Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 9 : Tugas


__ADS_3


“Yeah…. Yes…. Lebih dalam lagi, Sayang….”


Haku mendadak gelagapan salah tingkah. Matanya yang suci malah ternodai dengan adegan-adegan menjijikan tapi nagih di dalam video laknat tersebut. Dari siluet di balik tirai, nampak tubuh Luan juga tidak kalah uring-uringan, panik dan takut kalau si murid tahu koleksi-koleksinya.


“Hak, Hak, yang kau buka itu apa?” tanya Luan berusaha tuk tidak panik. “Kusuruh cari foto, bukan video.”


“Ya, mana saya tahu?” Haku mulai sedikit emosi. “Berkasnya acakan, nyampur-nyampur antara foto sama video.”


“Kyaaah…! Hisap terus, Sayang…. Kamu gagah sekali….”


Muka Haku sudah semerah tomat rebus, makin tak tahan mendengar suara-suara video tersebut. Buru-buru Haku geser video itu, bermaksud mencari berkas lain. Tapi bukannya dapat foto yang dicari, malah video-video laknat lain yang ia temu.


“Aaaah…. Ahhh!”


“Aku keluar, Sayang…!”


“Enghhh…. Pukul aku dengan keras….”


“Rahimku anget, Masss….”


“Tolong pijat Kakek, Cu….”


“Kyaaah…!”


Haku terus menggeser setiap video dengan jantung berpacu, antara panik, gugup, sama sempat agak ngeres. Video yang tidak sengaja ia dapat isinya selalu enggak ada yang beres.


“Hakuma! Cari foto, bukan video! Itu kau nyari apa demen, sih?!” omel Luan tak kalah panik.


“Susah, Guru!” tangannya terus menggeser layar tab seakan-akan terkendali secara otomatis. “Setiap kali digeser, otomatis video-nya keputer.”


“Klik ikon ‘kembali’, Kambeng!”


“Ikon ‘kembali’! Ikon ‘kembali’!”


Mata Haku kembali melihat ke layar tab, hendak mencari ikon yang dimaksud agar bisa keluar dari berkas. Tapi matanya malah tak sengaja melihat dua gunung mengalami guncangan hebat. Otomatis kepala Haku mendongak, tapi tangannya masih berusaha menggeser video satu ke video lain. Sialnya, tetap saja ia masih mendengar suara-suara kenikmatan itu.


“Tidak bisa, Guru! Ada guncangan hebat di sana!”


“Keluar dari menu itu, Haku Kamfret!”


“Sulit, Guru! Setiap kali saya mau cari ikon ‘kembali’, mata saya terlanjur melihat guncangan mengerikan! Tidak! Dan sekarang mata saya tak sengaja melihat air mancur! Deras sekaleeeh!!!”


“Balikin itu tab, Haku!”


“Saya panik! Saya panik!” tangan Haku masih menggeser layar tab.


Buru-buru Luan berdiri, melepas satu sandal kayunya. “Balikin! Atau kagak, kulempar pakai sandal ini!”

__ADS_1


“Susah, Guru! Ada iblis-iblis membisiki otak saya! Gaaah! Sekarang, tangan saya kerasa dilem di tab ini. Susah lepas!”


“Haku…!” Luan mengambil ancang-ancang siap melempar sandal. “Ini sandal dari kayu, lho. Kalau sampai kena kepala orang, bisa beneran bikin bocor!”


“Susah, Guru! Ini gimana, ini?! Tolong saya! Saya tidak tahan menyaksikan segala siksaan kenikmatan ini!”


“Balikin, enggak?! Haku!”


“Gaaaah!!!”


“Jangan salahkan aku kalau kulempar ini sandal ya, Haku!”


“Gaaah!!!”


“Haku?! Haku, idiot!”


Dari balik tirai, Luan melemparkan sandal kayunya ke arah Haku. Karena reflek Haku sebagai pembunuh sangat baik, dia langsung menunduk menghindar. Kepalanya selamat dari lemparan sandal Luan. Tapi sandal itu malah kena kepala robot yang berjaga di dekat pintu sampai hancur.


Haku menoleh, melotot kaget melihat keadaan nahas si robot. Benar kata Luan, sandalnya itu tidak main-main bikin kepala orang hancur kalau sampai kena. Untung tidak kena kepala Haku. Kalau kena, bisa bocor beneran.


Tapi untungnya dari lemparan sandal itu, Haku akhirnya sadar dari kepanikan. Buru-buru ia memencet tombol power di samping tab hingga layar tab mati.


“Fyuuuh….”


Akhirnya Haku bisa bernafas lega, duduk lemas di lantai sambil memijit kepalanya yang terasa pusing. Tak disangka, cuma masalah video-video laknat itu saja sanggup membuat Haku lemas kelelahan.


Luan pun jatuh terduduk di lantai di balik tirai. Dia juga ikut bernafas lega karena bunyi-bunyi dari semua video koleksinya tak terdengar lagi. Hanya saja sangat disayangkan, kebiasaan buruknya mengoleksi semua video itu jadi ketahuan sama muridnya sendiri.


“Hei…! Apa salahnya pria mengoleksi video-video begitu?” Luan ngeles, “Itu ‘kan caraku agar tetap bugar.”


“Bugar… bugar. Belalai situ yang bugar! Ngocok botol sabun mulu kerjaannya! Ingat umur, Guru! Ingat umur…!”


