
Di malam yang sama, Mardin tengah dalam perjalanan mengantarkan paket milik Paman Rom ke tempat tujuan sambil mengendarai skateboard. Jalanan yang ia lewati cukup gelap, hanya dibantu oleh penerangan dari pantulan cahaya dua satelit alami di langit sana. Terlihat sangat sepi, tidak ada siapa pun yang lewat, kendaraan apapun juga tak nampak.
Di sekitar kanan-kirinya hanya ada pepohonan rindang, semak belukar liar, dan jalanan aspal yang sudah retak serta berlubang. Mardin juga sempat melihat beberapa ruko runtuh dan biang lala yang sudah hampir rubuh. Kalau Mardin tebak, sepertinya daerah tersebut bekas tempat wisata pasar malam atau semacamnya.
Sambil membawa kotak paket di tangan dan masih berseluncur di atas skateboard, Mardin berceloteh, “Jalannya kok angker begini…? Ini paket emang mau diantar ke orang atau ke dedemit? Enggak mungkin ‘kan Paman Rom mau ngasih nih paket ke dukun buat bahan pesugihan.”
Sudah setengah jam lamanya Mardin pergi mengantar paket, tapi belum juga menemukan alamat tujuan. Dia mungkin bisa menggunakan skyboard agar bisa terbang lebih cepat dan mencari tempat tujuan, tapi masih belum bisa digunakan karena baru saja dimodifikasi Dimas. Besok baru dia bisa menggunakan fitur tersebut.
“Alamatnya benar yang ini, kan? Seharusnya, memang lewat sini jalannya.” Mardin membaca alamat yang tertera di atas kotak untuk memastikan.
Mardin terus meluncur di jalanan retak itu hingga matanya menemukan bentuk bangunan vila besar yang terlihat masih berdiri kokoh, lampu-lampunya pun nampak menyala cukup terang.
Sejauh Mardin menelusuri jalan ini, hanya bangunan vila itu yang baru ia temukan. Daerah sini benar-benar sepi, tidak ada siapapun yang ada di sini selain vila tersebut, malah bangunan-bangunan yang sudah rubuh dan ditanami tanaman liar yang sering ditemukan Mardin.
“Kok bisa ada orang yang mau tinggal di daerah kosong melompong begini?”
Mardin pun mendekati pagar vila. Ketika sampai di depan pagar, Mardin menempelkan skateboard-nya di sabuk belakang. Sempat ia membaca alamat yang tertera di samping pagar dan mencocokannya dengan alamat di paket.
“Sama.” Mardin sempat celingukan melihat vila tersebut di balik pagar. “Ini beneran rumah orang, kan? Kali aja bangunan keramat. Kalau bangunan keramat, bisa dihantui dalam mimpi aku. Tapi, kayaknya beneran rumah orang, deh. Buktinya lampu-lampu di sini pada nyala pakai listrik.”
Awalnya Mardin hendak mencoba memanggil sang penghuni vila, tapi tangannya tak sengaja membuka pagar besi tersebut. Sontak kedua mata biru bulatnya melotot kaget. Mardin kira pagarnya dikunci.
“Lah? Kagak dikunci? Apa kagak takut dimaling, yak?” Karena sudah terlanjur dibuka, maka Mardin putuskan untuk masuk seenaknya. “Masuk ajalah. Halaman depannya luas, enggak bakal kedengeran kalau manggil dari pagar sini.”
Pemuda berambut merah ini mulai memasuki halaman depan vila. Halaman depan sini walau luas, tapi cukup gelap karena tidak ada penerangan sama sekali selain dari lampu-lampu di dalam vila. Suhu di sekitar juga terasa cukup dingin biarpun Mardin sudah memakai jaket hitam-biru neon kesayangannya.
Suasana di sini jadi benar-benar terasa angker seperti di film-film horror.
“Ayolah…. Ini novel aksi, kan? Kok bisa dibikin horror begi— Eh, tokek bengek.”
Mardin latah saat kakinya tak sengaja menginjak sesuatu hingga berbunyi. Ketika ia menunduk, rupanya yang ia injak cuma ranting pohon patah.
__ADS_1
“Woalah…. Ranting pohon, toh?” Iseng-iseng Mardin mengambil ranting pohon itu. “Sepertinya, halaman sini belum sempat dibersihin.”
Mardin melempar ranting itu ke sembarang arah. Tak disangka, ranting tersebut malah kena seekor kelelawar yang tengah terbang, membuat hewan itu jatuh tak sadarkan diri. Melihat lemparan asalnya berhasil mengenai kelelawar numpang lewat, Mardin cuma pasang muka polos seperti biasa.
“Tepat sasaran…. Padahal aku cuma asal lempar.”
Setelah berjalan melewati halaman depan, akhirnya Mardin sampai juga di depan pintu vila. Sekali lagi, ia celingukan melihat keadaan sekitar, masih terlihat gelap dan sepi seakan-akan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini.
Mardin geleng-geleng kepala. “Haaah…. Makhluk macam apa sih yang kenalan sama Paman Rom? Rumahnya di tengah daerah antah berantah begini, susah dicari pula alamatnya.”
