Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 34 : Mengikhlaskan Perasaan


__ADS_3

Lampu-lampu di seluruh vila sudah menyala terang, tapi cahaya terang dalam ruang tamu itu tak serta merta membuat beberapa penghuninya merasa tenang.


Rosa terlihat mandar-mandir di depan sofa sambil menggigit jari, merasa cemas memikirkan keadaan Irwan dan Mardin yang tak kunjung kembali. Awalnya Mardin lebih dulu keluar untuk memastikan keadaan vila, disusul Irwan yang hendak memeriksa penyebab mati listrik sekalian menyusul Mardin. Namun sudah sekitar satu jam setelah listrik menyala, mereka masih tak kunjung kembali.


Atna dan kelima anak lainnya juga nampak bingung melihat sikap Rosa yang panik begini. Sebenarnya bukan hanya Rosa yang cemas, mereka pun juga mencemaskan kedua pria itu. Di jam-jam segini, di luar sangat berbahaya. Mereka takut Mardin dan Irwan kenapa-napa.


“Aduh….” Rosa menautkan kedua tangannya di depan. “Kenapa mereka belum balik juga? Mereka enggak bakal kenapa-napa, kan?”


“Jangan khawatir, Kak.” Masih duduk di sofa bersama anak-anak, Atna berusaha menenangkan. “Mereka pasti baik-baik saja.”


Walau Atna terlihat lebih tenang, sebenarnya dia juga sama paniknya dengan Rosa. Tapi kalau dia juga ikut panik, nanti malah membuat suasana vila jadi runyam.


Rosa hanya melirik adik iparnya dengan perasaan gelisah. Kalimat dari Atna sungguh tak mampu membuatnya cukup tenang. Dia masih cemas, apalagi ketika menyadari langit malam di luar sana mulai mendung tak menampakan gemerlapan bintang dan sinar dua satelit alami.


“Halo, anak-anak!”


“Gimana kabar kalian? Baik-baik saja?”


Mereka semua begitu senang ketika melihat kehadiran Mardin dan Irwan baru saja memasuki ruang tamu, terutama Rosa. Wanita berambut merah itu segera menghabur pelukan pada Irwan, membuat pria itu ikut membalas pelukan sambil menyunggingkan senyum. Mardin yang melihatnya juga spontan ikut tersenyum sambil memasukan kedua tangan dalam saku jaket.


“Aduh…. Kau ini kena— Aw!”


Baru saja mendapat momen romantis khas suami-istri, Rosa malah mencubit keras pinggang Irwan sambil memperlihatkan wajah cemberutnya.


“Kau yang kenapa?! Kenapa lama sekali di luar sana? Enggak terjadi sesuatu ‘kan pada kalian berdua?”


Irwan dan Mardin sempat tukar pandang. Sejujurnya memang di luar sana terjadi sesuatu yang luar biasa parah, yaitu kejadian pembunuhan yang Mardin lakukan terhadap dua Rogue penyusup. Namun semua itu ia lakukan demi melindungi para penghuni vila.


Selain itu, Irwan sempat cerita di jalan kalau identitas asli Paman Rom sebagai mantan pembunuh hanya diketahui oleh dirinya seorang, Rosa dan anak-anak sama sekali tidak tahu. Jadi, tak sepatutnya mereka cerita yang sebenarnya agar tidak menimbulkan ketakutan juga.


“Sudah, sudah. Enggak kenapa-napa di luar sana. Cuma emang ada yang korsleting pas perangkat jebakannya aktif,” bohong Irwan berusaha menenangkan. “Beruntung ada Mardin yang bantu. Coba kalau enggak ada Mardin, bisa gelap-gelapan kita sampai besok.”


Rosa mengomeli Irwan, “Tuh, kan! Seharusnya, kau lebih teliti dan hati-hati kalau memasang perangkat-perangkat semacam itu. Jadi ngerepotin Mardin, kan….” Kemudian, ia tersenyum sungkan pada Mardin. “Makasih ya udah bantuin. Maaf, jadi ngerepotin.”


