
“Mard? Mard? Mardin!”
Mardin terlonjak kaget dari lamunannya ketika dipanggil Dimas. Gara-gara memikirkan masalah orang tua, pikiran Mardin jadi kemana-mana.
“Kok malah ngelamun, sih? Ada masalah?”
Mardin pun kembali bersikap santai seperti biasa, masih sambil mengigit setangkai rumput. “Yaa…. Enggak ape-ape. Puyeng aja gitu kena efek sinar ultratelolet.”
“Ultraviolet.”
“Lah? Anaknya siapa itu ultraviolet?”
Dimas menjambak rambut hitamnya sendiri. Nyesel dia sempat khawatir dengan keadaan Mardin yang jarang melamun begitu. Dimas jadi ingin berharap Mardin balik melamun seperti tadi. Kali aja keseringan melamun bisa bikin otaknya waras.
“Jadi, enggak bisa pergi bareng Bobby sama Cungkring, nih?” tanya Mardin ke topik awal. “Kalau gitu, mah, mending aku berkebun aja di ladang belakang kosan.”
Selain Dimas yang punya hobi soal mesin, Mardin ini punya hobi berkebun. Ladang kecil yang tersedia di belakang kosannya Mardin gunakan untuk berkebun atas seizin Nenek Kos. Berbagai jenis tanaman Mardin tanam, kebanyakan yang ditanam merupakan sayur dan umbi-umbian, seperti sayur kol, cabai, terong, kentang, singkong, lidah buaya, sampai bengkoang.
Semua itu Mardin tanam dalam jumlah terbatas karena keterbatasan lahan. Berkebun demi memenuhi kebutuhan makannya sendiri sudah lebih dari cukup. Yang pasti tidak perlu mengeluarkan uang lagi untuk membeli ubi dan sayur-sayuran.
Bukan hanya berkebun, Mardin juga punya hobi lain, seperti main skateboard, nge-dance, dan menulis. Tapi dia lebih sering melakukan kegiatan berkebun karena dianggap lebih diperlukan.
“Jadi, masih berkebun, nih?” tanya Dimas. “Omong-omong, sayuran yang kau kasih enak banget pas dibikin sup. Ibuku sampai nambah lho saking demennya sama sup sayuran itu.”
“Oh, ya? Kau bisa minta lagi kalau mau,” saran Mardin turut bahagia.
Dimas pun merasa sungkan. “Enggak usah, Mard. Aku enggak mau ngerepotin soal sayur-sayuranmu.”
“Enggak apa-apa. Aku juga kadang suka ngerepotin kau soal modif senjata-senjataku.”
“Anak-anak, ini pecelnya sudah siap.” Nek ‘Cel memanggil mereka.
Mardin membuang rumput yang ia gigit, berdiri mengahampiri Nek ‘Cel untuk mengambil pecel-pecel pesanan mereka. “Berapa, Nek?”
“Semuanya 25 Dt, Nak.”
Mardin merogoh uang kertas sebesar 50 Dt, memberikannya pada Nek ‘Cel. “Ini, Nek. Ambil aja kembaliannya.”
“Makasih ya, Nak Mardin.”
Mardin memberikan dua bungkus pecel ke Dimas, kemudian kembali duduk di sebelah sahabatnya itu sambil membuka bungkusan pecel dengan sangat antusias. Mardin benar-benar sudah tidak sabar ingin menyantap pecel kesukaannya.
Sambil membuka bungkus pecel, iseng-iseng Dimas berbasa-basi, “Nek, Nenek udah lama jualan pecel ini?”
Sambil merapikan bahan-bahan pecelnya, Nek ‘Cel menjawab, “Nenek sudah jualan pecel sejak Nenek masih kecil. Nenek udah lupa kapan, yang jelas Nenek masih sangat muda waktu itu.”
Setelah bungkusan pecel sudah dibuka, Mardin langsung menyantap sayur-sayur pecelnya. Mata birunya langsung berbinar, berseri-seri ketika merasakan sensasi nikmat pecel buatan Nek ‘Cel.
