Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 32 : Tama dan Gondri


__ADS_3

Tama menggertakan gigi, sudah muak dengan sifat tengil Mardin. Di setiap saat, pasti pemuda itu selalu berhasil memancing emosinya.


Tama pun menunjuk Mardin kembali dengan emosi menggebu-gebu. “Kau curang! Kau menggunakan kemampuan bayangan untuk menyerangku!”


“Lah?” Sempat Mardin dan bayangan hologramnya saling adu pandang sesaat. “Dikata curang? Kalian ‘lah yang curang karena berani menyerangku berdua, sedangkan aku sendiri. Wajarlah aku meminta bantuan bayanganku. Toh bayangan ini termasuk bagian dari unsur kemampuanku.”


Dengan jentikan jari, bayangan di samping Mardin langsung menghilang. Sepertinya, Mardin musti merubah gaya bertarungnya. Mungkin bertarung tanpa bayangan dirinya akan membuat pertarungan jadi semakin menantang. Dia juga enggan menggunakan skateboard seperti biasanya.


“Kalau kalian protes, ya sudahlah…. Aku enggak bakal lagi pakai kemampuan bayanganku. Cukup adil, bukan?”


Bukannya setuju, Tama malah makin marah. “Ooo…. Jadi, kau pikir kami lemah sampai-sampai kau tidak mau menggunakan kemampuanmu.”


Mendengar protesnya Tama tentu membuat Mardin makin bingung. Gondri pun juga cuma bisa geleng-geleng kepala menanggapi sikap rekannya yang susah mengendalikan emosi.


“Lah? Gimana, sih?” Mardin bertanya pada Gondri, “Temanmu ini lulusan sekolah ragunan atau begimane? Pakai kemampuan bayanganku dikata curang, enggak makai dikira meremehkan. Pola pikirnya macam netizen aja. Apapun yang dilakukan pasti serba salah.”


“Ergh! Cukup, kalian!”


Karena tak tahan dengan perdebatan ini, Gondri melemparkan senjatanya yang berupa kapak ke arah Mardin. Reflek Mardin tepis menggunakan golok, membuat kapak itu beralih arah hingga menebas pohon di samping sampai tumbang.


“Langsung ke intinya aja gitu, ya?” Mardin memutar-mutar goloknya. “Oke…. Ronde kedua nih, ye.”


Kali ini Mardin sengaja melesat, melancarkan serangan duluan. Sontak serangan dari golok Mardin ditahan menggunakan dua belati milik Tenma yang disilangkan.


Gondri mengambil posisi agak ke belakang Mardin, hendak menendang lipatan lutut kirinya. Namun masih bisa dihindari Mardin dengan mengangkat kakinya, lalu balas menginjak kaki Gondri. Beruntungnya, Gondri bisa menarik kembali kakinya, dan memutuskan untuk meninju Mardin.


Segera Mardin mendorong Tama, berputar menghindar, membuat kepalan tinju milik Gondri malah mengenai wajah Tama. Tama pun terpental cukup jauh setelah kena tinju rekannya sendiri dikarenakan serangan itu dialari Energi Ru yang berfungsi untuk meningkatkan kekuatan fisik.


“Ergh…!” Tama berusaha bangkit sambil menyeka darah yang keluar dari hidungnya. “Kau ya, Gondri! Benar-benar kurang ajar!”


“Aku tidak sengaja!” Tanpa menoleh, Gondri menunjuk ke belakang. “Dia yang— Argh!”


Tanpa disadari Gondri, posisi tangan menunjuknya ditangkap Mardin. Dipelintir Mardin tangan Gondri tersebut, dipukul hingga patah menggunakan siku, lalu dibantingnya sampai tubuh besar itu membentur tubuh Tama di bawah pohon.


Akibat benturan keras tersebut, pohon di belakang mereka tumbang. Segera Tama dan Gondri berguling menghindar ke arah berbeda. Setelah berhasil menghindari pohon tumbang, Gondri mulai ikut murka atas tindakan Mardin. Tangannya yang sempat patah sengaja dipelintir lagi hingga tersambung dengan sendirinya.


