
Angin berhembus menjauhkan asap-asap ledakan dari tempat kejadian utama, debu-debu berterbangan, dan suasana masih sepi tanpa ada siapapun lewat. Boomer masih berdiri mematung di sana, menghadap seorang pemuda yang masih tersenyum manis padanya.
Dia tak menyangka pemuda yang ia kira cuma anak lemah rupanya mampu menangkis lemparan granat tadi menggunakan skateboard. Baru disadari, skateboard itu juga nampak memiliki desain dan struktur aneh, bentuknya lebih besar dari skateboard pada umumnya serta lebih keras.
Tidak mungkin warga sipil biasa memiliki kekuatan seperti tadi. Hanya ada satu kemungkinan yang paling masuk akal tentang siapa pemuda ini.
“Kau pembunuh?” desis Boomer.
Senyum ramah itu perlahan beralih menjadi senyuman remeh sebagai balasan dari respon Boomer.
“Kau juga seorang pembunuh?” tanya Boomer. “Apa kau seorang Rogue, atau anggota Guild Jaguara? Seorang Omega?”
Mardin agak malas merespon kalau disinggung soal statusnya. Selain berstatus sebagai pelajar, ia juga sebenarnya merupakan seorang pembunuh, lebih tepatnya seorang Rogue karena tidak bergabung dalam Guild.
Rogue merupakan julukan bagi pembunuh yang tidak berasal dari Guild manapun. Mereka dianggap pembunuh liar, sering kali suka bertindak sendiri dan mengacau Guild Pembunuh. Itulah sebab para Rogue diburu. Kalau beruntung, mereka bisa dijadikan sebagai anggota Guild. Namun, kebanyakan Rogue menolak bergabung di Guild manapun. Mereka lebih memilih berdiri sendiri membuat kelompok mereka dengan tujuan membentuk Guild baru.
“Emm…. Gimana ngejelasinnya, ye?” Mardin mengelus tengkuknya. “Rogue, iya. Tapi aku enggak asal rusuh sepertimu.”
Mardin melangkah kecil, kadang berputar-putar pelan sambil melihat pemandangan jalanan kota yang sudah hancur lebur akibat ledakan dari Boomer.
“Aku sukanya keluyuran aja macam anak-anak bujangan. Tapi, kalau kau….” Mardin berdecak sambil menggelengkan kepala. “Ck, ck, ck. Benar-benar tua-tua keladi. Makin tua, makin sadis. Bukannya menikmati masa tua, bobo, santai sambil nontonin Reality Show settingan, malah keluyuran kagak jelas, ancurin fasilitas-fasilitas kota. Emang apa faedahnya ngerusuh di masa tua, Pak?”
Pandangan Mardin menangkap pemandangan beberapa tubuh manusia tak bernyawa tergeletak di setiap tempat. Ada yang mati terluka, tertimpa bangunan, bahkan sebagian tubuh mereka hancur akibat kena ledakan.
Sambil mengorek telinga, Mardin kembali bicara dengan nada lebih datar, “Ditambah lagi, kelakuan sembronomu juga menimbulkan banyak korban jiwa. Kau sadar kalau yang kau lakukan ini tidak ada gunanya?”
Boomer menyeringai remeh, “Heh. Kau ke sini cuma mau berlagak sok pahlawan, huh…?”
Sempat ekspresi Mardin terlihat dingin, tapi seketika berubah santai kembali. “Aku sama sekali tidak tertarik dengan aksi main pahlawan-pahlawanan. Lagipula, para pembaca juga tidak mengharapkan novel ini jadi novel tentang MC yang membela kebenaran atau semacamnya.”
“Aku ke sini cuma pengen bilang, kau berisik.”
Boomer bingung. Apa maksud bocah itu ke sini berhadapan dengannya cuma pengen bilang kalau dia berisik? Tidak ada tujuan lain yang lebih masuk akal, gitu?
“Situ lihat, noh? Noh?!”
__ADS_1
Mardin menunjuk-nunjuk ke samping atas, otomatis Boomer mengikuti arah tunjuknya. Mardin menunjukan sebuah gedung sekolah yang tidak begitu jauh dari lokasi tempat mereka berada.
Lagi-lagi Boomer makin bingung. Apa maksudnya bocah bujangan ini nunjuk-nunjuk sekolah itu?
“Aku sekolah di situ, Pak. Kami lagi khusyuk-khusyuk belajar, malah keganggu sama acara bom-bomanmu,” omel Mardin, “Suaranya berisik, geter-geter mulu kayak ranjang pengantin baru. Jadinya, kegiatan belajar kami keganggu. Makanya, aku mencarimu terus mau bilang, kau berisik. Bisa kagak berhenti meledakan apa-apa aja sembarangan? Enggak baik juga buat pendengaranmu. Entar cepet budek.”
Boomer diam menganga mendengar omelan bernada santai itu. Bisa-bisanya pemuda ini datang menghadapinya karena alasan kegiatan belajar di sekolahnya terganggu.
“Kau yang tua-tua begini ya, Pak, ya, bagusnya diem aja gitu di rumah. Istirahat, banyak-banyakin doa. Keluyuran kayak begini tuh bisa bikin tulangmu kena ostero, otroto— Blehbleh!” Mardin melet-melet gara-gara salah kata. “Osteoporosis! Bukan hanya itu, Pak. Kau juga bisa kena serangan jantung, hipertensi, asam urat, asam lambung, sayur asem. Bah! Pokoknya, Klinik Go-Song aja enggak bisa nanganin penyakit-penyakitmu.”
