Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 33 : Cerita Masa Lalu Irwan


__ADS_3

Irwan benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hutan ini. Dua orang mati terbunuh di tangan seorang remaja seperti Mardin? Sebenarnya, apa yang sudah terjadi di sini?


Sebelumnya, Irwan sempat memperbaiki mesin pembangkit listrik di vila. Ia menduga bahwa ada yang tidak beres di sekitar vila, pasalnya mesin pembangkit listriknya terlihat sengaja dirusak. Syukurlah kerusakan yang dialami tidak serius. Oleh karena itu, dia memberanikan diri pergi ke hutan dekat vila.


Ternyata benar seperti dugaan Irwan, ada keberadaan dua Rogue di sana. Namun, dia baru menyadari ketika kedua Rogue itu tengah bertarung sengit melawan Mardin seorang. Irwan hanya sempat melihat pertarungan ketika hampir berakhir.


Pria beristri tersebut sangat syok melihat cara Mardin membunuh kedua Rogue itu. Menurutnya, cara seperti itu terlalu sadis untuk seorang remaja seperti Mardin.


Siapa sebenarnya Mardin ini? Itulah yang sekarang dipikirkan Irwan, membuat dirinya perlu lebih waspada menghadapi Mardin.


Sedangkan Mardin sendiri gelagapan ketika dipergoki Irwan tengah membunuh dua Rogue. Mardin panik, tidak ingin identitas aslinya sebagai Rogue diketahui. Kalau Irwan dan para penghuni vila sampai tahu, maka akan menimbulkan kepanikan dan reputasi Paman Rom pun dianggap buruk di mata mereka.


“Duh. Duh, aduh…!” Mardin garuk-garuk kepala merahnya. “A-anu, Bang Irwan. I-ini tidak seperti yang kau pikirkan. A-aku… aku cuma membunuh mereka karena mereka Rogue. Aku… sama sekali tidak akan melukai kalian sekeluarga— Kyaaah!”


Spontan Mardin menjerit panik ketika melihat kepala mayat Gondri menggelinding mendekatinya.


Aneh… Dia yang membunuh, dia pula yang jejeritan.


Seketika suasana canggung. Tidak ada yang bersuara di antara mereka berdua selain hembusan angin malam berhembus lumayan kencang.


Irwan masih menatapnya tidak percaya, tanpa memberi reaksi apapun. Sedangkan Mardin berusaha tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi-gigi cemerlangnya walau canggung, kadang tanpa sadar menggaruk pantatnya sendiri.


Demi Tuhan. Semoga Irwan tidak takut pada Mardin. Sungguh, Mardin sama sekali tidak punya niat buruk pada keluarga di vila mereka. Niatnya di sini cuma kebetulan ingin melindungi sekaligus panen organ-organ tubuh. Lumayan untuk tambah-tambah modal usaha pamannya.


...~*~*~*~...



“Sebenarnya, aku sudah tahu kalau Paman Rom merupakan mantan pembunuh.”


“Oh?”


Kini Mardin dan Irwan tengah duduk di atas dua batu besar yang kebetulan ada di pinggir sungai dekat hutan. Keduanya memutuskan untuk bicara baik-baik setelah Mardin sempat menyembunyikan mayat dua Rogue tadi di dalam semak-semak terdekat agar ia bawa pulang nanti sehabis dari vila.


Sebuah fakta yang cukup mengejutkan sekaligus membuat Mardin lega karena Irwan sudah lebih dulu tahu tentang status Paman Rom di masa lalu. Itu berarti, Irwan takkan merasa takut berhadapan dengan Mardin yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga Paman Rom.

__ADS_1


Karena sudah begini, Irwan berniat tuk menceritakan sekilas masa lalu tentang awal mula ia mengenal Paman Rom.


“Dulu….” Kedua mata Irwan menerawang ke atas langit malam. “Ketika aku masih kecil, aku tinggal di sebuah panti asuhan yang diurus oleh kedua orang tuaku. Saat itu, Guild yang menguasai Kota Kamaju sama baiknya dengan Guild sekarang. Tapi, Guild itu berhasil dimusnahkan oleh Guild tak bertanggung jawab hingga pada akhirnya berhasil direbut Guild Jaguara.”


