Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh

Mardinal : Petualangan Sang Pembunuh
Chapter 6 : Tumbuhan Parasit


__ADS_3


“Kau hampir emosi hanya karena diledek orang sekarat?” tanya tanaman itu dengan suara berat khas pria dewasa.


Mardin menghela nafas, mengangkat kepala sambil menyugar rambut merahnya ke belakang. Mata peraknya kini berubah kembali menjadi biru, dan warna hitam pada bola mata pun telah hilang.


“Ah…. Maaf, Dros.” Mardin tersenyum pada tanaman hidup di bahu kirinya. “Tidak seharusnya aku terpancing emosi.”


“Seperti kata mendiang ayahmu, jangan sampai kau terpancing emosi oleh musuhmu sendiri. Itu hanya akan menimbulkan celah dan membuatmu lebih mudah dikalahkan,” nasihat tanaman bernama Dros itu. “Beruntung musuhmu sudah sekarat. Kalau tidak, mungkin kau sudah mengalami luka. Tetaplah tenang saat sedang bertarung, oke? Kau boleh senang menikmati pertarungan, tapi jangan terbawa suasana secara emosional.”


“Baik-baik…. Aku mengerti, tanaman bijak.” Mardin mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Dros. “Jadi, kembalilah masuk ke dalam tubuhku. Aku sudah tidak apa-apa.”


Dros tidak masuk, justru ia bergeming dengan kepala menghadap ke arah Mardin dalam waktu lama.


“Kau kenapa?” tanya Mardin polos.


“Hmm…. Aku tak percaya kalau kau baik-baik saja.”


“Kau ‘kan memang selalu menganggapku tidak baik-baik saja. Cepatlah, kembali masuk…!”


“Oke. Tapi, ingat! Kendalikan emosimu, Nak.”


“Baiklah…. Aku menger— Aduh! Sakit, Dros…!”


Mardin merasakan sakit di bahu kirinya akibat Dros buru-buru masuk ke dalam tubuhnya kembali.


Sudah lama Mardin memiliki Dros di dalam tubuhnya. Dia mengalami suatu kutukan langka yang membuatnya harus menjalin kontrak dengan tanaman parasit tersebut, yaitu keadaan dimana ia memiliki kelebihan produksi Energi Ru di dalam tubuh.


Energi Ru dikenal sebagai energi yang berada di dalam tubuh makhluk hidup. Konsepnya hampir mirip dengan Mana sihir seperti di karya fantasi. Energi Ru dapat digunakan sebagai sumber kekuatan seseorang dalam meningkatkan kemampuan fisik maupun penggunaan terhadap Unsur Ru.


Unsur Ru sendiri merupakan bagian jenis kekuatan yang terbentuk dari hasil produksi Energi Ru, yang ini lebih mirip seperti sihir. Setiap makhluk yang memiliki Energi Ru punya unsur berbeda-beda, tergantung ketertarikan seorang pengguna terhadap suatu elemen atau obyek yang ia lihat ketika baru memiliki Energi Ru. Namun, ada juga yang sama jika Unsur Ru yang dimiliki terkesan umum.


Tidak semua makhluk hidup memiliki Energi Ru. Hanya mereka yang mengenal pengolahan kekuatan fisik dan unsur yang dapat memproduksi Energi Ru. Mereka yang mampu bertarung pun belum tentu memiliki Energi Ru.

__ADS_1


Setiap makhluk yang punya Energi Ru memiliki jumlah produksi yang sama, apa pun keadaan tubuhnya. Jika energi berkurang, maka cara memulihkannya dengan beristirahat sampai tubuh dirasa lebih bugar. Namun, berbeda dengan keadaan yang dialami Mardin.


Mardin memiliki jumlah produksi Energi Ru berlebihan. Biarpun dia telah mengeluarkan banyak Energi Ru untuk penggunaan Unsur Ru, tetap saja energi tersebut akan terus bertambah. Kelebihan Energi Ru bukanlah hal yang baik. Jika dibiarkan, maka tubuhnya akan hancur atau lebih buruk lagi.


Oleh sebab itu, Mardin membutuhkan tanaman parasit seperti Dros untuk menghisap lebih banyak Energi Ru agar jumlahnya tetap stabil. Penggunaan Unsur Ru secara berlebihan demi mengurangi jumlah Energi Ru juga merupakan cara yang buruk, itu akan menyebabkan efek samping berkepanjangan terhadap tubuhnya.


Intinya, pengguna harus lebih bijak dalam menggunakan Energi Ru. Jangan berlebihan walau punya keadaan seperti Mardin.


“Haaah….”


