga sipil. Cuma kebanyakan yang tinggal di sana merupakan pembunuh dan penjahat. Banyak warga sipil di sana terpaksa ikut menjadi pembunuh demi bisa bertahan hidup. Bukan hanya itu, monster-monster berbahaya juga jumlahnya melimpah di sana.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kacau, lah.”


“Kesejahteraan di planet itu sangatlah kecil. Tidak ada sistem pemerintahan yang dapat mengatur setiap daerah. Semua wilayah dikuasai Guild yang isinya merupakan pembunuh semua. Pokoknya, semua aturan di dalam setiap wilayah kekuasaan diatur oleh Guild Pembunuh. Sistem kekuasaan ini diambil berdasarkan hukum rimba. Kelompok yang tangguh dapat memiliki wilayahnya sendiri. Siapapun yang ingin merebut wilayah kekuasaan kelompok lain, maka ditentukan dengan pertarungan saling membunuh.”


“Idih~ Serem juga ya planetnya.” Kopilot meringis ngeri.


“Bukan hanya itu, Bung!” Si pilot nampak antusias bercerita. “Kabarnya, Planet Urdalin ini merupakan sumber transaksi organ-organ tubuh makhluk hidup terbanyak di galaksi. Banyak organ makhluk hidup dari berbagai jenis, terutama manusia, didapat di sini. Dijual secara legal maupun ilegal.”


Si pilot main nampol ke bahu kopilotnya, membuat Kopilot mengaduh sakit, tapi tak dihiraukan. Malah Pilot kembali bercerita.


“Kau tahu anaknya Pak Junar yang kemarin kena sakit ginjal? Ginjal gantinya itu berasal dari planet ini, lho. Dibeli dengan harga yang lebih murah ketimbang ginjal-ginjal dari planet asal keluarga Pak Junar. Makanya, selain dijuluki sebagai sarang pembunuh, Planet Urdalin juga disebut pasarnya organ-organ tubuh.”


“Woalah…. Gitu, toh?” Kopilot bertanya dengan heran. “Tapi, kalau sering terjadi transaksi organ-organ tubuh, itu berarti banyak orang yang mati, dong. Kudengar, para pembunuh menguasai Planet Urdalin sejak Perang Dunia 300 tahun yang lalu dimana seluruh bentuk pemerintahan di sana berhasil diruntuhkan. Kok bisa sampai sekarang populasinya enggak kedengaran berkurang?”


“Yaaa…. Penyebab populasi makhluk hidup di planet ini tidak berkurang karena gencar-gencarnya orang berkembang biak.”


Pilot melanjutkan, “Maksudku, tingkat pemerkosaan pastinya sangat tinggi, prostitusi kenceng, poligami, dan semacamnya itu. Beuh~ Enggak ada habisnya. Makanya, tekdung-tekdungnya jalan terus. Bukan hanya itu aja. Semua tindak kejahatan, bisnis kotor, dan kerja haram lainnya lancar jaya kalau dijalankan di planet ini. Bisa dibilang, surganya para penjahat, lah. Makanya, salah satu sebab populasinya masih banyak karena banyak penjahat dari luar planet juga pindah ke sini.”


Kopilot mengangguk paham. “Lancar terus ya bisnis haramnya, Pak…?”

__ADS_1


“Lah, iye. Makanya, penjahat-penjahat dari planet lain banyak berbisnis sampai sembunyi di sini. Biar aman dari kejaran hukum pemerintah mana pun.”


“Terus, kenapa planet ini enggak ditaklukin sama Serikat Galaksi? Kan biar bisa balik ke masa jayanya sebelum Perang Dunia 300 tahun lalu?” tanya Kopilot penasaran sambil garuk-garuk pipi gembilnya.


Pilot kembali menjelaskan, “Sebenarnya gini, pihak Serikat Galaksi sudah mencoba buat ngerebut kedudukan planet ini dari para pembunuh. Tapi, biarpun ini planet isinya tawuran berdarah antar pembunuh terus, para pembunuh ini malah kompak ‘lho kalau masalah perang melawan militer Serikat Galaksi. Jadinya, beberapa kali kalah juga, banyak korban dari militer Serikat Galaksi berjatuhan.”


“Karena tidak ingin mendapat lebih banyak kerugian, Planet Urdalin dibiarkan saja. Terbengkalai dengan kehidupan para pembunuh yang masih makmur jaya. Namun, orang-orang kayak kita ini yang disuruh buat keliling-keliling mengawas— Awas satelit, Kambeng!”


“Woaaah!!!”


