
“Aha’, aha’. Oh, yeah!”
Di malam yang sama, sesudah dari rumah Dimas, Mardin langsung pergi ke tempat ia melakukan kerja sampingan. Lebih tepatnya pergi ke bar milik Paman Rom. Tentu saja untuk memulai kerja sambil membicarakan soal pertemuannya dengan Haku, masalah sang ayah, dan Guild Yatshuhama. Dia ingin tahu seperti apa pendapat Paman Rom nanti.
Sambil mendengarkan musik hip hop lewat earphone, Mardin mengendarai skateboard di pinggir jalan. Jalanan malam ini cukup ramai oleh warga kota, hal itu disebabkan karena sekarang sudah jam pulang kerja.
Butuh beberapa menit perjalanan, akhirnya Mardin sampai di depan sebuah bar sederhana di pinggir jalan kota. Bar ini tidak begitu besar dengan arsitektur ala saloon kekinian, tapi dibumbui dengan gaya modern oleh cahaya-cahaya neon yang menyinari setiap motifnya.
Sebelum masuk bar, Mardin menginjak ujung skateboard sampai melambung ke atas, ditangkap, lalu ditempelkan ke tempelan magnet pada sabuk bagian belakangnya.
“Malam, Bang,” sapa Mardin akrab pada seorang penjaga pintu sambil melepas earphone.
Penjaga pintu itu memiliki badan besar dan berwajah sangar. Namun walau terlihat mengerikan, dia balas menyapa ramah Mardin seperti seorang sahabat.
“Malam, Mard. Dah siap kerja?” tanya penjaga itu.
“Siap, dung.” Mardin sedikit basa-basi. “Oh, ya? Gimana lahiran anak pertamanya?”
“Syukurlah, lancar. Makasih ya buat sayur-sayurnya kemarin. Istriku sangat suka.”
“Oh! Iya, Bang. Jangan sungkan kalau mau minta lagi.” Wajah Mardin terlihat cerah ketika sayur-sayuran yang ia tanam dipuji.
“Ah, jadi ngerepotin….” Si penjaga terlihat malu.
“Enggak apa-apa, kok. Kau dan anak-anak sini udah aku anggap sebagai saudara sendiri. Jadi, jangan malu kalau butuh sesuatu.”
Setelah menyapa si penjaga, Mardin berjalan memasuki bar. Karena masih sekitar jam 8an, suasana bar terlihat belum begitu ramai. Hanya ada beberapa kelompok kecil orang datang dan rekan-rekannya yang sedang bekerja. Ada yang sedang melayani pembeli, meracik minuman di belakang meja bartender, sampai yang bersih-bersih.
“Yo, Mardin!”
“Apa kabar, Mardin?”
“Mardin, makasih udah bantu-bantu kerjaanku kemarin.”
__ADS_1
Rekan-rekan kerja di bar itu menyapa Mardin dengan sangat ramah, dan tentu dibalas oleh sapaan ramah disertai senyum ceria khas Mardin.
Selain dikenal sebagai pemuda berkelakuan aneh, Mardin juga disukai banyak orang di lingkungannya karena pribadinya yang ramah dan suka membantu. Siapapun yang berinteraksi dengan Mardin takkan pernah merasa canggung. Pemuda itu mampu melelehkan suasana dengan cara bicaranya yang ringan dan juga konyol.
“Udah mau balik? Hati-hati di jalan, ya!”
“Yo’i, Mard!”
Setelah menyapa rekan terakhirnya, Mardin melihat seorang pria baru saja keluar dari ruang belakang bar sambil membawa kotak paket. Pria dewasa itu memiliki tatanan rambut hitam pendek, berkulit tan, berperawakan tinggi berotot dan hanya memakai singlet hitam serta celana loreng panjang.
“Yo, Bang Ranma!”
Masih mengangkat kotak paket itu, Ranma menoleh, memutar bola mata hazelnya dengan datar sambil bergumam, “Nih bocah lagi….”
Ranma merupakan anak dari Paman Rom, dikenal sebagai pria bermuka datar. Dia juga bekerja di bar ini untuk membantu usaha sang ayah. Hubungan Ranma dan Mardin terbilang cukup akrab, tapi Ranma tidak begitu suka Mardin karena sifatnya yang kadang suka usil sama orang.
Mardin berlari kecil menghampiri Ranma, menunjuk-nunjuk kotak paket itu dengan muka penasaran. “Entu apaan?”
“Ini? Kotak paket.” Ranma berjalan menuju meja bartender, menaruh kotak paket tersebut di sana.
Ranma melirik Mardin, masih dengan muka datarnya. “Isinya bukan urusanmu. Ini paket bakal dikirim ke tempat kenalan Ayah.”
