Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 20 : Bangunan Runtuh


__ADS_3


“Jadi, ini salah satu gedung yang runtuh gara-gara ulah Rogue?”


Sang Alpha, M, bersama tiga Delta, Loli, Sanjay, Baran, dan sang Beta sibuk melakukan penyelidikan lanjutan untuk masalah keruntuhan gedung-gedung kota di bagian selatan.


Daerah selatan merupakan daerah yang masih belum bisa diurus Guild. Dulunya mengalami dampak paling parah saat pertarungan antara Guild penguasa terdahulu dengan Guild Jaguara. Karena tak terurus, daerah selatan menjadi sarangnya monster dan tempat persembunyian para Rogue. Menjadikan daerah tersebut sebagai daerah paling berbahaya di Kota Kamaju.


Kelimanya saat ini memperhatikan puing-puing salah satu bangunan, runtuh parah dan hanya menyisakan bagian bawah bangunan yang masih berdiri walau sudah mulai sangat rapuh.


“Sebegitu parahnya kerusakan bangunan-bangunan di sini?” tanya sang Beta masih memperhatikan bangunan.


“Emang udah rusak dari zamannya pertikaian antara Guild kita dengan Guild penguasa terdahulu, Beta Ordox,” komentar Baran sambil memanggul senapan serbunya.


“Tapi ‘kan, rencananya bangunan-bangunan bagus yang tersisa masih bisa direnovasi oleh Guild kita. Masa jadi hancur lebur begini?” tanya Loli tak senang.


“Selain itu….” Sanjay menunjuk ke samping. “Barisan bangunan lainnya juga ikut terdampak mengalami kerusakan serupa.”


Mereka mengikuti arah tunjuk Sanjay. Benar saja, ada sekitar tujuh lebih bangunan bertingkat di sekitarnya roboh, hancur tinggal puing-puing tak berbentuk.


“Apa ada korban jiwa saat kejadian terjadi?” tanya M.


Baran pun menjawab sambil memperbaiki posisi kacamata hitamnya. “Dari data yang kami dapat, sama sekali tidak ada korban jiwa saat keruntuhan bangunan di sini terjadi. Toh memang tidak ada satu pun warga sipil yang tinggal di daerah selatan.”


“Tidak ada korban jiwa di sini, tapi ‘mayan ada korban jiwa di daerah berpenghuni,” sindir Sanjay.


Omongan pria berkulit tan itu memang pedas. Sanjay mengkritik soal tingkat keamanan yang cukup rendah untuk daerah-daerah berpenghuni di kota mereka. Cukup banyak warga sipil menjadi korban keganasan para Rogue, contohnya seperti yang terjadi tadi malam.


Mendengar sindiran itu, M cuma tertunduk sambil memijit pelipis. Apa yang dikatakan Sanjay benar. Tapi sebabnya juga karena mereka sudah kekurangan cukup banyak anggota Guild, dan tidak ada satu pun warga sipil yang mau bergabung dalam Guild Pembunuh mereka karena minimnya orang-orang yang mengalami kebangkitan Energi Ru. Kalau pun ada, mungkin mereka lebih memilih menjadi Rogue karena berbagai alasan.


“Haaah….” M menghela nafas, mendongak melihat sebagian sisa bangunan. “Kalian tahu? Aku ini sebenarnya capek jadi Alpha Guild. Mending gitu Guild kita masih mikirin penduduk kota kekuasaannya. Coba kalau Guild lain, bisa terbengkalai nih kota.”


M pun bersedekap. “Kalau kayak gini, aku jadi kepikiran buat berhenti jadi Alpha, pergi keluar planet, bikin video-video singkat isinya goyang pargoy, terus diviralin di internet. Kali aja bisa jadi influencer.”


Ordox menepuk wajahnya, mulai capek dengan celotehan atasannya ini. Kalau M sudah ngomong begitu, berarti otaknya sudah terlalu banyak menahan beban cobaan sebagai pemimpin Guild Pembunuh.

__ADS_1


Memang, kalau udah banyak kerjaan, otak bisa ngelantur kemana-mana.


“Terus, kalau mau jadi influencer, endorse-nya apaan?” tanya Baran iseng.


“Paku payung.”


Baran tertawa terbahak-bahak mendengarnya, senang iseng menjahili sang pemimpin. Sedangkan Ordox udah makin pusing sama kelakuan M. Dia mikir, udah susah-susah jadi influencer, masa endorse-nya paku payung?


“Ish! Kalian ini pada ngomong apa, sih?” tanya Loli jengkel. “Ini kita lagi mikirin soal mau dikemanain masalah bangunan-bangunan rubuh ini!”


“Gini ya, Neng,” ucap M pada Loli sambil nunjuk-nunjuk bangunan. “Semua bangunan ini rencananya mau dibikin buat jadi ladang usaha warga sipil. Tentu saja kita bersihin dulu, beresin dulu dari para monster dan Rogue. Tapi, kalau bentukannya udah ancur lebur gini, gimane kagak sayonara otakku ke akhirat?”


Sanjay geleng-geleng kepala menanggapi interaksi mereka. Kalau M sudah ngomel begitu, berarti rasa pusingnya mikirin berbagai masalah sudah melewati batasnya.