Pilot dan Kopilot langsung menerbangkan pesawat mereka agar menyingkir dari sebuah satelit komunikasi yang hampir mereka tabrak. Setelah dirasa menjauh dari satelit, mereka pun bernafas lega.


“Fyuuuh…. Hampir saja.” Kopilot sempat melihat data satelit yang mereka lewati pada panel hologram. “Di sini satelit buatan kayak begitu masih berfungsi?”


“Masih bisa, kok. Biarpun dipimpin oleh para pembunuh yang dikenal barbar, mereka masih bisa membangun teknologi dan peradaban maju. Tak kalah hebat dengan kepemimpinan sebuah pemerintahan. Hanya saja, tidak semua Guild Pembunuh bisa semakmur itu. Kebanyakan Guild lebih sering membiarkan wilayah kekuasaannya rusak, terus rebut wilayah baru punya orang yang lebih bagus.”


Si kopilot mengerti. Pantas saja sistem kepemimpinan Guild Pembunuh berdasarkan dari hukum rimba. Jika wilayah suatu kelompok rusak, maka mereka akan mencari yang baru. Dan jika mereka ingin merebut wilayah yang diinginkan, mereka harus menghabisi pemilik wilayah sebelumnya.


“Eh.” Kopilot tersadar akan sesuatu. “Kemana perginya rekan kita, ya?”


“Katanya lagi ambil paket dari kapsul pengantar paket pakai pesawat kecil,” jawab Pilot, “kayaknya bentar lagi bakal balik.”


Baru saja si pilot bicara demikian, mereka mendengar suara bising mesin dari luar pesawat, pertanda ada pesawat yang lebih kecil lagi berhasil menempel di bagian pesawat mereka.


“Noh, panjang umur ‘tuh si bujang,” gumam asal si pilot.


“Hoi!”


Seseorang berpakaian astronot baru saja masuk ke dalam pesawat lewat jalur airlock di atas mereka, mulai masuk menghampiri kedua pilot dan kopilot tersebut sambil membawa sebuah paket.


“Aku dapat paket, nih,” kata si astronot sambil menaruh paket itu di antara pilot dan kopilot.


“Paket apa?” tanya Kopilot. “Nenekmu ngirimin daster lagi?”

__ADS_1


“Lah, masa neneknya ngirim pakai kapsul paket? Mana bisa paket dari tata surya laen bisa nyampe ke sini? Perlu bantuan kapal angkutan barang berkecepatan FTL biar nyampe ke sini,” pendapat si pilot.


Astronot itu cuma memutar bola matanya, malu dan jengkel ketika teman-temannya masih menyinggung masalah daster salah kirim dari neneknya.


“Kan sudah kubilang, masalah daster itu nenekku salah kirim.” Astronot melanjutkan, “Ini kapsul asalnya dari Planet Urdalin.”


“Hah?!”


“Apa, ‘jingan?!”


Sontak keduanya terkejut bukan main. Kalau ini berkaitan dengan Planet Urdalin, pasti urusannya tidak jauh-jauh dari para pembunuh.


Perasaan mereka jadi tidak enak.


“Coba buka, gih. Penasaran aku,” saran Astronot.


Dengan hati berdebar-debar karena tegang, bukan jatuh cinta, mereka membuka isi paket tersebut. Tak disangka, ketiganya dibuat mual bahkan hampir muntah ketika melihat isinya. Isinya merupakan potongan organ tubuh manusia dilapisi oleh baju seragam milik seseorang.


Tentu saja mereka bertanya-tanya siapa pemilik organ dan seragam tersebut. Namun, ketiganya teringat akan kelompok rekan mereka yang nekat pergi ke Planet Urdalin karena suatu alasan.


“Bentar. Temen-temen kita ‘dah seminggu yang lalu pergi ke Planet Urdalin buat ekspedisi, bukan? Sampai saat ini belum balik-balik,” kata Kopilot makin tak tenang.


“Ini….”


Si pilot mencoba membaca plat nama pada seragam tersebut. Dia meringis ngeri, marah dan kesal. Mereka baru sadar, organ tubuh ini milik salah satu rekan kelompok mereka. Itu berarti, pengirimnya tak lain dan tak bukan adalah pembunuh.


Sudah dipastikan, rekan-rekan mereka mati terbunuh di planet itu.


Dengan emosi tertahan, Pilot pun memutuskan, “Kabarkan masalah ini ke Lembaga Keamanan Tata Surya Nurkin.”


...~*~*~*~...


__ADS_1


__ADS_2