“Wow.”


Mardin yang melihatnya dibuat-buat berekspresi kagum. Dia tahu teknik pemulihan itu. Teknik itu sengaja digunakan oleh orang yang biasanya lebih sering menggunakan Energi Ru hanya untuk meningkatkan kekuatan fisik.

__ADS_1


Orang-orang seperti ini memiliki pertahanan tebal dan daya serang fisik kuat, tapi tidak memiliki variasi serangan dari Unsur Ru karena mereka memang tidak pernah memilikinya.


Ada dua jenis Pengguna Energi Ru di alam semesta ini, ada yang hanya bisa menggunakan Energi Ru demi meningkatkan kekuatan fisik, ada juga yang bisa menggunakan Unsur Ru sekaligus peningkatan kekuatan fisik.


“Baiklah.” Gondri menatap tajam Mardin, berjalan menuju pohon satunya dimana terdapat kapaknya menancap di sana. “Kau berhasil membuatku emosi dengan tindakanmu.”


Gondri mencabut kapaknya dari batang pohon, segera mengambil ancang-ancang tuk menyerang.


“Kali ini, aku akan bersungguh-sungguh membunuhmu, Bocah Rogue.”


Gondri melesat, melancarkan berbagai serangan menggunakan kapak andalannya. Tentu Mardin mampu menangkis semua serangannya sampai menimbulkan bunyi-bunyi metal saling dipukulkan.


Ketika Gondri sengaja menjauh setelah melancarkan beberapa serangan, tiba-tiba sesuatu muncul di bawah Mardin. Saat Mardin menunduk, ia sadar kalau ada kemunculan lingkaran berwarna ungu mendesir di bawahnya dan nampak semakin terang bercahaya.


“Portal Peledak!”


Rupanya Tama yang menciptakan lingkaran ungu itu menggunakan Unsur Ru miliknya dari kejauhan. Lewat perintahnya, lingkaran itu langsung meledak, menyemburkan ledakan api ungu disertai asap dan percikan berwarna serupa. Syukurlah, Mardin mampu menghindar dengan cara melompat mundur menjauhinya.


Mardin sungguh tidak diberi kesempatan untuk menarik nafas barang sedetik saja. Baru saja ia mendarat, Tama sudah melesat ke arahnya, memberi berbagai serangan dari kedua belatinya yang dialiri oleh Energi Ru berwarna ungu. Disusul pula oleh Gondri, ikut menghajar Mardin menggunakan kapak.


Pemuda berambut merah itu terus menangkis, menepis berbagai macam serangan dari kedua Rogue tersebut.


Sambil menangkis serangan mereka, satu replika golok hologram tercipta di samping Mardin, bertransformasi menjadi pistol blaster, dan menyemburkan laser pemotong ke arah mereka berdua. Terpaksa Gondri dan Tama menghindar, menyebabkan tanah bekas pijakan mereka terbelah.


“Sial! Bocah it—.”


Belum sempat Tama berucap, ia dan rekannya kembali bergerak menghindar ketika Mardin menembakan laser dari golok yang sudah diubah menjadi pistol dan juga replika pistol hologram.


Gondri sudah cukup muak dengan pertarungan ini. Niat awal mereka ingin berburu organ dan menculik anak-anak vila malah terhalang oleh kemunculan Mardin.


Gondri mengalirkan sebagian Energi Ru ke kapaknya, melemparkan kapak itu sekeras mungkin ke arah Mardin, tentu serangan tersebut masih bisa dihindari Mardin.


Ketika kapak itu berbelok ke arah semula seperti bomerang, melesat menuju kepala Mardin dari belakang, golok hologram Mardin menepis hingga berbelok arah. Kapaknya membelah tanah ketika jatuh mendarat, sedangkan golok hologram tadi langsung lenyap.


