Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 42 : Pak Guru


__ADS_3

Dalam kediamannya di depan pintu kelas 11 Sains C1, sekilas sebelah alis Haku berkedut, merasa tak nyaman dengan situasi ini. Situasi dimana dia ditatap para murid sekolah SMA dan dianggap sebagai guru.


Para siswa mungkin terlihat segan dengannya, tapi tatapan para siswi yang membuatnya sempat risih.


Tatapan macam apa pula itu dari semua mata para siswi tersebut? Terlihat sangat berbinar ketika menyadari kedatangan Haku.


Setelah beberapa murid mengangguk, mengiyakan bahwa benar kelas di hadapannya ini merupakan kelas 11 Sains C1, dengan agak berat hati Haku berjalan memasuki kelas.


Selama berjalan menuju meja guru yang berhadapan dengan baris-baris bangku murid, Haku sempat menemukan sosok Mardin nampak keheranan akan kehadirannya. Haku bisa memaklumi, pasti si jamet berambut merah mullet itu bertanya-tanya mengapa ia bisa berakhir bekerja sebagai guru di sini.


Sebenarnya, semua ini berasal dari ide sang guru cabulnya.


...~*~*~*~...


“Apa? Jadi guru?”


Pada malam saat Haku menerima panggilan dari Luan di apartemennya, sang guru tiba-tiba saja menyarankan dia untuk bekerja menjadi guru di sekolah Mardin.


“Iya. Jadi guru. Kalau kau jadi guru, kan kau bisa mengawasi dan berinteraksi dengan Mardin lebih mudah tanpa harus terlihat macam penguntit,” saran Luan dengan entengnya lewat sambungan telepon itu.


“I-iya, tapi….”


Ekspresi wajah Haku jadi risih. Bagaimana bisa seorang pembunuh yang sekarang berstatus sebagai Rogue tiba-tiba menjadi seorang guru? Apa tidak salah? Bagaimana jika pihak sekolah tahu bahwa dia Rogue? Bisa-bisa dirinya dilaporkan ke pihak Guild Jaguara.


“Tidak adakah ide lain yang lebih meringankan nasibku?” tawar Haku terdengar bete. “Nasibku sudah mulai luntang-lantung semenjak kau sengaja mengeluarkanku dari Guild cuma buat mengawasi satu bocah premanisme ini. Sedangkan kau, dengan entengnya menyarankanku untuk menjadi guru, membiarkanmu seenaknya menikmati semua koleksi video cabulmu itu!”


“Kenapa larinya malah ke video cabul? Kau mau jadi pemeran bintang video cabul ketimbang jadi guru, gitu?”


Seketika wajah Haku memerah, berusaha menahan amarah akan tingkah gurunya yang makin enggak jelas ini. Udah tua bukannya sadar sama usia, malah nambah maksiat.


“Dengar ya, Muridku.” Luan mulai menjelaskan, “Kau baru sehari mengenal Mardin, belum punya hubungan pertemanan akrab dengannya sehingga kau dapat mengawasinya lebih mudah. Jadi guru ini merupakan cara yang tepat, Hakuma.”


“Lagipula, kau ini lulusan Sarjana Matematika di universitasss….” Luan berusaha mengingat-ingat nama kampus Haku, tapi tetap lupa. “…. Apalah itu di Planet Terezia. Ilmu yang kau dapat selama kuliah ‘kan jadi sia-sia kalau tidak kau bagikan dengan cara menjadi guru.”


“Kadang aku heran sendiri sama kau ya, Hakuma. Kau itu sudah nyaman bisa lulus kuliah, tahu-tahu malah nekad jadi pembunuh di Planet Urdalin. Ayolah, jangan sia-siakan ilmu dari kampusmu itu. Sekalian juga kau bisa menuntaskan kewajibanmu sebagai muridku yang paling kubanggakan.”


Kalau saja Haku tidak tahu aib sang guru, mungkin ia akan mudah tersentuh dengan kata-kata halus Luan. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, menjadi guru di sekolah Mardin bukanlah ide yang buruk, walau nanti mungkin akan membuat dirinya merasa tidak nyaman karena harus menjadi pusat perhatian banyak murid.


Hanya saja, Haku menyadari niat terselubung Luan ketika memintanya menjadi guru lewat panggilan telepon ini.

__ADS_1


“Guru Luan.”


“Ya, Muridku?” ucap Luan terdengar bernada manis.


Dengan datar Haku berucap, “Kau tidak bermaksud membuatku merasakan seperti apa rasanya menjadi guru sepertimu, bukan?”


“Aaa….”


Seketika Luan kehabisan kata-kata. Dia memang ada maksud agar Haku tahu seperti apa rasanya mengajar murid-murid sebagai guru seperti dirinya. Jadi, dia tidak mampu mengelak. Cuma, dari nada bicara Haku tadi, sepertinya dia tidak begitu suka dengan tujuan terselubung Luan ini.


Apa murid kesayangan Luan ini berusaha memberi sarkasme lagi?


...~*~*~*~...


