
“Bayangan Hologram!”
Sebuah bayangan hologram berbentuk menyerupai tubuh Mardin tiba-tiba muncul di samping Boomer, bersiap menebasnya menggunakan golok holografik. Reflek Boomer melompat mundur.
Baru saja menghindari serangan bayangan, sosok Mardin berlari cepat ke arahnya. Pemuda berambut merah itu melesat, mengayunkan goloknya ke arah Boomer. Boomer pun terhuyung mundur. Lehernya sempat tergores sedikit mengenai ujung golok Mardin hingga setetes darah terciprat ke udara.
Lagi-lagi Mardin berlari ke arah Boomer bersama satu bayangannya dengan masing-masing golok siap menebas. Tak ingin terpojok lagi, Boomer kembali melemparkan banyak bom ke arah Mardin. Terpaksa Mardin mundur menghindarinya, membiarkan satu bayangan lenyap kena ledakan.
Walau satu bayangan lenyap, Mardin masih bisa menciptakan bayangan hologram lain dengan jentikan jari. Otomatis satu bayangan muncul tepat di atas Boomer, berputar di udara, lalu mendarat sambil mengayunkan tebasan. Spontan Boomer melompat ke samping menghindari serangan tersebut.
Setelah posisinya cukup jauh dari bayangan maupun dari Mardin sendiri, Boomer mulai menggunakan senapan serbu, menembak tubuh asli Mardin. Bukannya kena tembak, tubuh Mardin malah berubah menjadi bayangan holografik lalu lenyap setelah ditembak, sedangkan bayangan holografik yang sempat menyerang Boomer berubah menjadi tubuh aslinya.
“Jurus apa yang digunakan bocah itu?” desis Boomer jengkel sambil mengokang senapannya.
Tanpa basa-basi, Mardin berlari cepat ke arah Boomer. Boomer terus menembak Mardin, tapi tak ada satupun peluru mengenainya karena Mardin bergerak sangat lincah, beberapa peluru juga bisa ditangkis menggunakan permukaan golok.
Segera Mardin melompat tinggi, kemudian melesat sambil mengayunkan goloknya lagi. Boomer hampir tak sanggup menghindar. Dia mencoba menahan tebasan Mardin dengan senapannya, tapi malah senapan itu belah jadi dua.
“Ap—.”
Mardin tidak memberi kesempatan Boomer berucap. Pemuda itu langsung menendang tubuh Boomer hingga terpental jauh.
“Uhuk! Uhuk!”
Boomer sempat jatuh telentang akibat tendangan Mardin. Beruntung, ia masih bisa bangkit walau darah sudah mulai keluar dari mulutnya.
“Anak itu punya Unsur Ru yang aneh,” batin Boomer sambil berusaha bangkit, “Dia dapat menciptakan bayangan hologram. Bukan hanya memanfaatkannya sebagai bantuan tambahan, bayangan itu juga bisa digunakan sebagai perantara teleportasi.”
Boomer mengangkat kepala, melihat sosok Mardin masih berdiri di sana sambil memutar-mutar santai goloknya. Wajah pemuda itu sama sekali tidak menampakan rasa lelah, bahkan tidak terlihat luka-luka di sekujur tubuhnya. Malahan, ia memberikan senyum ramah pada Boomer seakan-akan pertarungan ini bukanlah sesuatu yang serius.
Apanya yang tidak serius?! Pertarungan ini menggunakan nyawa sebagai taruhan. Salah satu dari mereka harus mati agar dinyatakan kalah.
Itulah aturan pertarungan antar pembunuh di planet berbahaya ini.
“Cukup, bocah tengil!”
Ransel besi yang selama ini Boomer bawa di belakang bertransformasi menjadi sepasang minigun berukuran besar. Melihat si pak tua mengeluarkan senjata andalan membuat Mardin mengangkat kedua tangannya, tapi satu tangan masih setia memegang golok.
“Waduh, Pak. Serius, pakai kayak begituan?” tanya Mardin dengan ekspresi dibuat kaget. “Kalau tahu begini, mending saya pamit undur diri. Minggu ini musti siap-siap pergi ke kondangan kerabat Nenek Kos lho, Pak…”
“Aku tidak peduli!” teriak keras Boomer. “Dari tadi kau terlihat bersungguh-sungguh ingin membunuhku. Sekarang, giliranku memberikan serangan fatal sampai tubuhmu hancur berkeping-keping!”
