
Langit malam dihiasi oleh taburan bintang dan diterangi dua satelit alami sekaligus yang setia mengorbit Planet Urdalin. Malamnya di Kota Kamaju termasuk neraka dunia bagi warga sipil yang masih nekat berkeliaran tanpa tahu cara melindungi diri.
Contohnya seperti sekarang. Ada sepasang suami istri bersama anak laki-lakinya terlambat pulang ke rumah, tiba-tiba di kepung oleh sekelompok Rogue Pembunuh di jalan. Keluarga itu duduk di tanah sambil saling memeluk satu sama lain ketika mereka dikepung. Apalagi ketiganya makin histeris ketakutan saat melihat supir taksi yang mengantar mereka dibunuh keji di hadapan mereka, perlahan mulai dimutilasi untuk diambil organ-organnya.
“Kyaaaa!”
Sang istri menjerit melihat dua Rogue sengaja mengeluarkan buraian usus mayat sang supir di hadapan mereka. Satu Rogue yang merupakan ketua kelompok tersebut berdiri di hadapan mereka bertiga, tertawa jahat melihat reaksi ketakutan itu.
“Hoho…. Kalian takut cuma melihat yang kayak begituan?” tanya iseng sang ketua. “Bagiku, itu cuma terlihat seperti mie tebal dilumuri sambal cabe.”
“A-ampuni kami, Tuan….” Sang kepala keluarga memohon ampunan. “Biarkan kami pergi. Kami hanya keluarga kecil, tidak punya apa-apa. Kalau enggan membiarkan kami pergi, setidaknya biarkan putraku yang pergi.”
“Tidak, Ayah!” teriak putranya yang masih berusia sekitar delapan tahun.
Tak tanggung-tanggung Ketua Rogue menampar keras wajah si suami sampai berdarah. Dia jengkel melihat wajah memelas itu, sangat menjijikan di matanya.
“Tidak perlu sok mendramatisir keadaan! Cuih! Basi!” Ketua itu meludah. “Anak-anak, rampas apa saja yang ada pada mereka! Kemudian bunuh kedua orang tuanya biar organ-organ mereka bisa kita jual. Sedangkan anaknya, kita bisa jual dia dalam keadaan hidup-hidup.”
“Hehehehe….”
Beberapa Rogue mulai mendekati keluarga kecil yang terlihat makin ketakutan, sedangkan sisanya masih sibuk memutilasi. Ketiga orang itu saling berpelukan, memejamkan mata, membiarkan mereka merasakan kebersamaan untuk terakhir kalinya.
“Hehehe…. Yang mana dulu, ya?” Salah satu Rogue iseng memilih. “Sebaiknya, kepala keluarganya dulu. Istrinya masih bisa kita ajak main-main sebentar.”
Rogue itu mulai mengangkat belatinya tinggi-tinggi, bermaksud hendak membunuh si suami lebih dulu.
“Matilah kau, Baji— Akh!”
Belati yang ia angkat jatuh ke tanah. Rogue itu merasakan sakit di tangan yang masih terangkat ke atas. Ketika ia menoleh dengan ragu, tak disangka tangan itu bolong mengeluarkan darah.
“Aaaaarrrghhh!!!”
Sontak para Rogue melihat ke arah serangan tersebut berasal, tepatnya ke atas salah satu gedung setinggi lima lantai. Rupanya, tangan rekan mereka ditembak oleh seorang Sniper di sana.
“Gotcha!” Sniper perempuan itu mengedipkan sebelah matanya.
Sang Sniper memasukan peluru, mengokang senapan runduk berwarna merah mudanya, lalu kembali membidik.
“Giliran siapa lagi yang mau ditembak penuh cinta olehku…?” tanya Sniper itu dengan suara dibuat-buat imut.
Melihat Sniper perempuan tersebut nampak mempermainkan mereka, membuat ketua kelompok Rogue jengkel.
“Semuanya, tangkap j*lang it—.”
“Waargh!”
Mereka semua kembali dikagetkan dengan kehadiran beberapa pembunuh bertopeng jaguar. Para pembunuh itu segera menangkap beberapa Rogue yang sempat mengendorkan kewaspadaan.
“Gamma?” ucap sang ketua tak percaya.
“Mereka para pembunuh dari Guild,” kata salah satu Rogue.
Kelompok Rogue itu tidak bisa kabur lagi, mereka telah dikepung oleh para Gamma di berbagai sisi sambil bersiap mengeluarkan senjata masing-masing untuk mengintimidasi mereka.
