
Di rumah Steven. Sekertaris Andrew menanyakan perihal surat pernyataan yang di tanda tangani Steven, apakah sudah diperiksa. Steven mengatakan Tsania membacakan untuknya.
"Apakah Kau memberitahunya tentang diseleksia (ketidakmampuan) mu?" Tanya Sekertaris Andrew.
"Ya. Aku tidak akan terseret oleh Tsania lagi. Setelah hampir tertembak, Aku sudah memberinya sebuah peringatan."
"Kau pasti sangat terkejut. Akankah satu pil obat anti penenang, sudah cukup?"Tanya Sekertaris Andrew lagi.
Steven bilang cukup. Dia lalu meminta Sekertaris Andrew untuk segera menelpon Tsania jika ada masalah dengan surat pernyataannya, karena Tsania juga memiliki salinannya. Sekertaris Andrew bilang Dia akan menghubunginya besok, karena Steven mengatakan Tsania sedang berkencan, jadi Dia tidak bisa menghubungi dan merusak kencannya. Sekertaris Andrew juga mengatakan mereka akan mengundang musical itu ke acara kebudayaan di Kingstev.
"Aku kira itu pertunjukan yang menarik."
Steven tersenyum sinis, "Tidak mungkin Dia bisa duduk dengan baik dan menyaksikannya. Dia akan lari keluar dengan berteriak setelah sesuatu melompat ke arahnya, atau melakukan pengejaran setelah Dia menemukan sesuatu yang menyedihkan. Itu pasti tejadi salah satunya."
Sekertaris Andrew berpikir sebentar, "Kau salah. Jika Dia ada masalah, Kau akan menerima panggilannya. Karena terlihat tenang, kencannya berjalan baik."
Raut muka Steven berubah dan menatap ponselnya. Sekertaris Andrew sepertinya berusaha menghibur dengan berkata, "Tsania menjadi sangat egois. Pergi berkencan di saat Tuan disini dalam keterkejutan dan meminum pil obat penenang! Aku kira Dia tidak bisa menunda kencannya bahkan jika Dia mulai mengkhawatirkanmu."
Sekertaris Andrew kemudian beranjak pergi dan meminta Steven beristirahat. Sekertaris Andrew batuk-batuk. Steven menanyakan apakah ada masalah. Sekertaris Andrew ternyata sedang pilek. Steven bilang Dia akan membuatkan janji dengan dokter dan meminta Sekertaris Andrew untuk ke rumah sakit.
"Sekertaris Andrew, Kau tidak boleh sakit." Sekertaris Andrew bilang tentu saja, Dia tidak akan bisa sakit sampai Dia menemukan seseorang untuk menggantikannya."
Steven berbaring di tempat tidur. "Sekarang, karena Aku sudah minum pil obat penenang. Aku harus tidur." Steven memejamkan matanya sambil menepuk-nepuk dadanya.
Steven membuka matanya lagi, "Saat seseorang mengalami kesulitan untuk tidur bahkan setelah meminum pil pahit anti kegelisahan. Aku rasa seseorang baik-baik saja dan menikmati waktu yang manis." Steven melihat ponselnya, pasti yang dimaskud Steven adalah Tsania…
Micky mengajak Tsania ke sungai. Dia mengatakan mengajak Tsania kesana karena tidak ada tempat khusus yang ingin dikunjungi Tsania. Tsania bilang ini pertama kalinya Dia kesana, sejak kecelakaan saat Dia disana makan ayam bersama kakaknya dan hampir terseret ke dalam air. Tsania tampak ketakutan.
Micky : "Kau pernah hampir tenggelam di dalam air?"
Tsania : "Ya. Micky, ayo jangan terlalu dekat dengan air."
Micky kemudian mengajak Tsania melihat pertunjukan air mancur. Tsania mengiyakan dan berjalan di depan Tsania. Sepertinya Tsania melihat sesuatu di air, hantukah?
Kemudian di jalan, Tsania terkejut melihat hantu pelari dengan wajah menakutkan. Tsania berbalik arah. Micky yang heran menyakan Tsania mau kemana.
__ADS_1
"Micky, ayo jalan kesana."
"Jembatannya ada di arah sana. Jika kesana, ada penyewaan sepeda. Apa kau mau bersepeda?"
Mereka pun bersepeda. Micky bertanya apakah anginnnya dingin. Tsania menjawab iya. Tapi yang sebenarnya Tsania di belakang sibuk mengusir si hantu pelari yang mengejarnya. Pelari itu sepertinya meminta sesuatu pada Tsania, karena Dia mengacungkan satu jarinya, seperti berkata, "tolonglah, sekali saja…"
Tsania meminta Micky mempercepat laju sepedanya, sambil terus mengusir hantu pelari itu.
Micky dan Tsania kini berjalan lagi. Micky mengatakan sangat menyenangkan bersepeda karena sudah lama sekali sejak terakhir kali Dia bersepeda. Sedangkan Tsania masih sibuk mengusir hantu itu, tentu saja Micky tidak melihat Tsania.
"Haruskan kita kembali lagi kesini nanti dan bersepeda lagi?"Tanya Micky.