Tembakan beruntun dari dua minigun dilancarkan. Mardin menghindari setiap tembakan. Tapi kali ini ia kembali menggunakan skateboard-nya, meluncur cepat sambil terus menghindar.
__ADS_1
Gerakan meluncurnya sangat cepat dan lincah, tak ada satu pun peluru yang mampu menyentuhnya. Bahkan masih dalam keadaan meluncur, Mardin sempat agak berjongkok, menangkis semua hujanan peluru menggunakan golok.
Boomer makin kesal karena semua serangannya tidak ada yang kena. “Ergh! Makan ini, bocah sialan!”
Moncong salah satu minigun bertransformasi menjadi moncong meriam laser. Boomer pun langsung menyemburkan cahaya laser ungu ke arah Mardin beberapa kali. Tentu saja, Mardin masih sanggup menghindar sambil berseluncur di atas skateboard. Malah wajahnya menampakan senyum sumringah saking senangnya dengan pertarungan ini.
“Kau kira cuma kau saja yang punya mainan itu?”
Masih berseluncur, Mardin memutar goloknya sampai bertransformasi menjadi pistol blaster. Ia pun bersalto tinggi menyamping. Saat di posisi terbalik di udara, Mardin membidik.
“Aku juga punya!”
“Meriam Laser!”
Lingkaran hologram biru disertai rumus-rumus angka muncul di depan moncong pistol. Ketika pelatuk ditekan, sinar laser biru disemburkan melewati lingkaran tersebut, melesat menuju Boomer.
“Aaaakh!”
Serangan tersebut memang tidak mengenai Boomer langsung, tapi cukup membuatnya terpental jauh akibat ledakan yang dihasilkan.
Asap mengepul semakin tebal, menutupi pemandangan sekitar. Boomer berusaha kembali bangkit dengan luka dan memar tak terhitung, mulut dan kepalanya juga sudah mengeluarkan cukup banyak darah. Kepalanya celingukan, waspada terhadap serangan dari berbagai arah.
Ketika kepulan asap semakin menipis, Boomer membelalak melihat sosok Mardin meluncur jauh ke arahnya, jongkok sambil menyeret goloknya di aspal. Saat golok itu diseret, bekas goresannya di aspal menimbulkan segaris cahaya neon biru yang indah. Selain itu, segaris biru pada desain goloknya pun juga ikut menyala semakin terang disertai suara mendesir kecil.
Disertai senyum lebar nan ceria, Mardin meneriakkan jurusnya, “Tebasan Neon Biru!”
Sekarang, Boomer sudah tidak memiliki senjata lagi. Saat berusaha merogoh saku pun, dia sama sekali tidak menemukan bom ataupun granat. Ditambah lagi, tubuhnya yang dipenuhi luka sudah tak sanggup untuk meneruskan pertarungan.
Mardin benar-benar tidak memberikan Boomer kesempatan tuk menarik nafas sejenak. Satu bayangan hologram muncul di atas Boomer, melesat ke arahnya lalu menusuk perut Boomer sampai telentang di tanah.
“Argh!”
Bayangan hologram itu berubah menjadi wujud Mardin yang asli, menindih tubuh Boomer. Ia angkat golok itu ke atas, diputar sebentar, kemudian ditusukkan ke bahu kiri Boomer.
“Aaaarrrgggh!!!”
Boomer menjerit kesakitan. Darah menyembur cukup banyak dari luka di bahunya, bahkan tak tanggung-tanggung Mardin semakin menusukan goloknya sambil sedikit digerakkan di dalam luka, membuat darah makin banyak merembes keluar.
Boomer kesakitan, batuk memuntahkan banyak darah. Pertarungan ini sungguh membuatnya benar-benar berada di ujung kematian.
Pemuda ini….
Pemuda yang saat ini menindih tubuhnya di atas bukanlah Rogue biasa. Dia sangat tertarik dengan pertarungan yang berhubungan dengan taruhan nyawa. Bisa dilihat dari betapa senangnya ia menikmati segala bentuk serangan.