Dan di sinilah Haku sekarang, duduk di kursi meja guru di hadapan belasan murid yang sedang duduk rapi di bangku masing-masing. Mereka semua diam menunggu Haku bicara duluan, benar-benar segan akan kehadiran Haku sebagai guru baru. Apalagi ia mengajar matematika, mata pelajaran paling terkutuk oleh semua murid.


“Ah….”


Haku mendesah seraya berdiri dari kursi. Ia mengambil spidol yang ada di atas meja, lalu menuliskan nama, usia, dan riwayat pendidikan terakhirnya di papan tulis berwarna putih polos itu, bermaksud untuk mulai memperkenalkan diri.


“Selamat pagi, anak-anak,” sapa datar Haku sambil menutup spidolnya.


“Selamat pagi, Pak Guru,” balas sapa seluruh murid serentak.


Cukup menggelikan….


Haku sadar Mardin saat ini berusaha untuk tidak menertawakannya. Dia sendiri berusaha mengabaikan respon Mardin untuk saat ini. Menurut Haku, respon Mardin wajar kalau seseorang mengenal identitas aslinya.


Rekan-rekan Haku di Guild Yatshuhama pun pasti akan menertawakannya ketika tahu kalau dirinya mendadak bekerja sebagai guru.


“Hari ini adalah hari pertama saya mengajar, menggantikan posisi guru metematika kalian yang lama. Jadi, untuk saat ini kita akan fokus pada pengenalan diri. Minggu depan baru kita bisa memulai pelajaran yang sebenarnya.”


“YAA— Ups.”


Beberapa murid hampir saja menjerit girang setelah tahu bahwa hari ini mereka tidak akan belajar matematika dulu. Beruntung murid lainnya berusaha mengingatkan agar tidak terlalu heboh di hadapan guru baru.


Mengetahui hal itu, Haku hanya merespon dengan memutar kedua mata biru terangnya. Namanya murid labil, pasti langsung semangat pas tahu mereka takkan memulai pelajaran.


Haku mulai memperkenalkan diri dengan penuh wibawa. Pokoknya, dia harus terlihat seperti seorang guru berkualitas.

__ADS_1


“Perkenalkan, nama saya Hakuma Umegawa. Dari nama saya sendiri, kalian bisa menebak bahwa saya berasal dari Banua Timur.” Sesekali Haku menunjuk tulisan yang ada di papan tulis. “Usia 23 tahun. Dan saya merupakan Sarjana Matematika lulusan Universitas St. Taryana di Negara Zvernovyn, Planet Terezia.”


Beberapa murid terdengar kagum mendengar riwayat pendidikan Haku. Wajar jika mereka kagum, karena di planet ini sama sekali tidak memiliki jenjang pendidikan tinggi setingkat universitas.


Kebanyakan masyarakat Planet Urdalin hanya lulusan SMA. Kalau mau melanjutkan pendidikan pun, mereka harus rela mengeluarkan banyak uang untuk berkuliah di luar planet, itu pun harus melewati banyak prosedur ketat sebelum diizinkan ke luar planet.


“Jika ada yang ingin ditanyakan, silakan tanyakan saja sebelum kita lanjut ke sesi perkena—.”


“Saya, Pak!”


Pandangan seisi kelas kini tertuju pada seorang gadis berambut pirang bergelombang yang terlihat lebih cantik dari gadis lainnya. Dia mengangkat satu tangan sambil menampakan senyum sumringah yang terlihat sangat manis, apalagi ditambah dengan lesung pipi yang menghias wajah putihnya.


Melihat tindakan si gadis membuat Mardin menggelengkan kepala di bangkunya. Dia tahu tabiat dari teman sekelasnya ini, jadi bisa ditebak apa yang akan ditanyakan si gadis.


“Hm, mulai beraksi tuh si l*nte,” bisik Bobby yang duduk di baris bangku samping Mardin.


Cungkring yang duduk di belakang Bobby cekikikan berusaha menahan tawa, sedangkan Mardin hanya menyunggingkan senyum kecil menanggapinya.


Ketika melihat ada murid mengangkat satu tangan hendak bertanya, sebagai guru yang baik Haku mempersilakan.


“Dengan siapa ini?”


“Isabelle, Isabella Avando.”


Haku mengangguk meresponnya. “Oke, Isabelle. Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?”


“Emm…. Anu—.” Isabelle menunduk malu sambil memainkan jari-jemarinya. “Bapak…. Bapak masih lajang atau sudah punya pasangan?”


Walau sudah menduga Isabelle akan menanyakan hal tidak penting seperti itu, tapi tak dipungkiri Mardin, Bobby, dan Cungkring sontak melotot kaget. Dimas sendiri bodo amat. Sedangkan satu kelas mulai menyorakinya.


“Huuuuu…!”


“Si ratu halu mulai beraksi, kawan-kawan…!”


“Tobat, woi! Tobat! Dah berapa cowok yang kau mangsa, Neng…?!”


Ketika seluruh kelas sibuk meledek Isabelle, Haku sendiri nampak memasang ekspresi datar, tidak merespon apa-apa.


Dalam pikiran Haku berpikir, sudah susah-susah berusaha terlihat berwibawa, malah mau digombalin sama murid sendiri.

__ADS_1


Beginikah risihnya jadi guru?


...~*~*~*~...


__ADS_2