Melihat Hantu

Melihat Hantu
Melihat Hantu # 9


__ADS_3

Direktur Bima mengeluarkan sebuah koin dan bertanya apakah ia juga perlu mengajukan keinginannya. Steven merebut koin itu lalu menghampiri seorang anak di dekat kolam air mancur. Ia bertanya apa keinginan anak itu.


“Aku ingin mainan baru dan sepatu baru.”


“Benarkah? Aku akan memberimu koin ini lalu katakan permintaanmu dengan keras di sebelah ibumu dan lempar koin ini ke dalam kolam. Keinginanmu akan terkabul ketika kau tiba di bagian anak di lantai 2,” kata Steven dengan lembut. Anak itu langsung berlari pada ibunya.  


Direktur Bima melihat dengan wajah masam. Steven berkata semua keinginan biasanya untuk diri sendiri. Mereka percaya hal itu akan terwujud, tidak peduli oleh seorang gadis biasa atau hantu. Sambil tersenyum, ia melempar sekeping koin ke dalam kolam.


Steven berkata pada bibinya kalau ia akan membiarkan saja insiden foto itu. Jika ia melakukan sesuatu, rumornya malah akan bertambah besar. Jika ia diam-diam menutupi insiden itu, rumor akan lenyap.


Bibi tidak yakin insiden itu bisa ditutupi begitu saja. Ia bertanya apakah Steven tetap sendiri karena berpikir kematian gadis itu disebabkan olehnya. Apa rasa bersalah yang ditanggung Steven masih sebesar itu?


Steven berkata ia tahu apa yang akan dikatakan bibinya. Ia sudah mendengarnya ribuan kali. “Alasan terbesar orang tetap hidup adalah untuk hidup.”


“Benar, orang hidup harus hidup,” ujar bibi Kinan.


Steven meminta bibinya berhenti mengatakan hal itu. Caranya hidup mungkin terlihat seperti anak pemberontak. Memikirkanya saja sudah membuatnya muak. Mungkin Bibinya juga muak melihatnya hidup seperti itu.


“Bibi hanya mengkhawatirkanmu…”


“Aku tahu. Jangan khawatir. Satu hal yang pasti, satu kalipun aku tidak pernah berpikir bahwa kejadian itu adalah kesalahanku.” Dengan kata lain, ia tidak merasa bersalah.


Direktur Bima mendengarkan percakapan mereka dari luar.


Steven sendirian merenung di kantornya, teringat pada apa yang dikatakan orang-orang padanya. Sang detektif menuduhnya tidak merasa bersalah atas kematian Karina, sedangkan bibinya merasa Steven tidak seharusnya masih merasa bersalah.


Kilas balik:


Orang yang menghampirinya saat ia diculik adalah Karina. Steven bertanya apa Karina baik-baik saja. Karina hanya diam. Steven meronta berusaha melepaskan diri. Steven terus bertanya apakah Karina tidak apa-apa. Karina menatapnya tanpa ekspresi.


“Stev..enn…maafkan aku. steee..veenn ,” ujar Karina dingin. Steven terpaku.


Steven bergumam dirinya yang telah diperlakukan tidak adil dengan kematian Karina.


Micky menelepon seorang misterius. Ia melaporkan ada seorang gadis yang mencurigakan berada di sisi Steven. Diam-diam ia memperhatikan Tsania.


Tsania sedang membersihkan kolam air mancur bersama para petugas lain. Para petugas lain ingin mengenal Tsania tapi Tsania malah berteriak.


“Aku tidak mau!”


Para pekerja itu terkejut dan merasa Tsania tidak sopan. Tiba-tiba Tsania menoleh pada salah satu dari mereka dan bertanya apakah ia lupa dengan hari kematian ayah mertuanya.


Si salah satu pekerja yang kelihatan lebih tua darinya sebut saja dengan sebutan Tante. Ia benar-benar lupa. Tiba-tiba ia sadar, kenapa Tsania bisa tahu? Tsania bagaimana menjelaskannya. Ia berkata ia pernah mendengarnya. Padahal hantu si kakek sedang cemberut pada menantunya. Tante itu berterima kasih pada Tsania dan buru-buru pulang untuk mempersiapkan upacara peringatan.


Direktur Bima mengantar istrinya. Ia melihat Tsania dan memberitahu istrinya kalau Tsania adalah wanita yang merusak pernikahan Agatha. Bibi Kinan menghampiri Tsania yang sedang bersih-bersih, lalu mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tsania kebingungan.

__ADS_1


“Tsania..,” bibi Kinan membaca kartu pengenal Tsania. “Aku akan mengingatnya.”


Lalu Bibi Kinan pergi begitu saja meninggalkan Tsania yang kebingungan.


Micky menemui Tsania dan mengajaknya pulang bersama. Mereka kan tinggal di tempat yang sama. Para pekerja yang mendengar itu langsung heboh. Mereka mengira keduanya berpacaran. Micky buru-buru pergi karena malu, sementara Tsania tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


Steven melihat peristiwa itu. Micky berpapasan dengannya dan menunduk memberi hormat.