“Enggak apa-apa kok, Kak,” balas Mardin ramah, “perangkat itu ‘kan dari Paman Rom. Sudah kewajibanku sebagai keponakan Paman Rom untuk memperbaiki beberapa bagian perangkat yang salah.”


“Nah, anak-anak! Karena Abang Mardin sudah bantuin kita di sini, ayo berterima kasih bareng-bareng.”


Mardin yang mendengarnya langsung sungkan. “Du-duh, Bang…. Enggak usah kayak gitu.”


Irwan pun berinisiatif mengajak anak-anak berterima kasih pada Mardin. Atna berserta lima anak lainnya berdiri dari sofa, membungkuk bersamaan memberi hormat sekaligus terima kasih pada Mardin.

__ADS_1


“Terima kasih sudah bantuin kami, Bang Mardin,” ucap anak-anak serentak.


Melihat sifat mereka yang sopan, Mardin terkekeh canggung sambil menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.


“Aduh. Jadi malu aku…. Tapi, ya… sama-sama aja, lah,” ucap Mardin asal karena malu.


Di sela-sela momen hangat ini, suara petir tiba-tiba terdengar jelas menggema ke dalam vila, membuat anak-anak langsung kaget sekaligus ketakutan mendengarnya.


“Kyaaah! Ada Gende-Uwo muncul!”


Satu anak yang paling kecil berteriak sambil lari, memeluk erat Atna saking takutnya mendengar petir. Melihat reaksi anak itu, Atna hanya balas memeluk si anak sambil tersenyum malu-malu pada orang-orang di sekitarnya. Mereka cuma terkekeh melihat reaksi lucu anak itu.


“Ko-kok disebut ada Genderuwo muncul?” tanya Mardin terkesan menggoda si anak.


Masih agak malu-malu, Atna menjawab, “Eee…. Anu, maklum. Dia sering dikerjain abang-abangnya, bilang kalau setiap kali ada petir bakal muncul Genderuwo buat menculik anak-anak nakal.”


Mardin kembali menggoda, “Kalau adek baik ‘kan Genderuwo enggak bakal menculikmu…?”


Di sela-sela pelukannya pada tubuh Atna, anak itu membalas disertai nada bergetar, “Ta-tapi, Bang…. Kan atut….”


“Hahaha….”


Mereka semua hanya tertawa gemas melihat reaksi menggemaskan anak paling kecil itu.


“Eee…. Bang Irwan, Kak Rosa. Cuaca udah mulai enggak bagus. Sebaiknya, aku musti cepat-cepat pulang,” kata Mardin.


“Ooo…. Ya, udah. Dari pada nanti kehujanan,” kata Irwan. “Tapi maaf, Mard. Aku enggak bisa anterin. Motor masih perlu diperbaiki, soalnya.”


“Oh! Enggak perlu, Bang. Aku masih bisa pulang sendiri naik skateboard.”


“Yakin mau pulang, Mard?” tanya Rosa. “Apa enggak mau nginep dulu sampai besok? Kali aja malah kehujanan di tengah jalan.”


Mardin segera menggelengkan kepala. “E-enggak usah, Kak. Jadi makin ngerepotin nanti. Ya, udah. Aku pamit pulang ya, Bang Irwan, Kak Rosa, dan anak-anak sekalian. Jaga diri baik-baik, ya.”


“Siap, Bang!” ucap anak-anak serentak lagi. Tapi anak yang paling kecil kembali menjerit ketakutan ketika ada petir lagi.


Mardin tersenyum sambil melambaikan tangan pada mereka, mulai berjalan keluar dari vila. Pengalaman Mardin kini bertambah setelah mengenal Keluarga Irwan. Kini dia tahu bahwa di balik daerah terpencil seperti ini, masih ada keluarga yang berjasa baik mau menampung anak-anak terlantar di kota ini.


Kelak jika masih ada kesempatan, mungkin Mardin akan membantu mereka semampunya.


….

__ADS_1


Ketika sudah keluar dari vila, tepatnya masih di depan pintu vila, Mardin dapat melihat langit malam semakin gelap disertai kilat petir bermunculan, angin pun jadi berhembus lebih kencang dari sebelumnya dan terasa cukup dingin di tubuh.