“Pada suatu hari, panti asuhan kami diserang oleh sekelompok pembunuh yang sengaja menyusup ke kota untuk meruntuhkan kepemimpinan Guild. Niat mereka sama buruknya dengan Rogue, membunuh, mengambil organ-organ tubuh, dan menculik anak-anak yang masih sangat muda untuk dijual hidup-hidup.”


Mardin diam menyimak, duduk di atas batu besar sambil memeluk satu lutut, menikmati nikmatnya hembusan angin malam menembus jaket hitam-biru serta membelai helaian rambut merah Mullet-nya.


“Di saat itu juga, Paman Rom dan rekannya datang menyelamatkan kami. Mereka membunuh habis semua pembunuh yang menyerang panti asuhan kami. Sayangnya, karena keterlambatan mereka, ayahku, beberapa pengurus panti dan anak-anak ada yang tewas. Tapi kami tetap bersyukur. Setidaknya masih banyak yang selamat dari insiden nahas tersebut, walau sejujurnya aku sangat terpukul dengan kematian ayahku.”


“Dari kejadian itulah aku mengenal Paman Rom. Dulunya aku tidak mengira kalau dia pembunuh karena pemikiranku sebagai anak kecil masih polos, lurus aja. Aku kira dia dan rekannya merupakan pahlawan yang sengaja datang untuk menolong orang-orang kesulitan seperti kami. Nyatanya, sama-sama pembunuh juga, toh.”


Sempat Mardin menyunggingkan senyuman ketika mendengar nada bicara Irwan yang terkesan ringan.


Irwan sedikit menegakkan posisi duduknya di atas batu besar. “Seiring aku tumbuh besar, aku menyadari jika di dunia kita tidak ada yang namanya pahlawan. Seluruh Planet Urdalin hanya diisi oleh para pembunuh, penjahat, dan warga sipil yang lemah. Tidak ada pemerintahan apapun yang dapat melindungi dan mempertanggung jawabkan segala keluhan masyarakat. Kudengar juga dari penduduk planet lain, kedudukan suatu pemerintahan juga percuma karena banyak orang-orang pemerintah sama jahatnya dengan para penjahat di sini. Hanya saja, mereka mampu menjalankan tindak kejahatan mereka di balik lindungan kekuasaan dan jabatan.”


Mardin mengangguk paham dengan maksud Irwan. Dia sering mendengar berita dari antar planet kalau banyak pemerintahan di sana mengalami berbagai masalah, mulai dari tindakan semena-mena para pejabatnya sampai korupsi dana pemerintah.


“Tapi biarpun kenyataannya dunia kita mengerikan, ibuku selalu mengingatkanku akan sesuatu. Tidak semua pembunuh itu jahat. Julukannya saja sebagai pembunuh, tapi belum tentu isi hati dan pikiran mereka sebusuk julukan mereka.”


“Di dunia ini, tidak sedikit pembunuh yang terpaksa melakukan pembunuhan demi bertahan hidup dan melindungi apa yang ingin dilindungi, contohnya seperti Paman Rom. Kemampuan dan keadaan yang memaksa seseorang menjadi pembunuh. Kau pun juga demikian, bukan?”


Irwan menghela nafas, “… Dari ucapan ibuku itulah aku bisa lebih bijak dalam menilai seseorang, aku juga bisa makin akrab dengan Paman Rom dan rekannya. Dia telah banyak membantu kami, bahkan sampai sekarang.”


Dengan terpaksa Mardin menyela cerita Irwan. Rekan Paman Rom yang disebut Irwan itu sempat membuatnya penasaran.


“Maaf kalau aku menyela, Bang. Cuma… yang kau maksud rekannya Paman Rom itu siapa?”


“Emm….”


Irwan berusaha mengingat-ingat. Anehnya, biarpun di masa lalu Irwan sempat dekat dengan rekan Paman Rom ini, dia sama sekali tidak ingat namanya. Yang ia ingat cuma rupa dan bentuk fisiknya.


