Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 10


__ADS_3

Wanita yang diikuti Tsania masuk ke dalam toko suami Siska. Tak lama, suaminya Siska juga masuk ke dalam. Tsania yang melihatnya tampak curiga. Dia bersembunyi di samping toko, dan berusaha mengintip ke dalam lewat kaca yang terhalangi tas-tas yang di pajang di dalam toko.


Tsania melihat hak sepatu pink yang tinggi. Dia pun berjinjit mengintip ke dalam, dan berhasil melihat suami Siska yang sedang berpelukan dengan wanita tadi.


Suami Siska seperti menyadari sedang di awasi, dia menoleh ke arah Tsania. Tsania dengan cepat merundukan badannya. Kemudian dia mendapatkan penglihatan Siska di malam itu.


Flashback On


Siska melihat suaminya bermesraan dengan salah satu pegawai tokonya. Siska mengintip sama persis dengan tempat Tsania mengintip.


Wanita: “Apakah kau akan pergi hiking lagi minggu ini?”


Suami : “Aku harus bersamanya…jadi aku tidak akan menjadi tersangka jika disana terjadi kecelakaan.”


Wanita: “Apakah istrimu menyukai hiking?”


Suami: “Dia menyukainya. Dan akan menjadi tempat dimana dia akan mati.”


Mereka tertawa.


Suami Siska menyadari kehadiran Siska. Dia segera berdiri dan keluar untuk menemui Siska. Siska berlari menghindari suaminya yang terus memanggil dan mengejarnya. Siska bersembunyi di balik gantungan pakaian. Saat suaminya lengah, dia berlari ke arah yang berlawanan. Di lorong, sepatunya terlepas sebelah kanan, dan dia meninggalkannya begitu saja.


Siska pergi ke parkiran dan mengendarai mobilnya dengan menangis. Dia tidak fokus, sehingga sempat akan menabrak mobil lain tapi berhasil dihindarinya. Lalu di belakang ada mobil yang mengklakson terus menerus. Itu suaminya. Suaminya juga menelpon ponsel Siska.


Siska yang kalut mengemudi sambil menangis dengan kecepatan tinggi, dan berkali-kali menoleh ke belakang. Siska menabrak truk yang mengangkat besi yang sedang parkir. Siska meninggal dunia, dengan hanya mengenakan sebelah sepatunya.


Flashback Off


Tsania tertegun begitu mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Suami: “Kau sekarang menggunakan sepatu itu?”


Wanita: “Istrimu sudah mati. Aku takut tertangkap karena ini sepatu yang sama. Sekarang baik-baik saja.”


Suami: “Hati-hati. Masih ada ibu mertua. Saat wanita tua itu mati, siapa yang kau pikir akan mewarisi ini semua?”


Wanita: “Dia terlihat sehat. Mengapa kau pikir itu akan terjadi?”


Suami: “Setelah putrinya meninggal, dia tidak akan baik-baik saja. Itu akan terjadi segera. Kita sangat beruntung.”


Suami Siska tersenyum licik dan membelai rambut wanita itu. Dan tanpa mereka sadari, Siska berada di dekat mereka menyaksikan dan mendengarkan semuanya dengan menangis.


Steven meneropong ke arah Gian mall.


Steven : “Mall Gian sedang berusaha mencuri perjanjian kontrak sewa kita. Kita harus memastikan itu tidak akan terjadi.”


Sekertaris Andrew : “Itulah mengapa kita berkeliling menyapa semua penyewa kita.”


Steven : “Mulutku sakit karena terus tersenyum pada mereka.”


Sekertaris Andrew : “Itu harga kecil yang harus dibayar untuk memastikan mereka tetap tinggal, terutama toko Anggrek.”


Steven masih meneropong: “Hmm..aku pikir mulutku mungkin akan lebih terluka saat aku melihat pemilik toko itu.”


Sekertaris Andrew : “Omong-omong, wanita yang diikuti Tsania…dia adalah pekerja di Anggrek. Istri pemilik toko baru saja meninggal..aku harap Tsania tidak membuat masalah apapun.”


Steven terkejut dan tampak berpikir.


Ibu Siska datang ke toko Anggrek.


Suami: “Ibu, kau pasti lelah, mengapa kau disini?”


Ibu: “Aku tidak punya lagi putri disini yang bisa menemaniku makan siang..jadi aku hanya membawakan beberapa makanan untukmu."


Suami: “Ibu, hanya ada kita berdua sekarang. Kita harus hidup dengan baik. Apa kau mau pergi hiking bersamaku, seperti yang aku lakukan bersama Siska?”


Ibu hanya tersenyum.

__ADS_1


Tsania berjalan ke arah mereka dan menyodorkan sepatu pink Siska.


Suami : “Ini…?”


Tsania : “Ini sepatu istrimu yang sudah meninggal. Dia memintaku untuk memberikannya padamu.”


Suami dan wanita itu terlihat tegang.


Ibu : “Tunggu, apakah ini sepatu Siska?”


Tsania : “Dia datang kesini sebelum kecelakaan, dan dia melihat suaminya berselingkuh. Dia sangat terkejut sehingga dia berlari tanpa mengetahui sepatunya tertinggal di belakang.”


Ibu: "apa yang dia bicarakan?”


Suami: “Apa kau mengatakan bahwa istriku datang kesini? Kau salah. Dan juga, sepatu itu bukan milik istriku.”


Tsania : “Tolong berhenti berbohong.”


Suami : “Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Ibu, aku menemukan sepatu Siska.”


Suami Siska mendekati si wanita, dan member kode. Dia mengambil sepatu si wanita yang sama dengan milik istrinya.