“Hm! Pecel buatan Nek ‘Cel memang tiada duanya.” Mardin mengacungkan jempol.
__ADS_1
“Iya, Nek. Pecelnya enak banget,” timpal Dimas, lahap memakan pecelnya pula.
Sang nenek terkekeh sejenak, “Hehee…. Senang rasanya kalau kalian suka pecel buatan Nenek.”
Saat mereka tengah asik menikmati pecel di bawah pohon rindang, tak disangka mereka kedatangan seorang pria bertopeng jaguar serta membawa senjata di belakangnya.
Mereka tidak asing dengan topeng tersebut. Topeng itu menandakan bahwa pria ini merupakan anggota dari Guild Jaguara, tepatnya seorang Gamma. Karena hanya pembunuh berpangkat Gamma yang diwajibkan menggunakan topeng sebagai seragam formal Guild. Itu juga dipengaruhi dari peran penting Gamma sebagai anggota di bagian keamanan.
Gamma itu berjalan menghampiri Nek ‘Cel. Dimas memperhatikan dengan tatapan tajam, sedangkan Mardin mulai waspada jikalau Gamma itu memberi ancaman pada sang nenek.
Merasa dirinya diintimidasi oleh tatapan dua remaja sekolahan, si Gamma menyahut santai, “Enggak usah tegang kali mukanya kayak nahan berak. Aku ke sini cuma mau beli pecel.”
Mardin dan Dimas sama-sama mengendurkan kewaspadaan setelah mendengar cara bicara Gamma itu, terdengar santai dan sama sekali tidak mengancam. Keduanya pun kembali menyantap pecel mereka masing-masing.
“Nek, pesen pecelnya lima, yak. Dibungkus. Duanya pakai cabe dibanyakin, biar diare sekalian itu yang minta dibeli’in.”
“Kok gitu sama teman sendiri, Nak?” tanya Nek ‘Cel mulai mencampur pecelnya.
“Ya lagian teman saya itu terlalu demen sama pedas. Kalau harga cabe ngelunjak dimari, salahkan saja teman saya itu.”
“Ya gimana mau nyalahin? Kita aja kagak tahu temannya Abang siapa,” timpal asal Mardin.
Mereka cuma tertawa bersama mendengar celotehan tersebut. Melihat respon si Gamma terlihat sangat santai, membuat Mardin dan Dimas makin yakin kalau dia bukanlah orang berbahaya.
“Abang Gamma dari Guild, ya?” tanya Dimas memulai pembicaraan.
“Penari perut,” jawab Gamma asal. “Kau tak lihat aku pakai apaan? Dari pertanyaanmu saja, kau pasti sudah tahu kalau aku ini Gamma.”
“Bang, sebenarnya aku enggak paham sama Guild Pembunuh, kepangkatan, dan fungsi dari Guild sendiri. Emang Guild pembunuh itu kayak gimana, sih?” tanya Dimas penasaran. “Kali aja, kita ada teman yang udah mengalami kebangkitan Energi Ru. Jadi bisa langsung daftar ke Guild, biar enggak jadi Rogue.”
Orang-orang yang tidak punya Energi Ru biasanya akan mengalami kebangkitan Energi Ru ketika mereka tahu betul cara bertarung. Kalau sudah mengalami kebangkitan awal produksi Energi Ru, dianjurkan baginya untuk segera mendaftarkan diri ke Guild, setidaknya sebagai member kalau masih belum siap menjadi pembunuh sungguhan. Jika tidak, bakal dianggap sebagai Rogue.
“Wah…. Ada yang berencana daftar, ya?”
Si Gamma mulai menjelaskan sambil menunggu pecel-pecel pesanannya selesai dibungkus.
“Jadi, Guild Pembunuh tercipta sejak lenyapnya sistem pemerintahan di seluruh Planet Urdalin. Fungsi dari Guild ini untuk menampung para pembunuh dalam sebuah kelompok besar, demi bisa menguasai suatu wilayah serta mengaturnya. Bisa dibilang, gantinya sistem pemerintahan, tapi dalam skala kecil, tergantung berapa jumlah wilayah yang dikuasai Guild.”
