
Demi apa guru cabulnya itu menghubunginya sekarang? Jangan sampai Haku dibuat tambah bete lagi dengan celotehan tak penting, apalagi dikasih tugas yang makin menambah beban hidupnya.
Sudah dikeluarkan dari Guild dengan alasan kurang menyakinkan, sekarang Haku malah menjadi seorang Rogue pula. Kalau sampai gurunya nyuruh macam-macam, bakal Haku sebar aib sang guru yang suka mengoleksi berbagai macam video dan gambar cabul tersebut.
“Nape?”
Bukannya disapa sopan, Haku malah menjawab panggilan dengan nada datar, terdengar sama sekali tidak tertarik untuk bicara pada sang guru.
Di seberang sana, Luan menyahut, “Dih. Kok gitu sih jawab panggilan guru terhormat?”
“Buat apa kukasih hormat sama kakek-kakek yang sukanya lihat belahan pantat-dada cewek?”
Kata-kata itu berhasil menusuk hati sanubari Luan, menciptakan retakan-retakan imajiner di belakangnya. Memang mulut muridnya yang satu ini tak main-main tajamnya. Kalau ngomong suka bener.
“Ish, jangan gitulah, Haku…. Aku lagi menghubungimu secara baik-baik, lho….”
“Baik-baik kok nadanya alay begitu? Baru puber kedua kau?”
Kata-kata itu berhasil menusuk hati sanubari Luan part dua, seketika membuat tubuhnya seakan-akan berubah menjadi batu retak. Ibarat kata kalau mulut orang yang suka ngegas dianggap kagak disekolahkan, mulut Haku ini udah lulus S3. Saking jeniusnya tuh mulut, omongannya jadi makin bener walau menyakitkan.
“Ah! Sudah-sudah….”
Luan berusaha mengalihkan topik. Kalau diajak basa-basi lagi, makin tajam pula mulut muridnya itu ngata-ngatain dia.
“Aku cuma ingin tahu, bagaimana keadaanmu sekarang di kota milik Guild orang? Sudah ketemu Mardin?”
Sambil mengotak-atik laptopnya dengan satu tangan, Haku menjawab dengan nada yang lebih tenang, “Sudah. Orangnya lumayan susah diajak kerja sama. Tapi, dia bilang bakal pikir-pikir lagi tuk terima tawaran kita.”
“Dia pasti terima, kok.”
“Eh?”
Haku sontak kaget dengan ucapan Luan. Dia bingung, bagaimana bisa gurunya yakin kalau Mardin akan menerima tawaran mereka untuk membebaskan Sang Iblis Buas dari kekuatan Segel Midra? Padahal kemarin Mardin sendiri terlihat kurang yakin tuk menerima tawaran tersebut, bahkan terkesan hendak menolak.
“Bagaimana kau yakin dia akan menerima tawaran kita?” tanya Haku curiga. Dia curiga kalau gurunya ini mengambil langkah sendiri di belakang tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
“Emmm….”
Luan malas mengatakan yang sebenarnya kalau ia tahu Mardin akan menerima tawaran mereka dari Paman Rom. Nanti Haku malah banyak tanya, seperti menanyakan bagaimana Mardin menerimanya, siapa Paman Rom, dan lain sebagainya. Pria dewasa itu kalau sudah banyak tanya macam mengintrogasi tersangka kasus, terlalu mengintimidasi.
“Cuma asal tebak dari berbagai aspek kemungkinan. Tapi aku benar-benar 99% yakin kalau Mardin pasti bakal menerima tawaran kita.”
“Kenapa cuma 99%? 1%-nya gimana?” tanya iseng Haku.
Di seberang panggilan, Luan terkekeh ringan, “Hehe…. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, Muridku. Yang ada hanya hampir mendekati sempurna.”
Haku memutar dua bola mata biru terangnya. Gurunya ini memang pandai berkata sok bijak begitu.
“Kau tidak usah banyak tanya soal keputusan Mardin, Muridku Haku. Sekarang, kau cuma perlu fokus mengawasi, membimbing, dan menyerahkan misi untuknya. Misi pertamanya akan segera kukirim lewat emailmu.”
Baru Luan bicara demikian, notifikasi pesan email masuk muncul di laptop. Haku membuka dokumen email yang ia terima, membaca dengan teliti isi data dari calon target yang akan diincar Mardin kelak.
“Datanya udah masuk, kan?” tanya Luan memastikan di panggilan. “Dia merupakan pengguna Segel Midra di posisi ke lima, yang paling bawah. Anak buahku bilang kalau kemungkinan malam ini orang itu bakal datang ke Kota Kamaju. Pasalnya, dia ke sana karena ingin sembunyi dari incaran pihak keamanan Pasukan Orbit.”
“Dia buron?” tanya Haku, masih fokus membaca data tersebut.
“Ya. Dia jadi buronan karena telah melakukan perdagangan dan pengedaran obat-obatan terlarang. Jadi, dia pergi ke Planet Urdalin biar bisa sembunyi. Kan tahu sendiri, pemerintah Serikat Galaksi tidak akan bisa menangkap penjahat di planet penuh kejahatan ini. Makanya, Urdalin disebut surganya para kriminal.”
“Jadi, kapan orang ini bisa dieksekusi Mardin?”