"Aku sudah mengatakannya padamu Aku tidak menyukainya. Mengapa Kau terus memintanya?" Tsania kesal pada si hantu sehingga keceplosan bicara di saat Micky bertanya, dan membuatnya salah paham.
Micky pun mengatakan jika Tsania tidak menyukainya, lupakan saja. Tsania pun berdalih, bukan seperti itu. Dia tidak suka kepanasan, sekarang Dia kepanasan. Micky menawarkan membeli minuman. Tsania menunjukan tempat yang menjual minuman, dan meminta Micky membelikannya minuman.
Tsania kemudian bertanya pada hantu pelari itu, Paman, akankah sekali pertandingan saja cukup?"
Tsania kemudian mengambil plastik panjang di tempat sampah, dan meminta bantuan pada sepasang kekasih yang kebetulan lewat untuk memegang tiap ujungnya menjadi seperti tali di garis finish. Walaupun keheranan, mereka berdua tetap mengikuti permintaan Tsania.
Tsania kemudian memberikan aba-aba pada hantu pelari. Hantu pelari bersiap dan berlari sampai ke garis "Finish". Tsania bertepuk tangan memberikan semangat. Kemudian Dia menyuruh hantu itu untuk pergi. Hantu itu tersenyum dan melambaikan tangannya kemudian berlari menjauh.
"Apa Kau baik-baik saja?"
Tsania tersenyum dan menggeleng, "Terima kasih. Maafkan Aku."
Si wanita merangkul pacarnya sambil pergi, "Mereka mengatakan bahwa ada perempuan gila disekitar sini. Itu pasti Dia."
Pacar : "Sayang, Kau juga harus hati-hati. Kau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi padamu."
Tsania sedikit kesal mendengar perkataan mereka.
Tsania kemudian menyusul Micky.
"Kau seharusnya menunggu. Mengapa Kau datang kesini?"
__ADS_1
"Karena Aku merasa bersalah."
"Lalu, haruskah kita minum saat kita melihat pertunjukan air?" Micky mulai berjalan.
Tsania merajuk sendiri, "Aku sangat membenci hantu air. Tolong. Jangan keluar. Tolong! Tolong, jangan keluar." Kemudian Tsania menyusul Micky.
Tsania dikamarnya, berkata bahwa hantu air sangat menakutkan. Tsania celingukan, takut hantu itu mengikutinya. Kemudian Tsania mengambil ponselnya hendak menghubungi Steven, namun teringat perkataan Steven padanya tadi.
"Kau benar, Aku tidak takut hantu. Aku takut padamu, Tsania."
Tsania pun kembali meletakan ponselnya dan mengeluarkan kipas pasangan itu. "Dia mungkin takut diganggu oleh peristiwa berhantu karena Aku."
Ponselnya bordering, dari Steven. Tsania dengan cepat menjawabnya.
"Halo, Presdir. Aku baru saja berdebat antar menelponmu atau tidak hanya dalam keadaan beberapa hantu mengikutiku." Tsania menerima telpon sambil memegang tangan bonekanya, seakan itu adalah Steven.
"Lupakan itu. Aku menelponmu hanya untuk urusan bisnis. Aku berpikir untuk mengundang tim musical yang Kau tonton hari ini ke Festival. Beritahu Aku seberapa bagus mereka."
"Aku tidak bisa menontonnya hari ini."Tsania terlihat sedih.
"Kau tidak bisa menontonnya?" Steven tersenyum licik.
"Kami pergi ke sungai untuk menghirup udara segar."
"Oh ya?"
Tapi seorang pelari hantu terus mengikutiku. Sangat sulit untuk berpura-pura terlihat normal." Tsania menatap bonekanya.
"Aku tahu hal itu akan terjadi." Steven tersenyum penuh kemenangan.
"Dan juga, kami pergi melihat pertunjukan air. Seorang hantu air terus saja melompat masuk dan keluar dari air. Kau tidak akan bisa membayangkan bagaimana ketakutannya Aku. Jadi Aku berpikir untuk menghubungimu jika saja hantu itu mengikuti kemari. Tapi Kau menghubungiku tepat waktu. Aku sangat berterima kasih." Tsania tersenyum senang pada bonekanya.
"Aku tidak menelpon untuk membuatmu berterima kasih. Dan juga, Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak mengatakan hal seperti itu padaku, kan? Oke, jika Kau tidak melihat musikalnya. Pergilah…eh tidak, tutuplah."
Steven menutup telponnya dan tersenyum. Dia berkata Tsania juga akan membutuhkan obat pahit itu karena takut hantu. Kemudian Steven menguap, dia akhirnya mengantuk setelah berbicara dengan Tsania. Sebenarnya Steven menelpon Tsania untuk mengetahui keadaannya kan? Bukan untuk menanyakan musikalnya?
__ADS_1
Tsania pun menutup telponnya dengan senyuman. Hanya dengan berkomunikasi telpon dengan tempat persembunyiannya, Dia merasa ketakutannya banyak berkurang. Dia mengelus tangan bonekanya, dan berkata bahwa itu zona Tsania, Dia tidak diijinkan menyentuh di tempat lain. Tapi Tsania merasa zona itu sangat kecil.
...BERSAMBUNG.........