Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 37 : Mansion El Davolo Vernez


__ADS_3

“Halo, Sayang…. Akhirnya, aku kembali ke kampung halaman yang sangat kurindukan,” ucapnya disertai seringai bangga. Namun wajahnya berubah jadi keheranan sendiri. “Eh, enggak juga. Planet Urdalin tidak semodis planet tempat berbisnisku sebelumnya. Tapi tetap saja, aku lahir dan dibesarkan di sini sebelum bisa menjadi sesukses sekarang.”


“Selamat datang di Mansion El Davolo Vernez, Tuanku Rusdan DaVerez.”


Seorang pria yang merupakan kepala pelayan mansion berjalan keluar dari dalam mansion, menyambutnya dengan begitu sopan sambil menunduk memberi hormat pada sang majikan.


Pria nyentrik bernama Rusdan itu segera memberi isyarat untuk kembali berdiri tegap. “Haha…. Kau yang menamai mansion megah ini, Romero?”


“Apakah Anda tidak menyukai nama tersebut?” tanya Romero sopan. “Anda tentu berhak mengubah namanya sesuai yang Anda inginkan. Tapi jelas, El Davolo Vernez diambil dari nama marga keluarga Anda sebagai rasa hormat kami kepada Anda, Tuanku DaVerez.”


“Oh, tidak perlu, Romero. El Davolo Vernez terdengar cukup mengesankan, aku suka.”


Sesaat Rusdan memperhatikan tampilan mansionnya kembali. “Terlebih lagi, mansion ini dibangun sangat elegan dan megah. Bagus.” Ia mengangguk sesaat. “Sesuai ekspetasi.”


Romero tersenyum senang. “Saya turut senang mendengarnya, Tuan. Kalau begitu, silakan masuk ke dalam mansion.”


Keduanya segera berjalan memasuki mansion, disusul beberapa pengawal dan pelayan yang berjalan di belakang sambil membawa barang-barang bawaan milik Rusdan.


Ketika memasuki mansion, mata Rusdan langsung dimanjakan oleh kilau kemegahan mansion yang sangat menyilaukan dan begitu luas sejauh mata memandang.


Dari atas terlihat lampu-lampu chandelier menggantung apik dengan kilauannya. Tangga utama dibangun di sana bersama dua tangga lainnya di sisi kiri-kanan sebagai jalan menuju lantai atas. Namun, tangga-tangga itu tidak begitu berguna karena sudah tersedia dua lift agar bisa sampai ke lantai tujuan lebih cepat tanpa buang tenaga.


Dan di tengah-tengah ruangan, tepatnya di hadapan tangga utama, terlihat patung dirinya berukuran raksasa nampak berpose bak foto model fashion ternama.


Rusdan sempat melorotkan posisi kacamata jingganya, berusaha melihat lebih jelas segala macam kemewahan yang terpampang di hadapannya.


“Di luar ekspetasi…,” desis Rusdan.


Mendengar ucapan samar-samar itu sempat membuat Romero khawatir kalau sang majikan tidak suka dengan mansion yang telah mereka bangun.


“Apa tidak sesuai dengan harapan Anda?” tanya Romero cemas.

__ADS_1


Senyum sumringah tiba-tiba mengambang di wajahnya. “Ini melebihi ekspetasiku, Romero! Sangat spektakuler!” pujinya heboh.


Otomatis Romero ikut memperlihatkan senyum sumringah juga. Ia senang mengetahui Rusdan begitu mengagumi desain mansion mewah ini.


“Syukurlah jika Anda menyukainya, Tuan.” Kemudian Romero bertanya, “Untuk sekarang, apakah Anda ingin beristirahat? Pasti Anda sangat kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari planet tetangga kemari.”


“Ah…!” Bibir Rusdan sengaja dibuat memble sebentar sambil ia kibaskan satu tangannya yang dipenuhi berbagai macam cincin. “Aku sebenarnya tidak begitu perlu beristirahat. Selama perjalanan kemari pun aku sudah cukup tidur di dalam pesawat dan mobil.”


Kemudian, dengan hebohnya Rusdan berucap, “Yang kubutuhkan sekarang adalah pesta! Pesta! PESTA!!!”


Tanpa diberi perintah dan hanya perlu dilihat dari gelagat sang majikan, semua pelayan dan pengawal di sana langsung bertepuk tangan, bersorak senang dengan ide Rusdan tersebut.


“Haaah….” Rusdan menghela nafas sambil mengambil pose menyentuh dahi seakan-akan sedang pusing. “Selama ini, aku cape memikirkan segala macam masalah dan berurusan dengan pihak kepolisian di planet sana. Sekarang, aku ingin membuat pikiranku menjadi lebih santai dengan berpesta-pesta.”


“Apa Anda perlu banyak hal untuk persiapan pesta malam ini, Tuan?” tawar Romero.


Dengan gerakan agak heboh, Rusdan mengambil gulungan panjang dari saku mantelnya yang berisi daftar apa-apa saja yang perlu dipersiapkan secara singkat dalam pesta dadakan tersebut.


