
Pagi hari yang indah, cerah, dan damai di sebuah rumah kos kecil yang terletak di pinggiran kota. Letaknya cukup sepi dari hiruk-pikuk kegiatan kota. Hanya terdapat beberapa baris rumah kos serupa, dipisah oleh pagar-pagar kecil. Seterusnya akan terlihat lebih banyak hutan dan bangunan-bangunan tua yang sudah rusak.
Bisa dianggap daerah sini tak begitu terurus, tapi tetap nyaman ditinggali karena cukup aman dari serangan monster dan Rogue yang berkeliaran.
“Ole! Ole! Ole! Saatnya berkebun!”
Si rambut merah Mullet ini berteriak heboh, begitu ceria ketika tiba waktunya untuk berkebun. Karena hari ini libur, jadi waktu luangnya ia habiskan untuk berkebun. Lumayan buat nambah-nambah bahan makanan minggu ini tanpa harus mengeluarkan banyak uang belanja.
Selama Mardin berjalan riang dari dapur menuju keluar rumah, bentukan tumbuhan parasitnya keluar dari leher Mardin.
“Kau ini selalu berisik kalau pagi-pagi begini, Mardin,” ucap Dros terdengar jengkel dengan teriakan penuh semangat dari Mardin.
“Pagi-pagi musti semangat, dong!” Mardin mulai membuka pintu rumah kos. “Apalagi hari ini berkebun. Pasti bakal ngeluarin banyak tenaga dan keringat.”
“Haaah….”
Dros menghela nafas, memutuskan tuk kembali masuk ke dalam leher Mardin ketika pemuda itu sudah keluar dari kos.
Sekarang, Mardin berjalan menuju gudang kecil di samping rumah kosnya. Tepat saat keluar, Mardin melihat sosok pemilik kos sedang menyirami bunga bersama satu robot pembantu menemaninya.
Rumah kos Mardin bersebelahan dengan rumah pemilik kos. Makanya, Mardin bisa melihat jelas kegiatan apa saja yang dilakukannya di halaman rumah walau hanya dipisah oleh pagar setinggi pinggang orang dewasa.
“Pagi, Nek Sita!” sapa riang Mardin.
Mendengar Mardin menyapanya membuat Nek Sita tersenyum, “Pagi juga, Nak Mardin. Semangat sekali hari ini.”
“Iya, Nek. Lagi mau berkebun ini.”
Nek Sita teringat sesuatu. “Oh, iya. Nenek mau beli beberapa sayuran darimu, Nak Mardin. Sayur kol dan terong kemarin itu sangat enak rasanya, apalagi dijadikan lalapan ayam panggang.”
“Wah! Senang rasanya kalau Nenek suka.” Mardin tersenyum lebar. “Nenek boleh kemari mengambilnya. Enggak usah beli, ambil gratis pun tak apa.”
“Jangan gitulah, Nak Mardin. Nenek ‘kan jadi tak enak.”
“Enggak apa-apa, Nek. Saya enggak bisa habisin entu sayuran satu kebon sendirian. Kalau perlu, boleh kok minta ke saya.” Kemudian, Mardin mendadak mengalihkan topik pembicaraan. “Oh iya, Nek. Saya masih nunggak bayar kosan yang bulan lalu, kan? Apa enggak apa-apa, tuh? Lagi enggak ada duit soalnya.”
Nek Sita nampak berpikir sejenak, sedangkan robot pembantu di sampingnya masih menyirami tanaman-tanaman di depan rumah.
“Gini aja, Nak Mardin. Nenek ambil sayur-sayurannya. Sebagai gantinya, kamu cuma bayar 350 Dt untuk yang bulan lalu sama yang sekarang.”
Mardin terbelalak tak percaya dengan penawaran tersebut, senyumnya makin sumringah. “Beneran, Nek? Saya dikasih potongan dua bulan sekaligus, nih?”
