Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 35 : Gudang Bar


__ADS_3

Setetes demi setetes air hujan turun dari langit, perlahan makin bertambah, makin banyak menjadi rintik-rintik hujan disertai petir, membasahi jalanan kota yang kini mulai sepi dari aktivitas masyarakat berlalu-lalang.


Bar Rodeo milik Paman Rom juga baru saja tutup, para pekerjanya pun memilih pulang lebih awal karena takut badai hujan makin mengganas.


Di gudang belakang bar, Ranma baru saja selesai menyimpan botol-botol minuman. Wajahnya menampakan rasa lelah setelah selesai beres-beres. Pekerjaan yang awalnya padat kini terhenti karena badai hujan sebentar lagi akan menerpa.


Mata hazelnya sempat melihat ke luar pintu gudang yang masih terbuka lebar. Dia ingat kalau Mardin masih belum kembali juga setelah mengantarkan paket. Walau sebal dengan tingkah laku jahil Mardin, tapi Ranma sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Justru itu, dia sedikit khawatir dengan keadaan Mardin sekarang.


Namun biar badai sekalipun, ia yakin Mardin akan baik-baik saja. Jangankan badai, ibarat dikeroyok satu batalion pasukan militer pun Mardin masih sehat-sehat saja.


Secara fisik, entah kalau otaknya.


Ranma melangkah mendekati pintu lebar itu, hendak menutupnya. Tapi niatnya tertahan saat melihat ada bayangan besar dari kejauhan menghampiri tempat tersebut. Bayangan itu tak nampak jelas biarpun Ranma mencoba melihatnya dengan kedua mata menyipit. Keadaan gelap gulita di belakang bar itu yang membuat apapun obyeknya tak nampak jelas.


Bayangan itu semakin dekat. Dan ketika kilat disertai petir keras menyambar, Ranma langsung mengenali siapa sosok dari bayangan itu.


“Malam, Bang!”


“Hn.”


Untung saja Ranma tidak heboh kagetnya. Dia terbiasa menjadi orang bermuka datar. Jadi, dikejutkan dengan cara apapun takkan mempan padanya.


Rupanya Mardin yang baru saja tiba di belakang gudang, mengendarai skateboard sambil membawa kantung hitam yang cukup besar melebihi ukuran tubuhnya sendiri. Memasuki gudang, Mardin turun dari skateboard, langsung membanting kantung itu di sudut ruangan sambil berusaha menetralkan nafasnya akibat lelah.


Tentu saja Mardin lelah setelah mengendarai skateboard dengan sangat cepat sambil membawa kantung sebesar itu, malah mode skyboard-nya masih belum bisa digunakan. Tapi kalau digunakan di cuaca seburuk ini bakal berakibat buruk juga.


“Paketnya udah diantar?” tanya Ranma sambil mulai menutup pintu lebar gudang.


Setelah nafas Mardin terasa normal, ia menoleh, “Bukannya ditanya keadaanku baek apa kagak, malah nanya paket pula. Enggak perhatian kali jadi abang,” sewot Mardin.


“Lah…. Kau ini, enggak perlu ditanya keadaanmu pun, kau pasti baik-baik saja.” Kemudian, Ranma mengunci pintu gudang dengan menggesekan kartu kunci pada slot di tengah pintu. “Enggak ada tuh kelihatannya luka-luka di tubuhmu.”


“Dih~.”

__ADS_1


Mardin mulai membuka isi kantung hitam besar yang ia bawa. Ketika selesai mengunci pintu gudang, Ranma sempat mengintip dari belakang Mardin, penasaran dengan isi kantong yang pemuda itu bawa dari tadi.


“Apa yang kau bawa? Mayat orang?” tebak Ranma asal.


Mardin menoleh dengan muka dibuat-buat terkejut. “Ish, kok tahu?”


Mata Ranma setengah melotot, tidak menyangka tebakannya bakal benar. Malam-malam begini, mau badai, tahu-tahu pulang bawa mayat. Emang sinting Ranma rasa adik angkatnya ini.


“Enggak cuma satu mayat, sih. Tapi dua. Nih….”


Dengan entengnya Mardin memperlihatkan dua mayat di dalam kantong tersebut. Kedua mayat pria itu terlihat masih segar. Ranma tebak, mereka baru saja mati beberapa saat yang lalu. Dan tentu saja penyebab kematian mereka adalah Mardin sendiri.


“Mereka Rogue, ya?” tanya Ranma enteng.


“Iya. Mereka sempat hampir menyusup ke vila buat menculik anak-anak di sana. Ya, enggak ada pilihan lain dong selain bunuh mereka berdua buat ngelindungin anak-anak.”


Jawaban Mardin ini cuma alibi. Nyatanya dia bakal tetap membunuh mereka kalau keduanya merupakan Rogue yang dianggap mengancam.