Suami : “Polisi memberikan ini padaku dan mengatakan bahwa mereka menemukannya di lokasi kecelakaan. Ini adalah sepatu istriku yang hilang.”


Tsania : “Itu tidak benar. Sepatu itu milik wanita lain. Wanita itu ada di toko ini!”


Tsania akan mendekati si wanita tapi ditahan.


Suami : “Siapa kau? Apa yang kau inginkan?”


Tsania : “Dia mengatakan bahwa dia akan tetap mengawasimu!!


Tsania pada ibu : “Aku ingin melindungimu. Dia orang jahat!”


Suami Siska pura-pura akan menangis,


Tsania tersenyum sinis: “Bisakah kau mengatakan semua itu bahkan jika istrimu ada disini bersama kita?”


Suami : “Jika dia ada disini bersama kita, dia akan tahu bagaimana besarnya aku mencintainya, bagaimana besarnya aku menderita dalam kepedihan…aku yakin dia akan tahu.”


Dan hantu istrinya memang ada menyaksikan semua itu sambil menangis.


Tsania : “Bohong. Air mata itu adalah kebohongan!”


Tsania akan menyerang Siska tapi ditahan oleh pegawai toko.


Tsania : “Aku melihat semuanya! Aku melihat kau tersenyum saat kau menemukan istrimu meninggal! Istrimu ada disini melihat kebohonganmu!”


Tsania memberontak dan berusaha memberitahu ibu bahwa suami Siska adalah orang jahat dan dia diminta melindungi ibu oleh Siska. Ibu yang bingung harus percaya siapa hanya diam. Dan Tsania diseret keluar toko.


Tsania terus saja ditarik dan dia berontak.


Reyhan dan rekannya melihat Tsania dan segera menghampiri.


Agatha juga mengenali Tsania.


Agatha : “Itu adalah Tsania yang aku lihat sebelumnya.”


Manager : “Gadis yang lebih cantik dan lebih pintar daripada kau saat di sekolah menengah?”


Agatha : “Rumor mengatakan dia menjadi aneh…aku rasa mereka benar.


Tsania di dorong oleh si pegawai pria yang kesal, sampai Tsania terjatuh di lantai. Pegawai pria itu meminta Reyhan dan rekannya membawa Tsania.


Orang-orang yang melihatnya membicarakan Tsania. Mereka mengatakan Tsania orang gila. Tsania terlihat sangat sedih mendengarnya. Dia tidak beranjak bangun. Terlalu malu dan sedih. Lalu ada yang memanggilnya.


Tsania.” Steven berdiri di sampingnya.

__ADS_1


“Mengapa kau duduk disana seperti orang gila? Berdiri !.”


Tsania akan menangis.


“Aku bilang bangunlah !.” Steven mengulurkan tangannya. Tsania pun berdiri dengan bertumpu pada tangan Steven.


Steven : “Apakah kau sudah menemukan pemilik sepatu itu?”


Tsania menunjuk suami Siska, “Ya. Aku menemukan pemiliknya, tapi pria itu menolak bahwa ini milik istrinya.”


Suami menunjukan sepatu yang dipegangnya: “Aku tidak berbohong! Ini adalah sepatu istriku yang sudah meninggal. Wanita itu mengatakan hak yang tidak masuk akal.”


Steven tersenyum sinis: “Aku rasa kita bisa mengetahui apakah dia gila atau kau yang berbohong dengan menyatukan sepatu itu bersama.”


Sekertaris Andrew memberikan sebelah sepatu pink pada Steven.


Steven : “Ini adalah sepatu yang istrimu kenakan saat dia meninggal. Aku mengambilnya setelah kau membuangnya di tempat sampah di luar rumah sakit.


Steven mendekati suami Siska dan mengambil sepatu yang dipegangnya. Steven menyandingkan sepatunya.


“Oh, itu tidak pas!”


“Kau benar! Itu tidak pas!”


Steven : “Sepatumu tidak pas!"


Lalu Steven meminta sepatu Tsania. Semua yang melihatnya tidak menyangka itu akan pas.


Steven : “Disatukan dengan yang satu ini…membuatnya sangat cocok.”


Ibu terkejut : “Apakah ini benar-benar milik Siska?”


Ibu mengambil sepatu itu.


Ibu ke suami Siska : “Lalu, apa yang kau miliki?”


Steven melihat si wanita bersembunyi, dan meminta petugas keamanan untuk membawanya.


Wanita itu hanya mengenakan sebelah sepatunya.


Steven : “Sepatu yang kau pegang sepertinya miliknya.” 


Ibu: “Kau berbohong…selama ini?”


Ibu merasa pusing, dia di pegangi oleh Reyhan.


Suami Siska tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia telah terbukti berbohong.


Tsania maju dan menunjuk suami


Siska : “Istrimu akan terus mengawasimu, dan dia akan akan melihatmu saat akhir hidupmu…seperti kau melihat kematiannya.”


Steven dan Tsania saling pandang.


Tsania menyerahkan sepatu Siska pada ibu.


Ibu : “Apakah putriku sedang melihat kita?”


Tsania : “Ya..”


Ibu menangis sedih  memeluk sepatu itu. Siska memeluk ibunya dari belakang. Siska menangis. Tsania juga ikut menangis.


Lalu arwah Siska terbang ke angkasa.


** **Bersambung........


*Jangan lupa budayakan membaca ya !! karena membaca, wawasan kita jadi bertambah.

__ADS_1


* jangan lupa like, rite, and vote ya** !!


__ADS_2