
Setelah kejadian penembakan tadi, seisi mansion jadi lebih senyap, para pelayan dan pengawal lebih memilih fokus mengerjakan pekerjaan mereka dalam mempersiapkan pesta serta lebih berhati-hati lagi agar tidak membuang sang majikan bertindak lebih buruk dari yang tadi pada mereka.
“Dia punya keluarga?” tanya Rusdan datar pada Romero sambil menatap mayat si pelayan tadi.
“Tidak, Tuan. Dia tidak punya keluarga,” jawab Romero sesopan mungkin.
“Bagus.” Rusdan mengelus pistolnya. “Bawa mayat itu pergi, ambil organ-organnya, dan persiapkan untuk langsung dijual. Lumayan buat nambah-nambah pemasukan.”
Sesuai perintah Rusdan, beberapa pengawal segera membawa mayat itu pergi dari sana, sedangkan para pelayan segera membersihkan bekas darah dan buraian otak yang sempat mengotori lantai.
“Aku senang, senjata ini bisa menyalurkan Energi Ru milikku dengan baik, sehingga dapat menghasilkan serangan Unsur Ru yang begitu menakjubkan,” puji Rusdan saat memperhatikan pistol cokelat tersebut.
“Anda telah meningkatkan kemampuannya, Tuanku?” tanya Romero berusaha mengalihkan topik setelah pembunuhan tadi.
“Oh, jelas.”
Satu tangan Rusdan sempat menyentuh mata sebelah kirinya, terlihat seakan-akan ia sangat membanggakan bagian tubuhnya yang satu itu.
“Dengan Segel Midra di balik mataku, aku tidak perlu khawatir kehabisan Energi Ru. Energi Ru yang kumiliki sekarang tiada batas. Aku bisa membantai lebih banyak korban dan memanen organ-organ mereka. Dengan kekuatan tiada batas dan persenjataan canggih, aku akan menjadi kriminal tersukses! Tidak akan ada yang berani menentangku, bahkan para militer Serikat Galaksi sekalipun akan tunduk di kakiku!”
Mendengar pidato singkat sang majikan, membuat Romero bertepuk tangan membanggakan kepercayaan diri Rusdan yang sangatlah tinggi.
Romero sungguh yakin jika Rusdan memanglah orang terkuat yang pernah ia kenal. Dia bangga dan merasa sangat terhormat bisa melayani Rusdan selama ini.
“Anda benar, Tuan. Memang Anda-lah orang terkuat di dunia ini. Tidak akan ada yang berani membantah Anda, Tuanku Rusdan DaVerez,” puji Romero sepenuh hati.
__ADS_1
Rusdan tertawa bangga di bawah kilauan siraman cahaya lampu-lampu chandalier. Dia bangga, bahagia dengan Segel Midra yang ia miliki. Dengan kekuatan dari Segel Midra, Rusdan dapat menciptakan lebih banyak lagi kekuatan Unsur Ru. Dia tidak akan mudah lelah, bahkan terluka, dan takkan terkalahkan.
Sungguh keberuntungan yang sangat manis bagi Rusdan, keberuntungan itu telah berpihak padanya.
...~*~*~*~...
Pagi yang cerah ini merupakan awal yang baik bagi semua orang melakukan aktivitas. Mentari nampak terbit tepat di ufuk timur, menyinari seluruh Kota Kamaju.
Kota yang dikuasai oleh Guild Pembunuh Jaguara itu terlihat begitu sederhana, beberapa fasilitasnya masih dibentuk dan tidak terlihat satupun gedung-gedung pencakar langit menembus awan, yang ada hanyalah gedung-gedung dengan tinggi maksimal mencapai 7-9 lantai.
Sebuah mobil hitam mewah melaju kencang di jalanan kota yang masih lenggang oleh kendaraan lain. Di dalamnya terdapat dua orang pengawal, satunya merupakan pengawal wanita yang sedang mengemudi, sedangkan satunya pengawal pria duduk di sampingnya. Di belakang mereka, tepatnya di kursi penumpang, terdapat seorang gadis berseragam sekolah SMA duduk sambil memperhatikan pemandangan kota lewat jendela.
Gadis itu merupakan seorang remaja berusia sekitar 17 tahunan, memiliki paras yang sangat cantik serta anggun, kulitnya putih mulus nan bersih, dan memiliki rambut perak panjang lurus selembut sutra. Mata ungu terangnya masih fokus memperhatikan pemandangan kota, tapi ekspresi wajahnya sama sekali tidak menampakan ketertarikan.
