Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 8 : Benci atau Iri?


__ADS_3


“Astaga. Maaf, maaf.”


Mardin tak sengaja menyenggol bahu seorang siswa yang berjalan berpapasan dengannya. Karena Mardin orangnya ramah, buru-buru ia minta maaf pada siswa tersebut.


Siswa itu sebaya dengan Mardin, berambut hitam dan bermata cokelat madu. Namun, ekspresi wajahnya terlihat datar, bahkan terkesan dingin dan tidak bersahabat.


“Kau tidak apa-apa, Sobat? Maaf, tadi aku tidak lihat-lihat pas jalan,” kata Mardin ramah.


Sebagai tanda maaf, Mardin mengulurkan tangannya hendak bersalaman. Siswa berambut hitam itu cuma memperhatikan salaman tersebut beberapa saat. Tak disangka, ia malah menepis kasar tangan Mardin. Masih dengan ekspresi datar tak peduli, ia lewat begitu saja menjauhi Mardin.


Setelah siswa itu pergi, Mardin sempat melihat tangannya yang ditepis, dikibas-kibaskan sesaat karena ada rasa sedikit kebas ketika ditepis sekeras itu.


Cungkring, Bobby, dan Dimas buru-buru jalan menghampiri Mardin. Sempat ketiganya melihat kepergian siswa datar itu semakin menjauhi mereka.


“Apaan sih Rizu itu?” ucap Cungkring jengkel.


“Tahu, tuh! Si Rizu emang gitu orangnya. Kagak pernah ramah sama orang lain. Nolep!” omel Bobby kesal, “Setahuku, dia itu anak kelas 11 Sains A3. Kerjaannya mojok mulu di pojokan. Setiap kali ada yang mau temenan sama dia, responnya kurang lebih kayak tadi, datar! Disapa enggak balas, salah enggak minta maaf, diajak main pun enggak mau.”


“Maunya apa sih entu bocah?! Kebanyakan baca komik sama LN yang isinya MC nolep, sih! Makanya, kebawa-bawa sampai ke dunia nyata. Dikira kelakuan nolep gitu bisa kali bikin cewek pada datang ke dia! Terus nge-harem! Terus nge-isekai! Terus OP! Terus, terus—.”


“Udah-udah….” Dimas menepuk-nepuk bahu Bobby, berusaha menenangkan kawannya itu yang sering kali mudah emosi. “Mungkin dia itu orangnya pemalu. Takut serba salah kalau berinteraksi sama orang.”


“Dia bukan introvert yang masih bisa dimaklumi kayak kau, Dimas!” tegas Bobby masih emosi. “Kalau kau emang pendiem karena malu. Lah, dia? Emang perangainya aja yang sok dingin. Orang kayak gitu ‘tuh musti ditampar bolak-balik mukanya biar sadar kalau kita itu hidup di dunia sosial!”


“Enggak apa-apa, Bob.” Mardin tersenyum teduh, ikut berusaha menenangkan Bobby. “Orang kayak Rizu tidak bisa juga dipaksa buat bersosial sama sembarang orang. Mungkin dia pilih-pilih nyari teman, biar enggak salah pergaulan. Mungkin juga orang-orang kayak kita enggak satu selera sama dia.”


“Aku enggak mau berburuk sangka sih, Mard.” Cungkring sempat kembali melihat ke arah Rizu menjauh. “Tapi dari sekian banyak murid di sekolah, kayaknya dia kelihatan paling benci sama kau.”


Mardin sedikit terkejut mendengarnya. Dia sebenarnya tidak peduli mau orang lain menganggap dirinya seperti apa sampai dibenci begitu. Tapi melihat respon Rizu sedingin tadi, Mardin jadi penasaran juga. Memang Mardin salah apa sampai dibenci Rizu? Padahal, mereka berdua tidak pernah berinteraksi, kecuali berpapasan seperti tadi, itupun sangat jarang.


“Emang apa salahku sama dia?” tanya Mardin bingung.

__ADS_1


“Halah…. Enggak usah dipikirin, Mard,” kata Bobby enteng. “Orang kalau udah benci biasanya enggak ada alasan atau sebabnya. Kita juga enggak bisa mengubah diri kita biar orang-orang berhenti membenci kita. Ngikutin standar orang itu enggak bakal ada habisnya. Mending jadi diri sendiri, apa adanya, asalkan kita nyaman. Yaaa, mungkin dia benci karena iri kali sama kau.”


Cungkring setuju. “Iya, Mardin. Aku juga mikirnya kayak gitu. Kayaknya, Rizu iri deh sama kau. Secara nih, yeee…. Mardin kita ini ‘kan ganteng, populer, ramah, enak diajak temenan, suka membantu.”


“Mempesona pula,” tambah Bobby.


“Enjay…!” Keduanya tertawa sambil saling adu tos.


Dimas yang melihatnya cuma bisa tersenyum memaklumi sambil geleng-geleng kepala. Kelakuan dua teman mereka itu emang rada-rada kocak. Dimas masih tak percaya kalau dia yang introvert bisa temenan sama orang-orang heboh seperti mereka.


