Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 3 : Meledak


__ADS_3


Pagi yang cerah di sebuah gedung SMA salah satu kota di Planet Urdalin. Angin berhembus tenang meniup pelan dedaunan pohon sekeliling halaman, langit biru cerah berhias awan-awan tipis. Suasana yang sangat tenang, cocok untuk melakukan berbagai kegiatan sekolah.


Salah satu kelas di dalam gedung SMA tersebut, tepatnya di kelas 11 Sains C1, sedang berlangsung kegiatan belajar-mengajar. Suasana begitu tenang, para siswa-siswi sibuk memperhatikan dan menyalin segala penjelasan yang diterangkan oleh seorang guru.


Salah satu siswa begitu khusyuk menyalin catatan yang ada di papan tulis ke bukunya. Siswa itu berpenampilan culun, rambut hitam rapi dengan memakai kacamata bulat berukuran besar. Tipikal target empuk buat dirundung.


Kegiatan belajarnya jadi terganggu gara-gara kepalanya dilempari gumpalan kertas dari belakang.


“Aduh.”


Siswa culun itu mengaduh sangat pelan agar tidak didengar sang guru. Sambil mengelus belakang kepalanya, ia menoleh ke belakang agak samping kiri. Wajahnya sewot menyadari si pelempar kertas malah memalingkan wajah ke samping seakan-akan tidak mengakui bahwa dialah pelakunya.


Si culun sudah tahu siapa yang selalu melemparinya kertas setiap kali pelajaran berlangsung. Dia merupakan seorang siswa berpenampilan ala berandalan, tapi selalu memperlihatkan ekspresi manis pada orang-orang. Yang paling mencolok dari penampilannya adalah rambut merah bergaya Mullet panjang alias gondrong tanggung dengan sedikit guratan pirang di beberapa bagian helainya.


Siswa satu ini memang suka berpenampilan aneh, kelakuannya pun dikenal unik oleh banyak murid. Tapi disitulah daya tarik yang membuatnya disenangi banyak orang.


“Mardin…,” desis si culun dengan muka jengkel.


Menyadari dirinya ditatap jengkel oleh si culun, si rambut merah bernama Mardin itu cuma balas menatapnya disertai senyuman manis ala-ala anak polos. Si culun sama sekali tidak luluh, dia masih jengkel dengan tindakan menyebalkan Mardin.


Tapi kalau Mardin sampai melemparinya gumpalan kertas, biasanya ada sesuatu yang ingin Mardin omongin. Si culun mengambil gumpalan kertas yang tergeletak di samping kursi, membuka gumpalannya di bawah meja agar tidak ketahuan guru, lalu membaca tulisannya.


“Dimas, Pak Lukas lama banget ngejelasinnya. Bosen belajar masalah filosofi patung. Masa iya kita disuruh ngerasain makna patung? Dikira mau jadi manekin butik ruko, gitu?”


Dimas cekikikan berusaha menahan tawa. Itulah uniknya sifat Mardin. Ada aja kelakuannya kalau soal nyinyiran orang, biarpun yang dinyinyirin guru sendiri.


Dimas pun kembali berbalik, hanya membalas dengan menjulurkan lidahnya sesaat, lalu kembali fokus belajar. Mardin cuma bisa melotot terkejut, tapi akhirnya dia malah tertawa kecil sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


Mardin dan Dimas, walaupun mereka punya sifat dan penampilan berbeda, tapi sebenarnya mereka merupakan sahabat dekat. Ketika Dimas hendak kena rundung siswa-siswa lain, Mardin bakal melindunginya. Begitu juga sebaliknya, Dimas bakal bantu Mardin mengerjakan pr sekolah kalau sahabatnya itu tidak paham-paham.


Pokoknya, mereka sahabat yang saling membantu satu sama lain.


“Loh?”


“Hah?”


“Apa yang terjadi? Kok geter?”


“Geter-geter gini, bikin nagih, lho.”


“Uwaaah!”


Seluruh kelas bingung dan dikejutkan dengan getaran yang dirasakan di seluruh kelas. Selain itu, mereka juga mendengar suara keras agak jauh dari sekolah. Ketika mereka menengok keluar, terlihat beberapa kali ledakan terjadi di kota. Ledakan tersebut makin lama makin mendekat ke arah sekolah.