“Pemasukan kurang, naikin pajak enggak bakal bisa, anggota Guild makin berkurang, bisnis mulai anjlok, ditambah lagi uang kas Guild entah terbang kemana. Asal kalian tahu, pusing jadi pemipin! Ya Tuhan….” M mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri.


Selama M asik mengomel sendiri, Baran berjalan ke arah gedung, menemukan sedikit goresan pada tembok bangunan.


“Hmm…. Goresannya kayak dihasilkan dari senjata bergerigi,” teliti Baran.


“Ya.” Baran menoleh ke rekan-rekannya. “Ada kemungkinan Rogue yang menghancurkan bangunan di sini memakai senjata bergerigi.”


“Kau yakin kalau Rogue seperti itu yang menghancurkan bangunan?”


Di saat Loli bertanya, Sanjay malah sibuk menoleh ke samping sambil mengupil.


Loli kembali berkata, “Mungkin saja goresan itu cuma hasil dari gesekan antar puing bangunan, atau Rogue seperti itu cuma numpang lewat, kebetulan habis berantem dengan Rogue lain.”


“Yang kayak gitu juga belum cukup dijadikan bukti buat masti’in apa sebab bangunan-bangunan di sini runtuh.” Sanjay menyentil upilnya. “Kuat dugaan kalau itu cuma hasil goresan antar bangunan belaka.”


“Nah, itu dia maksud— Ish, jorok ‘lah, Sanjay!” Loli langsung jijik melihat Sanjay sempat-sempatnya ngupil.


Baran memutar bola mata terangnya, udah bete sama tanggapan Sanjay. Menurutnya, Sanjay itu memang tipikal orang yang sulit sependapat dengannya. Entah apa masalah Sanjay dengan Baran, ia pun tak tahu.


“Alpha! Alpha!”

__ADS_1


Salah satu Gamma yang sempat diperintahkan menelusuri daerah sini buru-buru menghampiri M sambil membawa sebuah tab.


“Ada apa?” tanya M berusaha bersikap berwibawa.


Gamma itu menjawab sambil sedikit terengah-engah, “…Kami baru saja menemukan rekaman dari hasil kamera pengintai yang sempat dipasang. Hanya rekaman singkat yang tidak begitu jelas akibat kameranya rusak. Tapi, mungkin ini cukup untuk memastikan penyebab keruntuhan bangunan-bangunan di sini.”


M mengambil tab itu, segera melihat rekamannya disusul oleh para Delta dan Beta melihat di sampingnya.


Video itu berisi rekaman kejadian pada malam hari. Videonya agak buram dan gelap, tapi mereka masih bisa melihat ada siluet bangunan-bangunan dan tubuh seseorang tengah bergelantungan dari gedung satu ke gedung lain. Namun setelah melewati bangunan, bangunan tersebut langsung rubuh ditarik oleh beberapa rantai. Hal itu juga terjadi pada bangunan-bangunan lainnya sampai rekaman pun berhenti.


“Jadi, beneran Rogue?” tanya Sanjay menyipitkan mata setelah ikut melihat rekaman itu.


“Tuh, kan! Bener! Rogue, bukan?!” celoteh Baran di belakang M sambil tunjuk-tunjuk Sanjay.


“Tapi, masa iya satu Rogue bisa menghancurkan bangunan-bangunan besar seperti ini?” ucap Ordox tak percaya.


M kembali menyerahkan tab itu pada si Gamma. Dari rekaman video itu saja sudah jelas kalau semua bangunan yang hancur disebabkan oleh tindakan aneh seorang Rogue. Kalau seperti ini, sudah diputuskan Rogue ini akan menjadi buronan.


“Para Delta, cari Rogue ini di seluruh daerah selatan. Kalau perlu, sepenjuru kota. Jika sudah dapat, serahkan dia hidup-hidup ke hadapanku,” perintah M.


Loli, Sanjay, dan Baran menjawab serentak. “Siap, Alpha!”


Ketiganya segera menghilang, melesat cepat menjauhi tempat kejadian. Sedangkan M dan Ordox masih perlu ikut Gamma tadi untuk melanjutkan penelusuran, memastikan tempat-tempat mana saja yang perlu mereka perhatikan.


Di balik salah satu pilar bangunan tua, seseorang berusaha merangkak keluar ketika melihat M dan yang lainnya berjalan menjauh. Orang itu merupakan seorang Rogue yang sering berkeliaran di sini.


Dia sudah tidak bisa berjalan, berusaha berteriak meminta bantuan, tapi suaranya parau tak terdengar akibat menahan sakit luar biasa. Tubuhnya mengalami luka-luka, kotor dan memar, serta darah merembes di kepala dan mulut.


“A-Akh….”


Saat ia kembali bersuara ke arah M dengan tangan terangkat seakan-akan hendak menggapai mereka, tiba-tiba leher dan bahunya diikat oleh rantai besi, kepalanya dibelah dua menggunakan senjata bergerigi mesin dari belakang, membuat darah disertai cincangan otak menyebur kemana-mana seiring gerigi senjata itu memotongnya.


Entah siapa yang telah membunuh Rogue itu secara mengerikan. Yang jelas, sosok itu menyeringai lebar di bawah naungan kegelapan bangunan.


...~*~*~*~...

__ADS_1



__ADS_2