Mardin tertawa merespon keduanya. “Hahaha. Kalian ini…. Udah, ah. Tadi ‘kan mau ke kantin, beli makan dari menu baru. Entar Dimas yang traktir, yak.”


“Ish?! Beneran Dimas yang traktir?” tanya Bobby antusias.


Dimas memasang raut sewot. “Dih! Siapa juga yang mau traktir kalian? Uang jajanku juga banyak disisihkan buat ditabung, kale!”


“Ya, maaf,” ucap Mardin santai. “Kita ‘mah cuma bercanda.”


Cungkring merangkul akrab bahu Dimas. “Tahu, nih. Jangan dingin kayak Rizu, lah. Kau ‘kan orangnya lebih enak diajak bergaul.”


...~*~*~*~...


Sebuah ruangan bernuansa timur dengan warna cokelat kayu terasa sangat tenang. Ruangan itu terbuat dari kayu, bahkan semua perabotannya pun terbuat dari kayu berkualitas tinggi. Setiap sudut ruangan terdapat beberapa pohon bunga plum bermekaran, kelopak-kelopaknya perlahan berjatuhan di atas kolam kecil di sekitar pohon plum.


Di ujung ruangan dipisah oleh tirai berwarna cokelat dan emas dengan motif eksotis, dijaga oleh dua robot berbadan besar di sisi kiri dan kanan. Dari siluet tirai, terdapat seseorang sedang duduk santai di balik tirai, menikmati secangkir teh favoritnya.


Salah satu robot yang berjaga di luar ruangan mulai masuk, berlutut di hadapan tirai, memberi penghormatan pada orang di balik tirai tersebut.


[“Omega Hakuma Umegawa meminta izin untuk menghadap Beta Hwan Zu Luan,”] kata robot itu.


“Persilakan dia masuk.”


“Baik, Beta.”

__ADS_1


Setelah si robot menjauh, gerbang ruangan pun terbuka. Terlihat sosok yang dimaksud mulai berjalan memasuki ruangan. Sosok itu merupakan seorang pria tinggi, memakai yukata merah muda-putih. Kulitnya mulus seputih salju, rambutnya panjang berwarna perak diikat ponytail tinggi dengan sebagian poni berwarna merah muda, matanya tajam beriris biru terang terlindungi di balik kacamata.


Ketika agak dekat di depan tirai, masih ada jarak di antaranya, pria itu berlutut memberi hormat.


“Hormat saya, Omega Hakuma Umegawa, pada Beta Hwan Zu Luan,” ucapnya sopan sambil menundukkan kepala.


“Kau sekarang bukan Omega dari Guild Yatshuhama, Hakuma,” ucap pria di balik tirai tersebut.


Haku mengangkat kepala. “Itu sebabnya saya ke sini, Guru Luan. Saya ingin bertanya, kenapa saya dikeluarkan dari Guild? Apakah kinerja saya sebagai Omega di sini kurang baik?”


Dari nada bicara Haku, Luan bisa mengerti kalau pria 20 tahunan itu tak terima dirinya dikeluarkan dari Guild.


Haku adalah seorang pembunuh. Jika dia tidak berada di Guild manapun, otomatis dia dianggap sebagai Rogue. Dianggap sebagai Rogue maka berarti reputasinya menjadi buruk dan akan diburu oleh pembunuh lain yang berada di dalam Guild. Dia akan dianggap sebagai ancaman untuk Guild lain.


Terdengar Luan menghela nafas. “Kebetulan sekali kau datang sendiri ke sini, Hakuma. Ada yang ingin kusampaikan padamu, dan ini berhubungan dengan alasanku mengeluarkanmu dari Guild.”


Haku terkejut mendengarnya. Dia penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh pria berusia 60 tahunan itu padanya, dan apa alasan dia mengeluarkan Haku dari Guild. Apapun alasan sang guru mengeluarkannya, Haku tetap merasa tak tenang jika harus menjadi Rogue.


Terlihat Luan memberikan sebuah tab pada salah satu robot pengawal, memintanya untuk memberikan tab itu pada Haku. Sang robot membungkuk hormat, berjalan menghampiri Haku, lalu memberikan tab itu padanya. Setelah tab itu diserahkan, sang robot kembali berdiri di tempat semula, di samping tirai yang melindungi Luan.


Haku memperhatikan tab yang masih belum menyala itu, merasa bingung dengan apa yang hendak disampaikan Luan lewat tab tersebut.


“Cobalah kau cari foto seorang pemuda.”


“Foto… seorang pemuda?” tanya Haku heran.


Sesuai perintah sang guru, Haku menyalakan tab itu, mulai membuka menu berkas. Namun entah sistem dari tab-nya rusak atau perangkatnya sudah butut, yang ditemukan Haku bukan foto yang dimaksud, melainkan video dengan volume suara lumayan keras.


“Ah…. Ah…. Aaaaah…!”


Haku melotot syok menyadarinya, sedangkan Luan malah terlonjak kaget di balik tirai.


...~*~*~*~...

__ADS_1



__ADS_2