Mardin lanjut berceloteh, “Bukan hanya itu, Pak. Kalau sering ngelakuin hal-hal enggak guna kayak begini, entar kuburan situ sempit. Belum juga dikubur, tanah kuburanmu jadi kawah kena hantaman meteor, terus banjir, terus keluar monster paus mangap-mangap pengen makan jasadmu. Hem! Kurang mantep apa entu azab. Terus-terus—.”
“Bacot!!!”
Seketika Mardin diam, mengambil posisi kocak dengan ekspresi ala kucing licik sambil mengedip-ngedipkan matanya polos. Suara menggema si bapak keras juga, cukup bikin Mardin bungkam.
“Nyan?” sahut Mardin ngasal dengan muka kucingnya.
Boomer menarik nafas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya yang udah emosi tinggi berhadapan dengan pemuda satu ini. Ocehannya sangat mengganggu, cerewet, ditambah lagi suaranya dibuat-buat melengking.
Benar-benar tak nyaman didengar.
Mardin kembali mengambil posisi tegap. Wajahnya berubah datar, berdiri dengan satu tangan dimasukan ke saku jaket, sedangkan satunya masih memegang skateboard. Tatapan kedua mata birunya menajam, menimbulkan kilatan biru yang singkat.
“Kalau aku bilang ingin membunuhmu, kau mau apa?”
Tiga granat dilemparkan sekaligus ke arah Mardin. Mardin pun menghindarinya dengan cara bersalto tinggi ke belakang, berputar di udara sesaat, lalu mendarat mulus di atas tanah.
“Maka aku….”
Boomer merogoh beberapa bom dari saku mantelnya, bersiap melemparkan bom-bom itu demi menghabisi Mardin.
“…. Akan membunuhmu lebih dulu!”
Masih di posisi baru mendarat, Mardin mengangkat kepala menatap Boomer, memberikan seulas senyum remeh dengan sebelah alis dinaikan.
“Oh, yeah! Aku suka ambisimu, Pak Tua!”
__ADS_1
Tanpa babibu lagi, Boomer melemparkan beberapa bom ke arah Mardin. Dengan lincah Mardin menghindari setiap ledakan bom. Dia melompat sambil melempar skateboard-nya ke tanah, mendarat dan segera meluncur menggunakan papan seluncur berdesain futuristik itu.
Mardin terus meluncur mendekati Boomer sambil terus menghindari ledakan-ledakan bom. Ketika makin mendekat, Mardin menendang skateboard-nya agar menghantam Boomer. Boomer mampu menepisnya. Namun tak disangka, Mardin sudah melayang di udara, mengambil posisi siap menendang Boomer.
Mardin pun melesat menendangnya, tapi pak tua itu berhasil bergeser menghindar. Tak hanya itu saja, Mardin bangkit sambil meraih skateboard di dekatnya, memukul-mukulkan skateboard itu. Tentunya Boomer lagi-lagi bisa menangkis setiap pukulan menggunakan lindungan pergelangan kedua tangan.
Satu tangan Boomer meraih bom dari saku, melemparkannya ke arah Mardin. Reflek Mardin melompat mundur menghindari ledakan bom tersebut.
“Cuma itu kemampuanmu, hah?!” teriak Boomer remeh. “Kau tidak ada bedanya dengan bocah berandalan yang suka sok jagoan!”
Mardin berdiri tegap, melambungkan skateboard-nya. “Duh~ Tadi itu gerakan bertarung ala anak SMA lagi tawuran, Pak.”
Mardin mengangkat skateboard hitam-biru itu ke depan. Terdengar suara mendesir dari bagian bawah skateboard disertai warna biru neon menyala dari motif futuristiknya, pertanda ada mesin yang menyala di sana. Bagian bawah skateboard menonjol, mengeluarkan sebuah benda yang selama ini disembunyikan di dalamnya.
Dengan pelan Mardin meraih ujung benda tersebut, dikeluarkannya dari dalam skateboard. Benda tersebut merupakan sebuah golok berwarna hitam dengan satu garis biru neon menyala. Desainnya jauh lebih modern dari golok pada umumnya, terkesan futuristik.
Boomer tercengang melihat keunikan senjata itu. Tak disangka kalau golok dengan desain unik tersebut disimpan di dalam skateboard.
Orang gila mana yang punya ide seaneh itu?
Setelah mengeluarkan golok, Mardin menempelkan badan skateboard-nya ke tempelan magnet yang ada pada sabuk bagian belakang.
“Nah, Pak Tua.”
Mardin melambung-lambungkan goloknya sesaat, kemudian mengacungkannya ke depan.
Disertai senyum percaya diri, Mardin berucap, “Kali ini, aku benar-benar akan bertarung melawanmu. Jika dua Rogue tidak saling kenal mulai bertarung.”
Kedua mata biru Mardin menyipit tajam.
“Maka penentunya hanya kemenangan dan kematian.”
“Kau—.”
Belum sempat Boomer bicara, tiba-tiba sesuatu berusaha menyerangnya dari samping. Sebuah bayangan hologram biru berbentuk menyerupai tubuh Mardin melesat dengan golok siap menebas lehernya.
...~*~*~*~...
__ADS_1