Tiba-tiba alarm peringatan bahaya berbunyi. Seluruh murid langsung dilanda panik. Sang guru berusaha menenangkan dan mencoba memberi instruksi pada mereka semua.

__ADS_1


“Anak-anak! Segera pergi berlindung ke rubanah sekolah! Jangan ada yang keluar dari sana ataupun dari gedung sekolah ini sampai ada kabar selanjutnya dari pihak sekolah!”


Dalam kepanikan, para siswa dan siswi langsung berlari keluar kelas. Mardin masih berdiri diam di kelas, memperhatikan ledakan-ledakan tersebut lewat jendela dengan kedua mata biru menyipit tajam. Setelah itu, dia pergi menyusul siswa-siswi lain di urutan paling belakang.


….


Siswa-siswi dari seluruh gedung sekolah berlarian menuju rubanah sekolah untuk berlindung dari kemungkinan bencana ledakan yang terjadi secara misterius. Kawan-kawan satu kelas Mardin juga mulai menuruni tangga menuju lantai bawah.


Mardin tidak ikut turun, justru dia celingukan ke berbagai arah seakan-akan mencari sesuatu.


“Mardin, sini!”


Mardin menemukan sosok Dimas memanggilnya dari balik pintu salah satu ruangan. Ia pun masuk menyusul sahabatnya itu.



Rupanya, ruangan yang mereka masuki merupakan ruang kolam renang yang biasa digunakan untuk praktek olahraga renang. Suasana ruangan terlihat sangat sepi. Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua.


Mardin agak berlari kecil menghampiri Dimas yang sedang berusaha mengambil sesuatu dari belakang loker sekolah.


“Kok bisa sampai duluan ke sini?” tanya Mardin heran pada Dimas. “Jelmaan dedemit kau, yak?”


“Sembarangan!” Dimas melotot sesaat. “Aku masih manusia. Kau aja tadi yang kelamaan nyusul. Nih!”


Dimas melemparkan beberapa barang ke Mardin dan ditangkapnya dengan mudah. Barang-barang itu ialah sebuah skateboard unik berwarna hitam bercorak biru neon, jaket hitam dengan hiasan satu garis biru neon, dan juga sabuk khusus yang dilengkapi tempelan magnet di belakangnya.


“Aku tadi bawa seragam ganti, kok,” jawab Mardin. “Entar kalau yang lain udah dibolehin keluar, langsung tunggu aku di halaman belakang sekolah.”


“Oke. Hati-hati, Sobat!”


“Yo’i!”


Mardin keluar dari ruangan sambil mengendarai skateboard-nya. Saat menuruni tangga pun, ia meluncur lewat atas pagar tangga, lalu terjun ketika sampai di lantai bawah. Dia segera keluar dari pintu lobi gedung sekolah, meluncur melewati halaman depan.


Ketika mengendarai skateboard hendak keluar dari area sekolah, Mardin melihat gerbang sudah ditutup rapat. Hal itu tentu tidak menghalangi niatnya untuk keluar.


Kebetulan ada satu papan tergeletak miring di bangku pinggir jalan menuju gerbang. Mardin menaikan kecepatan skateboard, semakin mendekat pada papan miring itu, lalu meluncur di atas papan hingga ia melayang tinggi.


“Yiiiha!”


Mardin melayang melewati gerbang. Kemeja putih dan helaian rambut merahnya bergerak dramatis diterpa angin. Senyumnya merekah menandakan ia sangat menikmati atraksi mengendarai skateboard ini.


Ia pun mendarat, langsung meluncur cepat meninggalkan gedung SMA menuju jalanan kota yang mulai terlihat sepi.


...~*~*~*~...


“Bwahahahahah…!”

__ADS_1


Seluruh jalanan di bagian kota itu sudah sepi ditinggalkan oleh para penduduk yang panik akibat serangan ledakan dadakan. Puing-puing bangunan berjatuhan, aspal pun retak, beberapa penduduk yang tidak selamat tergeletak tak bernyawa di sana. Serangan dari satu orang ini sudah menimbulkan cukup banyak kerugian dan korban jiwa.