“Ish, ish, ish….” Ranma menggelengkan kepala. “Kau ini…. Seharusnya, kau tidak boleh main bunuh orang begini.”


Mardin jadi bingung. Pasalnya, alasan Mardin membawa kedua mayat ini agar bisa dijual oleh pihak Paman Rom, termasuk Ranma sendiri sebagai putra kandung Paman Rom. Kok Ranma malah berkata demikian seakan-akan tindakan Mardin ini salah.


Memang yang namanya membunuh pasti merupakan tindakan salah. Tapi beda keadaan kalau hal-hal seperti ini terjadi di Planet Urdalin. Pembunuhan dianggap sebagai hal lazim di sini.


“Tunggu, tunggu. Bukannya biasanya kau iya-iya aja kita jual organ-organ tubuh para Rogue seperti ini?” tanya Mardin bingung.


Beberapa saat ada jeda di antara perbincangan mereka berdua. Mardin masih menatap Ranma bingung, sedangkan Ranma sendiri terlihat tanpa ekspresi.


Diamnya suasana itu berlangsung beberapa menit sampai akhirnya Ranma kembali bersuara.


“Kau anggap tadi serius? Tadi itu aku bercanda, lho.”


“Hah?”

__ADS_1


Mardin jadi dibuat makin bingung, dong. Tadi Mardin dinasihati kalau membunuh itu tidak baik, sekarang malah ucapan Ranma tadi dianggap bercanda.


Dengan wajah masih datar, Ranma mengibas-ngibaskan tangan. “Hei, tadi itu aku cuma sok-sok’an menasihatimu. Aslinya ‘mah enggak apa-apa kau bawa mayat-mayat ini kemari. Justru aku bersyukur. Lumayan ‘lah buat nambah-nambah modal dari hasil penjualan organ tubuh mereka.”


Mardin menganga melihat reaksi datar Ranma. Kalau nasihat tadi dianggap bercanda, sungguh kedengarannya sama sekali tidak lucu, apalagi Ranma mengatakannya dengan raut datar seperti biasanya.


Pemuda remaja itu cuma bisa geleng-geleng kepala. Sumpah, orang datar macam Ranma enggak ada bakatnya buat ngelawak.


“Ya, udah. Kau langsung bawa dua mayat itu ke ruang operasi. Aku bakal siapin peralatan dan tabung-tabung organnya, oke?” Kemudian, Ranma berjalan menuju ruangan lain di depan gudang.


“Siap, Bos!” ucap riang Mardin sambil memberi hormat.


Setelah Ranma pergi, Mardin pun membawa kantung besar berisi dua mayat itu ke dalam salah satu ruangan di samping gudang. Ruangan itu merupakan ruang khusus operasi dan pembedahan organ tubuh mayat-mayat yang akan dijual. Tempat itu sudah diberi tanda peringatan bahwa hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk, jadi cukup rahasia.


“Asek! Panen, panen, panen!” Dengan senangnya, Mardin membawa masuk kantung mayat-mayat itu, lalu menutup pintu ruangan tersebut.


...~*~*~*~...


Rintik-rintik hujan terdengar deras membasahi seluruh Kota Kamaju, termasuk di salah satu daerah tempat orang yang satu ini tinggal.


Di salah satu unit apartemen, sosok Haku duduk dengan tenang di sofa panjang menghadap ke kaca balkon. Haku duduk sambil menikmati pemandangan hujan di luar sana. Di atas meja terlihat sebuah laptop dengan monitor masih menyala menampakan beberapa data-data yang telah ia ketik, dan sesekali ia menyesap secangkir kopi hangat.


Suasana malam ini begitu menenangkan menurutnya. Ketika meneguk kopi sedikit demi sedikit, rasa hangat menyebar ke seluruh tubuh, membuat dirinya merasa jauh lebih nyaman dan damai. Namun, ketenangan ini tak berlangsung lama ketika suara panggilan ponselnya mulai mengganggu.


Bukan sekedar panggilannya yang menganggu, tapi juga suara panggilan ponselnya.


“Aku tak mau dikalau aku dimadu. Ngek! Ngek! Pulangkan saja ke rumah ayah gulaku.”


Rasa tenang di apartemen itu seketika sirna begitu saja. Sejak Haku pergi meninggalkan markas Guild Yatshuhama, dia lupa mengganti nada panggilannya. Nada panggilan itu sengaja dipasang oleh juniornya untuk menjahilinya.


Biasanya ponsel Haku dibiarkan dalam mode diam. Dan ketika ia mematikan mode diam, dia baru sadar kalau nada panggilan tersebut lupa diganti.


Dengan bete Haku menyambar ponsel pintarnya. Makin betelah dia ketika melihat nama orang yang berusaha menghubunginya itu.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2