“Tergantung Mardin-nya. Enaknya kapan dia mau eksekusi tuh ‘jingan. Cuma, lebih cepat bertindak, jauh lebih baik. Kita tidak bisa terlalu lama membiarkan Sang Iblis Buas tetap menderita dalam kurungannya di lab Guild orang.”
Benar yang dikatakan Luan. Sebaiknya, Mardin musti lebih cepat mengambil tindakan agar segera dapat menyelamatkan Sang Iblis Buas. Sang legenda itu sudah terlalu lama dieksploitasi oleh pihak Aliansi Haxona. Jika tidak segera bertindak, mungkin hal yang jauh lebih buruk dari kematian akan menimpanya.
Yang membuat Haku agak ragu adalah keputusan Mardin. Apakah benar seperti dugaan gurunya kalau Mardin akan menerima tawaran tersebut?
“Sekali lagi, kau tidak perlu khawatir soal keputusan Mardin. Kerjaanmu cuma mengawasi dan membimbingnya saja,” ucap Luan enteng.
Sesaat Haku mengelus tengkuknya yang tersembunyi di balik helaian rambut perak panjangnya. “Y-ya sudah kalau gitu. Cuma, gimana caranya aku bisa mengawasi Mardin, Guru? Tidak mungkin ‘kan aku harus sembunyi-sembunyi mengawasinya dari kejauhan macam penguntit.”
“Siapa pula yang suruh kau jadi penguntit? Enggak elit kali…,” remeh Luan. “Aku punya ide yang jauh lebih baik biar bisa mengawasi Mardin tanpa harus terlihat macam penguntit.”
__ADS_1
Bukannya penasaran, Haku malah menaikan sebelah alisnya heran. Entah mengapa, dia mencium bau-bau kebodohan dari ide yang akan diberikan gurunya ini.
“Apa itu?”
Terdengar kekehan macam kakek-kakek girang dari panggilan telepon mereka. Dari tawa Luan saja, Haku makin yakin kalau ide ini benar-benar merupakan ide yang bodoh.
“Gini, bagaimana kalau…. Psyetpsyetpsyetpsyetpsyetpsyet— Haaah…. Psyetpsyetpsyetpsyet.”
“Ish! Yang jelas kalau ngomong, Guru…! Suara kau macam marmut kena asma,” omel Haku jengkel dengan sifat bertele-tele Luan.
Haku pun mendengarkan setiap detail rencana yang disampaikan Luan padanya. Pada akhirnya, Haku menepuk dahinya sendiri setelah menyadari rencana tersebut.
Memang benar dugaannya, rencana yang dibuat Luan sungguh bodoh.
...~*~*~*~...
Hujan sudah mulai reda tepat ketika waktu hampir menunjukan pukul tengah malam. Sebuah mansion berdiri kokoh dan megah, dijaga oleh barisan pengawal berjas hitam tepat di depan pagar-pagar tinggi berwarna emas tersebut.
“Dia sudah tiba?” tanya salah satu pengawal lewat ala komunikasi.
Setelah mendapat jawaban dari rekan di seberang sana, ia segera memberi aba-aba pada para pengawal lainnya untuk makin bersiaga di posisi masing-masing.
Tak berapa lama, terlihat deretan mobil mewah meluncur di jalanan mendekati pagar depan vila. Pagar berjeruji emas itu terbuka secara otomatis ketika mobil paling depan semakin mendekat. Barisan mobil itu pun segera memasuki halaman depan mansion yang begitu luas dan bersih.
Setiap sudut area di halaman depan mansion nampak dihias oleh barisan pohon, hamparan rumput-rumput di pinggiran jalan, dan terdapat pancuran air dengan patung seorang wanita berpakaian kuno menumpahkan kendi berisi air dibangun di tengah-tengah halaman.
Semua mobil itu segera terparkir di halaman depan. Mobil di barisan tengah nampak berhenti tepat di depan tangga pintu masuk bangunan mansion.
Salah satu pengawal membukakan pintu bagian penumpang, menampakan sosok seorang pria berpakaian nyentrik keluar dari mobil tersebut. Dia merupakan seorang pria berkulit tan mengkilat, berambut pirang acakan, memakai jubah mantel berbulu yang sangat panjang, tebal, bercorak loreng hitam-emas ala corak harimau.
Selain itu, pria itu juga memakai kacamata lensa jingga. Barisan jari-jemarinya terpasang banyak cincin dari berbagai macam jenis bahan dan hias bebatuan, mulai dari perak, emas, dengan batu berlian, jamrud, sampai ruby. Bukan hanya itu, lehernya pun terpasang berbagai jenis kalung berukuran panjang dan besar, rata-rata terbuat dari emas serta bebatuan kristal mahal.
Pokoknya, dia terlihat bagaikan toko perhiasan berjalan. Para pengawal serta pelayan yang ada di sekitar nampak kesilauan melihat betapa gemerlapnya sosok majikan mereka sekarang.
Setelah keluar dari mobil, semua pelayan dan pengawal segera membungkukan badan mereka dengan patuh untuk menghormatinya. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan, justru dia malah terpana dengan kemewahan dari mansion miliknya yang terlihat begitu megah. Sangat sesuai dengan ekspetasi yang selama ini ia harapkan.
__ADS_1
“Halo, Sayang…. Akhirnya, aku kembali ke kampung halaman yang sangat kurindukan,” ucapnya disertai seringai bangga.
...~*~*~*~...