Sang pelaku adalah seorang pria berusia sekitar 40an, bertubuh besar memakai mantel tebal, kumisnya tebal, dan helaian rambutnya pun putih. Pria itu berjalan santai sambil membawa ransel besi di belakangnya. Ia tertawa keras, girang, seraya melempari beberapa granat dan bom ke sembarang arah, membuat bangunan-bangunan hancur, menimbulkan asap tebal di sekitarnya.


“Hahahah! Akulah Boomer! Takutlah padaku, wahai penduduk Kota Kamaju!” teriak Boomer keras. “Aku adalah seorang Rogue yang hebat! Sebentar lagi, aku siap meruntuhkan Guild yang memimpin kota kalian, Guild Jaguara!”


“Pada saatnya, aku akan mengumpulkan banyak Rogue untuk kujadikan pengikutku. Dengan segala persenjataan yang kupunya, aku akan mengalahkan Alpha kalian dan mengambil alih Guild serta kota ini. Dan setelah itu, aku akan menaklukan Aliansi Pembunuh, menjadikan diriku sebagai seorang Sigma!”


“Tidak ada yang bisa mengalahkanku!”


Ia melemparkan sepuluh bom sekaligus ke belakangnya.


“Boomer!!!”


Tepat ia berteriak lantang, kesepuluh bom tadi meledak di belakangnya, menimbulkan ledakan api warna-warni yang terlihat nyentrik untuk seseorang berambisi tinggi seperti dia.


“A-aaa…. To-tolong, Pak. A-ampuni saya….”


Boomer menoleh, menatap tajam pada seorang pemuda yang tengah berlutut takut sambil memeluk skateboard. Wajahnya tak nampak jelas karena ditutup oleh tudung jaket hitamnya. Dia nampak gemetaran, takut dan sulit untuk bangkit agar bisa lari darinya.


“Heh, masih ada bocah ingusan yang tersisa, ya?” Ledek Boomer disertai seringai. “Kau tersesat, Nak…? Butuh pertolongan untuk menyelamatkan pantat menyedihkanmu itu…?”


Pemuda itu makin menunduk takut. “Sa-saya mohon, Pak…. Ampuni saya dan tinggalkan saya sendirian, Pak…. Kaki saya luka abis ketimpa beton, enggak bisa dipakai jalan….”


“Cih!” Boomer mendecih. “Itu deritamu! Orang yang lemah sepertimu tidak bisa bertahan lebih lama di planet mengerikan ini. Rata-rata penduduk di seluruh planet merupakan pembunuh tangguh. Jika kau bukan pembunuh, kau hanya akan menjadi sampah hina, atau organ-organmu bisa dimanfaatkan untuk dijual ke luar planet.”


Boomer merogoh satu lagi granat dari dalam saku, bersiap melepas pengait pemicunya.


Dengan seringai lebar nan mengerikan, Boomer berucap, “Tubuh lemahmu saja tidak berguna untuk dimanfaatkan organnya. Jadi, lebih baik kuhancurkan saja sebagai hiburanku sendiri. Melihat manusia meledak adalah kesenanganku, anak muda.”


Boomer melemparkan granat itu ke arah si pemuda. Namun mengejutkannya, pemuda itu mampu bangkit berdiri, memukul balik granat menggunakan skateboard. Beruntung, granat itu tak sampai mengenai Boomer, melainkan hampir mengenai kepala samping Boomer, melesat melewatinya dan meledak di belakang.


Pria itu mematung di tempat, tercengang dengan apa yang ia lihat. Pemuda yang ia anggap lemah dan tak berdaya rupanya bisa berdiri serta menangkis granatnya hanya menggunakan skateboard.


Pemuda tersebut menghentakan ujung skateboard ke tanah, berdiri tegap penuh percaya diri. Namun kepalanya tertunduk dengan wajah masih tak nampak akibat lindungan tudung jaket.


“Meh~ Sayang sekali. Meleset, ya?”


Si pemuda mulai menyibakan tudung jaketnya. Kini terlihat jelas rambut Mullet merah itu sengaja diacak agar tambah nyentrik. Sepasang mata biru gelap menatap lurus ke arah Boomer disertai senyum ramah yang sangat bersahabat.


Namun, di balik senyum ramah itu tersimpan sifat busuknya.


“Padahal, aku ingin sekali melihat kepalamu meledak....”


...~*~*~*~...


__ADS_1


__ADS_2