“Papa benar-benar keterlaluan.” Gadis itu bersuara kesal. “Aku hanya ingin menjalani kehidupan normal selayaknya remaja seusiaku, tapi aku malah berakhir dipindahkan ke planet gila ini?! Padahal kalian tahu sendiri ‘kan kalau planet ini ‘tuh banyak penjahat dan pembunuhnya?!”
“Kara benar, Nona,” tambah si pengawal pria. “Tuan Besar ingin Anda tumbuh menjadi wanita mandiri.”
“Apa? Jadi, kau selama ini menganggapku gadis manja, Pilo?!” tegas gadis itu tak terima.
Kedua pengawal itu jadi serba salah, tak berani untuk menjawab apa lagi di hadapan sang nona muda.
Harinda Sie Lavoska merupakan putri dari seorang pengusaha ternama di planet tetangga. Perusahaan mereka, Lavoska GoW, merupakan perusahaan yang bergerak di bidang produksi senjata legal, mesin, serta robot-robot.
Banyak pemerintahan membeli persenjataan buatan mereka karena dianggap berkualitas tinggi. Oleh sebab itu, Lavoska GoW menjadi perusahaan senjata dan mesin ternama di seluruh planet mereka. Keluarga Lavoska pun terbilang sangat tajir dan disegani banyak orang.
__ADS_1
Hanya saja, Harin sebagai putri ketiga dari lima bersaudara di keluarga Lavoska dikenal sangat manja, pembangkang, dan suka berfoya-foya di usianya yang sangat muda. Di planet tetangga, dia dikenal sebagai seorang influencer dengan penghasilan banyak, tapi tetap saja uang yang ia hasilkan masih belum cukup untuk dirinya habiskan.
Harin suka berbelanja barang-barang mewah, liburan ke tempat-tempat glamour, dan tidak pernah absen mengadakan pesta. Gara-gara kebiasaan buruknya itu membuat Harin lupa akan tanggung jawabnya sebagai anak SMA.
Nilainya yang dulu pernah tinggi tiba-tiba jadi anjlok, suka bolos sekolah, dan sering gonta-ganti pacar. Hal itu tentu membuat kedua orang tuanya marah dan memutuskan agar Harin disekolahkan saja ke SMA di Planet Urdalin saja sekalian, biar Harin bisa tahu susahnya hidup mandiri di planet mengerikan tersebut.
Pandangan mata ungu Harin kembali mengarah ke pemandangan kota. “Enggak salah aku tinggal di kota ini? Kumuh banget…! Sejauh mata memandang, sama sekali tak nampak ada gedung-gedung pencakar langit di sini. Yang ada hanya bangunan-bangunan ruko yang sudah terbengkalai.”
“Jalanannya tak rata, pakaian penduduknya banyak yang ketinggalan zaman, apartemen yang disewakan Papa buatku juga enggak kalah kumuh. Gimana aku bisa betah tinggal dimari?”
Kara tetap fokus mengendarai mobil, sedangkan Pilo cuma bisa geleng-geleng kepala. Keduanya sebenarnya tak sanggup mengawal nona muda mereka selama berada di Planet Urdalin. Tapi mau bagaimana lagi? Kalau ingin dapat upah lebih, tentu mereka harus patuh mengawal Harin.
Terdengar helaan nafas berat dari pernafasan Harin. “Kapan kita sampai di sekolah baruku?”
“Sebentar lagi, Nona. Setelah melewati bundaran sini,” jawab Kara.
Lagi-lagi Harin cuma bisa melihat pemandangan dari kaca jendela mobil. Mulai sekarang, ia harus mengucapkan ‘Selamat Tinggal’ pada kemewahan hidupnya di masa lalu dan fokus menjalani kehidupan baru di planet penuh kejahatan ini.
….
Beberapa menit kemudian dalam perjalanan, akhirnya Harin bisa melihat bangunan sekolah SMA sederhana berlantai lima itu dari kejauhan. Belum sampai saja Harin sudah dibuat bete dengan desain bangunan yang benar-benar terlihat kuno, apalagi kalau sampai tiba di sana.
Masih di dalam mobil, Harin menggelengkan kepala keras, tidak sanggup membayangkan betapa tak enaknya sekolah di sana. Harin sudah berpikir macam-macam kalau tempat itu kumuh, rusak, berbau tak enak, anak-anaknya pada berandalan dan tidak tahu aturan, dan bahkan pelajaran di sekolah tersebut sama sekali tidak berkualitas.
Sekali lagi, Harin menanyakan pada dirinya sendiri. Betahkah ia sekolah di sana?
__ADS_1
“Astaga, Tuhan….” Harin menunduk, memijit pelipisnya sendiri. “Cobaan macam apa yang berusaha Engkau berikan pada hamba…?”
......~*~*~*~......