Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 30 : Masalah Percaya Diri


__ADS_3

Mardin duduk menunduk, Atna duduk menunduk. Keduanya duduk saling berhadapan, tapi tak ada yang berinisiatif tuk mengajak bicara. Suasana sunyi, bahkan lebih sunyi lagi ketimbang suasana di luar vila tadi.


Kalau Atna wajar. Anak gadis ini pemalu orangnya, susah sembarangan berbasa-basi, takut topik pembicaraannya jadi tidak nyambung. Apalagi seperti yang dijelaskan Rosa, Atna tidak biasa berinteraksi dengan laki-laki selain abangnya dan anak-anak vila sini.


Sedangkan Mardin sendiri tidak memulai pembicaraan karena takut salah ngomong lagi. Dia baru menyadari kalau setiap ucapannya pada Atna terkesan ambigu, aneh. Kalau dia yang mulai bicara lagi, takutnya muka anak gadis ini langsung pucat. Padahal Mardin tipikal orang yang mudah bicara, tapi kalau dihadapkan dengan anak gadis yang lebih muda dari dia begini jadi canggung juga.


“Sluuurp….”


“Eh!”


Baru saja Mardin monyongin bibir sedang meminum jus jeruknya, Atna langsung kaget. Saking sunyinya suasana, suara Mardin sedang menyeruput minuman saja sampai terdengar.


Karena tak tahan dengan kecanggungan yang sudah bertahan selama sekian menit ini, Mardin pun memutuskan untuk memulai basa-basi. Semoga saja cara bicaranya tidak terdengar aneh-aneh lagi.


“Umurnya berapa, Dek?”


Agak malu-malu takut, Atna menjawab, “Ti-tiga belas, Bang.”


“Sekolah?”


Atna mengangguk. “SMP.”


“SMP dimana?”


“SMP Binabersama Duniakhirat.”


“SMP BD, ya? Deket itu sama sekolahku. Aku sekolah di SMA-nya.”


Suasana canggung kembali. Mardin jadi bingung mau ngomong apa lagi. Sebenarnya, ada banyak hal yang bisa dijadikan topik pembicaraan mengingat Mardin ini orangnya punya lebih dari 1001 topik tuk dibicarakan, bahkah di antaranya ada topik tentang masalah hidup orang. Bukan hanya masalah hidup orang, perkara kelelawar jatuh kena ranting yang ia lempar pun bisa dibicarakan.

__ADS_1


Tapi, aneh juga membicarakan masalah-masalah setidak penting itu.


“Eh? Berduaan aja, nih. Lagi pada ngomongin apa?”


Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara. Sosok Rosa baru saja turun dari tangga, berjalan menghampiri mereka disertai senyum ramah khasnya.


“Maaf, ya. Tadi ditinggal bentar. Si Lilian rewel mau tidur. Tapi sekarang udah bobo nyenyak dia.”


“Enggak apa-apa, kok, Kak,” ucap Mardin balas senyum.


Rosa pun duduk di samping Atna. Tadi sebelum benar-benar turun menghampiri mereka, Rosa sempat merasakan kecanggungan yang luar biasa di antara keduanya. Rosa masih bisa memaklumi, toh keduanya memang sama-sama baru kenal.


Setidaknya dengan suasana secanggung itu, Rosa tidak perlu khawatir kalau adik iparnya diperlakukan yang ‘iya-iya’ sama Mardin. Biarpun Mardin kenalan dari kawan dekat keluarga mereka, Rosa belum tentu sepenuhnya percaya dengan pola pikir laki-laki.


“Tadi cuma nanya-nanya sekolahnya Atna. Rupanya, sekolahnya dekat sama sekolahku,” jawab Mardin mulai memakan kacang yang disediakan.


Tadi Mardin segan tuk sekedar memakan kacang dan camilan-camilan renyah lainnya, takut menganggetkan Atna lagi. Ia menyeruput jus saja sampai kedengaran, apalagi mengunyah camilan ringan. Bisa latah dadakan anak gadis orang.


Mardin mengangguk sok mengerti inti permasalahnya.


Sebenarnya, salah juga Rosa menanyakan hal ini pada Mardin. Sumber kepercayaan diri Mardin sendiri berasal dari rasa tidak tahu malunya, percuma juga minta saran begitu padanya. Mana mungkin anak orang disuruh jadi orang tidak tahu malu biar tetap bisa pede.