__ADS_1
Ketua Rogue menyipitkan mata tajam. Tidak ada pilihan lain lagi. Mereka harus melawan para Gamma dulu. Dan jika ada kesempatan, mereka akan kabur.
“Ergh! Serang mereka!”
“HEEEEAAAARRRGGGHHH!!!”
Pertarungan pun terjadi antara kelompok Rogue melawan kelompok Gamma. Selama pertarungan terjadi, Rogue yang kena tembak di tangan makin kesal dan hendak membawa istri dari keluarga tersebut.
“Ekh! Kini kau harus membayar— Eek! Argh!”
Rogue itu gagal meraih sang istri karena salah satu Gamma sempat menginjak keras kaki belakangnya, membuat Rogue itu jatuh dan tak bisa bergerak.
“Kalian punya masalah dengan kelompok Rogue ini?” tanya dingin Gamma itu pada keluarga tersebut.
Ketiganya sama-sama menggeleng ketakutan, apalagi ketika melihat pertarungan anarkis ini. Sungguh membuat mereka syok.
“Kami tidak ada hubungan apa-apa dengan mereka. Mereka yang menyerang kami!” jawab panik sang suami.
“Kalau begitu, pergilah.”
“Te-terima kasih, Tuan Gamma,” ucap sang istri.
Dengan tenaga yang masih tersisa, ketiganya segera pergi meninggalkan wilayah kota itu. Sepeninggalnya angota keluarga tadi, sang Gamma menendang wajah Rogue tersebut.
Pertarungan terus berlangsung antara Rogue dan Gamma. Ketika seorang Gamma sibuk menangani beberapa Rogue, ada satu Rogue hendak menyerang menggunakan pedang dari belakang. Namun Rogue tersebut berhasil ditembak Sniper tadi di kaki sampai jatuh.
“Terima kasih, Delta Loli!” teriak Gamma itu.
“Fokus melakukan penangkapan sampai ada perintah selanjutnya dari atasan!” balas teriak Sniper sekaligus pemimpin kelompok Gamma tersebut bernama Loli.
Buru-buru Gamma tersebut kembali bertarung melawan Rogue, sedangkan Loli fokus membantu dengan menembaki Rogue dari atas gedung.
“Cih! Kemana sih dia?” gumam Loli jengkel sambil membidik.
Melihat pertarungan yang terjadi membuat ketua Rogue ketakutan. Mumpung fokus semua Gamma tertuju pada anak buahnya, ia mengambil kesempatan tuk kabur.
Ketua Rogue berlari secepat mungkin menjauh dari sana, memasuki sebuah gang sempit nan gelap. Namun tak diduga, seseorang terjun tepat di depannya dan langsung menusuk perutnya.
“Argh! A-akh…!”
Darah merembes keluar dari luka tusukan itu, tiga cakar besi yang mengkilat memantulkan cahaya malam dari sebuah gauntlet masih tertancap di perut Rogue sampai tembus ke punggung. Dengan kasar, sosok misterius itu mendorong Ketua Rogue menjauh hingga ketiga cakar panjang tersebut keluar dari perutnya.
Sontak Ketua Rogue kesakitan, mengeluarkan cukup banyak darah dari mulut dan perut, tapi masih bisa bertahan walau badannya perlahan mulai kehilangan keseimbangan untuk berdiri.
Dia tidak bisa melihat begitu jelas sosok yang telah berani menusuknya. Gelapnya gang membuat fisik dari sosok itu tak nampak, dan yang terlihat jelas hanyalah kilatan dari tiga cakar tajam itu.
“Wah, wah, wah…. Ketua yang sangat tidak bertanggung jawab.” Dari suara baritonnya bisa ditebak kalau pelaku penusukan merupakan seorang pria dewasa. “Kau masih bisa berjalan?”
Ketua Rogue mendesis. Di saat kritis kehabisan cukup banyak darah begini, ia masih bisa merasa kesal dengan pria tersebut.
Karena mendapat balasan dingin, pria itu merespon santai, “Diseret sajalah.”
Si pria menendang sang ketua sampai jatuh, menusuk bahunya, kemudian menyeretnya begitu saja keluar dari gang menggunakan ketiga cakar itu. Tentu Ketua Rogue semakin kesakitan saat dalam keadaan terluka parah seperti ini malah ditusuk lalu diseret kasar begitu.