“Ooh…. Paketnya mau dikirim?” Mardin mengangguk mengerti. “Kukira paket kiriman orang. Terus, ngirimnya nanti bagaimana? Susah nyari kurir di kota sini. Tahu sendiri ‘kan usaha antar barang masih dikembangkan sama Guild?”
Kota Kamaju masih kekurangan beberapa fasilitas usaha dan pelayanan, salah satunya usaha antar barang. Hal itu membuat penduduk terpaksa mengantarkan barang sendiri ke tempat tujuan, atau menyewa jasa kurir bebas. Namun, sangat sulit mencari kurir yang mau mengantarkan barang ke tempat-tempat tertentu akibat adanya ancaman kejahatan Rogue atau monster yang kadang masih berkeliaran.
Ranma pun bingung dengan siapa yang akan mengantarkan paket tersebut. Siapa sajalah boleh, asal paket bisa diantar sampai tujuan dalam keadaan bagus.
“Siapa aja boleh, lah. Entar suruh anak-anak sini buat anterin nih paket.”
“Gimana kalau aku aja yang anter?”
“Heh?”
__ADS_1
Ranma menyipitkan mata ketika menatap senyum ceria Mardin yang terkesan aneh menurutnya. Sebenarnya, dia kurang yakin membiarkan Mardin mengantar paket tersebut. Takutnya pemuda itu malah bikin ulah di perjalanan.
Tapi ketika melihat kotak paket di atas meja itu, Ranma menghela nafas pasrah. Mau bagaimana lagi? Biarlah Mardin yang mengantarkan paket itu. Toh Paman Rom sangat mempercayai Mardin dalam berbagai pekerjaan. Kalau saja tidak disibukan dengan kerjaan di bar, pasti Ranma sendiri yang mengantarnya.
“Ya, udah. Antar nih paket. Alamatnya ada di atas kotak, tuh,” tunjuk Ranma ke paketnya.
“Oh! Oke, oke!” Mardin mengangguk. “Tapi sebelum itu, aku ingin ketemu sama Paman Rom dulu. Ada hal penting yang harus dibicarakan. Enggak apa-apa ‘kan paketnya diantar nanti dulu?”
Ranma mengernyitkan alis. Tak biasanya Mardin terlihat serius ingin membicarakan sesuatu dengan Paman Rom. Biasanya pemuda itu hanya akan berbasa-basi sambil fokus kerja di sini. Ranma penasaran. Tapi kalau hal penting ini cuma mereka berdua yang patut membahas, Ranma tak perlu ikut campur.
“Enggak apa-apa. Ketunda sampai besok pun enggak masalah, sebenarnya,” ucap Ranma. “Ayah tadi lagi di belakang. Sebentar lagi juga pasti bakal kemari.”
“Ada apa ini? Sepertinya, sedang membicarakan aku.”
Baru saja dicari, orangnya sudah datang menghampiri mereka di dekat meja bartender. Orang tersebut merupakan pria paruh baya, memiliki perawakan masih bugar, tinggi dan tegap, wajahnya sudah mengalami penuaan, serta berkepala botak tanggung.
Masih dengan muka datar khasnya, Ranma menjawab sambil menunjuk santai Mardin menggunakan jempol. “Ini, Yah. Mardin nyari’in. Katanya, ada sesuatu yang penting perlu dibicarakan.” Lalu ia berjalan menuju belakang meja bartender.
“Oh, ya?” Paman Rom bertanya pada Mardin, “Apa yang ingin kau bicarakan, Nak? Kau butuh uang atau ada sesuatu yang kurang?”
Seperti biasanya, Paman Rom ini memang sangat baik pada Mardin. Segala kekurangan yang dialami Mardin akan segera diatasi. Bisa dibilang, Paman Rom sudah menganggap Mardin seperti putranya sendiri.
“E-enggak, Paman. Enggak, kok.” Mardin sungkan. “Emm…. Aku emang lagi ada kesulitan ekonomi sekarang, tapi masih bisa kuatasi sendiri. Masalahnya, yang ingin aku bicarakan ini lebih penting ketimbang masalah ekonomi yang kualami.”
Paman Rom kembali bertanya dengan raut penasaran, “Masalah seperti apa, Mardin?”
“Ini….”
Mardin sempat celingukan memastikan bahwa tidak ada orang di dekat sana yang mampu mendengarkan pembicaraan mereka. Ekspresi wajah Mardin kini terlihat serius, tidak seperti biasanya yang sering terlihat bahagia.
“Seseorang mengatakan bahwa Ayah masih hidup. Dan dia memintaku untuk membebaskan Ayah dari belenggu lima Segel Midra,” bisik Mardin.
Mendengar hal itu sontak membuat Paman Rom tegang. Tentang Sang Iblis Buas yang masih hidup dan tengah disegel oleh Segel Midra. Sepertinya, arah pembicaraan mereka akan jauh lebih serius.
__ADS_1
...~*~*~*~...