Mardin sempat hendak mengetuk pintu, tapi ketika melihat ada tombol bel di samping pintu, dia lebih memilih membunyikan bel tersebut daripada buku-buku tangannya bengkak cuma mengetuk-ngetuk pintu, apalagi pintunya terlihat tebal dan tinggi.
“Permisi…!” Mardin membunyikan bel. “Ada paket di sini. Selamat malam! Paket… paket, paket, paket! Spada…!”
Karena tidak ada sahutan, Mardin membunyikan bel secara membabi buta, mengira kalau dengan cara itu bakal ada yang dengar.
Memang enggak ada sopan santunnya jamet merah satu ini.
“Malam, paket…!”
Gadis itu bertubuh pendek, hanya setinggi dada Mardin. Memiliki rambut hitam panjang nan tebal dikuncir dua ke bawah. Setelan pakaian yang ia kenakan pun terkesan sangat sederhana, hanya berupa kaos polos yang agak kebesaran dari ukuran tubuh aslinya dan bawahan berupa rok panjang bermotif bunga. Pokoknya, tipikal anak gadis desa, lah. Walau berpenampilan cukup kampungan, wajah gadis itu sangat imut dengan rona merah samar-samar terlihat di kulit wajahnya yang berwarna kuning langsat.
Mardin sempat dibuat kaget sekaligus heran dengan kehadiran anak gadis ini. Ia pikir vila ini cuma dihuni oleh bapak-bapak atau ibu-ibu tua yang sengaja cari aman dari bahaya Rogue dan monster. Rupanya, yang menghuni malah gadis imut.
Ibarat kata, Mardin berhasil menemukan bunga indah di tengah lahan sengketa.
“A-anu…. Dek.”
Sumpah! Mardin bingung harus bagaimana caranya ia bicara dengan anak gadis ini. Dia merasa menjadi seorang pedofil yang tengah menarik mangsanya. Nyatanya, dia cuma ingin bicara sebentar dengan anak ini.
“Sini sama Abang, Dek…. Abang enggak gigit, kok. Kadang cuma suka nelen dikit. Nih, Abang punya lolipop gede, manis, ada krim-krim susunya pula.”
Tidak, tidak, tidak! Mardin masih punya akal sehat tuk tidak melakukan hal yang ‘iya-iya’. Dia sendiri jijik membayangkan dirinya ngomong begitu pada gadis kecil ini.
__ADS_1
Seusaha mungkin, Mardin berkata, “Kau tadi abis main sampai lupa waktu, ya? Jadinya nyasar ke vila serem ini, gitu? Daripada nyasar begini, mending ikut aku aja. Biar aku antar kau ke tempat tinggalmu. Di sini bahaya, banyak monster dan hantu berkeliaran.”
Niat Mardin memang baik mau mengantarkan anak gadis ini pulang. Tapi dari cara bicaranya saja tidak ada bedanya dengan yang dikhayalkan.
Sama-sama mencurigakan.
Bukannya menjawab, anak gadis itu malah semakin menyembunyikan wajahnya di balik pintu. Samar-samar nampak kedua mata cokelatnya mulai berkaca-kaca, hendak menangis karena ketakutan.
“Tuh, kan! Sudah kubilang, di sini nyeremin.”
Tak ada angin, tak ada hujan, tak ada badai, dan tak ada tukang bakso lewat. Mardin main asal tarik saja tangan kecil anak gadis itu. Sekali lagi, niat Mardin baik tuk mengantarkan si gadis pulang, tapi caranya mencurigakan.
“Sini. Aku anterin pulang. Di sini banyak—.”
“Kau….”
Bukan anak gadis itu yang berucap, tapi orang lain. Bisa ditebak dari nada suaranya yang terdengar seperti wanita dewasa.
Mardin menatap lurus ke belakang anak gadis itu, tepatnya ke balik pintu vila. Ada sepasang kilatan hijau di dalam kegelapan, nampak mengintimidasi disertai rasa amarah menguar di sekitarnya.
Sejenak Mardin meneguk saliva. Perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak begini.
Dari sepasang kilatan hijau itu, keluar seorang wanita bermata hijau dan berambut merah dari balik pintu sambil menggendong anak balita perempuan. Ekspresi wajahnya menampakan amarah, jengkel terhadap kehadiran Mardin. Apalagi ketika ia menemukan tangan pemuda itu sembarangan memegang tangan anak gadis tadi.
“Dasar kau penjahat kelamin! Mau kau bawa kemana adikku?! Serang dia, anak-anak!!!”
“ORRRYYYAAAAH!!!”
Tiba-tiba saja muncul segerombol anak-anak dari berbagai usia keluar dari balik pintu vila, langsung menyerbu Mardin tanpa ampun. Karena tidak boleh melawan anak-anak, Mardin langsung ambruk di lantai dengan kotak paket masih setia di pelukannya.
“Eh? Eh? Kyaaaah!!!”
Inilah akhirnya. Punya niat baik mau mengantarkan anak gadis orang pulang, malah dimarahi keluarga aslinya, diserbu bocah-bocah barbar pula.
__ADS_1
...~*~*~*~...