Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 18 : Demi Kebaikan?


__ADS_3


“Ah! Pecel Nek ‘Cel memang yang terbaik!”


Sekarang, Mardin dan Haku sedang duduk di bangku taman sambil menikmati pecel langganan Mardin. Setelah membeli bahan-bahan berkebun, Mardin mengajak Haku mencari tempat yang nyaman untuk mengobrol. Selain itu, mereka juga membeli pecel buatan Nek ‘Cel ketika kebetulan menemukannya berjualan di sekitar taman.



Tidak seperti penjaga toko kebun tadi, Nek ‘Cel sama sekali tidak panik ketika melihat darah di pakaian Mardin dan Haku. Dia memaklumi, mengira kalau keduanya sehabis membantu melakukan pemotongan daging walau itu hanya sebuah kebohongan. Mardin tidak ingin mengatakan yang sejujurnya bahwa ia dan Haku merupakan Rogue.


Mardin duduk di bangku dengan posisi bertongkat lutut ala bapak-bapak nongkrong di warung kopi, sedangkan Haku duduk biasa tapi memakan pecelnya menggunakan sumpit.


Mardin sempat melirik heran cara makan Haku. Agak tidak biasa saja ketika melihat seseorang makan pecel pakai sumpit. Sumpitnya juga pasti dia bawa sendiri mengingat Nek ‘Cel sama sekali tidak menyediakan sumpit.


“Kau makan pecel pakai sumpit?” tanya Mardin heran.


“Memangnya kenapa?” balas tanya Haku. “Aku terbiasa makan makanan seperti ini pakai sumpit.”


Mardin menyunggingkan senyum, kembali menyuap pecelnya. “Yaaa… Aneh saja melihat orang makan pecel pakai sumpit.”


Haku juga menyuap pecelnya. “Yang lebih aneh lagi kalau makan agar-agar pakai sumpit.”


“Jauh lebih aneh kalau makan mie pakai lubang hidung.”


Keduanya menjeda makan, sontak tertawa renyah dengan topik basa-basi mereka soal cara makan. Sesaat suasana jadi terasa lebih ringan ketika mereka mengobrol seperti ini di taman sambil makan-makan.


“Jadi….” Mardin mengalihkan topik. “Bagaimana kau tahu tentang diriku?”


Haku menelan lebih dulu kunyahanya sebelum menjawab, “…. Aku tahu dari guruku.”


“Gurumu?” Mardin menoleh heran.


Haku meminum air putih gelas sesaat. “Aaah…. Iya.” Mengaduk pecelnya pula. “Dia juga yang memintaku untuk mencarimu, menyampaikan suatu pesan yang sangat penting padamu.”

__ADS_1


“Oh, ya? Pesan apa?” Mardin kembali sibuk memakan pecelnya sambil melihat pemandangan taman di depan.


“Sebuah permintaan, atau lebih tepatnya tugas untuk membangkitkan Sang Iblis Buas.”


Mardin mendadak menghentikan kegiatan makannya, cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Haku. Namun, dia tetap bersikap tenang seolah-olah hal tersebut bukanlah hal yang mengejutkan.


Hanya saja, Mardin heran dengan maksudnya. Membangkitkan Sang Iblis Buas? Bukannya dia sudah meninggal sepuluh tahun yang lalu akibat dibunuh oleh pihak Aliansi Guild yang Mardin sendiri lupa namanya.


“Heheee…” Mardin terkekeh menyembunyikan keterkejutannya. “Membangkitkan Sang Iblis Buas? Heh, gurumu sudah sinting. Mana ada orang mati bisa dibangkitkan lagi?”


“Awalnya, aku pun tak percaya. Tapi guruku sudah melakukan berbagai riset akan masalah ini. Jadi dia yakin, ada cara untuk membangkitkan Sang Iblis Buas. Dan satu-satunya cara untuk membangkitkannya adalah dengan meminta bantuanmu.”


“Bantuanku…?” Mardin menunjuk dirinya sendiri. “Memang aku bisa apa dengan kebangkitan Sang Iblis Buas? Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang dia.”


Haku melirik tajam pada Mardin. “Kau yakin tidak mau menolong ayahmu?”


Lagi-lagi Mardin dibuat diam oleh Haku. Rupanya, selain mengetahui tentang Sang Iblis Buas dan Mardin, guru Haku juga tahu tentang hubungan kekeluargaan antara keduanya. Bahkan mungkin dia juga tahu kalau Mardin maupun sang ayah merupakan seorang Ruzan, yaitu keturunan yang memiliki kutukan kelebihan produksi Energi Ru.


Sebenarnya, siapa guru Haku ini? Sejauh mana ia tahu tentang informasi Mardin dan ayahnya? Ini membuat Mardin jadi curiga.


Selain itu, Mardin juga harus menyembunyikan identitas asal-usulnya. Dia tidak ingin orang lain tahu kalau ia merupakan putra dari seorang pembunuh terkuat. Hal itu hanya akan membuatnya repot berurusan dengan orang-orang yang memiliki hubungan dengan sang ayah.


Hubungan baik, maupun hubungan buruk.


