
“Jadi, kemarin kau ketemu sama cowok misterius bernama Haku?”
Malam harinya, Mardin pergi mengunjungi rumah Dimas lebih dulu untuk memperbaiki persenjataannya. Ya, mulai dari golok sampai skateboard yang Mardin gunakan merupakan buatan Dimas.
Dimas memang pemuda yang sangat berbakat dalam hal-hal teknisi dan perakitan mesin. Jadi, membuat senjata berteknologi canggih seperti ini masih bisa disanggupi Dimas. Malah ia sangat menikmati kegiatan rumit ini.
Saat ini, mereka berdua sedang berada di garasi rumah Dimas. Pemuda culun itu nampak memperbaiki baling-baling mesin skateboard saat dalam mode skyboard. Di samping papan canggih itu juga terlihat golok biru Mardin tergeletak di sana.
Mardin bersandar di sandaran kursi yang berada di samping Dimas. “Iya…. Kayak ceritaku tadi.”
Iseng-iseng Mardin memainkan gir mesin yang tak terpakai. “Gurunya minta aku buat selametin ayahku sendiri. Niatnya baek, dan terbukti juga kalau perkataannya itu ada benarnya. Cuma, aku agak curiga kalau gurunya ini bakal ambil kesempatan dari apa yang aku lakukan demi menyelamatkan ayahku.”
Masih sibuk memperbaiki skyboard, Dimas berpendapat, “Emang, sih. Sebagai anak yang baik, kita wajib dong selametin orang tua kita sendiri. Aku juga sampai saat ini masih berjuang buat selametin ibuku dari penyakitnya. Cuma kasusmu ini beda. Ada kemungkinan pihak-pihak tertentu bakal mengambil kesempatan dari setiap langkah yang kau ambil.”
Setelah dirasa sudah bagus, Dimas mengubah skyboard menjadi skateboard, membuka bagian slot di bawah skateboard yang biasa digunakan untuk menyimpan golok.
“Tapi kalau aku coba ngira-ngira, nih. Pihak Haku ini pengen menjalin semacam…” Dimas memutar-mutar satu tangannya sesaat sambil berpikir. “…hubungan mutualisme.”
Mardin menaikan sebelah alis. “Hubungan mutualisme?”
“Iya. Kan udah terbukti kalau omongan Haku sama permintaan gurunya itu emang ada benarnya soal Segel Midra, ayahmu masih hidup, dan lain sebagainya. Kau sama sekali tidak dirugikan di sini, Mard. Dan mereka juga dapat untungnya dengan apa yang kau lakukan.”
Dimas melanjutkan sambil membersihkan golok Mardin. “Di sini, kedua belah pihak sama-sama diuntungkan. Ayahmu bebas, kau dan ayahmu jadi keluarga bahagia lagi. Mereka yang ngasih permintaan untuk membebaskan ayahmu juga diuntungkan, walau kita masih belum tahu keuntungan macam apa yang mereka dapatkan.”
“Intinya, tidak ada pihak yang rugi kalau kau menerima tawaran Haku dan gurunya. Parasitmu sudah meyakinkan soal kebangkitan ayahmu itu, kan?”
Selain tahu Mardin merupakan Rogue, Dimas juga tahu kalau ia seorang Ruzan yang memiliki tumbuhan parasit di dalam tubuh. Mereka merupakan sahabat dekat, tentu sudah saling tahu masing-masing rahasia seperti halnya saudara satu keluarga seiring berjalannya waktu.
Sebagai balasan, Mardin cuma mengangguk.
“Nah! Terus, apa lagi yang perlu dipikirkan? Beda lagi ceritanya kalau tidak ada yang meyakinkanmu soal permintaan mereka. Bisa aja ‘kan mereka cuma bohong kalau ayahmu masih hidup. Tapi nyatanya, parasitmu menjamin tentang kebenaran itu. Makhluk itu udah nyatu sama darah-dagingmu, enggak mungkin juga bakal ngebohonginmu.”
“Hah, dia mengerti aku, rupanya.”
Mardin cuma memutar bola mata menanggapi ucapan tengil Dros di dalam pikirannya.