“Persiapkan apa saja yang ada di sana, Romero. Jangan sampai ada yang tertinggal,” perintah Rusdan sambil menyerahkan gulungan tersebut.


Romero segera menyerahkan gulungan daftar sepanjang badan orang dewasa itu pada rekan sesama pelayan, lalu si pelayan mengangguk paham dan segera pergi untuk mempersiapkan pesta.


“Selain itu, Romero….”


Romero menoleh, melihat Rusdan membaca daftar nama-nama tamu yang sudah diundangnya lewat ponsel emas tersebut.


“Sebenarnya, jauh-jauh hari aku sudah mengundang rekan-rekanku yang beroperasi di Planet Urdalin sini buat kemari. Aku bilang pada mereka kalau setibanya di mansion, aku bakal langsung mengadakan pesta sampai menjelang siang,” kata Rusdan sambil memperhatikan layar ponselnya.


“Kalau boleh saya tahu, siapa saja yang sudah Anda undang?” tanya sopan Romero.


Rusdan menjawab sambil menunjuk-nunjuk daftar nama dari ponselnya. “Yang pasti, yang paling utama kuundang itu adalah si Xaviero Hernandez, pemilik perusahaan properti dan pinjaman ilegal, dia kemarin baru saja nikah sama remaja di bawah umur, masih SMA.”

__ADS_1


Rusdan kembali menyebutkan, “Alvonso Caveera, rekan sesama berbisnis di bidang penjualan obat-obatan terlarang dan senjata ilegal. Gabrielo Marko, Alpha dari Guild Pembunuh Markorin. Dan juga Jumanto Sudarjo si juragan togel.”


Dari sekian nama tamu yang telah diundang Rusdan, cuma yang terakhir yang berhasil membuat Romero mengernyitkan alis heran. Tamu-tamu yang lain punya nama terdengar bagus dan sangar dengan profesi mereka yang jelas. Cuma yang terakhir kenapa jadi beda sendiri?


“Maaf, Tuan. Jumanto Sudarjo itu siapa? Kok saya belum pernah dengar nama itu sebelumnya?” tanya Romero heran.


Rusdan menoleh pada si kepala pelayan. “Oh! Jumanto ini ahli main judi. Sekarang lagi aktif-aktifnya menjalankan bisnis investasi bodong crypto. Udah banyak lho korban yang ia dapat. Total uang yang didapat dari bisnis haramnya itu sekitaran ratusan milyar DT, kalau enggak salah. Aku dulu sempat main judi sama dia beberapa kali. Sering kalah karena dia mahir berbuat curang, cuma pada akhirnya aku bisa balik modal juga.”


“Maksudnya balik modal, Tuan?” tanya Romero kembali.


“Ya kurampok semua uang hasil menang judinya, balik modal lagi aku. Khahahahak…!”


Romero cuma bisa geleng-geleng kepala mendengar kisah heboh majikannya itu. Dia hampir tak mengerti seperti apa hubungan pertemanan antar sesama kriminal di luar sana.


Saat heboh-hebohnya Rusdan ngakak mengingat kejadian gokil tersebut, seorang pelayan pria tiba-tiba saja tak sengaja menyenggol bahu Rusdan karena berjalan terburu-buru demi mempersiapkan segala keperluan pesta.


“A-astaga, Tuan. Ma-maaf. Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bermaksud menyenggol Anda. Saya tak sempat lihat,” ucap si pelayan memohon maaf dengan wajah pucat pasi.


Melihat tindakan ceroboh si pelayan tentu membuat Romero selaku atasannya marah. “Kau ini…! Seharusnya, kalau jalan lihat-lihat. Kau hampir membuat Tuan Rusdan jatuh!”


Saat Romero sibuk memarahi si pelayan, Rusdan malah merogoh sesuatu dari balik mantel bulunya, lalu benda itu segera ditodongkan ke arah si pelayan.


“KYAAAA!!!”


Letupan nyaring terdengar di seisi mansion, para pelayan histeris, dan para pengawal diam seribu bahasa dengan wajah pucat. Rupanya, kejadian tak mengenakan terjadi.


Kepala si pelayan tadi hancur ditembak Rusdan, lalu dari hasil tembakan tersebut tumbuh beberapa kristal kecoklatan dari lehernya menggantikan kepala yang telah hancur. Tubuh tak bernyawa si pelayan jatuh terkapar di lantai, mengeluarkan banyak simbahan darah hingga mengotori lantai keramik berwarna keemasan itu.


Moncong pistol berwarna cokelat dengan desain klasik itu mengeluarkan sedikit asap saat masih ditodongkan. Wajah Rusdan nampak datar, sama sekali tak merasa bersalah dengan tindakan sembrononya mengambil nyawa seseorang.


Sesaat ia tiup asap pada moncong pistol itu, kemudian sebuah seringai tipis terlihat di wajahnya.

__ADS_1


“Senjata ini jadi makin hebat saja….”


...~*~*~*~...


__ADS_2