Tak sampai di situ saja, Gondri nekat mencabut sebuah pohon besar, seusaha mungkin ia ayunkan hendak memukul Mardin menggunakan pohon itu.


Di saat pohon berayun ke arah Mardin, ia segera melompat ke atas pohon itu, meluncur cepat di batangnya menuju Gondri sambil menyeret golok. Goloknya kini mendesir, memancarkan cahaya biru neon di sepanjang motif garis birunya.


“Tebasan Neon Biru.”

__ADS_1


Mardin melancarkan tebasan sabit cahaya berwarna biru ke arah Gondri, membuat tebasan itu berhasil memotong tangan kiri Gondri hingga menyemburkan darah. Pohon yang sempat ia ayunkan pun kini jatuh ke tanah, menyebabkan guncangan kecil pada tanah di hutan tersebut.


“Aaaaarrrggghhh!”


Akibat serangan itu, Gondri jatuh berlutut di tanah sambil menjerit kesakitan ketika darah menyembur semakin banyak dari luka lengan buntungnya.


Tak sampai di situ, rupanya Mardin sudah melompat tinggi tepat di atas Gondri. Disinari cahaya dari satelit alami di langit malam itu, kedua mata biru Mardin menimbulkan kilat tajam. Ia pun berputar di udara, terjun ke arah Gondri, menusuk pria itu tepat dari atas puncak kepala sampai menembus kerongkongan.


“Aak-arkh…!”


“Gondri!”


Tama yang melihatnya begitu syok. Gerakan remaja itu sangat cepat sampai-sampai ia hampir tidak menyadari kalau tangan Gondri berhasil ditebas dan mati ditusuk dari kepala.


Kini Tama melihat ada kilat biru di sudut mata Mardin ketika meliriknya tajam seakan-akan mampu menikamnya hanya lewat lirikan mencekam tersebut.


Dari sinilah Tama baru menyadari, pemuda ini terlalu mengerikan.


“Ka-kau monster! Heeeaaarrrggghhh!”


Karena sudah terlanjur marah akibat rekannya dibunuh di depan mata, Tama melesat kencang dengan kedua belati ungu siap menusuk Mardin. Namun anehnya, dengan sangat mudah Mardin mampu menangkap tangan Tama walau pria itu sudah melesat cukup cepat, membawanya berputar, kemudian melemparnya jauh.


Lewat gerakan jari, Mardin memunculkan satu lagi golok hologram jauh di belakang Tama dari lubang sebuah portal biru. Ketika Tama terlempar makin dekat dengan golok, tubuhnya langsung ditikam senjata replika itu dari belakang.


“Aaarrrgh!!!”


Golok hologram tersebut menusuknya sampai tembus ke ulu hati, menyebabkan darah merembes banyak dari luka di sana, membuat pria itu memuntahkan darah dari mulut.


Setelah berhasil membunuh Tama, golok hologram itu lenyap, membuat tubuh Tama yang sempat tersangkut di golok itu jatuh ke tanah.


Begitu pertarungan ini sudah dirasa beres, Mardin mencabut goloknya dari kepala Gondri, berjalan santai menghampiri mayat Tama sambil mengibas-ngibaskan goloknya yang kotor oleh darah.


“Wah, wah, wah…! Sudah selesai aja, nih.” Mardin melihat ke arah mayat Gondri lalu Tama secara bergantian. “Kayaknya masih ada beberapa organ tubuh yang masih bagus. Bisalah dibawa balik buat dijual.”


Mardin sempat celingukan ke segala arah, memastikan keadaan di hutan dekat vila itu aman tanpa ada siapapun lewat. Namun, perkiraannya salah. Mata biru Mardin melotot kaget ketika menyadari kehadiran seorang pria dewasa melihatnya dengan tatapan syok.


Jangan bilang pria itu sudah melihat semua kejadian yang terjadi di sini.


...~*~*~*~...

__ADS_1


__ADS_2