Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 7 : Beralasan


__ADS_3


15 menit setelah kejadian, lokasi peledakan yang dibuat oleh Boomer kini sudah didatangi beberapa orang bertopeng jaguar dan membawa berbagai macam senjata. Mereka semua mulai melakukan pemeriksaan, membawa mayat-mayat yang tersisa, dan membuat laporan atas dugaan kejadian di sini.


Seorang pria berkulit hitam dengan rambut gimbal hitam keunguan berjalan santai sambil memanggul senapan serbu di bahu. Dia berjalan menghampiri mayat pria tua yang bentukannya sudah tak jelas. Yang jelas cuma bagian torsonya tertancap di tanduk kepala seekor monster kelabang.


“Seorang Rogue?” Pria itu sedikit menurunkan kacamata hitamnya sesaat, membuat sepasang mata biru terangnya sekilas terlihat. “Masa iya Rogue mati sama-sama dengan monster.”


“Ada apa, Baran?”


Satu pria berkulit tan berjalan menghampiri pria gimbal bernama Baran itu. Ketika tiba di sampingnya, ia juga ikut memperhatikan dengan datar mayat hancur dari sang Rogue yang tertancap di tanduk monster.


“Ulah Rogue lagi kayaknya, Sanjay,” ucap Baran santai sambil memperbaiki posisi kacamata hitam. “Tapi ini disebabkan bukan dari pertarungan antara Rogue ini sama si monster.”


Sanjay menaikan sebelah alis sambil bersedekap, membuat otot-otot lengannya yang liat agak membesar. “Terus?”


“Datar amat responnya,” cibir Baran.


Baran berjongkok di dekat mayat monster, menyentuh darah serta potongan dagingnya. Sempat ia mencium aroma dan menjilat sedikit darahnya untuk memastikan. Hal seperti ini memang sangat biasa dilakukan oleh seorang pembunuh jika ingin memastikan suatu kejadian dari bagian tubuh makhluk mati yang terlibat.


Sesaat Baran mengecap bibirnya. “Em, amis.”


Sanjay menampar bahu Baran. “Ya jelas amis. Yang kau jilat ‘kan darah monster,” responnya agak jengkel walau mukanya masih datar.


“Heheee~.” Sesaat Baran nyengir. “Bukan darah monster aja. Ini kecampur sama darah si Rogue. Dari darah Rogue yang dominan, aku ngerasain ada rasa Material Ru.”


“Material Ru?”


Baran kembali berdiri. “Rogue yang mati ini enggak pakai senjata dari Material Ru. Kemungkinan besar Rogue lain yang membunuhnya.”


“Pertarungan antar Rogue lagi, ya?” Sanjay memutar bola mata hijaunya.


Pertarungan antar Rogue sudah biasa terjadi. Pembunuh yang tidak berada dalam sebuah Guild sering kali menantang pembunuh lain. Alasannya ada yang cuma ingin memperbutkan wilayah, salah paham, cari masalah, merampas, atau dengan berbagai alasan tidak penting.


“Hal ini memang sudah biasa terjadi,” komentar Sanjay, “tapi, tetap saja kita perlu melaporkannya pada Alpha. Kalau yang berulah Rogue yang itu-itu saja, bisa jadi ancaman bagi Guild.”


“Kau yakin ingin melaporkan masalah ini pada Alpha?”


Sanjay mengacak-ngacak rambut cokelat tebalnya. Dia baru ingat kalau akhir-akhir ini Alpha mereka sering dipusingkan dengan berbagai masalah, mulai dari pembangunan kota, perlindungan terhadap serangan monster, sampai memburu para Rogue yang berkeliaran.


Baran kembali berkata, “Seingatku, Alpha sedang pusing sama masalah di kota bagian selatan. Akhir-akhir ini, ada sekitar tujuh gedung runtuh di sana. Tim Gamma yang lain udah masti’in, itu bukan ulah monster. Ada kemungkinan itu ulah Rogue juga.”

__ADS_1


“Rogue macam apa yang bisa meruntuhkan banyak bangunan?”


Baran menaikan bahu. “Entah. Mungkin sekelompok Rogue yang lagi iseng. Makanya, Alpha pusing buat ngeburu mereka.”


Sanjay kembali memperhatikan genangan darah monster di dekat mereka. Mata hijaunya menyipit, memikirkan segala dugaan.


Siapapun Rogue yang membunuh satu Rogue lain dan monster di sini, ataupun beberapa Rogue yang menghancurkan banyak bangunan di kota bagian selatan, mereka adalah pembunuh jalanan yang sangat meresahkan.


...~*~*~*~...


“Fyuuuh…. Untung sempat ganti seragam.”



Sekarang, Mardin berjalan bersama Dimas menuju kelas mereka. Suasana koridor sekolah kini sudah lumayan ramai. Banyak siswa-siswi lebih memilih nongkrong di luar kelas masing-masing sambil mengobrol masalah bencana tadi.


Syukurlah, tadi Mardin bisa kembali ke sekolah tepat waktu dan cepat-cepat mengganti seragam serta melepas jaketnya yang kotor karena darah. Mereka juga tidak sempat menyembunyikan skateboard Mardin gara-gara hampir kepergok guru lewat. Alhasil, skateboard kesayangan dan ransel berisi pakaian berdarah spontan dilempar Dimas sampai nyangkut di pohon rambutan.


“Gimana keadaan kota tadi?” tanya Dimas sambil jalan, memulai obrolan.