“Bang Mardin!”


Mardin baru saja meraih skateboard dari tempelan magnet di bagian sabuk belakang pinggang, ia pun menoleh mendapati sosok Atna keluar dari vila menyusulnya dengan langkah lari kecil.


“Ada apa, Dek?” tanya Mardin.


Dengan sedikit malu-malu, Atna berucap, “Sekali lagi, te-terima kasih sudah mau membantu Bang Irwan tadi. Kalau saja listriknya enggak segera dibenerin, pasti kami bakal gelap-gelapan pas lagi mau hujan badai begini. Soalnya, anak-anak pada takut badai.”


Mardin mengerti maksudnya. Ia pun membalas dengan anggukan disertai senyum khas. “Enggak apa-apa. Udah kewajiban sesama makhluk hidup agar saling membantu, kan? Kau juga, kalau mau belajar bersosialisasi dengan orang lain tanpa merasa malu, bisa belajar sama aku. Ta-tapi, aku enggak bermaksud macam-macam, ya. Yang tadi-tadi itu cuma salah paham.”


“Teheee….” Atna terkekeh kecil.


Baru kali ini Mardin melihat anak gadis itu tertawa kecil, ditambah rona merah di pipinya yang kontras benar-benar menambah kesan cantik dan imutnya. Apalagi Atna masih berpenampilan sederhana, kecantikannya jadi terpancar begitu alami.


Dalam hati Mardin berusaha memaklumi keadaan. Andai saja Atna tidak di bawah umur, mungkin ia akan mempertimbangkan keputusannya untuk menjadikan Atna sebagai pacar. Tapi kalau itu ia lakukan sekarang, bisa-bisa ia disangka pedofil oleh warga setempat.


Ikhlaskan sajalah. Toh Mardin tidak mau menambah kesibukan masa mudanya dengan berpacaran. Belum tentu juga pacaran bisa menjadi jaminan di masa depan.


“Ya, sudah. Aku pamit pulang, ya. Kau cepat masuk. Nanti malah masuk angin.”


“Iya, Bang.”


Setelah berpamitan, Mardin mulai meluncur menjauh dari vila. Ketika hendak keluar pagar, Mardin sempat melambaikan tangannya disertai senyum sumringah, dan dibalas Atna dengan hal yang sama.


Kini Atna hanya bisa melihat sosok Mardin hilang di belokan jalan, berseluncur cepat menggunakan skateboard kesayangan.


Baru kali ini Atna merasa sangat senang bisa mengenal orang baru. Mungkin karena sifat dan pembawaan Mardin yang santai, riang, dan dapat membuat siapa saja merasa betah mengobrol dengannya.


Namun di hati kecilnya, Atna iri karena tidak memiliki sifat mudah bergaul seperti Mardin. Andai saja dia punya, apakah Atna bakal lebih mudah bergaul dengan banyak orang?


“Lah…? Katanya, Abang tadi nyeremin…. Kok senyum-senyum gitu pas pamitan?”


“Kyaaah!”


Atna terlonjak kaget ketika Rosa menggodanya di belakang, kebetulan juga bersamaan dengan suara guntur yang cukup nyaring. Rosa hanya merespon dengan tawa singkat. Atna kalau lagi kaget terlihat sangat lucu.


“Ingat ya, Dek….” Rosa mengacungkan telunjuk di depan. “Kagum boleh, tapi jangan sampai suka melebihi perasaan teman. Kau masih SMP, belum boleh pacar-pacaran. Apalagi usianya lebih tua darimu. Fokus aja buat belajar, ya.”


Atna mengangguk mengerti maksud Rosa. Kakak iparnya itu hanya ingin dia lebih fokus dalam belajar ketimbang melakukan hal-hal tidak penting seperti pacaran. Masih belum saatnya untuk merasakan yang namanya jatuh cinta.

__ADS_1


Kemudian, Atna pun memberi senyuman teduh pada Rosa. Atna juga masih sadar diri, orang seperti Mardin takkan mungkin suka pada orang kikuk seperti dirinya.


...~*~*~*~...


__ADS_2