Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 38


__ADS_3

Micky duduk melamun di depan piano, dia menghela napas panjang. Lalu ada yang memanggilnya, Agatha.


"Pria pekerja! Aku dengar Kau membuat masalah. Apa Kau khawatir Kau mungkin akan di pecat?"


"Tinggalkan Aku sendiri, Dewi." Micky tidak peduli.


Agatha duduk di samping Micky, dia tersenyum senang, "Dipecat saja. Aku akan menyukainya jika Kau menjadi penjaga keamanan pribadiku." Agatha menggandeng Micky dan menyandarkan kepalanya.


Micky tidak suka, dia melepaskannya. Dan meminta Agatha jangan berpikir bagaimana perasaan orang lain, Agatha hanya mengatakan dan memikirkan tentang perasaannya sendiri. Micky benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa Agatha ini.


Agatha berkata dia hanya mengkhawatirkan Micky yang akan kehilangan uang untuk membeli makan. "Aku mengatakannya untuk menghiburmu. Apa Kau merasa terluka?" Agatha merasa sulit mengerti pikiran pria pekerja. Agatha mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil.


Lalu Micky bertanya, "Kau, jika seseorang dari dunia yang lain menyukaimu, apa yang akan Kau rasakan?" (pasti Tsania yang dimaksudnya).


"Aku akan mencoba untuk tidak menyukai mereka." Jawab Agatha.


Micky : "Jika itu tidak berhasil?"


Agatha : "Kau harus tetap melewatinya."


Micky : "Jika sesuatu yang Kau tidak pernah pikirkan menakutkanmu tanpa diduga-duga, apa Kau pikir Kau bisa mengatasinya?"


Agatha : "Kau lebih menyukainya. Jika Kau sangat menyukai seseorang, matamu menjadi berkedip-kedip, maka akankah hal yang menakutkan masuk ke dalam matamu?"


Micky menerawang, "Itu benar. Aku pasti lebih menyukai mereka. Ternyata itu mudah."


Agatha tersenyum. Lalu dia dengan cepat mengatakan, "Aku tidak cukup menyukaimu untuk membuat mataku berkedip kedip, Kau tahu."


"Itu melegakan." Kata Micky.


Kemudian dia meninggalkan Agatha yang marah pada Micky. Dia datang karena mengkhawatirkan Micky, tapi Micky pergi begitu saja setelah mengatakan apa yang dia inginkan. Agatha menahan diri untuk tidak mengejar Micky, karena jika dia mengejarnya dia akan menjadi gila. Dia mengelak tidak menyukai Micky begitu banyak. Tapi dia berkedip-kedip matanya.

__ADS_1


Micky berjalan dengan penuh senyuman. Tapi kemudian senyumnya menghilang melihat Tsania bersama Steven di sebrang.


Tsania bertanya pada Steven apakah tidak apa-apa jika memanggil Kevino pada jam segitu. Steven merasa mungkin dia akan sangat marah. Steven memutuskan, jika kue itu tidak membantu, tampil atau tidak, semua berakhir. Tsania menepuk pundak Steven menenangkan, semuanya akan baik-baik saja.


Micky mengingat perkataan Tsania sebelumnya yang menyatakan bahwa Steven orang yang special untuknya. Micky memandangi mereka dari jauh. Agatha melihat Micky memandangi Tsania yang sedang bersama Steven. Dia pun sadar dan mengutuk dirinya sendiri karena sudah mengatakan pada Micky untuk lebih menyukai Tsania.


Kevino ternyata menemui mayat istrinya lagi. Setelah mengganti bunga yang sudah membeku dengan bunga yang baru saja di bawanya. Dia berkeluh kesah.


"Aku…karena Kau tidak ada disini, Aku tidak berpikir bahwa Aku bisa melakukan pertunjukan."


Kemudian dia menerima telpon.


Dan sekarang dia ada di ruangan Steven. Tsania membawakan kue pie itu.


"Apa yang ingin Kau tunjukan padaku pada jam segini?"


Setelah mendapat ijin dari Steven, Tsania membuka kotak pienya, "Di dalam sini, jumlah kacangnya sama dengan jumlah tuts hitam dalam piano. Dan juga, jumlah lipatan dari kulitnya sama dengan jumlah tuts putih dalam piano. Kau harus memakan ini agar tidak melakukan kesalahan selama pertunjukanmu, benar?"


"Lalu..apakah Kau mengatakan bahwa istriku…dia melihatku?" Kevino memandang tangannya.


"Jarimu tidak terluka, dan mereka bisa digerakan, benar?"


Kevino menggerakan jari-jarinya yang dibalut perban. Lalu dengan cepat dia memegang tangan Tsania, "Kau…Kau bisa melihatnya? Biarkan Aku menemuinya. Paling tidak, biarkan Aku bicara padanya." Tsania menggeleng.


