
“Hah?”
Mardin memikirkan jawaban Paman Rom. Kalau dipikirkan lagi, Guild Yatshuhama dianggap kurang kerjaan sampai rela menggali informasi tentang keadaan ayahnya dan juga dirinya. Kecuali jika memang ada kemungkinan mereka seniat itu karena menganggap keduanya membawa keuntungan bagi Guild tersebut.
Itulah mengapa Mardin musti mikir-mikir lagi tuk menyelamatkan ayahnya. Ada kemungkinan pihak-pihak tertentu berusaha menjebaknya setelah tahu kalau Mardin ini anak dari Sang Iblis Buas.
Paman Rom kembali menjawab, “Guild Yatshuhama sengaja mencari informasi tentang kalian berdua. Mengetahui keadaan ayahmu masih hidup, mereka akan memberitahukanmu dan memintamu untuk segera menyelamatkanya. Karena cuma kau satu-satunya orang yang bisa membebaskan ayahmu dari Segel Midra.”
“Setahuku, Segel Midra hanya bisa ditangkal oleh tumbuhan parasit dari Fona. Kau bisa memanfaatkan parasitmu untuk mencabut segel dari tubuh pengguna segel. Dan lagi, kau putranya. Anak mana yang enggan mempertaruhkan segala hal demi menyelamatkan orang tuanya? Kecuali anak durhaka.”
“Dan keuntungan yang bisa diambil oleh Guild Yatshuhama adalah kekuatanmu dan juga ayahmu.”
Mardin sedikit membelalakkan matanya. Kini ia mulai mengerti maksud tujuan dari Guild Yatshuhama.
“Dari kekuatan dan cara bertarungmu, kau sama kuatnya dengan ayahmu, bahkan berpotensi menjadi lebih kuat lagi. Guild Yatshuhama sengaja membantumu agar mereka bisa kalian percaya, dan kelak bisa lebih mudah memanfaatkan kekuatan kalian.”
Sesaat Paman Rom meregangkan tubuhnya. Lama duduk sambil mengobrol tentang hal serius lama-lama bisa membuat tubuhnya jadi kaku, apalagi usianya sudah setengah abad.
“Aaah…. Tapi, yang namanya makhluk hidup pasti saling memanfaatkan satu sama lain. Yang membedakan cuma hasil akhirnya, apakah bisa jadi saling membantu dengan baik, atau satu pihak malah dirugikan.”
“Tapi, di sisi lain, Mard.” Paman Rom kembali memakan kacang. “Em! Guild Yatshuhama sepertinya berusaha menjalin hubungan baik denganmu. Ah! Penjelasanku jadi muter-muter. Seharusnya, langsung kubilang saja mereka ingin menjalin kerja sama yang baik denganmu. Pakai salah sangka segala kalau mereka berusaha memanfaatkan kalian, pula. Ya, maaf-maaf aja, nih. Kadang nih mulut masih kebiasaan ngegosip bareng bapak-bapak di pos ronda.”
“Hahaha….”
Mardin tertawa mendengar celotehan pamannya. Kalau dipikir-pikir lagi, perkiraan Paman Rom sama seperti Dimas sebelumnya, mengira kalau sebenarnya Guild Yatshuhama berusaha menjalin kerja sama dengan Mardin, dengan kata lain berusaha saling menguntungkan.
“Aku juga sempat cerita soal ini sama Dimas,” ujar Mardin sambil mengambil gelasnya, “dan dia juga bilang, Guild Yatshuhama berusaha membangun hubungan mutualisme denganku. Dengan kata lain, mereka membantuku membebaskan Ayah. Dan kebebasan Ayah termasuk membawa keberuntungan bagi mereka.” Lalu kembali meminum soda.
“Ya, membawa keberuntungan bagi mereka tentu karena kekuatan kalian berdua,” kata Paman Rom pula. “Ah! Tapi, aku tidak mencium bau-bau mencurigakan kalau kelak pihakmu bakal dirugikan oleh Guild Yatshuhama. Parasit di dalam tubuhmu sendiri bagaimana meresponnya?”
Sesaat Mardin mengelus leher sampingnya, tempat Dros sering keluar menampakan diri. “Dia… menyarankanku untuk menerima tawaran mereka karena menganggap kekuatan dari Segel Midra dan efek penyerapan oleh mesin penyerap Energi Ru dianggap berbahaya bagi Ayah dan berpengaruh juga terhadap hal lain yang lebih serius. Jadi, aku harus mengatasinya.”
__ADS_1
“Kalau begitu, apalagi yang perlu kau pikirkan? Tumbuhan kepercayaanmu sudah memberi suara. Kalau misalnya mereka terbukti berusaha memanfaatkanmu dalam arti bakal merugikanmu ke depannya…” Paman Rom memukul telapak tangannya sendiri. “Tabrak saja! Kau ‘kan Mardin. Enggak nabrak, bukan Mardin namanya!”
“Jadi, kau membolehkanku terlibat dengan Guild lain?” tanya Mardin tak percaya. Pasalnya, Paman Rom selalu mengingatkan Mardin agar tidak terlibat masalah serius dengan Guild pembunuh mana pun.
Cuma keadaannya ini berbeda, ada nyawa orang paling berharga di hidup Mardin yang harus diselamatkan.
