Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 13


__ADS_3

Sekretaris Andrew menemui Steven yang sedang melihat pembangunan Gian Mall melalui jendelanya. Mungkin Sekretaris Andrew mengerti kalau obsesi Steven pada Gian Mall, hanyalah pelarian untuk mengalihkan perhatian dari masa lalunya.


Steven berkata penyelesaian Gian Mall dimajukan jadi sepertinya mall itu akan dibuka lebih awal. Ia berkata sekarang bukan saatnya untuk merasa tertekan. Mereka harus terus berkeliling ke toko-toko, tersenyum hingga mulut mereka sakit dan tetap menjaga situasi.


Maka Steven memasang senyum di wajahnya dan berkeliling mall bersama Sekretaris Andrew. Ia melihat orang-orang mengerumuni Agatha di lantai bawah.


Hanya saja ada yang aneh dengan dandanan Agatha.


“Wanita dengan rambut seperti pudel dengan bunga di atasnya dan bergaun merah itu adalah model Kingstev, Agatha Ainsley, bukan?”


“Ya itu dia. Ia terlihat seperti orang lain."


Steven jadi teringat perkataan Tsania bahwa ada sesuatu yang menakutkan di dekat Agatha.


“Apakah wanita itu juga menjadi anjing?” gumamnya. Sekretaris Andrew bengong mendengar ucapan Steven.


Manager Agatha berhasil menjauhkan Agatha dari kerumunan penggemar. Agatha bertanya apa managernya sudah menemukan rumah sakit. Sang manager beralasan Agatha harus menghadiri sebuah acara, jadi ke rumah sakitnya lain kali saja. Agatha berpendapat gaun yang di pakainya terlalu polos. Ia ingin menggantinya.


Steven makan malam bersama bibi Kinan dan suaminya. Bibi Kinan memberitahu Steven bahwa pada acara amal nanti ia telah mengundang puteri Menteri David dan puteri CEO Selena. Ia meminta Steven berbicara setidak 10 menit dengan mereka masing-masing.


“Tidak perlu memaksakan,” kata Direktur Bima. “Kudengar Presdir memiliki seorang yang spesial saat ini.”


“Apa kau membicarakan wanita pembersih Hantu lagi?” tanya bibi Kinan.


“Bukan pembersih hantu,” suaminya membetulkan.


“Namanya Tsania. Tsania Anatasha,” kata Steven. “Ia seorang pegawai yang kujaga dekat denganku akhir-akhir ini.”


Bibi Kinan menanyakan mengapa Steven dekat dengan seorang pegawai pembersih. Direktur Bima berkata Steven orang yang bersih dan rapi. Pasti untuk memintanya membersihkan kantor, mobil….bahkan rumah.


“Apa benar begitu?” tanya Bibi Kinan.


“Ya, ia menumpang di mobilku, menemuiku pada jam kerja, dan datang ke rumahku. Aku juga mengundangnya ke rumah. Tapi…aku tidak memintanya bersih-bersih.”


“Hubungan seperti apa yang kalian berdua miliki?” tanya Bibi Kinan kaget.


“Aku tahu apa yang kalian pikirkan, tapi ini sesuatu yang bahkan akan lebih mengejutkan kalian. Dan juga mulai sekarang, aku berencana untuk membuatnya semakin dekat.”


Direktur Bima tersenyum lebar, sementara Bibi Kinan bertanya apa itu artinya mereka akan menikah.


"Aku tidak merasa seperti itu, begitu juga dia. Karena satu-satunya yang ia inginkan dariku adalah tubuhku.”


Bibi Kinan shock. Steven berkata ia dan Tsania berjanji untuk saling melakukan kontak fisik yang tidak berarti.


Direktur Bima bertanya apa Steven bersama Tsania hanya untuk senang-senang. Banyak orang yang akan melihat mereka.


“Aku akan memindahkannya ke tempat di mana kami tidak terlalu diperhatikan,” ujar Steven. Ia meminta Direktur Bima untuk menjaga gosip seminimal mungkin. Lalu ia mempersilakan bibinya memutuskan pasangan mana yang lebih cocok untuknya, puteri Menteri atau puteri CEO Selena.


“Bibi tidak mau pernikahanku berakhir seperti pernikahan bibi pernikahan karena uang, kan?” katanya dengan tenang. Direktur Bima meradang dalam hati.


Steven kembali ke mall, diam-diam mengawasi Tsania. Ia melihat Tsania menghalau “sesuatu” di hadapannya. Steven bertanya.


“Aku dengan wanita itu memiliki hubungan kontak fisik yang tidak berarti? Pikirkan saja uangnya. Wanita itu akan menemukan uangku. 1 miliar . Benar, radar itu mahal,” Steven memutuskan.


Maka Steven menyentuh pundak Tsania hingga hantu yang mengganggu Tsania menghilang.


“Presdir,” kata Tsania dengan rasa terima kasih.