Tapi kadang kenyataan memang begitu. Perlu menjadi orang tidak tahu malu agar kepercayaan diri meningkat dan tidak perlu memikirkan segala macam permasalahan. Dihujat orang pun tak masalah. Toh yang capek sendiri juga yang tukang hujat.


“Emm….” Mardin berusaha menjawab, “Percaya diri itu berasal dari dorongan keinginan kita sendiri untuk berani bersosial, Kak. Coba pikirkan, kalau kita cuma diam tanpa melakukan tindakan apapun, kita takkan ada kemajuan. Membangun koneksi dengan beberapa orang adalah salah satu cara ampuh untuk maju. Dan biar kita bisa pede bersosialisasi dengan orang lain adalah dengan cara menguatkan niat kita untuk bisa maju.”


Sejujurnya, Mardin asal saja bilang begitu. Dia sendiri tak yakin dengan apa yang dia katakan. Yang penting cukup terlihat cerdas saja di hadapan mereka berdua.


Rosa mengangguk-angguk mengerti. “Tuh, Atna. Dengerin kata Mardin. Harus ada niat buat berani tampil pede. Tapi, tetap harus bisa membedakan yang mana yang percaya diri sama enggak tahu malu.”

__ADS_1


Jiwa Mardin serasa ditusuk ribuan pasak akibat ucapan Rosa yang cukup menyinggung hatinya. Namun, Mardin hanya bisa merespon dengan senyuman.


“I-iya, Kak.” Atna mengangguk pelan masih dengan kepala tertunduk. “A-aku akan berusaha lebih percaya diri lagi ketika berusaha bergaul dengan orang lain.”


“Bagus.” Rosa kembali mengelus puncak kepala Atna. “Itu baru adikku.”


Melihat reaksi Atna, Mardin merasa kasihan juga. Ada banyak orang yang kesulitan bersosialisasi dengan orang lain, entah itu karena trauma atau takut dianggap mengganggu orang lain.


Dulu Mardin pernah berada di posisi seperti Atna. Mardin aslinya anak yang pendiam ketika masih kecil. Teman bergaulnya hanya Ranma seorang. Namun, sang ayah terus memberi dukungan pada Mardin untuk berani bergaul jika ingin maju.


“Diam diri di dalam rumah seperti manusia gua tidak akan bisa membuatmu maju, Nak. Cobalah untuk keluar dan bergaullah. Dunia tidak semengerikan yang kau pikirkan jika kau tetap bisa berpikir positif. Dibawa santai aja….”


Spontan senyum tipis terukir di wajah rupawan Mardin. Berkat nasihat sang ayah, Mardin jadi lebih percaya diri bergaul, bersosialisasi dengan orang lain. Benar kata ayahnya, dunia tidak seburuk yang dia kira biarpun pada kenyataannya dunia yang mereka tempati merupakan tempat mengerikan. Asal mampu berpikir positif dan dibawa santai, semua akan baik-baik saja.


Dia jadi rindu nasihat ayahnya itu. Jika memang benar apa yang dikatakan Haku serta gurunya, Mardin akan segera menyelamatkan ayahnya. Toh Dros, Dimas, dan Paman Rom juga sudah meyakinkannya untuk berani mengambil keputusan yang dianggap tepat.


“Kalau kau butuh teman, aku mau kok jadi temanmu,” tawar Mardin tulus pada Atna. “Aku akan mengajarimu banyak hal agar kau bisa lebih pede di depan umum. Kita bisa mengobrol banyak, belajar bersama, jalan-jalan, bahkan kau juga boleh mampir ke rumahku. Eh?”


Mardin langsung canggung menyadari Atna menatapnya dengan ekspresi pucat pasi, sedangkan Rosa memasang tampang agak jijik sambil berusaha memeluk Atna.


Benar, kan? Mardin salah omong lagi.


“Ma-maksudku… anu… itu— Eh?”


“Astaga!”


“Kak, ada apa ini?”


Mereka bertiga terkejut ketika lampu diseluruh vila tiba-tiba mati total. Ada apa ini? Tidak biasanya listrik mati mendadak begini.

__ADS_1


...~*~*~*~...


__ADS_2