Kini semua Rogue sudah berhasil dikumpulkan. Kelompok Gamma baru saja selesai membereskan para Rogue, malah dikejutkan dengan lemparan tubuh Ketua Rogue dari kejauhan, tepat menimpa kumpulan Rogue lain. Ketika mereka menoleh ke arah asal, rupanya seseorang yang melempar tubuh tersebut.
Seorang pria dewasa berjalan dengan penuh wibawa disertai tiga cakar dari gauntlet-nya mengacung tajam memantulkan kilatan cahaya, berjalan keluar gang. Perlahan penampilannya terlihat jelas setelah keluar dari kegelapan. Nampak pria dewasa itu berbadan tinggi, berambut cokelat kemerahan tebal, dan memakai pakaian formal dengan jas merah kecokelatan yang sengaja disampirkan di bahu sebagai jubah. Selain itu, satu mata sebelah kirinya ditutup eyepatch hitam.
__ADS_1
“Tisu, Alpha?” Salah satu Gamma menawarkan tisu yang ia bawa ketika melihat senjata pemimpin utama mereka berlumuran darah.
“Terima kasih, Gamma.”
Dengan tenang pria yang merupakan Alpha dari Guild tersebut mengambil tisu itu, digunakannya untuk membersihkan lumuran darah dari ketiga cakar canggihnya.
“Alpha M!!!”
Loli berteriak menyapa sang Alpha sambil berayun dari atas gedung menggunakan tali pengait pada senapan runduknya. Kemudian, ia mendarat dengan baik tepat di samping pria itu.
“Tumben kau sudi keluyuran malam-malam begini bareng kami,” ucap Loli santai sambil memanggul senapan merah muda itu di bahu.
“Aku cuma ingin memastikan keadaan di sini. Kudengar, masih banyak Rogue berkeliaran di daerah sektor sini.” Setelah dirasa cakarnya bersih, M membuang tisu itu ke tempat sampah depan ruko terdekat.
“Seperti yang kau lihat, merekalah contohnya.”
M berjalan menghampiri kumpulan Rogue yang telah mereka tangkap. Kebanyakan dari mereka mengalami luka akibat sempat melakukan perlawanan, sisanya tak sadarkan diri.
“Laporan.” Ketiga cakar M otomatis masuk ke dalam bagian punggung tangan gauntlet.
Salah satu Gamma langsung menjawab, “Rogue-Rogue ini sudah membantai warga sipil di sektor sini sejak tiga hari yang lalu.”
“Berapa banyak jumlah korbannya?”
Sesaat si Gamma memeriksa laporan lewat ponselnya. “Sekitar 73 orang, di antaranya anak-anak, lansia, dan orang cacat. Dan salah satunya supir tadi,” tunjuknya pada mayat supir yang sudah dimutilasi.
“Haaah….”
M menghela nafas berat. Hal seperti inilah yang membuat wilayah kekuasaannya jadi semakin sulit diurus. Guild mereka kekurangan anggota, sehingga tingkat keamanan kota mengendur, membuat Rogue semakin banyak menyusup.
Kalau terus seperti ini, cepat atau lambat Guild mereka bakal runtuh, dan orang-orang tidak bersalah di kota ini akan menjadi korban dari para monster maupun pembunuh lain di luar sana.
Para Gamma nampak tegang memegang senjata masing-masing seakan-akan berusaha menahan sesuatu dalam diri mereka. Mereka harus tetap menahan keinginan mereka ketika melihat para Rogue meresahkan itu sampai M memberi perintah.
Sempat M memijit pelipisnya sebentar sembari berpikir mengambil keputusan. Setelah sudah diputuskan, M memberi perintah, “Lakukan eksekusi di tempat.”
Di balik masing-masing topeng jaguar, terukir seringai lebar yang sangat mengerikan dari wajah para Gamma. Sesuai perintah sang Alpha, semua Gamma langsung melakukan eksekusi di tempat yang berarti…
Mereka membunuh semua Rogue.
“Arrrgggh!!!”
“Aaaakh!!!”
“Waaaarrrgggh!!!”
Jeritan tersiksa menggema di sepanjang daerah sektor tersebut. Para Gamma membunuh semua Rogue dengan cara tidak manusiawi. Sifat naluriah seorang pembunuh begitu melekat pada diri mereka, sehingga mereka begitu senang membunuh Rogue-Rogue ini.
M hanya memperhatikan kegiatan sadis itu dengan pandangan datar, merasa hal seperti itu sudah biasa terjadi. Kadang ada saja beberapa cipratan darah sempat mengenai wajah rupawannya.
“Tisu.”
“Ba-baik, Alpha.”
...~*~*~*~...
__ADS_1