“Aku… benar-benar lupa namanya. Tapi yang aku ingat, dia bertubuh lebih tinggi dan besar dari pada Paman Rom, berotot, dan punya rambut merah panjang yang cukup berantakan membuat kesan sangarnya itu begitu terasa. Orang-orang mungkin bakal merinding ketika melihat rupanya.”


“Rambut merah?”

__ADS_1


Sepertinya, Mardin kenal dengan penampilan sosok itu. Dia tahu betul siapa satu-satunya orang yang selalu dekat dan menjadi sahabat sejati Paman Rom sejak lama.


“Kurasa dia ayahku.”


“Ayahmu?”


Irwan dibuat kaget dengan fakta baru ini. Rupanya, pemuda yang baru ia kenal dan telah melindungi vila mereka dari serangan Rogue adalah putra dari sahabat Paman Rom.


“Kau anaknya sahabat Paman Rom?”


Irwan menggeleng tak percaya, tapi masih merasa masuk akal karena tampilan wajah Mardin persis dengan sahabat Paman Rom tersebut, apalagi dengan warna rambut merah dan mata biru gelapnya. Hanya saja, wajah Mardin terkesan lebih halus, tidak seperti ayahnya yang cukup sangar. Mungkin juga karena faktor usia yang membedakannya.


“Kenapa Paman Rom tidak cerita, ya?” Irwan mulai heran. “Seingatku, Paman Rom cuma bilang kalau kau itu keponakan angkatnya. Kukira kau anak dari kerabat satu keluarga Paman Rom atau semacamnya, gitu.”


Mardin menggaruk kepala merahnya, agak ragu menceritakan yang sebenarnya. Namun karena Irwan merupakan kenalan terpercaya Paman Rom, sepertinya tak masalah untuk sedikit lebih terbuka.


“Sebenarnya, Paman Rom mengambil tanggung jawab untuk mengasuhku setelah kematian ayahku 10 tahun yang lalu, tapi hanya sebagai keponakan. Aku juga merasa tak nyaman jika harus menganggapnya sebagai ayah angkat karena lebih terbiasa memanggilnya ‘Paman’ sejak kecil.”


Ekspresi Irwan jadi terlihat mulai sedih. “Astaga. Ayahmu sudah meninggal? A-aku turut berduka cita, dan maaf sudah lancang membahas masalah ini sehingga membuatmu jadi—.”


“Tidak masalah, Bang.” Mardin tersenyum teduh. “Aku tidak keberatan kok menceritakan hal seperti ini.”


Kedua mata biru Mardin melihat ke atas langit malam, menciptakan seulas senyum di wajah. Pikirannya mulai teringat akan masa-masa kenangan dirinya bersama sang ayah.


“Ayahku juga ikut membantu Paman Rom menyelamatkanmu dan anak-anak panti, bukan? Aku senang ketika tahu kalau ayahku masih punya hati yang baik dan kepedulian terhadap sesama.”


Irwan ikut mendongak melihat langit kembali. “Yaa…. Dia dan Paman Rom adalah dua orang yang hebat.”


Cukup lama mereka melihat-lihat pemandangan langit malam sampai keduanya sadar jika langit berbintang itu perlahan ditutupi oleh gumpalan awan hitam disertai angin berhembus makin kencang.


“Aaah…. Sepertinya mau hujan.” Mardin mulai turun dari atas batu besar. “Kurasa, kita harus kembali ke vila. Pasti Kak Rosa dan anak-anak pada cemas.”


“Ah! Benar juga. Aku tadi cuma sempat pamit buat keliling-keliling memastikan keadaan aman. Pasti mereka sangat mengkhawatirkan kita.” Irwan juga ikut turun dari atas batu besar yang ia duduki.


Keduanya mulai berjalan beriringan menuju vila yang jaraknya tidak begitu jauh dari hutan. Selama dalam perjalanan pun, mereka masih sempat-sempatnya bertukar cerita. Kadang tertawa bersama ketika mendengar celotehan khas Mardin yang selalu berhasil membuat orang senang sekaligus kesal padanya.

__ADS_1


Ya, Mardin memang orang yang antik. Itulah yang dipikirkan Irwan ketika baru mengenal akrab remaja tersebut.


...~*~*~*~...


__ADS_2