“Hari, radar 1 Miliar,” kata Steven. Dengan menyebut Tsania seperti itu ia merasa tidak terlalu dibodohi.

__ADS_1


Tsania bertanya mengapa Steven mencari radarnya, ia tidak melihat Karin. Steven membicarakan Agatha. Ia menyuruh Tsania mencari tahu apa yang menyebabkan Agatha menjadi seperti itu.


Tsania tidak mau, ada sesuatu yang mengerikan di dekat Agatha. Steven berjanji akan berada di dekatnya hingga Tsania bisa melarikan diri padanya jika hantu itu mengikuti. Tsania menggeleng.


“Jujurlah. Bukan karena kau takut pada hantu tapi karena kau merasa malu dengan keadaanmu sekarang, bukan?”


Tsania berkata Agatha sengaja datang menemuinya untuk mengoloknya. Tidak ada alasan baginya untuk menemui Agatha hanya untuk diolok-olok.


“Presdir mungkin tidak percaya, tapi dulu aku cukup populer. Aku Siwa teladan dan ia Siswa kurang teladan.”


“Bagiku kau hanya seperti manusia biasa, tidak begitu pintar, bersembunyi dan beralasan bahwa kau takut?” kata Steven.


Malam itu Micky menemui Tsania dalam perjalanan pulang. Ia bertanya apa Tsania berjalan memutar karena sedang banyak pikiran. Ia juga bertanya mengapa Tsania seperti itu saat bertemu Agatha.


“Hari itu aku benar-benar aneh, kan?” kata Tsania.


Micky mengangguk, waktu itu Tsania bahkan tak mau menatapnya. Tsania berkata ia memiliki alasan untuk melakukan itu tapi sekarang ia menghindari Agatha karena malu. Ia merasa tidak berharga dibandingkan dengan Agatha.


Micky bertanya apa Tsania sebenarnya terintimidasi dengan Tsania dulu yang lebih hebat. Tsania bingung mendengar pernyataan Micky.


Micky mengaku ia menyelidiki latar belakang Tsania. Itulah yang ia katakan pada kakak beradik boy, saat ia membelikan mereka es krim. Astaga…jadi bukan karena suka pada Tsania?


“Jangan bersaing dengan dirimu yang dulu. Seseorang yang kuhormati pernah berkata : jangan bersaing dengan masa lalumu tapi nantikan hal-hal besar dari masa depanmu dan cintai dirimu di masa sekarang.”


Micky mengaku ia juga merasa sedikit terintimidasi dengan Tsania yang hebat di masa lalu. Tapi mereka seharusnya hidup mencintai masa sekarang dan menantikan hal-hal besar di masa depan. Tsania tersenyum. Malam itu ia pulang bersama Micky.


Acara amal Mall Kingstev. Tamu-tamu mulai berdatangan. Namun ada satu tamu yang mendapat perhatian lebih. Agatha. Ia muncul dengan pakaian bak Cruella de Ville. Semua orang berbisik-bisik dan terkejut melihatnya.


Tsania bertugas sebagai petugas pembersih di luar aula. Direktur Bima melihatnya dan sengaja menugaskan Tsania sebagai pelayan di dalam aula.


Setelah berganti pakaian dan didandani sedikit, Hana menyuruh Tsania menempati posnya di dekat meja Steven yang sedang bercakap-cakap dengan seorang wanita.


Bukannya menuju meje Steven, Tsania malah menghampiri Agatha. Ia tahu Agatha membutuhkan bantuan karena ia melihat pantulan hantu berbibir merah itu di cermin. Steven melihat Tsania bercakap-cakap dengan Agatha.


“Jika kau percaya kau harus lebih cantik, kau akan menghancurkan dirimu. Jadi jangan dengarkan kata-kata orang lain dan lihatlah dirimu sendiri. Jika kau melakukannya, kau tidak akan merasa dingin lagi.”


Setelah mengatakan itu Tsania buru-buru pergi. Agatha mengira kata-kata Tsania tadi adalah olok-olok.


Dua orang wanita membicarakan dan mengejek Agatha. Satu dari antara mereka berkata Agatha seharusnya berhenti jadi model Kingstev. Ia bahkan 100 kali lebih cantik dari Agatha. Dan hantu bibir merah itu pun pindah ke gadis itu.


Agatha melihat penampilannya dan kesal karena ia berpakaian buruk seperti itu.


Steven mendekati Tsania.


“Presdir, kenapa kau di sini?” tanya Tsania.


“Ini Kingstev-ku. Acaraku. Sudah sewajarnya aku di sini. Yang aneh adalah kau ada di sini,” kata Steven. Ia bertanya apa Tsania sengaja berpakaian seperti itu untuk menemui Agatha agar tidak malu.


Tsania berkata ia masuk karena ditugaskan di sana. Tapi karena tidak sengaja bertemu Agatha, maka ia bicara dengannya.