Ya, namanya orang hebat, pasti memiliki banyak saingan yang benci terhadap sang ayah. Dan salah satunya adalah kelompok yang telah membunuhnya.


“Sebenarnya, siapa gurumu? Dan berasal dari mana kau ini?”


Haku sempat berpikir, bimbang untuk menjawab apa, antara jujur atau memilih berbohong karena kemungkinan ada risiko yang bakal didapat jika dia mengatakan asalnya. Tapi, Luan sempat memberi pesan kalau dia harus membuat Mardin percaya padanya. Jadi, Haku terpaksa berkata jujur, tapi seperlunya saja.


“Aku dulunya berasal dari Guild Yatshuhama, tapi dikeluarkan dari Guild tersebut agar bisa kemari bertemu denganmu,” jawab Haku tenang.


“Guild Yatshuhama?” Mardin menyipitkan matanya. “Bukannya Guild tersebut berada di Kota Yagama? Butuh waktu sekitar kurang lebih 24 jam dari sana agar sampai ke sini kalau naik kendaraan darat. Kalau kau dikeluarkan dari Guild, berarti sekarang kau benar-benar seorang Rogue?”

__ADS_1


“Kan sudah kubilang, kita sama-sama Rogue.” Haku kembali menyuap pecelnya. “Ini semua gara-garamu, makanya aku dikeluarkan dari Guild. Oleh sebab itu, kau harus menerima permintaan dari guruku ini.”


“Kau bermaksud memaksa, huh?” Mardin menyunggingkan senyum sambil mengaduk pecelnya yang tinggal sedikit lagi. “Memang bagaimana caranya aku bisa membangkitkan ayahku?”


“Guruku bilang, dengan cara mengumpulkan lima Segel Midra dari kelima penggunanya. Ayahmu saat ini berada dalam keadaan koma atau semacam mati suri. Selama masa itu, produksi Energi Ru miliknya yang berlebih masih tetap jalan, dan itu dimanfaatkan oleh para pengguna segel untuk menghisap Energi Ru milik ayahmu demi kepentingan mereka sendiri.”


“Segel Midra?” Dros yang ikut mendengar penjelasan Haku merasa tak asing dengan segel itu. “Aku tahu tentang Segel Midra, Mardin. Tapi sebelumnya, kita dengarkan dulu setiap penjelasannya, baru kau bisa mengambil keputusan. Keberadaan Segel Midra ini sangat berbahaya bagi tubuh ayahmu maupun orang-orang yang terlibat dengan kelima penggunanya. Mereka akan menggunakan Segel Midra secara semena-mena.”


Mardin diam seraya berpikir. Dia bisa meminta penjelasan lebih lengkap tentang Segel Midra nanti pada Dros jika sang tumbuhan parasit mengetahuinya. Namun, dia masih penasaran tentang penjelasan segel dan permintaan guru Haku dari Haku sendiri.


“Yang kutahu dari penjelasan Guru, Sang Iblis saat ini diamankan di Lab Guild Haxona, masih dalam proses penyerapan Energi Ru. Dan selama 10 tahun lamanya semenjak dikira meninggal, Sang Iblis terus berusaha menahan sakit akibat Energi Ru miliknya diserap paksa oleh mesin penyerap energi, kemudian disalurkan ke lima Segel Midra sekaligus.”


Haku melanjutkan, “Aku tidak tahu pasti efek samping seperti apa yang bakal atau saat ini dialami ayahmu. Yang jelas, itu akan berakibat sangat buruk baginya.”


Mardin tetap diam tak berkata apapun, masih mencoba mencerna setiap penjelasan dari Haku. Apa yang ia dengar dari pria ini terdengar cukup meyakinkan, tentang permintaan guru Haku, Segel Midra, dan juga keadaan ayahnya.


Tapi tetap saja, Mardin tidak boleh gegabah mengambil keputusan. Walau ini berkaitan dengan keselamatan ayah kandungnya, Mardin tetap harus bisa lebih memikirkan akibat dari keputusan yang ia ambil.


Melihat Mardin terlalu lama berpikir seraya mendengarkan penjelasannya, membuat Haku bersandar di sandaran bangku sambil menghela nafas.


“Haaah…. Masalah ini berhubungan dengan nyawa ayahmu. Ya, kau mungkin sudah menerima kematiannya selama 10 tahun. Tapi, ini merupakan kesempatan yang takkan pernah datang kembali, bukan? Jika kau sayang ayahmu, maka kau akan menerima permintaan guruku ini. Lagipula, Guru juga melakukan ini demi kebaikanmu.”


“Demi kebaikanku, huh…?”


Haku sedikit tersentak ketika mendengar nada bicara Mardin berubah. Suaranya yang awal ringan kini terdengar berat, lirikan sepasang mata biru itu pun nampak menajam menimbulkan kilatan di sana. Dan sudut bibirnya menyunggingkan seringai remeh.


Saat ini, Mardin dalam keadaan mengintimidasi lawan bicaranya.


“Demi kebaikanku, atau cuma ingin memanfaatkanku?”


Haku balas menatap tajam Mardin. Sekarang, ia semakin mengerti mengapa Luan menganggap Mardin sebagai sosok berbahaya.


...~*~*~*~...

__ADS_1



__ADS_2