“Sebuah Guild bisa mengklaim wilayah kekuasaannya dengan cara menemukan wilayah kosong atau merebut wilayah kekuasaan Guild lain lewat perang. Kadang Guild Pembunuh bisa bekerja sama dengan Guild Pembunuh lain agar bisa membentuk jalinan kerja sama dari berbagai aspek bidang, mulai dari menata wilayah kekuasaan, bertukar sumber daya, sampai saling membantu dalam perang melawan Guild lain. Nah, kumpulan Guild yang saling bekerja sama ini dibentuk menjadi Aliansi Guild Pembunuh yang dipimpin oleh Sigma.”
“Omong-omong soal Sigma, dalam sebuah Guild itu anggotanya dibagi berdasarkan pangkat mereka. Kepangkatan ini referensinya diambil dari tingkat kuno yang sudah biasa ‘lah ada di alam semesta, yaitu Omega, Gamma, Delta, Beta, dan Alpha.”
Dimas mengangguk-angguk memperhatikan, sedangkan Mardin tetap asik menyantap pecelnya. Bahkan satu pecel yang seharusnya dibawa pulang malah langsung ia makan di sini.
“Dimulai dari bawah dulu, yaitu Omega. Omega tidak dianggap hina seperti gelarnya di luar planet sono. Omega merujuk pada julukan untuk anggota biasa atau member dari Guild. Mereka kadang tidak memiliki peran penting di Guild, tapi cukup membantu pekerjaan para pembunuh yang berpangkat lebih tinggi. Contohnya, menjadi anggota tambahan bagi Gamma.”
“Nah, Gamma sendiri berperan sebagai pasukan keamanan Guild. Gamma seperti kami sering ditugaskan untuk menjaga keamanan wilayah kekuasaan dari kekacauan, sampai serangan Rogue dan monster. Gamma juga ditugaskan untuk berpatroli serta melakukan penyelidikan terhadap tindakan-tindakan yang melanggar aturan Guild.”
“Kalau Delta perannya sebagai pemimpin kelompok Gamma. Biasanya, pasukan Gamma itu dipisah menjadi beberapa kelompok atau divisi. Nah, pembunuh berpangkat Delta ini yang berperan sebagai pemimpinnya. Sebenarnya, pangkat Delta itu sederajat dengan Gamma. Soalnya, di beberapa Guild kadang kedua pangkat ini perannya dibalik, ada yang pasukannya berpangkat Delta, sedangkan pemimpin pasukan berpangkat Gamma. Entahlah, aku juga pusing membedakan antara Gamma dan Delta.”
“Beta perannya sebagai wakil yang membantu Alpha, sedangkan Alpha sebagai pemimpin mutlak Guild. Kalau Sigma itu pangkat di luar satu Guild, tepatnya pangkat Sigma digunakan untuk pemimpin Aliansi Guild yang bertugas mengatur banyak Guild sekaligus di dalam aliansi. Sigma ini yang dianggap sebagai pangkat tertinggi seorang pembunuh.”
__ADS_1
Dimas sempat bertepuk tangan saking kagumnya mendengar segala penjelasan tentang Guild Pembunuh. Jadi makin bertambahlah wawasannya. Tidak seperti Mardin yang tetap asik saja memakan pecel, malah dia nambah lagi.
“Ini pecelnya, Nak.” Nek ‘Cel memberikan bungkusan berisi beberapa porsi pecel pada si Gamma.
“Ini uang pas, Nek.” Gamma itu memberikan lembaran uang pas pada Nek ‘Cel. “Kalau ada teman kalian yang tertarik buat gabung di Guild. Gabung aja. Kami juga membuka lowongan keanggotaan untuk yang bukan pembunuh.”
“Entahlah, Bang.” Dimas iseng menggerak-gerakan tangan gemulainya. “Kayaknya aku enggak ada pantas-pantasnya masuk Guild. Badanku lemes kayak ubur-ubur.”