“Jika aku tahu Presdir di sini, aku akan memintamu berada di sisiku. Tadi cukup menakutkan.”


“Mengapa kau membantu orang yang tidak kausukai si Agatha ?. Kau tidak punya harga diri.”


“Aku hanya melihat hantu. Tidak punya rasa malu dan tidak punya harga diri. Tapi aku memutuskan untuk mencintai diriku yang sekarang.”  


Tsania minta diri untuk melakukan pekerjaannya. Steven memberinya tugas untuk mengawasi CEO Mall Gian. Ia tahu ada sesuatu yang direncanakan CEO itu. Ada permainan kotor dan konspirasi di balik lebih cepatnya mall itu selesai. Ia ingin Tsania mencari tahu rahasia CEO Gian jika ada hantu yang menempelinya.


“Tapi hantu tidak menjawab hanya karena kau bertanya,” Tsania menjelaskan.

__ADS_1


iba-tiba ia terkesiap dan menunjuk ke arah gadis puteri Menteri David yang tadi sempat berbicara dengan Steven. Ia membisikkan sesuatu pada Steven. Sepertinya gadis itu juga ditempeli hantu. Steven terkejut.


“Aku bisa saja mendapat masalah besar. Aku tadi telah menghabiskan waktu 20 menit berbicara dengannya. Kau bekerja dengan baik,” puji Steven pada Tsania.


Ia menawari Tsania minuman mahal. Tsania mengingatkan apa yang terjadi jika ia minum.


“Ah benar…Jika kau minum di sini, kau tidak bisa menjadi anjing.”


"Tapi Tsania. Ada seseorang yang sudah mati yang benar-benar ingin kutemui.”


“Siapa?”


“Kau tahu Justin, kan? Jika aku ke rumahnya dan kau minum di sana, maka bisakah aku bicara dengannya?”


“Siapa tahu…apa kita akan ke Amerika?” tanya Tsania geli.


“Aku akan memikirkannya. Sepertinya radar yang mahal bisa berguna dalam banyak hal. Mari kita berkeliling untuk melihat apa yang bisa kita temukan.”


Micky melihat Steven dan Tsania berbicara dengan akrab. Tampaknya ia cemburu.


Sekretaris Andrew menemui Steven dan berkata CEO Gian telah berpesan ingin menemui Steven secara pribadi sebelum acara dimulai.


“Ia tidak akan tahu aku memiliki rada 1 miliar,” kata Steven. Ia menyuruhTsania mengikutinya ke kantor untuk menunggu CEO Gian. Sekretaris Andrew tersenyum kecil melihat keduanya.


Saat keduanya masuk ke kantor, sesuatu jatuh dari meja Steven. Steven kaget, mengira ada hantu di kantornya. Tapi Tsania berkata tidak ada apa-apa di sana.


“Apa Presdir mengira Karin ada di sini?”


“Iya,” Steven mengakui.


Tsania meminta maaf ia tidak bisa melihat Karina padahal ia radar yang mahal. Steven bertanya apakah para hantu itu menghilang setelah mengatakan apa yang mereka inginkan.


“Kadang kala begitu.”


“Jadi Karina mungkin saja pergi setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Jika ia melakukannya, aku tidak akan bisa memaafkannya.”


“Hm, Presdir. Aku baru teringat sesuatu. Waktu itu ketika aku melihat Karina, sebelum aku kehilangan kesadaran, aku ingat apa yang ia katakan. Aku tidak mendengar jelas apa yang ia katakan, tapi…Karina berkata ia tidak menyalahkanmu.”


"Apa?”


“Ia bilang tidak apa-apa, dan itu bukan salahmu. Kurasa ia memintamu untuk tidak menderita lagi.”


“Kau benar-benar mendengar seperti itu.”


Tsania mengangguk. Ia berkata jika Steven terus berada di masa lalu, maka tidak akan bisa melihat masa depan.


“Ia bilang kau harus menjaga dirimu di masa sekarang. Jadi lepaskan masa lalu dan berhenti merasa bersalah atas apa yang terjadi.”


“Karina bilang ia tidak menyalahkanku. Tsania, jangan berbohong!. Tidak mungkin kau mendengar seperti itu karena tidak mungkin ia mengatakan itu. Apa kau sedang menghiburku seperti kau membantu temanmu?”


“Aku hanya….” Tsania menunduk.


“Pergi…kubilang keluar. Jika kau bukan anjing terlantar, saat kubilang pergi kau harus pergi. Pergi!!!!” bentak Tsania.


“Aku minta maaf,” Tsania menahan tangisnya. “Aku hanya merasa berterima kasih padamu dan mencoba membantumu. Aku minta maaf.”


Tsania keluar dari kantor Steven. Di luar barulah ia menangis. Steven berdiri mematung di kantornya dan mengepalkan tangannya kuat-kuat.


Tsania pun Pulang.

__ADS_1


**Bersambung.....


Selamat membaca ☺


__ADS_2