__ADS_1
Sang nenek hanya mengangguk sebagai balasan sambil balas tersenyum seadanya.
Senangnya hati Mardin dikasih potongan harga buat bayar kos. Biasanya, harga sewa rumah kos milik Nek Sita dibandrol harga 550 Dt perbulan. Diberi potongan harga semurah itu cuma memakai sayur-sayuran sebagai jaminan, siapa yang tidak senang?
Nek Sita ini memang terkenal sangat baik kepada para penyewa kosnya, apalagi rumah kosnya termasuk bagus dan cukup besar ketimbang kos-kosan lain. Tidak masalah bagi penyewa nunggak belum bayar selama beberapa bulan, asal janji sanggup bayar nantinya. Kadang yang nunggak itu sering diberi pekerjaan untuk mengurus toko atau bantu-bantu pekerjaan rumahnya sebagai jaminan jika tidak sanggup bayar sewa kos.
Sayangnya, di balik sifatnya yang baik dan dermawan, Nek Sita hanya hidup sendirian di rumah. Suaminya sudah meninggal sekitar lima tahun lalu akibat dibunuh Rogue, dan dia juga tidak memiliki anak maupun cucu. Semua usaha yang ditinggalkan sang suami harus diurus oleh dirinya sendiri. Hanya satu robot pembantulah yang selalu menemani Nek Sita.
Makanya, Nek Sita bersikap sangat baik pada para penyewanya karena menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga, terutama Mardin. Mardin sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri.
“Makasih banyak ya, Nek. Nanti sore saya bakal anterin sayur-sayurnya, atau Nenek bisa ke sini kalau mau milih-milih yang bagus buat Nenek. Soalnya, saya sibuk berkebun sama lakuin kegiatan lainnya,” kata Mardin ramah.
“Anak yang aktif,” puji Nek Sita. “Ya, sudah. Semoga harimu menyenangkan, Nak Mardin.”
“Nenek juga, semoga sehat selalu.”
Setelah berpamitan, Nek Sita masuk ke dalam rumah bersama robot pembantunya, sedangkan Mardin mulai masuk ke dalam gudang.
“Siap-siap berkebun!” teriak Mardin semangat.
Mardin mengumpulkan berbagai macam alat dan bahan berkebun, seperti sarung tangan, sekop, sampai keranjang untuk panen nanti. Namun, ada yang kurang menurut Mardin. Ketika ia mengecek laci atas lemari gudang, dia sama sekali tidak menemukan bahan-bahan keperluan kebun.
“Kenapa?” Dros muncul, keluar dari lehernya ketika merasakan kebingungan Mardin.
“Emm….” Mardin mengetuk-ngetuk bibirnya menggunakan telunjuk. “Bibit tanaman sama pupuk habis, Dros.”
“Iya. Cuma toko langganan biasa aku beli keperluan kebun hancur bekas kena ledakan kemarin. Kalau mau beli yang di sekitar sini, kualitas bibit sama pupuknya kurang bagus,” jelas Mardin sambil berpikir.
“Terus, mau bagaimana kalau serba salah begini?” tanya Dros ikutan bingung.
Mardin sempat berpikir mencari solusi selama beberapa saat. Kemudian, senyum sumringah terukir di wajahnya. Mardin menjentikkan jari, pertanda ia baru saja menemukan ide bagus.
“Aku tahu kemana kita harus mencari kebutuhan berkebun.”
“Oh, ya? Dimana?”
...~*~*~*~...
“Owwwh, yeeeaaah….”
Dros terdengar bete ketika melihat pemandangan sekitar, terlihat luas, tapi kumuh dan cukup gersang. Sejauh mata memandang, terlihat banyak bangunan yang sudah runtuh, jalanan hancur, dan keadaan sepi tiada tanda-tanda kehidupan.
Sekarang, Mardin berada di salah satu sektor kumuh perkotaan. Daerah sini merupakan daerah yang belum sempat diurus Guild Jaguara. Tidak ada siapapun yang berani lewat sini karena dianggap sebagai area berbahaya, dipenuhi oleh sarang monster.