Paman Rom menepuk pahanya sendiri. “Bukan berarti aku ingin kau bergabung dengan mereka. Entar urusannya makin ribet. Urusan dengan mereka itu cuma sekedar menyelamatkan ayahmu. Kalau kau masih bingung atau dalam kesulitan, kau bisa minta bantuan pada pamanmu ini.”
“Haha! Terima kasih, Paman.”
Dengan semangat Mardin menyalami tangan Paman Rom. Sekarang, Mardin sudah mendapatkan titik terang dalam mengambil keputusan. Dia sudah bertekad menerima tawaran dari Guild Yatshuhama untuk membebaskan ayahnya. Jika mereka macam-macam, tentu Mardin bisa mengatasinya.
“Omong-omong.” Mardin mengangkat kotak paket di meja bartender. “Ini paket mau dianter malam ini, kan?”
Sejenak Paman Rom terlihat canggung untuk menjawab, “I-iya, emang. Cuma aku bingung, siapa yang bakal mengantar paket ini nanti. Anak-anak lain pada sibuk, Ranma apalagi, aku juga masih ada keperluan yang diurus, kalau dianter besok pun belum tentu bisa.”
“Aku saja yang anter, Paman,” tawar Mardin ceria. “Sekali lagi, terima kasih sudah mau mendiskusikan masalah ini. Kau selalu membantuku di saat-saat sulit. Aku pasti akan membalas semua kebaikan dan jasamu dari masa masih membantu ayah sampai sekarang ini. Aku berangkat dulu ya, Paman!”
“Bang Ranma, aku berangkat dulu, ya!”
Baru selesai melayani satu pelanggan di meja bartender, Ranma hanya mengangguk datar sebagai balasan.
Sambil membawa kotak paket, Mardin pun meluncur keluar bar, bahkan dia sempat tak sengaja hampir menabrak seorang pelayan yang sedang membawakan nampan minuman pada para pelanggan. Tentu Mardin sempat minta maaf sebelum akhirnya benar-benar keluar dari pintu bar.
Setelah Mardin pergi dari bar, ekspresi wajah Paman Rom yang sempat terlihat santai kini berubah tegang, tatapannya tajam seakan-akan menahan murka pada sesuatu. Melihat perubahan ekspresi sang ayah membuat Ranma menghampirinya.
“Kau tak apa, Ayah?” tanya Ranma datar, tapi perasaannya merasa cemas.
Tanpa menoleh, Paman Rom beranjak dari kursinya. “Aku ada urusan di ruang kerjaku. Kalau ada yang nyari, bilang aku tidak bisa ditemui sampai besok.”
“Eh, Ayah?”
__ADS_1
Belum sempat Ranma memastikan keadaan Paman Rom, pria paruh baya itu segera berlalu masuk ke dalam ruang kerjanya. Entah apa yang dipikirkan Paman Rom sekarang, mungkin sesuatu yang sangat serius. Kalau Paman Rom tak berniat membicarakan hal ini pada Ranma, ia pun tak perlu ikut campur.
Ketika Ranma masih berdiri mematung di belakang meja bartender, satu rekannya datang menghampiri sambil mengelap gelas kaca, pandangannya malah tertuju ke arah sosok Mardin yang sudah keluar dari bar.
“Tadi itu Mardin, kan?” tanya rekannya membuyarkan lamunan Ranma. “Dia anak yang lincah, ya.”
Ranma memutar bola mata hazelnya. Lagi cemas masalah ayahnya, malah membahas soal bocah nakal itu.
“Iya, lincah. Kayak berang-berang kesetrum.”
...~*~*~*~...
Ruang kerja milik Paman Rom terlihat bersih dan rapi. Desain dan perabotannya banyak yang terbuat dari kayu cokelat keemasan bernuansa barat, menambah kesan unik ala suasana koboi.
Saat ini, Paman Rom berdiri di samping mejanya, mencari-cari nomor yang hendak ia hubungi lewat ponsel. Ekspresi wajahnya berusaha menahan emosi, tidak ingin amarah menguasai pikiran yang bakal membuat akal sehatnya terganggu.
Ada sesuatu yang sangat penting perlu dibahas oleh Paman Rom dengan orang yang ingin dia hubungi. Dia menuntut segala penjelasan atas hal penting ini.
“Kalau tidak salah, ini nomornya.”
Setelah memastikan nomor yang benar, Paman Rom menghubunginya. Tak berapa lama panggilan diangkat oleh orang seberang sana. Tanpa basa-basi, Paman Rom langsung bicara setegas mungkin.
“Jika kau bermaksud berusaha merugikan Mardin dan ayahnya, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Luan!”
….
Di seberang panggilan sana, seseorang duduk santai bersandar di sofa lebarnya sambil melihat pemandangan indah kota bernuansa cyberpunk di puncak gedung tempat ia berada. Satu tangannya bergerak lambat mengipasi dirinya menggunakan kipas lipat bermotif bunga-bunga khas timur.
Wajahnya tak nampak akibat terhalang oleh bayangan dari dinding ruangan remang-remang itu. Namun sedikit bagian bawah wajahnya disinari cahaya, menyunggingkan sekilas senyum remeh.
“Ah~ Langsung ke intinya saja, ya? Seharusnya, kita berbasa-basi sebentar karena sudah lama juga kita tidak saling menghubungi seperti ini, Romie….”
__ADS_1
...~*~*~*~...