Saat guru dan murid saling berantem, robot penjaga tirai sebelah kiri tak sengaja melihat ponsel Luan tergeletak di sampingnya. Memang pikirannya diciptakan dari rangkaian bahasa pemprograman, tapi si robot tetap punya firasat tentang ponsel tersebut.


[“Maaf jika saya lancang, Beta Luan.”] ucap sopan sang robot.


Luan pun menoleh pada robot itu. “Ada apa?”


[“Boleh saya periksa ponselnya?”]


Tanpa menjawab, Luan menyerahkan ponselnya pada si robot dengan ekspresi bingung. Si robot memeriksa isi ponsel itu sampai berhasil menemukan sebuah foto.


[“Foto pemuda yang dimaksud yang ini, kan?”]


Robot itu memperlihatkan foto seorang pemuda dari ponsel tersebut pada Luan, lalu berganti pada Haku dari kejauhan.


Menyadari akan kebodohan mereka yang tak sadar kalau selama ini foto yang mereka cari ada di ponsel bukan di tab, keduanya langsung ‘Gubrak!’ di tempat.


Si robot cuma berpikir, tak disangka IQ manusia bisa serendah ini.

__ADS_1


….


“Jadi, ada apa dengan foto pemuda ini?”


Setelah dirasa suasana sudah kembali tenang, kini Haku duduk dengan posisi bertongkat lutut di lantai sambil memperhatikan foto seorang pemuda dari ponsel milik Luan, tak peduli posisi duduknya sekarang dianggap tidak sopan.


Dia sudah merasa kesal dengan gurunya itu.


Foto itu menunjukan sosok pemuda remaja berusia sekitar 17 tahun, bermata biru gelap, dan berambut merah Mullet panjang dengan sedikit guratan pirang di beberapa helainya. Ekspresi wajah pemuda itu terlihat sangat ceria seakan-akan tidak memiliki beban hidup.


Terus, kenapa Luan menunjukan foto tersebut padanya? Tidak mungkin ‘kan kalau gurunya ‘belok’, terus minta dicarikan buat dinganu-nganu?


“Aku masih normal. Makanya, koleksiku kebanyakan cewek-cewek cantik semua.”


Haku sewot. Sepertinya guru Haku ini juga cenayang. Buktinya dia mampu menebak isi pikiran Haku. Selain itu, dia juga jengkel dengan kebiasaan buruk Luan yang sulit dihilangkan, yaitu mengoleksi banyak video cabul.


Haku masih tak percaya. Bagaimana bisa ia sudi jadi murid dari guru cabul seperti Luan?


Di balik tirai itu, siluet Luan nampak membuka kipas lipatnya. Dengan lebih tenang Luan berkata, “Aku memiliki tugas untukmu, Hakuma. Tugasmu adalah untuk mencari pemuda itu. Namanya Mardin, dan dia tinggal di Kota Kamaju bagian timur.”


Haku masih memperhatikan penampilan pemuda di foto tersebut sambil menyipitkan mata di balik kacamatanya.


“Wujudnya kayak jamet,” komentar Haku datar.


“Hehehee….” Luan terkekeh. “Jamet-jamet gitu juga berbahaya.”


Kini pandangan mata Haku tertuju pada tirai Luan, memasang ekspresi heran dengan apa maksud sang guru menganggap pemuda ceria ini sebagai orang berbahaya.


“Maksud Anda?”


Luan menjelaskan, “Dia bukan remaja biasa. Jangan tertipu dengan penampilan dan sifat cerianya. Dia itu merupakan seorang Rogue, seorang pembunuh.”


Haku bergeming, kembali memperhatikan foto itu sambil meyakinkan dirinya sendiri. Memang dari penampilan ceria dan agak polos itu, tak terlihat tanda-tanda bahwa pemuda bernama Mardin ini merupakan pembunuh berbahaya.


“Sebenarnya, alasanku terpaksa mengeluarkanmu dari Guild Yatshuhama ini ya karena aku ingin kau mencari pemuda itu untuk menyampaikan sebuah tugas yang hanya bisa dia lakukan sendiri. Tempat ia tinggal berada di daerah kekuasaan Guild lain. Agar tidak mudah ketahuan oleh Guild di sana kalau kau berasal dari Guild lain, terpaksa aku mengeluarkanmu.”


“Tugas apa, Guru?” tanya Haku tak terima. “Kalau ada tugas lain, kenapa harus jauh-jauh meminta bantuan pada seorang Rogue yang tinggal di daerah kekuasaan Guild lain? Kenapa tidak memberikan tugas itu langsung pada saya?”


“Sudah kubilang, tugas itu hanya bisa dilakukan oleh Mardin seorang,” tegas Luan.


Haku diam seketika, enggan mempertanyakan hal serupa lagi. Kalau nada bicara Luan terdengar seserius ini, maka tugas yang ingin ia serahkan pada Mardin bukanlah tugas sembarangan.


“Kau tidak akan cocok mengemban tugas ini langsung, Hakuma. Hanya Mardin yang bisa, karena ini berhubungan dengan pembebasan Sang Iblis Buas.”


Haku tercengang mendengarnya. Tentang Sang Iblis Buas, siapa yang tidak tahu dia? Sosok pembunuh yang dikenal sebagai Rogue paling berbahaya dalam sejarah dunia pembunuh. Dia mampu meruntuhkan aliansi beserta Guild-Guild-nya, dan membunuh dua Sigma terkuat seorang diri.


Lalu, apa hubungannya Sang Iblis Buas dengan Mardin? Dan tugas macam apa yang ingin diberikan gurunya pada pemuda remaja itu?


...~*~*~*~...

__ADS_1



__ADS_2