__ADS_1
Namun, selama Mardin menelusuri daerah sini menggunakan skateboard kesayangannya, dia sama sekali tidak menemukan adanya tanda-tanda monster. Yang dilihat cuma bangunan-bangunan runtuh, sangat sepi dan membosankan.
“Kenapa musti lewat sini?” tanya Dros bete, masih menempel di leher Mardin. “Kan masih bisa jalan muter buat sampai ke toko tujuan.”
“Kalau muter, jaraknya jauh banget. Bisa entar siang baru sampai ke sono, terus baliknya malah kesorean. Jadi, jalan sini yang paling tercepat buat sampai tujuan,” jelas Mardin.
Mardin masih berseluncur dengan santainya di atas skateboard, melewati belokan jalan yang benar-benar rusak serta berlubang. Selama Mardin lewat, geraman-geraman aneh terdengar sangat pelan di setiap reruntuhan bangunan, sesuatu mengawasinya dalam jumlah banyak.
Dros sempat celingukan melihat keadaan sekitar, ia merasa bahwa Mardin saat ini tengah diawasi oleh banyak obyek.
“Kau merasakannya?” tanya Dros.
Mardin masih menatap lurus jalanan sambil terus berseluncur, tapi dirinya sudah mulai waspada. “Iya. Ada suara-suara geraman di dekat sini. Kita sedang diawasi.”
“Tepatnya kau saja, Kawan,” kata Dros. “Kau bisa mengatasinya sendiri, bukan? Aku balik ke tubuhmu dulu.”
Buru-buru Dros masuk ke dalam leher Mardin. Mardin hanya merespon sikap Dros dengan terkekeh kecil. Dari sikap santainya, Mardin sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan apapun yang tengah mengawasi gerak-geriknya.
Justru Mardin berharap mendapat kejutan dari mereka.
“GRRRRAAAAAHHH!!!”
Mardin terpaksa menghentikan laju skateboard ketika bermunculan banyak monster di setiap sudut reruntuhan bangunan. Semua monster berkumpul, mengepung Mardin di berbagai sisi tanpa meninggalkan sedikit celah untuk Mardin kabur.
Tak apa. Lagipula, Mardin sama sekali tidak kepikiran tuk kabur.
“Wohooo, Kawan!” Iseng-iseng Mardin mengangkat kedua tangan sambil mundur perlahan. “Kalian bermaksud mengundangku ke pesta kalian, huh? Maaf, maaf, nih. Aku lagi ada kesibukan. Kebon belum diurus. Jadi, musti cepet-cepet balik.”
Para monster sama sekali tidak peduli dengan ocehan Mardin. Satu monster di depannya mulai mengayunkan cakar, berniat mencakar Mardin. Dengan mudah Mardin tahan pergelangan cakar itu dengan satu tangan. Di saat itu pula, Mardin tendang skateboard-nya sampai membentur kepala sang monster, lalu memantul kembali kepadanya. Setelah skateboard ditangkap, dipukulkannya benda itu ke kepala monster dengan sangat keras sampai kepala itu hancur.
Gerombolan monster menggeram, meraung marah ketika melihat satu monster telah menjadi korban. Kalau sudah begini, mereka mengagap Mardin telah mendeklarasikan perang.
“Baiklah, kawan-kawan.”
Mardin mengeluarkan golok dari dalam skateboard, menempelkan skateboard-nya di tempelan magnet pada sabuk bagian belakang, dan berdiri santai sambil memanggul golok futuristik itu di bahu.
“Kumpul-kumpul bareng, lemaskan otot, bersoraklah dengan riang.”
Ia lambungkan sesaat goloknya, kemudian ditodongkan ke depan dengan penuh percaya diri.
“Saatnya berpesta!” Sebelah mata Mardin dikedipkan.
__ADS_1
...~*~*~*~...