Kevino mengeluh Tsania mengatakan dia ada disini, tapi Kevino tidak bisa melihatnya atau merasakannya, "Sekali saja, hanya sekali saja, biarkan Aku bertemu dengan istriku." Kevino merajuk. "Dia meninggal begitu tiba-tiba, sangat tak terduga…Aku tidak bisa berada di sampingnya di saat terakhir." Kevino menangis dengan menggenggam tangan Tsania.


Tsania melihat hantu istri Kevino, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Kevino. Steven melotot melihatnya. Saat Tsania menoleh pada Steven, Steven meminta Tsania (dengan isyarat tangan) untuk melepaskan diri, tapi Tsania menggeleng.


Kevino menemui Micky. Dia mengatakan bahwa Micky tidak melakukan apapun sehingga membuat tangannya terluka. Dia juga meminta maaf.


"Itu sangat bagus mendengar bahwa Kau tidak terluka. Tapi…mengapa Kau datang kemari dan mengatakan hal itu padaku?" Tanya Micky.

__ADS_1


"Orang yang menyampaikan pesan istriku….memintaku untuk meminta maaf padamu."


Micky bertanya lagi bukankah istri Kevino sudah meninggal. Kevino tersenyum dan berkata bahwa istrinya selalu berada disisinya. Dia percaya akan hal itu sekarang. Dan dia akan menampilkan pertunjukan yang bagus, karena istrinya ada disini berada disampingnya.


Tsania mengatakan saat seseorang meninggal tak terduga, orang yang ditinggalkan kadang kala mempunyai waktu yang sulit untuk menerima kematiannya. Tsania merasa Kevino merasakan hal itu. Steven meminta Tsania untuk tidak khawatir, bahkan Tsania sudah membuatkannya pie, dan dia mengatakan akan melakukan pertunjukan yang bagus.


"Kau..apa Kau baik-baik saja memeluk dan memegang sembarang orang? Pria itu melekat padamu!"


"Apa yang harus Aku lakukan saat dia terlihat begitu sedih?" Tsania membela diri.


"Jika Aku tidak menyela, Kau mungkin akan memeluk dan menangis bersamanya sepanjang malam!" Steven masih kesal.


Steven lalu berkata Tsania sangat mengkhawatirkan orang lain, apakah Tsania tidak khawatir dengan dirinya sendiri. Tsania tidak mengerti, ada apa dengannya.


"Besok. Mulai besok, Aku akan menghilang dari duniamu untuk seminggu. Apakah Kau tidak mengkhawatirkannya? Satu-satunya orang yang bisa memeluk dan memegang tanganmu menghilang…apakah Kau tidak gugup?"


"Belakangan, hantunya tidak sama dengan sebelumnya. Saat mereka ramai di sekitarku, Aku ketakutan, tapi sejak Aku memiliki sedikit kedamaian, tidak apa-apa melihat mereka." Tsania yakin.


"Begitukah? Lalu, Aku penasaran mengapa Kau mengambil pulpen kesukaanku?"


Tsania terkejut, tak menyangka Sekretaris Andrew akan memberitahu Steven. Steven memintanya kembali. Tsania pura-pura mengambil pulpen dari tasnya. Steven mencari sesuatu dari kantong celananya. Tsania berkata dia menghilangkan pulpen Steven dan memintanya memotong gajinya kemudian berlari pergi keluar. Bersamaan dengan itu, Steven menemukan apa yang dicarinya dari kantong celana. Kalung berlian.


"Baik Tsania, ambil saja pulpen itu dan pergilah!" Steven berkata sendiri, kemudian memandangi kalung yang tak sempat ia berikan itu.


Tsania menuju ruangannya. Sudah ada Kevino menunggunya di depan. Dia mengatakan akan mengambil pakaian untuk pertunjukannya, dan istrinya akan memilih untuknya. "Karena Aku tidak bisa melihatnya ataupun mendengarnya sendiri, Kau akan membantuku."


Kevino berjalan pergi. Tsania yang masih belum mengerti diam saja. Kevino menegurnya, karena dia sibuk mempersiapkan pertunjukannya. Tsania belum paham, Kevino memintanya menjadi perantara.


"Istriku selalu mendengarkan dan memberikan masukan di latihan akhir. Tolong katakan padaku apa yang dia katakan." Kevino memintanya pada Tsania saat mereka berjalan. Dan Micky melihatnya. Micky mengingat perkataan Kevino bahwa dia meminta maaf karena diminta oleh orang yang menyampaikan pesan istrinya. Micky baru menyadari orang yang di maksud adalah Tsania. Dia tampak memikirkan sesuatu.


...Bersambung...........

__ADS_1


__ADS_2