Mardin jalan sambil memasukan kedua tangan di saku celana. “Kacau. Kalau kau di sana, pasti langsung kena muntaber abis ngeliatnya.”


“Iyuh….”


Sebelumnya, Mardin sempat cerita kalau yang menyerang kota awalnya seorang Rogue, kemudian disusul oleh monster yang baru tiba setelah Mardin menghabisi Rogue tersebut.


“Woi, Mardin! Dimas!”


Keduanya menoleh mendapati dua teman mereka yang lain memanggil, berlari kecil menghampiri mereka. Satunya merupakan pemuda berbadan gempal, sedangkan satunya berbadan kurus.


“Akhirnya, ketemu juga… dua homo belatungan ini,” ledek si gempal.


“Iih! Siapa pula kau ledek homo?” tanya Dimas tak terima.


“Tahu, nih. Aku ‘mah diidolakan banyak cewek,” ucap Mardin sewot agak memajukan bibirnya, terus menunjuk Dimas. “Dia aja yang jomblo belatungan.”


“Ngapa pula mojokin aku si jamet ini?!” Dimas jadi jengkel.


“Jamet-jamet gini juga aku ganteng,” ucap Mardin pede sambil mengibaskan rambut Mullet merahnya.


Ya memang ada benarnya. Mardin termasuk siswa populer di sekolah karena ketampanannya. Selain tampan, dia dikenal sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul. Oleh sebab itu, banyak murid menyukainya.

__ADS_1


“Jangan dikibas-kibasin gitulah rambutnya, entar beneran keluar belatung lagi,” ledek si gempal lagi.


“Gila, kali.” Mardin mengacak rambutnya sendiri. “Dikira ‘palaku korban sinetron azab.”


“Kalian pun diledek Bobby karena sering berduaan kemana-mana kayak homo,” kata si kurus. “Lagian, kalian dari tadi kemana, sih? Aku tadi cuma sempat jumpa Dimas sebentar pas di pojokan salah satu ruangan rubanah. Seterusnya, entah hilang kemana.”


“Bener tuh kata si Cungkring.” Bobby membenarkan. “Dimas mending kelihatan batang hidungnya walau bentar di rubanah. Kau sendiri dari mana, Mard? Kami cari’in dari ujung rubanah satu sampai ujung rubanah yang lain kagak ketemu-ketemu juga. Jangan sampai kami cari’in kau sampai ke akhirat, ya, Mard....”


Cungkring menepuk keras bahu Bobby dengan mata agak melotot. “Kau ini…. Kalau ke akhirat jangan bawa-bawa temen, dong.”


“Ya ‘kan itu cuma perumpamaan.” Bobby mengelus bahunya yang kena tepuk.


Mardin dan Dimas sempat adu pandang, canggung mau menjawab apa. Di antara ketiga teman Mardin, hanya Dimas yang tahu kalau Mardin seorang Rogue Pembunuh. Keduanya saling mengenal sejak SMP, sedangkan Cungkring dan Bobby baru menjadi teman ketika masuk SMA.


Tidak mungkin Mardin berkata jujur kalau dia baru saja bunuh orang dan monster. Bisa-bisa mereka takut setengah mati dengan Mardin.


“Aku tadi sempat keluyuran ke sekitar rubanah,” jawab enteng Dimas. “Suntuk juga gitu sendirian mulu di pojokan kayak bujangan malam mingguan.”


“Lah, ‘kan kau emang bujangan,” ucap Cungkring menunjuk Dimas.


“Bukan dia doang yang bujangan,” timpal Bobby, “kita berempat juga bujangan, kale.”


“Nyahahahaha….”


Ketiganya langsung ngakak dengan kenyataan serenyah itu. Emang benar, mereka berempat tidak ada yang punya pacar.


“Aku tadi….” Mardin menggaruk kepala, berusaha mencari-cari alasan. “Berak di toilet. Lama di sana gara-gara sempat sembelit.”


“Iya, sekali wajar, Mard.” Bobby bersedekap. “Tapi, masa iya setiap kali kita disuruh sembunyi di rubanah, kau selalu hilang?”


Bobby kelihatannya mulai curiga. Soalnya, setiap kali mereka disuruh mengungsi di rubanah sekolah, cuma Mardin yang tidak pernah ada di sana. Alasannya macam-macam, berak di toilet ‘lah, mojok ‘lah, kegencet orang ‘lah. Sekali-sekali wajar, tapi ini terjadi berkali-kali.


“Oh, itu ‘mah—.”


“Seingatku, kantin lagi bikin menu baru, kan?” tanya Dimas berusaha mengganti topik. “Kita ke sana, yuk. Biasanya, abis mengungsi di rubanah, waktu istirahat bakal diperpanjang.”


Merasa topik yang dibahas Dimas jauh lebih menarik, Bobby dan Cungkring antusias menyetujuinya. Mardin memberi acungan jempol di pinggang pada Dimas, pertanda dia berterimakasih karena sudah bantu mengganti topik biar tidak ketahuan. Dimas cuma balas dengan acungan jempol juga.


Kalau sudah kayak begini, pasti kedua sahabat itu kompak.


“Oh, iya! Aku juga kepo, pengen tahu menu barunya apa.” Mardin mulai berjalan mendahului, tapi pandangannya masih tertuju ke arah mereka bertiga. “Selain itu, aku juga kangen pengen makan— Eh? Astaga. Maaf, maaf.”

__ADS_1


...~*~*~*~...



__ADS_2