“Ya, ya…. Memang ada baiknya aku menerima tawaran mereka kalau kami sama-sama diuntungkan jika tugas ini berhasil,” kata Mardin masih memainkan mesin gir itu. “Tapi, aku masih perlu mendiskusikan hal ini pada Paman Rom. Dia merupakan sahabat kepercayaan ayahku. Jadi, dia wajib tahu.”
“Kalau itu terserah kau. Aku cuma pengen ngasih pencerahan saja walau agak kurang membantu.”
“Dih~ Pencerahan, katanya.” Mardin terdengar agak meledek. “Sama-sama di jalan setan, enggak ada cerah-cerahnya.”
“Meh, ke jalan setan aja pakai ngajak-ngajak. Ogah!”
“Hahaha….”
Keduanya tertawa bersama menanggapi candaan garing mereka. Namanya sahabat, pasti tidak ada rasa canggung saat mereka berkomunikasi walau candaan yang dilontarkan terdengar garing bagi orang lain.
“Omong-omong, Mard.”
Dimas memperlihatkan tiga slot pada bagian bawah skateboard, dua slot berukuran sama, sedangkan satunya lagi lebih kecil. Ketiga slot ini digunakan sebagai wadah penyimpanan, dan salah satunya dipakai untuk menyimpan golok. Itulah sebab mengapa skateboard Mardin terlihat lebih besar ketimbang skateboard biasa.
“Ini satu slot yang ukurannya sama dengan slot golok bisa buat nyimpan senjata lain. Kau tidak mau bikin satu golok lagi, gitu?” tanya Dimas.
Mardin menjawab, “Aku belum terbiasa pakai dua golok, jadi satu aja ‘dah cukup. Lagian, harga Material Ru mahal buat bikin senjata baru. Lagi bokek ini…. Kosan aja masih nunggak.”
__ADS_1
Material Ru dikenal sebagai bahan hasil tambang yang sering digunakan untuk membuat berbagai jenis senjata. Para pengguna Energi Ru biasanya menggunakan senjata berbahan dasar Material Ru agar dapat dengan mudah menyalurkan Energi Ru dari dalam tubuh ke senjata dan menghasilkan Unsur Ru yang lebih stabil untuk membentuk serangan maupun pertahanan.
Misalnya, kemampuan Tebasan Neon Biru milik Mardin. Mardin menyalurkan sedikit Energi Ru ke goloknya, mengubahnya menjadi Unsur Ru dalam bentuk tebasan sabit berwarna biru neon yang dapat memberikan kerusakan cukup fatal pada target.
Selain itu, Material Ru dianggap mahal karena sulit mendapatkannya. Banyak pembunuh dari berbagai Guild maupun kelompok Rogue berebut mendapatkan Material Ru agar dapat membuat senjata terhebat untuk mereka sendiri. Material ini pun hanya mampu didapat di tanah pertambangan Planet Urdalin.
Di planet lain mungkin ada, tapi planet-planet tersebut tidak ramah terhadap segala bentuk kehidupan, sulit menambangnya biarpun menggunakan pesawat penambang luar angkasa yang canggih sekalipun.
“Dih, pembunuh macam kau bokek begitu? Belum panen organ, nih?”
Topik mengerikan seperti ini sudah biasa dibicarakan masyarakat Planet Urdalin. Pembunuh dari setiap peran, mau itu pembunuh dari Guild ataupun Rogue memiliki kegiatan untuk membunuh pembunuh lain yang dianggap mengancam bagi mereka agar organ-organ tubuhnya bisa dijual ke luar planet.
Pembunuh dari Guild sering melakukan pembunuhan terhadap anggota Guild musuh atau Rogue yang dianggap meresahkan di wilayah kekuasaan. Sedangkan Rogue bebas membunuh siapa saja, mau itu sesama Rogue, pembunuh dari Guild, sampai warga sipil. Hal itu juga yang menyebabkan reputasi Rogue dipandang buruk. Walau sebenarnya tidak semua Rogue seliar itu, contohnya saja Mardin.
Pemuda berambut Mullet merah ini anti membunuh warga sipil. Dia menganggap warga sipil tidak ada kaitannya dengan kegiatan bunuh-membunuh dan tidak seharusnya menjadi korban. Walau memiliki pandangan demikian, bukan berarti Mardin ingin menjadi pahlawan bagi mereka. Urusan Mardin hanya membunuh sesama pembunuh dan memanen organ mereka. Urusan warga sipil biar pihak Guild yang mengurus.