“Kalau aku lebih tertarik nguli sambil berkebun daripada jadi anggota Guild,” dusta Mardin sambil makan pecel. Pasalnya, Mardin sudah menjadi Rogue. Kalau sampai ketahuan, bisa diburu oleh Guild dia.
“Bentar, bentar.” Dimas merasa ada yang janggal dari perkataan Mardin. “Begimane caranye nguli sambil berkebon?”
“Emang aku ngomong kayak gitu?” Mardin mencoba mengingat-ingat. “Maksudku nguli sama berkebon, bukan sambil. Lah, ajaib kali ada orang nguli sambil berkebon.” Mardin kembali memakan pecelnya.
“Ya, udeh. Aku cabut duluan, yak! Mau balik nugas, nih,” pamit si Gamma pada mereka.
“Cabut apaan, Bang?” iseng Mardin.
“Cabut biji mata kau, tuh! Pakai nanya lagi si udel bekantan ini,” balas si Gamma sewot. Lalu memberi salam pamit secara sopan pada Nek ‘Cel. “Pamit dulu ya, Nek. Murah rejekinya, sehat selalu. Kalau kenapa-napa, hubungi kami saja.”
“Terima kasih kembali ya, Nak.”
Setelah kepergian Gamma menjauhi mereka, Dimas hampir tak percaya melihat betapa ramahnya Gamma tersebut pada mereka, mengingat Gamma merupakan bagian dari pembunuh juga.
“Enggak nyangka sikap Gamma bisa seramah itu,” komentar Dimas. “Kukira mereka dikenal kejam karena berprofesi sebagai pembunuh.”
“Hm. Kita beruntung tinggal di kota yang dikuasi oleh Guild baik.” Mardin membuang bungkusan pecel ke tempat sampah terdekat. “Guild Jaguara dikenal sebagai Guild Pembunuh yang cukup perhatian terhadap warga sipil dan mau membangun wilayah kekuasaannya dengan baik. Hanya saja, pertahanannya kurang.”
Dimas menoleh ke arah Mardin. “Kurang?”
Mardin mengangguk. “Alpha mereka ingin memiliki wilayah kekuasaan yang baik, sangat memperhatikan kenyamanan warga sipil, sampai-sampai mereka kurang meningkatkan pertahanan dari kemungkinan adanya serangan pembunuh lain. Itu juga disebabkan karena mereka kekurangan anggota”
“Rata-rata penduduk Kota Kamaju merupakan warga sipil, sedikit yang memiliki produksi Energi Ru, sehingga tidak ada yang mendaftar ke Guild. Ditambah lagi, Rogue cukup banyak berkeliaran mengganggu kedamaian kota, sehingga Gamma maupun Omega Guild kewalahan menangani masalah tersebut. Monster-monster yang masih banyak bersarang di beberapa wilayah kota juga termasuk masalah yang susah ditangani,” lanjut Mardin panjang.
Dimas mengangguk paham. Mereka merupakan warga beruntung memiliki Guild yang cukup memperhatikan keadaan kota agar bisa menjadi kota yang lebih baik. Hanya saja, kekurangan anggota membuat pertahanan Guild tersebut jadi makin lemah. Kalau dibiarkan terus, kota yang sudah semakin membaik ini bakal direbut oleh Guild lain yang kemungkinan tidak bertanggung jawab.
“Kau tidak ada niat bergabung ke Guild, Mard?”
Tatapan mata Mardin menatap lurus seakan-akan menerawang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi di masa depan.
“Aku tidak tertarik. Malas berurusan dengan Guild.”
Sangat disayangkan menurut Dimas. Padahal, Mardin merupakan pembunuh yang kuat. Jika Mardin bergabung ke dalam Guild, dia pasti akan berperan penting bagi kemajuan dan keamanan Guild Jaguara serta Kota Kamaju.
“Lah? Pecelku kemana, Mardin?”
“Yang kumakan tadi pecelmu?”
(Backsound : My Heart will Go on, Bad Flute)
...~*~*~*~...
__ADS_1