Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 11 : Pecel Nek 'Cel


__ADS_3


Tak terasa hari sudah siang. Terik mentari meninggi, nampak jelas di langit biru nan cerah itu. Udara berhembus terasa sangat sejuk menyentuh kulit. Jalan setapak di pinggir sungai terlihat sangat sepi, begitu lenggang tak ada yang lewat. Di sisi lain jalan juga ada hamparan rumput hijau bergoyang ditiup angin siang.


Dua pemuda remaja berjalan santai beriringan di jalan setapak itu. Satunya berseragam agak berantakan, berjalan membawa skateboard sambil bersiul. Sedangkan satunya lagi masih berseragam rapi, memakai kacamata bulat, serta penampilan yang terlihat cukup culun.


“Waaah! Tak terasa sekolah sudah berakhir,” ucap pemuda berantakan itu riang setelah bersiul. “Rasanya, gimana… gitu kalau enggak sekolah. Agak kurang gitu ramenya.”


“Kau ‘mah sekolah cuma cari anarkisnya,” sarkas si culun. “Eh! Kudengar, para Gamma sudah melakukan pemeriksaan dan perbaikan cepat di jalan kota tempat kejadian peledakan tadi.”


“Gamma udah ada di sana? Wah, gercep juga mereka. Beruntung, aku sempat kabur.”


Mardin beruntung bisa cepat-cepat pergi dari sana sebelum anggota Gamma dari Guild Jaguara datang. Kalau mereka sempat menemukan keberadaan Mardin di sana, mungkin dia akan diburu sebagai Rogue berbahaya.


Ketika mereka berjalan santai, Mardin girang menemukan seorang nenek berkursi roda menjual pecel di pinggir jalan setapak tersebut.


Nenek itu nampak duduk tenang di kursi roda dekat pohon sambil menatap lurus pemandangan indah sungai yang berkilau akibat pantulan cahaya mentari. Di atasnya terdapat payung yang dipasang di bagian sandaran kursi roda, satu-satunya alat untuk melindunginya dari sinar mentari dan juga hujan. Di pangkuannya tersedia berbagai jenis bahan campuran untuk menu pecel, mulai dari sayur-sayuran, sambal kacang, sampai goreng-gorengan.


“Nek ‘Cel! Nek ‘Cel!”


Mardin berlari girang menghampiri nenek tersebut. Dimas sendiri hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kekanak-kanakan Mardin, lalu memutuskan berjalan menyusulnya.


Sahabat Dimas ini kalau sudah ketemu pecel, senangnya minta ampun. Pecel adalah makanan kesukaan Mardin, apalagi kalau pecel tersebut buatan Nek ‘Cel ini. Makanya, Mardin menjadi langganan Nek ‘Cel sejak lama.


Sebutan Nek ‘Cel untuk pedagang pecel ini bukanlah nama asli. Tidak ada yang tahu nama aslinya. Dia hanya ingin dipanggil Nek ‘Cel atau Nenek Pecel oleh para pembelinya.


“Wah, Nak Mardin….”


Dari wajah keriputnya, Nek ‘Cel tersenyum melihat pembeli langganannya datang dengan riang, antusias ingin membeli dan merasakan pecel buatannya.


“Mau beli pecel Nenek?” tanya Nek ‘Cel ramah.


“Iya, Nek!” jawab Mardin riang. “Saya pesen tiga porsi. Dua dibungkus, satunya makan di sini. Mau temenin Nenek sebentar, soalnya.”


“Kamu anak yang baik, Nak Mardin. Tidak perlu repot-repot menemani Nenek di sini. Nenek sudah biasa jualan sendirian.”

__ADS_1


Mardin terkekeh sesaat. “Heheee…Jangan gitulah, Nek. Saya kalau langsung balik ke kos jadi kesepian juga. Mending dimari dulu, santai-santai kita. Ya, enggak?” Lalu ia bertanya pada Dimas yang sudah berdiri di belakangnya. “Kau juga mau, Dim? Aku bayarin, deh.”


“Beneran nih dibayarin?” tanya Dimas antusias. “Ya, udah. Aku pesan dua. Satu makan di sini, satunya dibawa pulang.”


“Yeee…. Giliran ditraktir, ngelunjak beli dua,” ledek Mardin sedikit memajukan bibirnya, pura-pura kesal.


“Aelah~ Mumpung temen mau bayarin. Jarang-jarang kau mau bayarin temen sendiri,” balas Dimas pula.


“Kan aku kasih traktir biar bisa temenin Nek ‘Cel di sini.” Mardin pun tersenyum pada Nek ‘Cel. “Kami tunggu di bawah pohon sini ya, Nek.”


“Iya…. Tunggu Nenek bikinin, ya. Maaf kalau agak lama.”


Mardin mengangguk, tersenyum sopan. “Enggak apa-apa, Nek. Kami juga enggak buru-buru dikejar Satpol PP. Adoh!”