“Banyak yang ancur badannya setelah dibunuh,” jawab Mardin bete. “Rogue kemarin juga badannya kena tusuk tanduk monster, enggak bisa juga diambil organnya gara-gara kebelet pengen balik ke sekolah, lupa bawa wadahnya pula. Aduh! Aku baru ingat kalau wadah-wadah penyimpanan organ tinggal sedikit lagi.”
Itulah kenapa Mardin susah cari uang dari hasil penjualan organ tubuh. Setiap musuh yang ia bunuh pasti berakhir dengan bagian tubuh hancur, rusak gara-gara kelepasan memberi serangan fatal, atau organnya malah penyakitan.
Dan lagi, wadah khusus penyimpanan organ tubuh yang berupa tabung dari berbagai ukuran sudah menipis stoknya, Mardin musti beli lagi.
Biasanya, jika pembunuh dari Guild mudah mendapatkan tabung-tabung itu lewat Guild mereka sendiri. Namun berbeda halnya dengan Rogue, mereka harus hati-hati membeli tabung tersebut secara online dari luar planet atau beli ke sesama Rogue. Kalau sampai ketahuan pihak Guild, bisa makin diburu mereka.
“Kau ‘kan bisa minta sama Paman Rom?” saran Dimas.
Mardin mengedipkan matanya beberapa kali, baru menyadari akan ide itu. “Benar juga. Kalau ujung-ujungnya bakal dijual oleh pihak Paman Rom, mending minta ajalah tabungnya ke dia.”
Dalam transaksi jual-beli organ tubuh, tentu Mardin tidak serta-merta melakukan penjualan sendirian. Jika ia menjual organ hasil buruannya sendiri, bakal dianggap ilegal dan harganya pun jadi lebih murah. Beda lagi jika dia menjual lewat perantara resmi.
Mardin sendiri tidak tahu perusahaan macam apa yang bekerja sama dengan pamannya. Toh dia tidak peduli. Yang penting ia mendapat bagian dari hasil penjualan tersebut, pemasukan lancar, kebutuhan ekonomi pun terpenuhi.
“Kau tidak ingin menggunakan golok milik ayahmu?”
Mardin terdiam sesaat, mengingat tentang golok merah itu, satu-satunya peninggalan berharga milik ayahnya.
Golok itu sebenarnya ada dua, tapi yang ditemukan hanya satu. Dan sekarang, senjata berharga itu disimpan apik di kosan Mardin.
Mardin sama sekali tidak ingin menyentuh golok ayahnya itu. Terlalu sakit hatinya mengingat betapa menyedihkannya ia di masa lalu ketika mengetahui ayahnya tewas terbunuh oleh pembunuh lain.
“Enggak, ah. Aku mau menyimpan peninggalan ayahku itu baik-baik.” Mardin mengacak rambut merahnya. “Lagipula, warna merah bukan gayaku banget.”
“Perkara warna merah doang, Mard…. Mard. ‘pala kau pun warna merah.” Dimas memasukan golok Mardin ke dalam slot skateboard.
Mardin memperhatikan helaian panjang rambut merahnya sendiri. “Aelah~ Kalau pun bisa diganti warnanya, bakal kuganti jadi warna biru. Cuma kalau diganti biru dengan gaya jamet begini, bakal disangka MC game yaoi.”
“Kau pun aneh-aneh pakai gaya rambut nyentrik begitu,” komentar Dimas lagi. “Gimana kagak dipanggil jamet, coba?”
“Eeeh…. ‘kan aku orangnya emang aneh. Dan aku juga mau jadi aktivis komunitas perjametan. Biar jamet-jamet antar planet kagak dianggap remeh lagi. Satu-satunya jamet yang paling ganteng ‘kan cuma aku seorang.” Mardin menyibakan poninya ke atas dengan pedenya. “Selain itu, lututku juga lumayan lentur lho buat joget ritual tolak bala ala komunitas jamet.”
Dimas mendadak bengong dengan mulut agak menganga dan kacamata bulatnya sedikit melorot mendengar ucapan antik Mardin.