Mardin menghela nafas. Karena perasaannya sudah lebih baik, ia mulai beranjak dari atas tubuh mati Boomer. Sempat Mardin meregangkan beberapa bagian tubuhnya dulu agar tidak merasa tegang.


Setelah meregangkan tubuh, pinggang Mardin malah meliuk-liuk sendiri macam orang lagi joget dangdut. Rupanya, ponsel di dalam saku celananya berdering, menandakan panggilan masuk. Mardin pun merogoh ponsel tersebut, membaca nama dari sang penelpon.


“Woalah, telepon. Nih pinggang emang udah kena sindrom dangdut kayaknya.” Mardin menepuk-nepuk pinggangnya sendiri. “Halo, Bruh!”


“Mard, cepetan balik! Anak-anak laen udah pada keluar dari rubanah. Kalau kagak balik cepet, entar kau ketahuan keluyuran keluar sekolah,” kata Dimas di seberang sana.


“Lah? Udah keluar?” Mardin menggaruk-garuk kepala merahnya. “Ini kau lagi ngapain?”


Namun di saat itu pula, Mardin merasakan getaran aneh dari dalam tanah. Seiring getaran itu makin dirasa kencang, tanah di depannya hancur menciptakan sebuah lubang besar. Dari lubang itulah, keluar monster kelabang berukuran besar, bagian perutnya berwarna abu-abu, sedangkan atasnya berwarna hitam.


Akibat kemunculan monster tersebut tepat di depan Mardin, mayat Boomer tadi tertusuk salah satu tanduknya, tersangkut di sana hingga bagian kaki, tangan, dan bongkahan daging berjatuhan.


“Iyuh…,” ucap Mardin berlagak jijik melihat potongan kaki hingga daging jatuh.


Kelabang itu berdiri menjulang dengan kaki-kaki yang terlihat tajam, bergerak-gerak cepat di tempat. Beberapa taring hitam di luar mulut belahnya bergerak sendiri, siap mengoyak mangsanya. Dan sebagian tubuhnya masih tertanam di tanah.


Belasan mata si kelabang mulai menatap keberadaan Mardin. Melihat ada calon mangsa di depan, ia menjerit dengan suara melengking.


“Nyeerrreeeeet!!!”


“Mard? Mard! Mardin budek! Itu suara apaan?! Monster lagi?”

__ADS_1


Mardin bengong sesaat dalam posisi mendongak memperhatikan kepala si monster kelabang. Setelah itu, ia menjawab, “Bentar lagi aku balik, kok.”


Kemudian, Mardin memutus panggilan telepon secara sepihak.


“Oh, astaga!” Mardin memasukan ponselnya ke dalam saku. “Kenapa harus datang makhluk kayak beginian, sih?”


Mardin menghela nafas pasrah. Kali ini, dia mutar-mutar goloknya sendiri bukan karena iseng, tapi untuk menciptakan sesuatu.


“Golok Hologram.”


Dari putaran goloknya, tercipta lima golok hologram berwarna biru melayang di udara. Kelima golok itu terbang, mengambil posisi mengelilingi monster kelabang.


“Aktifkan mode Pistol Blaster.”


Golok-golok itu bertransformasi menjadi pistol hologram dengan masing-masing moncong mengarah ke monster.


“Luncurkan Laser Pemotong.”


Kelima pistol menembakan garis-garis laser ke sekitar monster kelabang, sehingga makhluk itu terkurung di sana.


“Potong!”


Kelima garis laser langsung memotong, mencincang monster kelabang menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan besar daging kelabang berjatuhan, darahnya pun mengalir banyak membasahi jalanan hingga menjadi genangan.


Setelah dirasa cukup, Mardin mengangkat tangan, memberi aba-aba pada senjata-senjata hologramnya agar berhenti memotong. Kemudian, hologram-hologram itu lenyap begitu saja di udara.


Ketika potongan kepala kelabang jatuh, dengan santai Mardin menginjaknya menggunakan satu kaki.


“Sebentar lagi, pasti para Gamma datang ke sini buat memeriksa keadaan,” gumam Mardin sesaat. “Maaf, kawan imut. Aku tidak punya banyak waktu tuk berurusan denganmu. Masih ada kegiatan yang harus kujalani. Temani Pak Tua itu di neraka, oke? Dadah!”


Setelah semua sudah ia bereskan, kini Mardin beranjak pergi dari sana sambil kembali berseluncur menggunakan skateboard, meninggalkan jalanan yang sudah sangat kotor dipenuhi oleh genangan darah dan bongkahan daging monster yang sangat menjijikan.


...~*~*~*~...

__ADS_1



__ADS_2