Mendadak Dimas memukul gemas bahu Mardin. “Kau kira kita kena razia pakai dikejar Satpol PP? Lagian, di planet kita kagak ada yang kayak begituan. Yang ada para Gamma noh, peran mereka hampir sama kayak petugas keamanan.”


“Iye, iye. Kan aku cuma mau ngelawak.” Mardin berjalan ke pohon sambil mengelus bahunya yang kena pukul.


“Garing banget kayak kayu rapuh.”



Siang terik begini, duduk santai di bawah pohon disertai hembusan angin sepoi-sepoi bikin suasana adem. Apalagi sambil makan pecel, rasanya makin nampol.


“Haaah….” Mardin meletakan skateboard-nya di samping, duduk selonjoran di bawah pohon. “Enak ya AC-nya.”


Duduk di samping Mardin, Dimas sempat celingukan bingung. “Lah? Mana ada AC di alam terbuka begini.”


“Angin Cepoy-cepoy.”


Dimas menatap datar Mardin.


Mardin malah balas nyengir disertai senyum lebar menampakan gigi kinclongnya.


Nih, kalau pohon ini bisa ditebang, Dimas tebang terus dipukulin langsung ke otak Mardin biar waras. Lama-lama capek Dimas punya temen sakit jiwa kayak Mardin begini.

__ADS_1


“Mard.”


“Yak?”


Dimas berusaha tenang, tahan emosi. “Mending jangan ngelawak lagi, deh. Sumpah, lawakanmu garing banget, Mard. Udah garing, basi lagi. Ampe mules dangdutan perutku nahan emosi gara-gara kegaringan lawakanmu.”


“Kalau basi ‘kan bukan garing, tapi jadi lembek lemes kayak yang punya lagi impoten.”


Dimas menarik nafas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya. Ditatap pula dahan pohon besar di atas mereka itu.


Kalau dipikir-pikir, bagus kali yak gantung diri gara-gara enggak sanggup nahan derita punya temen rusak.


“Hahahaha….” Mardin malah ngakak melihat reaksi datar Dimas menanggapi sifat nyelenehnya. “Maaf ‘lah, Dimas. Kau tahu sendiri aku ini orangnya suka ngaco-ngaco dikit, gitu.” Kemudian, Mardin alihkan topik pembicaraan sambil mencabut setangkai rumput. “Besok ‘kan libur, nih. Ada rencana, enggak?”


Dimas malah melotot ditanya begitu. “Jangan-jangan, kau mau ajak aku kencan besok?”


Tanpa ragu Mardin menoyor kepala Dimas. “Jangan mikir macem-macem ‘lah, ketumbar jinten. Aku mau ngajak kau jalan, keliling-keliling kota bareng Bobby sama Cungkring juga. Berempat kita pergi, biar dikata boyband lagi catwalk. Puas?”


“Ahahaha….” Sekarang giliran Dimas yang ngakak. “Cuma bercanda ‘lah, Mard. Kita ‘mah masih lurus-lurus aja.” Ia pun menjawab pertanyaan Mardin tadi, “Besok aku pengen kerja lebih awal di bengkel. Kau tahu sendiri ‘kan aku lagi butuh duit buat pengobatan ibuku.”


Mardin mengangguk mengerti, mulai menggigit setangkai rumput yang ia cabut.


Seingat Mardin, ibu Dimas memang tengah mengidap kanker otak. Dimas membutuhkan uang lebih untuk biaya pengobatan sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah Dimas sendiri sudah meninggal sejak Dimas masih kecil karena menjadi korban monster. Cuma Dimas seorang yang menjadi tulang punggung keluarga.


Karena Dimas ini jenius, paham betul dengan ilmu permesinan, maka dia bekerja di sebuah bengkel motor. Bukan hanya itu, Dimas juga membuka jasa perbaikan mesin di garasi rumahnya. Skateboard dan golok milik Mardin sendiri hasil modifikasi dari Dimas, sedangkan ide konsepnya tetap dari Mardin.


Itu sebabnya mereka bisa menjadi sahabat akrab. Dimas membantu Mardin dalam memodifikasi senjatanya. Sedangkan Mardin membantu Dimas dan melindunginya dari perundungan di sekolah, serta bahaya dari para monster dan Rogue yang masih berkeliaran di kota. Mardin juga tak lupa membayar jasa modif Dimas dengan bayaran besar agar membantu sahabatnya itu mengumpulkan uang berobat untuk ibunya.


Kedua mata Mardin mulai menatap sendu langit biru, melamun memikirkan sesuatu. Kalau dipikir-pikir, Dimas masih beruntung punya ibu. Dia masih bisa berbakti dan menyayangi ibunya sebisanya. Tidak seperti Mardin yang tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini.


Andai saja Mardin masih punya orang tua, dia ingin sekali menjadi anak yang berbakti juga.


...~*~*~*~...


__ADS_1


__ADS_2