Tsania masih tak percaya ada seorang pria yang mengajaknya pergi bersama. Ia seperti seorang anak remaja yang akan pergi berkencan. Gelisah sekaligus bersemangat.


Steven berusaha tidak peduli. Tapi ia tidak berhasil. Ia menghampiri Tsania. Diam-diam Sekretarisnya tersenyum geli.


Steven bertanya apakah Tsania melihat sesuatu lagi di air mancurnya yang mahal ini. Tsania berkata ia tidak melihat apa-apa.


“Jangan muncul di depan mataku lagi,” ujar Steven. Heh…siapa yang muncul di depan siapa?


“Tunggu…”


“Apa? Kenapa kau bicara padaku?”


“Maafkan aku. Jika kau tahu kau begitu terluka, aku tidak akan mengatakan apapun mengenai Karina berada di sebelahmu.”


Astaga….tolong jangan katakan apapun yang lebih mneyakitkan.Tapi Tsania tidak tahu apa-apa. Seperti orang lain, ia mengira Steven merasa bersalah atas kematian Karin. Ia berkata mungkin Karin ingin Steven melupakan semuanya.


“Dan orang yang hidup harus hidup. Itu bukan salahmu.” Upss…Kata-kata itulah yang paling tidak ingin di dengar Steven.


Steven mendekati Tsania.


“Bisakah kau menyampaikan pada hal yang kaulihat (Karin)? Jika bisa, katakan padanya. Ada sesuatu yang hendak kukatakan padanya.”


“Apa itu?”


“Gadis….jahat….” ujar Steven. Lalu ia tersenyum sinis.


Manager Agatha marah karena pihak Kingstev masih memajang gambar Agatha di saat Agatha di rumah sakit. Manager mengajak Agatha untuk melakukan complain.


Tapi ternyata Agatha tidak masalah dengan itu. Menurutnya menggunakan pakaian itu lebih baik, dari pada mengenakan pakaian pasien dan menerima simpati.


Agatha : “Haruskah kita mencari gadis yang mengacaukan pernikahanku disini? Mari kita pikirkan itu setelah makan.”


Agatha berbalik pergi, dan melihat Tsania yang sedang lewat sambil terlihat berbicara sendiri. Manager menanyakan apakah dia seseorang yang Agatha kenal, tapi Agatha menyangkalnya.


Tsania menemui Asisten Aura


Tsania : “Apa kau baik-baik saja?”

__ADS_1


Asisten Aura : “Ya. Aku tidak bisa cuti kerja karena cidera ini.”


Tsania : “emm...kau mengatakan bahwa kau tersandung sesuatu di tangga. Waktu itu, apakah mungkin kau melihat ini?


Tsania menunjukan sepatu pink itu.


Asisten Aura : “Aku mengambilnya di lorong!”


Tsania : “Dimana kau melihatnya?”


Asisten Aura tampak berpikir.


Suami dan Ibu mertua sedang di rumah Siska hantu sepatu. Ibu menangis tersedu-sedu dan suami menenangkannya.


Steven menghampirinya. Tsania masih jongkok : “Dia mengatakan sepatu ini terjatuh disini. Dan aku pikir tempat ini sangat dekat dengan toko suaminya.”


Steven : “Sepatu itu terjatuh disini? Maka itu adalah sampah, OB bagian dari tim kebersihan. Itu pekerjaanmu untuk membuang sampah ke tempatnya.”


Tsania : “Ini bukan sampah. Kau tahu apa yang ingin aku lakukan!”


Stevenpun berjongkok : “Tidak, aku tidak tahu. Bagiku, kau terlihat seperti pemalas yang mengerjakan sesuatu yang aneh. Seorang pekerja yang sangat dekat sekali dengan pemecatan.”


Steven menekan kepala Tsania dengan telunjuknya, hingga Tsania terduduk.


Lalu ada sepasang kaki wanita melewati mereka. Kaki itu mengenakan sepatu yang sama dengan yang di pegang Tsania.


Tsania : “Sepatu itu…kau melihatnya juga kan? Mereka sama.”


Tsania menunjukan sepatunya, “Mereka sama kan?”


Steven ikut memperhatikan kaki wanita yang lewat itu.


Steven : “Jadi?”


Tsania : “Walaupun aku berpikir aku tidak ingin tahu, tapi..aku tidak bisa mengabaikanya jika aku melihatnya sendiri. Aku seperti itu.”


Tsania pun pergi meninggalkan Steven yang masih jongkok dan mengikuti wanita itu.


Steven kesal: “Lagi, lagi, lagi! Melakukan hal yang tidak berguna.


*****Bersambung.....


updatenya segini dulu ya, maaf kalau kurang menarik menurut kalian bahkan, jauh dari pemikiran kalian.


Cerita ini hanya untuk hiburan semata jangan di anggap serius ya !! walaupun memang ada segelintir orang yang bahkan mirip sifatnya seperti Tsania yang bisa, berinteraksi dengan mahluk halus tak kasat mata.

__ADS_1


Terima kasih bagi yang sudah baca...😊***


__ADS_2