Tatapan mata biru gelap mengkilat, dan senyum ceria di wajah lugunya yang sedikit kotor oleh cipratan darah. Pemuda ini benar-benar sakit jiwa.
__ADS_1
“Nah, Bapak.”
“Argh! Aaarrrgh!!!”
Mardin semakin dalam menusukan goloknya sampai menembus ke belakang bahu, menancap di aspal.
“Bagaimana menurutmu, hah? Cukup seru?” Sesaat Mardin melihat pemandangan sekitar yang masih penuh oleh kepulan asap ledakan. “Aku bisa saja menghabisimu sejak awal dengan serangan Meriam Laser tadi, tapi tidak seru kalau enggak ada atraksinya.”
Mardin terkekeh senang, memberi senyuman secerah mentari disertai tatapan polos ke arah Boomer.
“Tadi itu menyenangkan, ya? Karena sudah menjadi peraturan bahwa salah satu dari pembunuh yang bertarung harus mati, apa kau punya kata-kata terakhir? Mungkin aku bisa menyampaikan salam pada kerabat atau temanmu. Kalau mereka enggak macam-macam, aku enggak bakal ngapa-ngapain mereka, kok. Tenang saja.”
“Kau….”
Di saat seluruh tubuhnya hampir mati rasa, nyawa sudah di ujung tanduk, Boomer memberikan seringai remeh pada Mardin. Hal itu tentu membuat Mardin menaikan sebelah alisnya heran.
“Aku baru sadar… kau punya rambut merah dan bentukan wajah yang familiar….”
Wajah ceria Mardin berubah datar disertai tatapan menajam. Dia mengerti mau kemana arah pembicaraan pria tua ini.
“Iya…. Kau mirip…. Mi-mirip sekali dengan orang itu. Si Buas…. Si Iblis Buas gelarnya….”
Kilatan biru samar-samar muncul seiring semakin tajamnya tatapan yang ia perlihatkan. Sudah Mardin duga….
Sambil menahan sakit yang luar biasa, memuntahkan sedikit darah, Boomer berusaha bicara, “… Sesosok Rogue yang dikenal mampu… menumbangkan banyak Guild seorang diri. Heh. Dia dipuja, tapi terhina pula. Dia… dia….”
“Dia sebenarnya hanyalah makhluk lemah!” Boomer berteriak histeris. “Dia lemah hanya karena satu j*lang!”
Seketika mata biru Mardin berubah menjadi perak, sebagian bola mata putihnya pun mulai sedikit dilapisi warna hitam.
“Pada akhirnya, ia tumbang karena teringat oleh j*lang tersebut! Tubuh yang selalu digunakan untuk membunuh orang ternyata berisi hati selemah kapas! Hina! Menjijikan! Sejak awal, dia tidak pantas dipuja pembunuh manapun!”
Tak terasa kedua tangan Mardin terkepal erat hingga bergetar hebat.
“Wajahmu, senyummu, dan gaya bertarungmu mengingatkanku pada makhluk menjijikan itu! Si Iblis Buas! Rupanya…. Rupanya aku sadar kalau—.”
Segera Mardin mencabut goloknya dari bahu Boomer, menyayat mulut Boomer lalu memenggal kepalanya sampai lepas. Darah menyembur banyak dari luka leher Boomer, kepalanya pun menggelinding di aspal menjauh dari tubuhnya.
Mardin tertunduk dengan bahu naik-turun, nafasnya berat tak teratur. Beberapa detik dia terdiam dalam posisi seperti itu. Akhirnya, Mardin berusaha mengatur nafasnya, menenangkan dirinya sendiri dari guncangan batin yang entah datang begitu saja.
“Ngh….”
Mardin merasakan ada sesuatu keluar di antara bahu dan leher kirinya. Beberapa sulur kecil keluar dari sana, perlahan membentuk batang tanaman berwarna hijau gelap dengan bagian kepala merah dipenuhi oleh benang-benang merah pula. Wujud tanaman itu mirip dengan Tanaman Drosera, tapi lebih menjijikan karena bagian benang-benang dan kepalanya berlumuran darah.
“Kau hampir emosi hanya karena diledek orang sekarat?”
__ADS_1
...~*~*~*~...