Asli, Dimas enggak kuat punya temen sinting macam Mardin gini. Udah kelakuan aneh, penampilan jamet, narsis pula. Orang jenius mana coba yang bangga bilang dirinya sendiri aneh? Kelakuan Mardin ini benar-benar membuat banyak pertanyaan tercipta di kepala Dimas. Seperti,
Apa alasan Dimas hidup?
__ADS_1
Kapan Dimas mati?
Kenapa Dimas temenan sama jamet?
Kalau Dimas mau mati, dia pengan mati dalam keadaan enggak perjaka lagi. Tapi, siapa yang mau ambil perjaka dia? Cewek-cewek aja pada ogah deket-deket sama cowok culun kayak Dimas.
Dimas. Oh, Dimas.
Jadi petani cabe di planet alien kayaknya lebih menjamin, deh.
“Aduh, Mardin….” Dimas menyentuh dadanya sendiri. “Lama-lama stroke dadakan aku liat kelakuanmu kayak gini.”
“Ya, jangan gitu, lah. Nanti siapa yang bakal modif senjataku kalau bukan kau?”
“Jadi, hubungan persahabatan kita cuma sebatas modif senjata?”
“Terus gimana? Mau kucipok terus ngelamarmu, gitu?”
“Hueeek! Jijik, ‘jingan!!!”
“Nyehahaha…!”
Mardin ngakak melihat respon sahabatnya itu. Makin ke sini, arah pembicaraan mereka jadi makin aneh.
“Udah, ah! Enggak usah bahas-bahas kayak gitu lagi. Entar belok beneran pula.”
Dimas mulai menyerahkan skateboard Mardin yang sudah selesai ia modif. Skateboard bergaya futuristik itu terlihat bersih dan mengkilat, motif biru di antara warna hitam pada papan itu pun nampak begitu mencolok.
Sejenak Mardin memperhatikan penampilan skateboard-nya itu. Terlihat lebih bagus dan menarik, saat diangkat pun terasa lebih ringan walau ukurannya besar dan tebal.
Saat Mardin sibuk memastikan keadaan skateboard tersebut, iseng-iseng Dimas memulai pembicaraan dengan topik yang berbeda.
“Oh, iya, Mard. Tadi aku sempat cari-cari bacaan bagus di aplikasi novel online. Terus, aku nemu ‘tuh novel yang bagus dan kocak banget pas dibaca. Judulnya ‘Pendekar Naga Onar’. Udah diadaptasi jadi komik pula.”
“Oh?” Mardin mulai diam, tapi tetap melihat-lihat skateboard-nya.
Sejenak Dimas terkekeh, “Heheheee…. Novelnya itu punya aksi yang memukau, lucu lagi. Sayangnya, novel ini sering dikritik pedas sama penulis-penulis pro. Kata mereka, novel pendekar-pendekaran kayak gitu enggak cocok dikasih komedi kayak gini, bahasanya pun enggak baku. Terlalu norak ‘lah menurut mereka.”
“Padahal banyak pembaca yang suka terlepas dari gaya penulisannya yang enggak baku. Malah kayak gitu lebih bagus daripada baca novel-novel lain yang rata-rata gaya bahasa dan penulisannya kayak bahasa zaman dinasti, kaku bener kayak laporan karya ilmiah.”
Mardin tetap diam. Kadang mencoba membersihkan kembali papan seluncurnya menggunakan kain yang ada di meja.
“Tapi, Mard, aku penasaran sama penulisnya. Nama penanya itu aneh, InfluenzaHacuh. Penulis kocak mana yang pakai nama pena seaneh itu?”
Mardin pun mencoba merespon walau mukanya entah kenapa jadi agak tegang begitu. “Emm…. Percaya enggak kalau yang nulis novel Pendekar Naga Onar itu aku?”
“Eh?”
Beberapa saat suasana hening, tidak ada yang memulai pembicaraan lagi. Dimas diam menganga, tak percaya jika penulis novel kocak yang ia sukai merupakan sahabatnya sendiri.
Melihat diamnya Dimas, buru-buru Mardin menaruh beberapa lembar uang kertas sebagai bayaran atas modifikasi skateboard-nya tadi. Kemudian, Mardin buru-buru lari keluar garasi.
“MARDEEEN!!! Beneran kau yang nulis entu novel laknat?!! Dasar temen ‘jingan!!!”
...~*~*~*~...
__ADS_1